----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


INTEL KOREM 164/WD CULIK DAN BUNUH SEORANG PEMUDA

BAZARTETE (MateBEAN, 22/3/99), Joao Teixeira (18) warga RT III/RW III Desa
Fatuhada, Kecamatan Dili Barat, tewas mengenaskan. Mayatnya ditemukan warga
Desa Ulmera, Kecamatan Bazartete, Kabupaten Liquisa Senin (15/3) minggu
lalu. Joao diduga ditangkap dua orang anggota intel Korem 164/WD pada Kamis
(11/3) sekitar pk 02.00 dini hari di pantai Farol, Desa Motael, Dili Barat.

Saat ditemukan warga di tepi pantai Desa Ulmera, mayat Joao dalam keadaan
membusuk. Tragisnya, mayat Joao ditemukan tanpa kepala, telapak kaki dan
telapak tangan. Pihak  CNRT yang menerima informasi tentang penemuan mayat
itu langsung mendatangi tempat penemuan jenazah.

Ketika bertemu para keluarga korban di tempat kejadian, mereka menjelaskan,
almarhum Joao saat ditangkap sedang bersama saudara sepupunya, Luis Recardo
Pinto Pereira (22). Mereka usai main bola guling di Taibesi. "Joao dan Luis
pada Kamis malam sekitar pk 22.00 Wita keluar dari rumah, katanya mau main
bola guling  di Taibesi. Tapi menjelang pagi Luis yang pulang memberitahukan
kepada kami bahwa Joao ditangkap 2 anggota ABRI," kata Joana Ximenes Pinto,
kakak ipar Joao.

Sementara, Luis RP Pereira yang bersama korban saat ditangkap, kepada STT
menjelaskan bahwa kejadian tersebut bermula dari almarhum bersamanya usai
main bola guling di Taibesi sekitar pk 23.00 wita. Dalam perjalanan pulang
menuju rumah di Pantai  Kelapa desa Fatuhada, kecamatan Dili Barat mereka
mengendarai motor RX King DF 3660 AC.

"Setibanya di Pantai Farol kami istirahat sebentar. Tiba-tiba 2 oknum
anggota intel Korem masing-masing berinisial K dan TB mendekati kami sambil
menawarkan minum agar diminum bersama-sama," tambah Luis.

Karena merasa tak aman, Luis mohon pamit sambil star motor. Namun kunci
motor dicabut aparat bernama K yang kemudian menodongkan pistol ke dagu
Luis. Setelah itu Luis dan korban Joao disuruh 2 anggota aparat keamanan
yang diduga dari anggota intel Korem itu mencari granat  di pasir tepi
pantai Farol.

"Katanya granat itu kami yang sembunyikan di dalam pasir. Kami juga disuruh
untuk berbaris dan jalan jongkok ke sana kemari," kata Luis memperagakan
kepada masyarakat serta rombongan CNRT yang dipimpin Ete Uco Terbatim di
lokasi penemuan mayat Joao.

Namun Luis bernasib mujur, karena ia berhasil menyelamatkan diri, ketika
seorang oknum intel itu menarik picu pistol, ternyata pelurunya jatuh ke
tanah, sehingga dia mengambil kesempatan tersebut dengan melarikan diri
sambil meminta bantuan. "Saat itulah saya ambil kesempatan menyelamatkan
diri," kata Luis.

Luis berlarian dan meminta perlindungan di kediaman Wakil Gubernur (Wagub)
Timtim, Pantai Kelapa. Di penjagaan Wagub, Luis melaporkan kejadian itu.
Kemudian Luis bersama aparat keamanan yang sedang bertugas mendatangi tempat
kejadian untuk melihat korban Joao dan motor. Namun setibanya di Farol tidak
ada seorangpun yang berada di tempat itu.

Melihat Joao yang telah tiada Luis yang kenal  dengan kedua oknum anggota
Intel itu langsung melaporkan kejadian itu ke Korem 164/WD dan Satuan
Intelejen Korem (SGI). Keesokan harinya laporan serupa disampaikan ke Komnas
HAM, Kontras, ICRC, CNRT, Uskup Diosisi Dili dan Yayasan HAK termasuk harian
umum STT  dan NOVAS.

"Kami mohon aparat keamanan mengembalikan adik kami. Kami juga mengharapkan
semua pihak yang berkompeten untuk tolong melakukan pengecekan ke Korem
164/WD," kata Joana.

Meski berbagai upaya dilakukan kelurga almarhum. Kini kenyataan pahit harus
diterima. Joao yang sehari-harinya bekerja sebagai pedagang di pasar Mercado
Comoro ditemukan terbaring ditepi pantai dengan kondisi sangat
memprihatinkan.

"Saat saya mencari ular untuk pancing  ikan tiba-tiba seekor anjing lari
menghindari. Saya mendekati tempat anjing tadi karena ada tumpukan daging.
Saat mendekati terlihat kaki menusia. Karena sudah pukul 18.00 wita langsung
saya pulang memberitahukan RT 8 kampung Baru ini," kata Orlando Da Silva
(30) penemu jenasah Joao.

Letda Pol Nico kepada STT menjelaskan saat korban ditemukan telah membusuk.
Korban tanpa kepala, tanpa telapak tangan dan telapak kaki serta deging
betis telah tiada.

Korban dikenali keluarga karena ada tato burung garuda di bahu kiri. "Karena
hari pasar di Liquisa jadi banyak orang pergi ke pasar ketika melewati jalan
ini banyak orang berkerumun. Diantara para penumpang itu ada kelurganya
sehingga korban dapat diidentifikasi," kata Letda Nico.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 22 Mar 1999 jam 16:16:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke