---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Merdeka, 14 Maret 1999 Hendropriyono Bicara Akar Permasalahan Ambon RMS Kumpulkan Dana Beli Senjata Kini muncul bukti-bukti baru tentang keterlibatan gerakan separatis RMS dalam kasus kerusuhan di Ambon. Beberapa bukti surat-surat yang dikirimkan dari Belanda tempat RMS bermarkas hingga kini menunjukkan konsolidasi kekuatan dengan targe, tahun 2000 Maluku merdeka, lepas dari Indonesia. Gerakan RMS (Republika Maluku Selatan), lewat sejumlah wawancara di telivisi Belanda dan Eropa berusaha meyakinkan dunia internasional bahwa kerusuhan Ambon adalah gerakan rakyat yang ingin memerdekan diri dari Indonesia. Ada cukup banyak teori tentang penyebab kerusuhan Ambon, muali dari pertentangan antaretnis, kecemberuan sosial, keretakan hubungan militer-sipil, provokator sampai pada yang paling anyar ikut campur organisasi separatis RMS mengobok-obok Ambon. Awalnya, teori RMS yang pertama kali dilontarkan oleh Letjen AM Hendropriyono itu mendapat banyak tentangan, bahkan dari warga Maluku sendiri. Bahkan tawaran, anggota DPR, dan tokoh masyarakat Des Alwi juga meragukan teori itu. Di Ambon sendiri, sejumlah mahasiswa bingung untuk menghubungkan dari mana seorang Hendro, Menteri Transmigrasi dan PPJ yang mengurusi kepindahan warga itu, bisa menciptakan teori seperti itu. Namun Hendro, bekas Direktur BAIS (Badan Intelijen Strategis/sekarang BIA) ABRI itu, bersikukuh. Akar permasalahan kasus Ambon, tak lain tak bukan, adalah provokasi RMS. Karena itu penyelesaian harus lewat saluran internasional untuk meredam kegiatan mereka. "Jangan sampai kita kecolongan seperti kasus Timtim," katanya. Kelompok RMS berusaha mencari dukungan dan dana, yang akan digunakan untuk membeli senjata. Imbauan bagi dukungan itu, menurut Hendro dilontarkan juga lewat televisi. Konon, senjata-senjata itu akan dikirimkan ke Ambon untuk mempersenjatai para 'partisan' di sana. Mereka telah mengirimkan 'utusan' ke Jakarta dan Ambon untuk menghubungi para 'pejuang kemerdekaan itu'. Menurut Hendro, mereka belajar dari Portugal yang telah lebih dulu sukses mengangkat kasus Timor Timur ke kalangan internasional. Melalui siaran televisi para kader RMS juga mendesak Pemerintah Belanda agar peduli terhadap kasus Ambon. Belanda juga didesak untuk bersama-sama meminta agar PBB melakukan campurtangan di Ambon dengan menarik ABRI dari wilayah itu dan menggantikannya dengan pasukan PBB. Melirik pada informasi itu, tampaknya ada benarnya sinyalemen sejumlah kalangan bahwa ada provakator internasional yang ikut bermain dalam mengacau negeri seribu pulau itu. Momentumnya juga tepat, yaitu disaat ekonomi Indonesia sedang terpuruk, ABRI kehilangan giginya dan masyarakat yang tengah emosi, mudah diadu domba. Setelah terusir dari Indonesia dan tinggal selama kurang lebih 50 tahun di Belanda, tak jelas lagi berapa jumlah anggota RMS. Hanya diketahui bahwa mereka telah beranak pinak dan melakukan kawin campur dengan orang Belanda asli. Mereka ada juga yang telah masuk WN Belanda. Data lainnya adalah, terdapat tiga golongan masyarakat asal Maluku yang berada di Belanda. Pertama adalah yang pro RMS, terdiri dari WNI dan WN Belanda. Golongan kedua pro RI, juga WN Belanda dan WNI, dan yang ketiga golongan netral yang umumnya WN Belanda. Pada tanggal 6 dan 7 Maret, RMS mengadakan show of force, mereka menyelenggarakan aksi demo di tiga kota di Negeri Belanda yaitu Den Haag, Amsterdam dan Groningen. Sebanyak 750 orang anggota dan simpatisan RMS mengikuti aksi demo itu. Suatu laporan bertanda Confidential Top Secret menyebut nama- nama pentolan RMS. "Mereka menggalang persatuan dalam nasionalisme Maluku dan mengedepankan kerukunan beragama. Ini dibuktikan dengan bercampur baurnya pengurus RMS yang kristen dan Islam tanpa ada persaingan." kata laporan tersebut. Laporan itu menyebut juga nama presiden baru RMS yaitu Frans Tutuhatumewa dan anggota kabinet Watilette serta Otto Matulessy yang semuanya beragama Kristen. Mereka bergandengan tangan dengan anggota kabinet RMS yang Islam semisal Haji Malabat dan Haji Abdul Rahman Tahupelasuri serta Haji Umar Sauli. "Semua ini harus diketahui rakyat Ambon. Di Belanda sana RMS yang jadi musuh bersama kita, bergandengan tangan antara Islam dan Kristen. Di sini, sayangya. tak akur," ujar Hendro. Pihak RMS punya rencana, nantinya demo itu tak cuma dilakukan di Belanda, tapi ke seluruhan Eropa. Akan digambarkan bahwa dalam kerusuhan Ambon itu, Pemerintah RI berpihak kepada Islam dan menumpas orang-orang Kristen yang memberontak karena ingin Merdeka. "Butuh waktu untuk menyakinkan ornag-orang bahwa aksi RMS itu memang ada. Kebanyakan orang mengira mereka sudah mati. Itu tidak benar, sebab secara politik mereka mungkin benar mati tetapi secar moral masih hidup. Dalam situasi dan kondisi tertentu, politik RMS bisa hidup kembali," kata Hendro lagi. Ini adalah peringatan kedua kali yang dihembuskan oleh Hendro berkaitan dengan kerusuhan Ambon dan hubungannya dengan RMS. Sebabnya ada sinyalemen bahwa agen-agen RMS muali memasuki Ambon untuk membuat kerusuhan. Antara lain membuat keributan di kota Ambon pada menjelang akhir tahun 1978 lalu. Dalam keributan itu mereka membakar bendera merah putih di depan Makorem 174 Pattimura. Tak lama kemudian mereka mengibarkan bendera RMS di gunung Nona dan sebulan kemudian, tanggal 19 Januari 1999, kerusuhan besar melanda Ambon. Ratusan orang tewas. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Mar 1999 jam 10:31:41 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
