---------------------------------------------------------- Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "signoff indonews" need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED] with body mail: "info refcard" ---------------------------------------------------------- Assalamu alaikum wr wb, Ummat Islam di Ambon baru2 ini menggelar demo dan mendesak agar Komandan Korem 174 Pattimura Kolonel Karel Ralahalu dicopot. Permintaan mereka adalah hal yang wajar, karena sebagai orang yang bertanggung-jawab terhadap keamanan masyarakat Ambon, Karel gagal melaksakan tugasnya. Akibat ketidak-becusannya, sekitar 1.000 orang mati terbantai, 30 ribu rumah hangus dibakar, serta menurut Reuters paling tidak sudah 50 ribu warga Muslim terpaksa harus melarikan diri ke Ujung Pandang, karena Karel beserta anak buahnya tidak mampu melindungi mereka. Sudah satu bulan lebih kerusuhan Ambon berlangsung, tapi belum reda hingga sekarang. Selain itu ternyata terbukti petugas keamanan di Ambon tidak bisa bertindak adil. Terbukti sekitar 30 warga Muslim di pulau Haruku mati ditembak dari belakang. Pasukan Brimob mengatakan, senjata api yang dipakai untuk menembak direbut oleh perusuh, sementara warga Muslim menuduh aparat memberikan senjatanya kepada perusuh. Aparat kepolisian seperti LS dan anak buahnya juga terbukti menembak jemaah masjid Al Huda yang sedang sholat. Sementara itu, pasukan Karel ini ternyata kerjanya cuma melakukan razia senjata di kalangan Muslim (yang menggunakannya untuk membela diri), sementara kalangan Kristen bebas lalu lalang dengan senjata mereka. Akibatnya, ummat Islam di sana nyaris tidak bisa membela diri karena persenjataannya untuk membela diri sudah dilucuti, sementara lawannya dibiarkan begitu saja, dan aparat lokal yang diharapkan untuk melindungi seluruh warga tanpa pandang bulu ternyata sudah bersikap memihak dan tidak melindungi warga Muslim di sana. Semoga pimpinan ABRI bisa bertindak tegas untuk memecat aparatnya yang tidak becus (seperti Karel) ataupun pihak perusuh (baik dari Muslim atau Kristen), sehingga Ambon menjadi damai seperti semula. Wassalamu alaikum wr wb. Berikut berita dari Kompas, Reuters, dan Republika tentang demo ummat Islam Ambon: UMAT ISLAM AMBON UNJUK RASA DESAK DANREM DICOPOT AMBON -- Umat Islam di Ambon kemarin menggelar unjuk rasa. Di halaman Korem 174 Pattimura, mereka mendesak Komandan Korem Kolonel Kaarel Ralahalu dicopot. Unjuk rasa itu diikuti seribu orang setelah berjalan kaki dari Kompleks Masjid Raya Al Fatah menuju kantor Korem yang jaraknya sekitar lima ratus meter. Mereka menjunjung poster yang menegaskan bahwa Danrem milik semua golongan dan tidak boleh berpihak. Tak ada bentrokan dalam unjuk rasa ini meski dalam perjalanannya, umat Islam melewati wilayah ''merah''. ''Kami melakukan unjuk rasa ini dengan damai,'' tutur HM Wenno, Ketua Posko Umat Islam. Utusan umat Islam Maluku diterima Ketua Timsus Mayjen TNI Suaidi Marassabesy. Didampingi Kapolda Maluku Kolonel Saman Bugis dan Danrem Pattimura, Suadi menerima delapan butir tuntutan yang disampaikan umat Islam. Tuntutan itu berisi desakan agar pelaku pelemparan terhadap Imam Masjid Al Falah Waihaong serta perusakan terhadap angkutan kota Lini 3 diusut dan ditangkap. Mereka juga menegaskan perusakan terhadap angkutan kota Lini 2 di Sultan Babullah tidak benar karena tak pernah ada pengemudi Kudamati yang berani masuk kawasan Al Fatah sejak kerusuhan terjadi. ''Hendaknya setiap laporan diperiksa dulu. Kami menolak setiap laporan yang memutarbalikkan fakta,'' kata H Faraid Sebban dalam pernyataannya. Dituliskan dalam surat pernyataan itu setiap berita yang menguntungkan kelompok merah selalu dipublikasikan. Begitu juga yang mendiskreditkan posisi umat Islam di Ambon. Umat Islam Maluku juga mendesak agar gerakan pengacau Maluku dan tokoh intelektualnya diusut dan ditindak tegas. Unjuk rasa umat Islam ini merupakan jawaban atas unjuk rasa yang dilakukan warga Kudamati sehari sebelumnya. Warga Kudamati melaporkan insiden pelemparan terhadap mobil mereka di kawasan Sutan Babullah. Mereka minta jaminan keamanan petugas dengan melakukan unjuk rasa. Menurut mereka, tidak pernah terjadi pelemparan apalagi pemanahan terhadap mobil Kudamati. Sejak kerusuhan awal Idul Fitri tak ada lagi mobil Kudamati yang berani masuk kawasan muslim. Begitu juga sebaliknya. ''Jadi tidak benar ada pelemparan itu,'' kata pernyataan itu lagi. Sebaliknya umat Islam mendesak agar pelemparan terhadap imam masjid Al Falah di Batugantung diusut. Pelemparan dari atas itu mengakibatkan imam Waihaong cedera dan angkutan Lini 3 rusak. Tuntutan agar Danrem dicopot didasarkan pada sweeping (penyisiran) senjata tajam yang dilakukan aparat keamanan. Penyisiran masih dilakukan di jalan yang menghubungkan Hitu-Ambon dan Tulehu-Ambon. Warga yang diminta menyerahkan senjata tajamnya hanya warga Hitu dan Tulehu yang muslim. Sebaliknya kawasan Galala dan Passo yang warganya berkeliaran membawa senjata tajam di jalan dibiarkan. Pernyataan Danrem selama ini juga dinilai menyudutkan umat Islam. Danrem dinilai sering menyatakan benar sebuah laporan yang belum dicek kebenarannya. ''Ini akan kami sampaikan kepada Pangab,'' kata Suaidi sebagaimana dituturkan seorang utusan yang diterimanya. Lima utusan umat Islam yang diterima Suaidi antara lain Salim, Mahfuz, Hasan dan Arifin. Suadi menyatakan semua insiden yang dilaporkan akan diperiksa dan diusut. Sementara itu Kompleks Al Fatah hari ini mulai dikosongkan dari pengungsi yang berjumlah 600 orang. Sebagian pengungsi di Masjid Jami dan Masjid Raya Al Fatah akan dipindah ke pertokoan di Batumerah. Sementara sebagian lagi akan kembali ke kampung halaman di Buton dan Sulawesi Selatan. Pemindahan itu, kata Wenno, dimaksudkan untuk mengurangi kesemrawutan di dalam kompleks masjid dan juga melatih pengungsi mandiri. Setiap kepala keluarga dibekali bahan kebutuhan pokok cukup untuk sepekan. http://www.republika.co.id/9903/21/10237.htm Minggu, 21 Maret 1999 WARGA AMBON DIPERSILAKAN UNJUK RASA Ambon, Kompas Mayjen TNI Suaidi Marasabessy selaku Ketua Tim Khusus ABRI yang bertugas menghentikan pertikaian dan menegakkan hukum di Ambon, hari Sabtu (20/3) mempersilakan rakyat berunjuk rasa bila mendapat perlakuan tidak baik dari aparat. Ia menilai unjuk rasa sekarang ini lebih baik dilakukan oleh masyarakat Ambon yang ada dalam masa transisi menuju perdamaian. "Silakan unjuk rasa bila diperlakukan tidak baik, agar kekecewaan tidak tersalurkan dalam bentuk lain. Kita ini semua cinta damai," kata Suaidi di depan ratusan pengunjuk rasa yang mendatangi Markas Korem 174 Pattimura, Ambon. Ratusan warga mendatangi markas Korem dengan berjalan kaki. Mereka membentangkan beberapa spanduk yang berisi kecaman terhadap Komandan Korem 174 Pattimura, Kol Karel Albert Ralahalu yang dinilai memberikan penjelasan pers tentang pemanahan sebuah angkutan kota di kawasan Waihaong. Menanggapi kecaman pengunjuk rasa, Karel menegaskan, dirinya tidak memberi keterangan pers atas kejadian itu. Pers yang memberitakan adanya pengaduan awak angkutan kota yang mengaku mobilnya dipanah. Puluhan awak angkutan kota yang hari Jumat (19/3) mencoba beroperasi di kawasan-kawasan tertentu -yang sejak kerusuhan tidak dilalui angkutan umum- beramai-ramai mengadu ke Korem 174 Pattimura, Ambon, membawa kendaraan masing-masing. Mereka mengaku, keamanannya terancam. Para pengunjuk rasa yang mendatangi markas Korem Sabtu kemarin menyatakan, laporan awak angkutan kota tentang pemanahan itu terlalu mengada-ada. "Tidak ada pemanahan. Waihaong aman," kata salah seorang wakil dari mereka. Mayjen Suaidi mengatakan, pihaknya menerima laporan tentang pemanahan angkutan kota dari para sopir yang datang ke Korem. Hari itu juga Suaidi mengirim perwira untuk mencek kejadian itu dan tidak ditemukan bukti seperti yang dilaporkan. "Sekarang ini aparat intel sedang memanggil pelapor untuk dimintai keterangan mengenai kebenaran kejadian itu. Semua ini perlu diklarifikasi," kata Suaidi yang didampingi beberapa anggota Tim Khusus 19 ABRI dan Komandan