---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- From: Herry Saptono DI LAMPUNG, kini tengah diadakan sayembara: "Bagi mereka yang berhasil menemukan penyebar isu bakso dari daging tikus, akan mendapat hadiah Rp 5 juta". Penyelenggaranya adalah Paguyupan Giri Kusumo, organisasi para perentau asal Wonogiri, Jawa Tengah, yang kebanyakan warganya berprofesi sebagai pedagang bakso. Paguyuban Giri Kusumo memeng patut resah. Pasalnya, sejak akhir Januari lalu, "periuk nasi" mereka mulai digoyang isu adanya bakso yang terbuat dari daging tikus. Isu ini dianggap benar karena ada asumsi para pedagang bakso tak kuat lagi membeli daging sapi yang sekarang harganya selangit. Asal mulai isu, konon, seorang konsumen yang tak jelas identitasnya, mengaku melihat daging tikus di kamar mandi atau dapur "Warung Bakso Pojok", di pusat perbelanjaan King Pasaraya. Terselenting pula kabar, warung itu kini telah disegel, dan lagi di warungnya tak ada kamar mandi atau dapur seperti isu yang tak bertanggung jawab itu. Isu bakso dari daging tikus jelas merugikan pedagang bakso seantero Bandarlampung. "Gara-gara isu bakso tikus, dagangan kami jadi sepi pengunjung", ujar Pak Djono yang membuka warung di Gang Senen, Kaliawi. Bayangkan, kalau biasanya ia mampu menjual sedikitnya 20 kilogram bakso daging sapi per hari, kini paling banter cuma setengahnya. Untuk menenangkan konsumen bakso, Dinas Peternakan setempat melalui media masa merasa perlu mengumumkan bahwa "daging tikus tak bisa dibuat bakso". Menurut Joni, pedagang "Bakso Dal" di jalan Hayam Wuruk, sungguh tidak masuk akal pedagang membuat bakso dari daging tikus. Soalnya, mencari tikus saja sulitnya setengah mati. Padahal, untuk membuat bakso, dibutuhkan daging minimal 4-5 kilogram. "Berapa ekor tikus yang harus dikumpulkan untuk mencapai 5 kilogram bakso?" kata Joni. Ny. Son, pemilik warung bakso terbesar di Bandarlampung dengan bendera "Sonny Group", hanya bisa mengelus dada. Omzet dagangannya turun 30-50 persen akibat isu bakso daging tikus itu. Padahal, "Gimana mau buat bakso tikus. Lihat tikus saja jijik. Apa lagi, keluarga besar saya semua makan bakso", kata Ny. Son. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Mar 1999 jam 04:22:26 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
