---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: kang bondet Belum lama ini Jaksa Agung Ghalib mengumumkan, bila ada 14 KBRI seluruh dunia telah melapor ke Kejagung. Bahwa tak ditemukan rekening Soeharto di luar negeri. Yang jadi pertanyaan kami yg tinggal di luar negeri, khususnya di swiss, kenapa Ghalib tidak memerinci negara2 mana yg KBRInya sudah melapor ? Dan bagaimana sistem pelacakan harta Soeharto yg dilakukan oleh KBRI, adakah masyarakat indonesia ikut dilibatkan ? Menurut data di KBRI bern, bila masyarakat indonesia yg tinggal di swiss ada 800 orang. Mereka terdiri dari 500 orang indonesia yg kawin dgn org swiss/ kerja, dan sisanya 300 orang adalah mahasiswa. Kebanyakan mahasiswanya belajar di sekolah perhotelan di wilayah swiss yg berbahasa perancis, sebagian kecil adalah belajar tehnik program beasiswa pemerintah swiss, yg erat hubungannya dgn birokrasi di tanah air. Melihat peta masyarakat indonesia di swiss, membuat kami kesulitan utk menggerakkan antara kekuatan rakyat dan mahasiswa. Dua tahun lalu Dubes Mahmud Subarkah pernah mengumpulkan seluruh mahasiswa, dan hanya berhasil mengumpulkan 90 mahasiswa. Dalam pertemuan itu, salah seorang mahasiswa perhotelan ditanya :...kenapa anda2 ini sulit berkumpul ? Jawabnya ringan :...maaf pak, kami2 ini khan baru berumur 18 tahun, barusan lulus SMA, jadi kalau ada waktu luang, ya lebih baik untuk jalan2. Meski diakui bila jadwal belajar dan praktik di sekolah perhotelan sangat ketat. Rasanya pecahnya "era reformasi" tak menggugah minat semua masyarakat indonesia di luar negeri, utk bergegas membantu bangsa sendiri yg sedang sekarat. Hal ini terbukti ketika Peter Bosshard dari NGO swiss (EvB:Erkldrung von Bern) dan Aditjondro membuat study ttg keterlibatan perusahaan2 raksasa swiss dgn bisnis kel cendana dan Habibie. Pada tgl 21 Juli 1998 Peter ditemani sekretaris INFID belanda Eva Philipps menemui pemerintah swiss, dgn tujuan agar rekening Soeharto di Bank2 diblokir. Alhasil tgl 22 Juli 1998, hampir seluruh koran di swiss memberitakannya, sayangnya masyarakat indonesia disini nggak banyak yg tahu. Baru tgl 8 November 1998, Flavio Cotti , sbg menteri luar negeri melayangkan surat ke Peter yg isinya, kerahasiaan Bank tetap nggak bisa diusik2. Disusul KBRI bern melayangkan surat ke Peter, yg isinya menyanggah bila KBRI menyiapkan hotel mewah pada saat kunjungan Soeharto bulan Nopember 1997, sepulang dari konferensi APEC di Vancover Canada. KBRI hanya mempersiapkan hotel biasa bernama Movenpick di kota Zurich. Menurut beberapa staf KBRI yg sudah dipulangkan ke tanah air karena krismon, bila Dubes baru bernama Tatik Soedarsono ini tidak saja menyiapkan hotel mewah, tapi juga bodyguard2 dan mobil anti peluru, yg siap membawa Soeharto dari air port ke hotel. Meski menurut sumber tadi, yg turun di air port cuma anak buah Soeharto dan banyak yg minta dioleh2i jam tangan. Menurut org dalam KBRI, bila Dubes baru itu adalah bukan dari jalur diplomatik/ Deplu, melainkan orang penting Golkar di jakarta yg ditunjuk Soeharto. Dalam beberapa pertemuan dgn masyarakat indonesia, Tatik selalu bilang:...saya harap saudara2 disini bisa membentuk semacam wadah/organisasi antar masyarakat indonesia dan swiss. Agar supaya bila swiss sudah bergabung dgn Uni Eropa, kita sudah punya wadah,...ini pesan Bapak Presiden sebelum saya datang ke sini. Apakah benar Dubes Tatik Soedarsono ini orgnya Soeharto ? Yg diselendupkan ke swiss utk menjaga uangnya ? Mengingat lengsernya Soeharto dgn kedatangan Dubes ini tak jauh berselang. Yang membuat para staf KBRI agak kurang pas dgn Dubes baru ini adalah penampilannya yg arroganz, setiap ada pertemuan dia selalu merokok, bukan rokoknya yg arroganz, tapi undangan2 utk masyarakat bunyinya :...Ibu Dubes "menyediakan" waktu utk bertemu dgn masyarakat...lha apa ini jaman kerajaan, kok seolah2 rakyat yg butuh, mbok yg fleksibel kata2nya. Mungkin akan lebih bersahabat bila bunyinya :...KBRI dgn senang mengundang masyarakat dlm acara Halal bihalal atau yg lain. Pada setiap akhir pertemuan, justru rakyat diberitahu stafnya, agar menghadap dan bersalaman dgn bu Dubes, wah ini keterlaluan, nggak menghayati era reformasi, ternyata masih feodal. Pada tgl: 11 maret 1999 swiss telah memilih dua Bundesrat baru, yaitu Joseph Deiss dan Ruth Metzler dari CVP (Chrisliche Volks Partei). Keduanya menggantikan dua Bundesrat Arnold Koller dan Flavio Cotti yg sudah lengser keprabon. Memang perpolitikan di swiss tak terlalu menarik utk disimak, karena presidennya selalu berganti tiap tahun, yg dipilih secara bergilir dari keseluruhan sebelas Bundesrat. Jadi nama presiden tak terlalu populer, seperti Clinton atau Kanselir Helmut Kohl. Bagaimana mau populer baru akan menjabat setahun sudah harus diganti lagi. Jadi kami hanya bisa berharap semoga pergantian Bundesrat baru ini bisa membawa arah ke pelacakan harta Soeharto, meskipun kedua Bundesrat itu berhaluan tengah agak ke kanan. Sebenarnya bila calon Bundesratin yg gagal bisa jadi yaitu Rita Roos dari SP(Sosial Partei) kita bisa banyak berharap dari dia, karena sikapnya yg ke kiri. Sekali lagi mari masyarakat indonesia di luar negeri menyatukan langkah utk membantu bangsa sendiri dgn segala cara yg kita mampui. Dan terutama Jaksa Agung Ghalib agar bisa memberikan keterangan KBRI mana yg sudah melaporkannya, dan jangan mengundur2 waktu teros, bersikaplah ksatria demi generasi yg akan datang, bukan demi kel cendana. Salam Joang kang bondet - Switzerland ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Mar 1999 jam 10:29:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
