---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Adrian Dharma Wijaya Ada orang yang mengatakan bahwa bila seseorang menjadi muslim atau sudah mengucapkan kalimat syahadat pasti masuk surga, walaupun masuk neraka, pada akhirnya akan masuk surga juga, dalil yang dipakai mungkin Hadist yang kira-kira berbunyi "Orang yang terakhir masuk surga setelah masuk neraka seperti arang/hangus dan setelah disiram dengan air dari telaga di surga akan tumbuh seperti bibit kacang yang yang keriput itulah orang yang paling lemah imannya", ada pertanyaan, siapakah dapat yang mengetahui sampai dimana tingkat keimanan seseorang sehingga mendapat jaminan minimal seperti hadist di atas, manusiakah atau tuhankah, bila manusia atau diri sendiri, ada pertanyaan: tahukah manusia akan parameter atau ukuran-ukuran yang dipakai oleh tuhan untuk mengukur keimanan seseorang sementara manusia sendiri tidak mampu menggambarkan siapa atau bagaimana tuhan itu selain yang diberitahu oleh tuhan sendiri, sementara manusia sama sekali dan tidak akan pernah memahami ciptaan tuhan dari yang paling sederhana sampai yang paling dahsyat apa lagi memahami siapa atau bagaimana tuhan, bila tidak tahu siapa tuhan yang secara pasti dan secara keseluruhan bagaimana tahu parameter yang dipakai tuhan, misalnya saja ciptaan tuhan yang paling sederhana manusia dapatkah seseorang itu memahami secara keseluruhan seorang manusia lainnya. Coba ikuti bahasan di bawah ini. Juga bila yang dimaksudkan dengan mengucapkan kalimat syahadat ketika sekarat akan masuk surga itu benar, tetapi untuk itu harus menjalankan seperti yang diterangkan di bawah ini dalam hidupnya sehari-hari barulah bisa mengucapkan kalimat syahadat ketika sekarat. Memang dalam mengetahui tingkat iman dan taqwa seseorang, hanya Allaah S. W. T. saja yang mengetahui, tetapi kita dapat mengetahui (hanya diri sendiri) sampai di mana tingkat ibadah kita (bukan tingkat iman, ibadah adalah non Ghaib sedangkan iman adalah Ghaib, bukankah Rasulullah Muhammad S. A. W. yang merupakan manusia pilihan tuhan ketika ditanya yang Ghaib-ghaib oleh orang Yahudi turun ayat yang menyuruh menjawab dengan "Tidaklah aku mengetahui hal-hal yang Ghaib kecuali sedikit dari Tuhanku", apalagi kita yang umat biasa). Yang jelas dalam Islam ada Rukun Islam, yakni mengucapkan Kalimat Syahadat (menyatakan kesaksian sebagai muslim), Menegakkan Sholat, Berpuasa di bulan Ramadhan, Membayar Zakat (baik Zakat Fitrah maupun Zakat Maal), dan pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji bila mampu, sekali, lagi bila mampu bukan dipaksakan atau dimampu-mampukan. Ada lagi dalam beribadah syarat lainnya, yaitu dalam berbuat atau beramal atau beribadah, dunia maupun akhirat, ritual maupun kegiatan sehari-hari, yakni Berniat dalam melakukan suatu tindakan, berfikir, berkata-kata hanya karena Allaah S. W. T., dilaksanakan dengan cara-cara yang di Ridhoi atau yang telah ditentukan oleh Allaah S. W. T., dan yang terakhir dimulai dengan mengucapkan Basmalah, masih ada lagi kriteria seseorang itu benar-benar Muslim dan akan masuk surga, yakni apakah ia hanya takut kepada Allaah S. W. T., dengan kata lain ia tidak meminta atau menuhankan selain Allaah S. W. T., juga tidak takut kepada suatu golongan melebihi atau sama dengan takutnya kepada Allaah S. W. T., jadi ia benar-benar hanya patuh dan takut kepada Allaah S. W. T. bila perlu berani tersiksa atau mati atau berkorban demi kepentingan Allaah S. W. T. melebihi terhadap kepentingan terhadap dirinya sendiri atau orang lain atau golongan lain. Dengan hanya takut kepada umat Kristen/Yahudi/Israel dalam segala bentuk, sedikit maupun banyak yang berarti umat Islam tersebut benar-benar takut kepada Yahwe, Yesus, Alah Bapa, Roh Kudus, Bunda Maria dan Iblis, yang berarti mereka benar-benar sirik atau menduakan Allaah S. W. T., saya tidak akan takut, tidak akan mundur, justru dengan sangat senang hati saya mengorbankan orang-orang seperti itu, karena Allaah S. W. T. tidak butuh umat yang banyak dan seperti itu, Allaah S. W. T. hanya butuh umat yang sedikit tetapi benar-benar berkwalitas, dan umat yang sedemikian itu jangan harap bisa masuk surga, jangankan masuk, melihat dan mencium baunya saja haram, ingat dosa sirik adalah dosa yang tak terampuni, apapun alasannya, sedikit atau banyak. Allaah S. W. T. hanya menghendaki umat yang hanya cinta kepadaNya saja melebihi segalanya yang ada, hanya takut kepadaNya saja melebihi segala yang ada, dan hanya patuh kepadaNya saja melebihi melebihi segala yang ada, sedikit saja menyimpang dari ketiga hal tersebut berarti ada sirik di hati umat tersebut dan itu tak terampuni. Bila umat Islam sedikit saja memegang segala aturan dan petunjuk tuhan selain atau diluar Al~Qur an dan Hadist, maka secara otomatis umat tersebut kafir dari Islam, yang mengkafirkan bukan saya, bukan pula Allaah S. W. T., tetapi dirinya sendiri, karena tidak ada pegangan hidup bagi umat Islam selain Al-Qur an dan Hadist, apapun itu, entah itu Sapta Marga, Sumpah Jabatan, Sumpah Dokter, dll. Panduan Pokok bagi umat Islam adalah adalah Al~Qur an dan Hadist, dan Sapta Marga, dll. bila menyimpang dari Al~Qur an dan Hadist wajib ditinggalkan, bila sejalan dengan Al~Qur an dan Hadist maka posisinya jauh di bawah Al~Qur an dan Hadist. Menjadi Muslim itu tidak mudah dan ringan, tetapi banyak kriteria dan perbuatan yang harus dilakukan, dan itu tidak dapat dipilih-pilih yang mana yang kita suka dan yang mana yang tidak kita suka, yang mana yang berat dan yang mana yang ringan, tetapi semua yang tersebut di atas harus dipenuhi secara sekaligus seperti kata Al-Qur'an yang dikutipkan di bawah ini: Al-Qur'an surat Al-Baqoroh (2): 208 - 209. 208. Hai sekalian orang-orang yang beriman (yang menyatakan dirinya Islam/Muslim; peny.), masuklah ke dalam Islam dengan keseluruhannya (mengikuti dengan sepenuhnya dan rela hati terhadap keseluruhan ajaran, aturan, perintah dan larangan Islam yang murni atau asli; peny.) dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan (mencampur adukkan ajaran agama, aturan, perintah dan larangan dalam Islam dengan segala sesuatu yang bukan ajaran, aturan, perintah dan larangan Islam atau membawa ajaran, aturan, perintah dan larangan dari kepercayaannya yang lama ke dalam Islam - di sini bukan berarti Islam anti pengembangan kebudayaan, karena Islam sesungguhnya mendorong pengembangan kebudayaan setinggi-tingginya, dan ajaran agama dengan kebudayaan adalah suatu hal yang sangat berbeda walaupun saling berkaitan, tetapi walau bagaimanapun, kebudayaan yang bertentangan dengan ajaran Islam harus dibuang, setidaknya tidak dibawa masuk ke dalam Islam; peny.), sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu. 209. Maka jika kamu sekalian tergelincir (mengikuti langkah-langkah setan baik sengaja maupun tidak sengaja; peny.) sesudah datang kepadamu keterangan yang nyata (tentang yang benar dan yang salah; peny.), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allaah S.W.T. Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Al-Qur'an surat Al-Ankabut (29): 2 - 3. 2. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, "Kami telah beriman (masuk Islam dengan keseluruhannya; peny.)", sedang mereka tidak diuji (di segala aspek kehidupan dengan tugas dan tanggung jawab, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kesenangan dan kesedihan, dengan kesulitan dan kemudahan, dengan kemewahan dan kemelaratan, dengan kekuasaan dan kelemahan, dengan sehat dan sakit, dll. untuk menegakkan kebenaran di segala aspek kehidupan oleh Allaah S. W. T. bukan oleh manusia seakan-akan mewakili tuhan atau sebagai manusia; peny.)" 3. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka (di segala aspek kehidupan dengan tugas dan tanggung jawab, dengan kekayaan dan kemiskinan, dengan kesenangan dan kesedihan, dengan kesulitan dan kemudahan, dengan kemewahan dan kemelaratan, dengan kekuasaan dan kelemahan, dengan sehat dan sakit, dll. untuk menegakkan kebenaran di segala aspek kehidupan; peny.), (semakin orang tersebut mencintai Allaah S.W.T. dan atau dicintai Allaah S.W.T., maka ujian yang dijalaninya akan semakin tinggi mutunya; peny.) maka sungguh Allaah S.W.T. mengetahui orang-orang yang benar dan sungguh Dia mengetahui orang-orang yang dusta. Al-Qur'an surat Al-Anfal (8): 28 - 29. 28. Dan ketahuilah , bahwa Hartamu dan anak-anakmu (duniamu; peny.) itu menjadi ujian dan sesungguhnya di sisi Allaah ada pahala yang besar. 29. Hai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertaqwa kepada Allaah, niscaya diadakanNYa untuk kamu pembedakan (antara yang benar dan yang salah; peny.), ditutupNya kesalahanmu dan diampuniNya dosa kamu, dan Allaah itu Pemberi kurnia yang besar. Al-Baqoroh (2): 214. ... sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datangnya pertolongan Allaah S.W.T. (ujian keimanan Allaah S.W.T. itu terhadap seorang manusia adalah sangat berat, Rasulullah Muhammad S. A. W. saja yang jelas-jelas manusia pilihan Allaah S. W. T. sampai mengeluh sangking beratnya ujian, lebih berat lagi bila manusia itu tidak menyadari bahwa dirinya itu sedang diuji Allaah S.W.T. yang biasanya ujian itu berupa kenikmatan, kekayaan, kebahagiaan, kekuasaan, penderitaan, dll.)?" Ketahuilah sesungguhnya pertolongan Allaah S.W.T. itu amat dekat. Secara umum untuk menentukan kriteria apakah seseorang itu benar-benar Muslim dan akan masuk surga adalah yang tersebut di atas, dan masih dapat diperluas lagi, seperti misalnya ada Hadist yang menyatakan "Dari 77 (baca: sangat banyak, dalam budaya Arab angka 7 biasanya menggambarkan suatu jumlah atau ukuran yang besar atau banyak tetapi tidak pasti banyaknya atau besarnya anggotanya) golongan Islam hanya 1 yang masuk surga, yakni Ahlu Sunnah wal Jamaah", yakni orang-orang yang kembali kepada Sunnatullah atau hukum hukum Allaah S. W. T. baik yang tertulis (ayat-ayat Kitabi, Al-Qur'an dan Sunnah Nabi/hadist) maupun yang ada di alam semesta (ayat-ayat Kauniah, hukum-hukum yang ada di alam semesta atau ilmu-ilmu yang menyangkut segala hal keduniawian), bukan mengada-adakan ajaran atau aturan sesuai dengan kehendaknya sendiri atau mengikuti seseorang atau sekelompok orang, misalnya Syafii, Hanafi, Maliki, Hambali, Imam Khomeini, Imam Mirza Ghulam Ahmad, ataupun yang lainnya, tetapi langsung mengambil kepada Al-Qur'an dan Hadist dan harus diusahakan mampu karena banyak ayat-ayat Al-Qur'an yang mewajibkan bagi umat Islam untuk berilmu tinggi di segala bidang (bahkan ayat Al-Qur an yang pertama kali turun adalah ayat yang mewajibkan seorang Muslim itu berilmu tinggi disegala bidang dalam hal ini bukan ilmu ghaib- yakni Al-Qur'an surat Al-'Alaq (96): 1 5 dalam hal ini tak perlu membahas tidak adanya hadist yang shohih tentang keilmuan, karena memiliki ilmu yang tinggi di segala bidang merupakan hal yang penting, maka dibahas di level yang lebih tinggi, yakni Al-Qur an, bahkan di ayat-ayat pertamanya turun, pencarian hadist shohih tentang keilmuan hanya pengalihan Kristen/Yahudi/Israel agar Muslim tidak merasa perlu memiliki ilmu yang tinggi disegala bidang) dan berusaha dengan sungguh-sungguh terlebih dahulu sebelum menyerah. Selain mengutamakan dan menjalankan aturan-aturan Allaah S. W. T. juga mengutamakan kebersamaan (ber-Jamaah) serta mengembangkan Silaturahim. Jelas tidak mudah dan ringan untuk menjadi seorang Muslim sejati. Ada pula ayat Al-Qur'an yang menyatakan "Bahwa bila benar benar kamu yakin akan masuk surga hanya bila kamu itu mengaku Muslim tanpa menjalankan sepenuhnya ajaran Islam yang sejati atau maxsimal akan digodok dulu beberama lama di neraka pada akhirnya akan masuk surga atau menjadi Yahudi atau menjadi Nasrani/Kristen, ditantang Allaah S. W. T. bila benar kenapa kamu tidak bunuh dirimu saja agar secepatnya masuh surga?", tetapi nyatanya orang-orang yang menyatakan dirinya pasti masuk surga semuanya takut berkorban dalam menegakkan kebenaran apalagi mati dalam menegakkan kebenaran, bahkan mereka lebih mencintai kehidupan duniawinya dari pada menjalankan aturan-aturan Allaah S. W. T.. Tetapi orang-orang yang benar-benar menjalankan ajaran Islam yang sejati biasanya benar-benar siap untuk memenuhi panggilan Syahid bila panggilan tersebut berkumandang dan benar-benar dijalankan tanpa keragu-raguan atau tanpa gentar sedikitpun (Syahid adalah berkorban dalam segala aspek dan bidang kehidupan, dan mati dalam menegakkan kebenaran dengan cara-cara yang dapat dibenarkan oleh Allaah S. W. T. dalam seluruh aspek dan bidang kehidupan), karena yakin akan janji Allaah S. W. T. bahwa mereka akan mendapatkan surga se-level para nabi dan rasul (salah satu level tertinggi di surga, yang berarti juga se-level dengan Alah Bapa salah satu oknum Trinitas dalam konsep ketuhanan Kristen/Yahudi/Israel bukan se-level dengan Yesus salah satu oknum Trinitas dalam konsep ketuhanan Kristen/Yahudi/Israel karena Yesus setelah mati tidak ada ajaran yang menyatakan Yesus masuk surga tetapi yang ada masuk neraka yang paling dalam dan dahsyat neraka Hades bukan pula se-level dengan Roh Kudus salah satu oknum Trinitas dalam konsep ketuhanan Kristen/Yahudi/Israel karena Roh Kudus sama sekali tidak memiliki tempat di manapun, bukan pula se-level dengan Allaah S. W. T., karena Allaah S. W. T. bersinggasana di Sidratul Muntaha jauh di atas surga) begitu saja begitu mereka meninggal, saat itu juga masuk surga, tanpa memperhitungkan amal perbuatan lainnya di dunia, tanpa dihisab di Yaumil Akhir, tetapi kematiannya bukan dengan cara-cara yang konyol. Semangat yang terakhir inilah yang paling ditakuti oleh Kristen/Yahudi/Israel di dunia ini sejak jaman dahulu hingga kini, dan semangat inilah yang terutama akan dicabut dari Roh ajaran Islam agar setelah tercabut dari Roh ajaran Islam, umat Islam dapat menjadi budak-budak mereka yang baik dalam segala aspek dan bidang kehidupan. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Mar 1999 jam 10:30:45 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
