---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Publico, 1 Maret 1999 Horta Menganggapi Usulan Indonesia Untuk Melucuti Kelompok Milisi Dan Gerilya Timtim: ITU PEMIKIRAN YANG ANEH Wakil Xanana menunjukkan kegusarannya terhadap pemikiran perlucutan senjata paralel antara kelompok milisi pro-integrasi dengan kelompok gerilya pro-kemerdekaan Timtim. Pemikiran para jenderal Indonesia tsb menanggapi permintaan Ramos Horta untuk segera melucuti kelompok milisi. Kelompok gerilya hanya akan menyerahkan senjata apabila militer Indonesia meninggalkan Timtim. Tokoh kedua CNRT, Jose Ramos Horta menunjukkan kegusarannya atas pemikiran militer Indonesia yang mengusulkan perlucutan senjata total di Timtim. Wakil Xanana Gusmao tsb menganggap ide perlucutan senjata total di Timtim. Wakil Xanana Gusmao tsb menganggap ide perlucutan senjata kelompok pro-integrasi harus dibarengi penyerahan senjata kelompok gerilya pro-kemerdekaan sebagai "sesuatu yang aneh dan hipokrit". Ramos Horta tidak dapat menerima pernyataan militer Jakarta yang mempersamakan kelompok milisi pro- integrasi dengan kelompok gerilya karenanya ia menyampaikan surat kepada Sekjen PBB untuk meng-alert Kofi Annan atas tesis jenderal Indonesia tsb. Ungkapan "perlucutan senjata total" disebarluaskan Xanana Gusmao setelah posisi Indonesia bergeser pada akhir Januari lalu. Pernyataan Xanana disambut baik oleh Jenderal Wiranto yang menyatakan dirinya sebagai pendukung "perlucutan senjata total". Yang pasti keduanya berbicara dua hal yang berbeda. Bagi CNRT, militer Jakarta harus segera dan tanpa syarat melucuti senjata kelompok milisi pro-integrasi, dan perlucutan senjata gerilya baru dapat dipertimbangkan sebagai kompensasi penarikan militer Indonesia dari Timtim. Dengan demikian, kelompok perlawanan menolak mengkaitkan kelompok gerilya dengan milisi pro-integrasi dan tetap pada keterkaitan perlucutan senjata antara masing-masing pasukan di lapangan: ABRI dan Falintil. Ramos Horta bahkan mendukung perlucutan senjata kelompok perlawanan didahului oleh "pause" kelompok gerilya di wilayah yang ditentukan. Penyerahan senjata dilakukan setelah pengurangan signifikan militer Indonesia dari Timtim dan setelah masa transisi pemisahan Timtim dari orbit Jakarta telah dapat dipastikan. Horta memperkirakan bahwa pasukan Falintil memadai untuk pasukan kepolisian Timtim di kemudian hari. Bergabungnya mereka ke dalam tentara tidak mungkin karena menurut Xanana Republik Timtim tidak akan memiliki angkatan bersenjata. di kepolisian Timtim akan juga bergabung polisi Timtim yang sekarang ini menjadi bagian dari ABRI. Polisi PBB akan bertanggungjawab atas ketertiban masyarakat di Timtim selama masa transisi sekaligus bertugas menyiapkan dan membentuk kepolisian nasional yang baru. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 19 Mar 1999 jam 10:32:02 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