Korem. Di kota Ambon, kini beredar pengumuman ancaman tembak bagi yang tidak mematuhi perintah militer. Pengumuman dikeluarkan dan ditandatangani Komandan Korem 174 Pattimura. Dalam pengumuman itu disebutkan rencana penggeledahan dan penyitaan senjata tajam, radio komunikasi tanpa izin, bom atau amunisi senjata rakitan. Menurut pengamatan Kompas, kesibukan kota Ambon kemarin kembali normal, namun pada malam hari, kota itu bagaikan kota "hantu". Tidak ada orang yang lalu lalang di jalan raya, setelah hari mulai gelap. Jalan tampak lengang. (nas) http://www.kompas.com/kompas-cetak/9903/21/UTAMA/warg11.htm REUTERS - Ambon Unrest Termed 'Ethnic Cleansing' Ambon unrest is ethnic cleansing-Moslem cleric By Amy Chew JAKARTA, March 12 (Reuters) - A prominent Moslem cleric from Indonesia's ravaged island of Ambon said on Friday that riots there constituted ethnic cleansing of Moslems, a claim Christian leaders vehemently deny. Abdullah Soulissa also said published death tolls were wildly inaccurate and the number killed ran into thousands. "Thousands have died, not hundreds. We don't know the exact number and the breakdown between Christians and Moslems," he said. Two generations would be needed for the scars of the past two months to heal, said Soulissa, head of Ambon's Al-Fatah Mosque Foundation. "This is ethnic cleansing. It appears that the Moslems are the ones who are being forced away," he told a news conference in Jakarta organised by the Moon and Star Party, a Moslem group. "It will take two generations to restore and heal relations between Moslems and Christians. What do you do when you see someone's eyes being gorged out, ears cut and throat slashed?" He was speaking as the island returned to a semblance of normality from the most serious recent incident, in which up to 10 people died on Wednesday as thousands clashed in Ambon city. But the Communion of Churches in Indonesia (PGI) said claims of ethnic cleansing were an attempt to sow fresh hatred. "We firmly reject efforts to portray Ambon's riots as ethnic cleansing of a particular religious group," the PGI said in a statement. "This is being spread to sow fresh hatred among different religious groups to confuse the real facts surrounding the riots." PGI secretary general Pattiasina said the first outbreak of violence in January planted such deep hatred that people were now killing each other senselessly. "People don't know why they are killing one another. If they see a person from a different religious group, they will just attack. It is senseless. You cannot term it as ethnic cleansing," he said. Soulissa's Al-Fatah mosque is the most prominent mosque on the island. Moslems comprise about 40 percent of the population and Christians make up 60 percent. Many of Ambon's Moslems are migrants from other parts of Indonesia. The clashes have largely been between Ambonese Christians and Moslem migrants. According to official figures and witness reports, more than 200 people have died in the two months of clashes on Ambon which first erupted on January 19. Soulissa said more than 50,000 Moslems have fled. Speaking with his voice heavy with emotion, Soulissa described the killings as sadistic on both sides. "The sadism is extraordinary. Not just from the Christians but also from the Moslems as both sides wage revenge on one another," Soulissa said. Asked whether he hated the Christians for what happened, he said: "No. I am very sad. I used to be so close with them and I know their religion so well." He illustrated his point by reciting verses from the Bible. The clashes have turned the once idyllic island into a war zone, with Moslems and Christians frightened to leave their own areas. The island's 400,000 people live in a mosaic of Christian and Moslem communities, often close to one another. The deployment of more than 3,000 troops has not stopped the violence. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 22 Mar 1999 jam 04:30:02 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
