----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


BERBURU BARANG MURAH DI DILI

        DILI (MateBEAN, 20/3/99), Ketakutan kepanikan saat ini sedang
melanda kaum pendatang. Karena situasi dan kondisi keamanan yang makin
menunjukkan tensi yang tinggi membuat ratusan ribu kaum pendatang lebih
memilih untuk pindah ke daerah lain, asalkan bukan di Timtim. Anehnya,
situasi yang sudah demikian, justru diperparah dengan adanya ancaman, teror
dan intimidasi dari berbagai pihak, makin mencemaskan para kaum pendatang
yang berdagang maupun yang berstatus PNS di Timtim hingga dengan segala cara
kaum pendatang memilih untuk pindah dari Timtim. Yang ramai ketika usia opsi
itu sekitar satu bulan, di mana-mana ada informasi bahwa barang dijual
murah. Perabot dapur, tempat tidur, lemari, kursi sofa, rak piring,
televisi, sampai kepada kendaraan bermotor. Rumah dan bahkan ada yang
menjual kain lap.

        Di kompleks Perumnas Bairopite, lalu bergeser ke kompleks perumahan
Delta Comoro, perumas Manleuana, Perumahan BTN Fatuhada Dili Barat,
perumahan Becora, perumahan pribadi di mana-mana dan pertokoan banyak yang
menawarkan harga murah.

        Barang berharga murah, ternyata membuat penduduk asli Timtim
penasaran. Khususnya, ibu-ibu. Ke mana-mana mereka selalu memasang telinga.
"Ada kah yang menawarkan barang berharag murah?" Cerita dari mulut ke mulut,
bisik-bisik antar ibu-ibu. Tetapi kemudian bergeser menjadi rahasia umum.
Televisi 14" dijual dengan harga sekitar Rp 500 ribu, TV 17" sekitar Rp 800
ribu, kursi sofa antara Rp 300 ribu - Rp 450 ribu, lemari pakaian antara Rp
300 ribu - Rp 500 ribu, kulkas antara Rp 300 ribu - Rp 750 ribu, antena
parabola antara Rp 500 ribu - Rp 800 ribu. Rumah berkisar Rp 5 juta - Rp 50
juta, tergantung ukuran rumah. Bahkan harga itu masih bisa ditawar,
tergantung pendekatannya.

        Warga Dili yang cukup memiliki uang, baik dari hasil keringat
sendiri maupun dari sulapan, terutama pemilik perusahaan dan PNS, mencari
barang yang dikejar kemana-mana. Ibu-ibu (termasuk PNS wanita) hampir setiap
hari menyediakan waktu untuk mencari barang murah. Tak segan-segan mereka
mendatangi rumah-rumah yang diperkirakan akan menjual barang dengan harga
murah. Padahal, keluarga itu sebelumnya tak dikenal mereka.

        Mengintip, menegur dan menunggu di sekitar lokasi, itu lah gaya para
pemburu barang murah. Keringat halus tak peduli, asal bisa menemukan
seleranya. Ada yang tidak memiliki modal, tapi sekadar ingin cari tahu.
Bahkan bisa ditemukan di kta Dili, tak jarang ada yang menggunakan
kendaraannya mencari ke lokasi-lokasi perumahan. Kalau bertemu syukur, tapi
kalau pemilik tak ingin menjual barangnya, terpaksa gigit jari dan kembali
ke rumah.

        "Kami memang mau membeli barang murah. Karena ini kesempatan. Kita
juga ingin membantu saudara-saudara kita, siapa tahu membutuhkan dana untuk
eksodus," ujar Ny Tina (bukan nama sebenarnya) ketika di kompleks perumahan
Surik Mas saat memburu barang itu. Ibu itu bahkan memarahi anaknya yang
tidak menemukan barang murah.

        Tidak puas, sejumlah warga datang ke pelabuhan Dili. Karena,
kabarnya, barang murah juga bisa ditemukan di dermaga Dili. "Katanya, kalau
waktu memuat di kapal dan tidak ada lagi tempat, terpaksa mereka jual
murah," ujar seorang ibu yang ditemuai MateBEAn.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 20 Mar 1999 jam 14:25:57 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke