----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Daya Cipta Politik Sebagai Sumber Harapan bagi Demokrasi Indonesia
Herbert Feith *)

    Bicara dengan sekelompok mahasiswa saya di Universitas Gadjah Mada
beberapa
bulan yang lalu saya berkesan mereka belum biasa dengan istilah daya
cipta
politik. Saya beri contoh macam2, diantaranya Soekarno pada tahun 1927
-28,
kemudian pada tahun 1942-50, kemudian lagi pada tahun1956-59, Hatta pada

tahun  1920an dan kemudian  lagi pada tahun2 1945 dan 1949, Jenderal
Nasution pada waktu berdamai dengan Soekarno pada tahun 1955-58, dan
menciptakan ide jalan  tengah tentara, D. N. Aidit sebagai Sekjen Partai

Komunis Indonesia (kemudian sbg Ketua Umumnya) yang berhasil
menyesuaikan
komunisme Rusia-Tiongkoknya dengan nasionalisme Soekarno dan akhirnya
menerima Panca Sila, Jenderal Suwarto. sebagai tokoh SESKOAD yang
mengajak
para ekonom Universitas Indonesia menjadi dosen SESKOAD selama
tiga-empat
tahun  menjelang tahun 1966, dan Siauw Giok Tjhan, seorang tokoh Partai
Tionghoa Indonesia tahun 1930an dan Menteri Urusan Minoritas pada tahun
1947-48 yang menjadi Ketua Umum Baperki (Badan Permusyawaratan
Kewarganegaraan Indonesia) pada tahun 1954 dan kemudian menpopulerkan
peran
WNI keturunan Tionghoa supaya dianggap sebagai suku bangsa seperti orang

Minang,  Bugis,  Flores dsb. Sejarah Indonesia abad ini memang penuh
dengan
contoh daya cipta politik !

1. Empat Macam Wacana  Demokrasi pada masa kini
    Wacana politik Indonesia pada masa pasca Mei 1998 ini ditandai
beberapa
tema umum yang agak konsensual, seperti reformasi dan pemberantasan KKN.

Tetapi selain itu ada wacana itu beranekawarna. Barangkali tepat dilihat

sebagai versi baku dan tiga versi lain.
    Versi baku barangkali tepat disebut reformasi yang mengharuskan
demokrasi.
Menuduh Soeharto dan Orde Barunya memberangus demokrasi, otoriter,
sentralistik, elitis dan anti-rakyat, merusakkan lingkungan hidup,
menimbun
hutang besar-an, dsb. Soeharto dikontraskan dengan Soekarno yang
dianggap
jujur dan berjiwa kerakyatan.
    Selain itu ada versi yang agak jarang terdengar yang barangkali bisa

disebut versi kiri  atau kerakyatan. Salah seorang wakilnya Pramoedya
Ananta Toer, yang menurut TORnya Seminar ini membela sistim politik
demokrasi terpimpin (yang berlangsung mulai tahun 1958-59 sampai tahun
1965-66). Sistim itu dianggap berjasa besar kepada integritas negara.
Tokoh
utamanya berjiwa kerakyatan, walaupun sering bertindak secara otoriter
dan
otokratik. Gagasan persatuan NASAKOMnya dianggap sumbangan besar kepada
persatuan nasional.
    Versi ketiga wacana reformasi barangkali bisa disebut
konstitusionalis.
Kalau dikatakan kanan saya kira kurang tepat, tetapi memang bukan kiri.
Buyung Nasution dan Marsillam Simanjuntak bisa dianggap pemukanya.
Wacana
ini jelas bukan hanya anti-Soeharto anti-Soekarno juga, dan
anti-demokrasi
terpimpin. Yang dihukumnya bukan saja Orde Baru melainkan "dua macam
pemerintahan yang otoriter, yang satu yang populis dan menciptakan
kebobrokan ekonomi dan satu lagi yang dari dulu mematikan kehidupan
politik
rakyat dan akhirnya menciptakan nepotisme yang luar biasa. Menurut versi

konstitusionalis ini Soekarno terang2an merusakkan tata hukum Indonesia
(alasanya hukum harus melayani revolusi), pada hal dosa besarnya
Soeharto
ialah menjadikan mendirikan machtsstaat daripada rechtsstaat, sehingga
konstitusialismenya bersifat semu.
    Versi keempat wacana reformasi agak jarang terdengar secara publik,
barangkali karena orang2nya takut dicap anti-reformasi dan
pro-statusquo.
Bisa disebut versi konservatif atau versi developmentalis atau versi
"good
governance". Menurut versi ini reformasi memang diperlukan tetapi jangan

diartikan secara ekstrim. Kalau terlalu ekstrim akan menimbulkan anarki,

primordialisme, desintegrasi bangsa, dsb.Dalam perspektif itu kita
dianjurkan jangan melupakan buruknya pengalaman Indonesia pada masa Orde

Lama, baik zaman liberalnya yang penuh gejala pemberontakan maupun pada
zaman akhirnya yang menjadi puncak kekuasaan personal Soekarno yang
makin
bergantung pada PKI. Orang2 yang memakai wacana ini sering mengeluarkan
pendapat mantan Presiden Soeharto jangan dihujat terus-menerus. Menurut
mereka jasa2nya besar, walaupun rezimnya akhirnya menjadi busuk.
Keberhasilannya pada dasawarsa2 pertamanya besar, ump. menciptakan
stabilitas politik dan ekonomi, meningkatkan pembangunan,
mempropagandakan
KB dengan perhasil, menyediakan pemerintahan yang efektif. Walaupun
penyakit KKNnya menjadi parah pada tahun2 terakhirnya, salah betul kalau

itu dianggap sebagai cirinya selama 32 tahun, menurut perspektif ini.

2. Tiga Usaha Kreatif yang akhirnya gagal  (dan/atau digagalkan)
a. Demokrasi parlementer (atau konstitusional) yang dipelopori
Hatta-Sjahrir pada bulan Oktober-November 1945
b. Demokrasi terpimpin yang dirintis oleh Soekarno dan Nasution pada
tahun2
1956-59
c. Demokrasi Orde Baru (atau Demokrasi Panca Sila) yang dirintis oleh
Soeharto, dengan Widjojo Nitisastro, Ali Moertopo dan Sudharmono sbg
mitra
utamanya

3. Tiga Taraf Krisis yang Menjurus Kemerosotan Sistim, 1956-58,
1963-65, 1996-98

4. Beberapa Warisan Sejarah yang menjadi Rintangan bagi Terciptanya
Demokrasi pada masa kini
a. Warisan Kolonial Belanda
b. Warisan Pendudukan Jepang
c. Warisan Demokrasi Parlementer (November 1945-Juli 1959)
d. Warisan Demokrasi Terpimpin
e. Warisan Orde Baru

5. Perlunya Demokrasi Indonesia yang berciri tiga :  pemerintahan yang
efektif yang dijiwai baik kerakyatan maupun konstitusionalisme.

6. Faktor-faktor Dunia Luar sebagai Sumber Harapan akan Terciptanya
Demokrasi Indonesia

a. Konstitusionalisasi politik global. Gejala itu timbul karena berbagai

kecenderungan yang terkait dengan proses globalisai yang sepertinya
menignkatkan kecepatannya. Khususnya karena berkembangnya kesadaran
banyak
kalangan elit di negara2 kaya akan makin besarnya interdependensi
negara2,
yang mengharuskan banyak hal yang secara formal masih wewenang negara
berdaulat menjadi wewenang organisasi internasional. Bahaya2 yang
disadari
mereka diantaranya mengalirnya modal yang "footloose" yang mudah
mengacaukan perekonomian banyak negara (seperti halnya di Indonesia,
Thailand, Korea Selatan dan Rusia baru2 ini), proteksionisme,
terrorisme
transnasional, perdagangan narkotika, pengrusakan lapisan ozon,
pemanasan
dunia, proliferasi senjata nuklir, "perang konvensional" seperti di
Bosnia,
Kosovo, Turki, Sri Lanka, Sudan, Kongo, dsb, yang menghasilkan arus
pengungsi besar (yang sebagiannya sempat masuk wilayah negara kaya
sendiri,
umpamanya Australia !) dan rasisme yang terlembaga (seperti di Afrika
Selatan sebelum tahun 1994).

b. Daya cipta pembaharu demokrasi di seluruh dunia. Ada yang  mendisain
konstitusi yang lebih baik  ada yang mengembangkan bentuk2 pemerintahan
campuran, umpamanya yang setengah eksekutif dan setengah yudikatif atau
yang
setengah negara persatuan dan setengah negara federal. Ada yang
menemukan
inovasi lain, umpamanya dalam hal sistim pemilu (bentuk2 campuran antara

sistim proporsional dan sistim distrik yang diwakili seorang anggauta)
atau
dalam hal pemantauan pemilu. Ada juga yang menciptakan cara baru di
dalam
pembangkangan sipil, umpama pelompat pagar kedubes, seperti yang menjadi

tradisi pemuda Timtim (Timorleste) selama beberapa tahun. Contoh lain
ialah
petani yang menduduki tanah milik Soeharto yang pernah dijualnya atas
dasar
paksaan. Dalam hal Tapos mereka menduduki tanah itu atas dasar kerjasama

dengan sebuah lembaga bantuan hukum.

c. Selain itu ada yang berhasil menyesuaikan lembaga demokrasi dengan
tradisi2 masyarakat non-Barat, umpamanya dengan mengurangi pentingnya
voting. Menurut keyakinan saya demokrasi janganlah dilihat sebagai
barang
Barat melulu. Beberapa pranata pokoknya memang berasal dari dunia Barat
(kalau Yunani klasik bisa disebut Barat). Selain itu demokrasi pernah
memang menjadi kartu troefnya negara2 Barat pada Perang Dingin. Tetapi
cap
Barat akhir2 ini menjadi luntur. Yang sering disebut sebagai negara
demokrasi terbesar di dunia ialah India.  Demokrasi India sudah tentu
jauh
dari sempurna, tetapi derajatnya di dalam hal yang oleh sarjana Swedia
Olle
Tornquist disebut  "bad guy democracy" (demokrasi yang dijiwai money
politics, premanisme dan lain2 bentuk campuran otoriter-anarki) masih
rendah dibandingkan dengan beberapa negara lain seperti Rusia.

7. Faktor-faktor Dalam Negeri yang tepat dianggap sebagai Sumber Harapan

a. Tradisi2 luhur pembangkangan yang damai dan berdisiplin, umpama
protes
yang bersifat pepe di depan rumah seorang raja atau bupati yang dianggap

memeras rakyatnya, penolakan pajak  kolonial oleh masyarakat Samin di
Jawa
Tengah bagian utara, kegiatan yang melanggar hukum yang dilakukan oleh
aktivis pergerakan nasional pada tahun 1920an dan 30an, yang  tidak
takut
diasingkan ke Pulau Nusakambangan atau ke Digul di Irian Jaya.
    Pada masa demokrasi terpimpin ada buku Masalah Hoakiao di Indonesia
yang
diterbitkan oleh  Pramoedya Ananta Toer pada tahun 1960 (?). sebagai
protes atas
pegejaran yang dikenakan pada orang2 keturunan Tionghoa (khususnya yang
warga negara Tiongkok) sebagai akibat Peraturan Pemerintah No 10 tahun
1959. Buku itu  dilarang dan menyebabkan Pramoedya dipenjarakan selama
setahun. Selain itu tepat disebut  wartawan-pengarang Mochtar Lubis yang

ditawan dua kali, dan pengarang muda seperti Goenawan Mohamad dan Arief
Budiman yang berani  mengundang kemarahan pemerintah (dan kemarahan PKI
juga) dengan menandatangani Manifesto Kebudayaan pada tahun 1964.
    Pada awal Orde Baru ada  pengacara Yap Thiam Hien yang berani
menjadi
membela  mantan Wakil Perdana Menteri Subandrio yang terkutuk umum pada
tahun 1966. Ada Soe Hok Gie yang memimpin sekelompok mahasiswa yang
berkabung di jalan raya setelah meninggalnya seorang professor Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia yang ditahan karena pernah penjadi
tokoh
HSI (perkumpulan sarjana yang pro-PKI). Soe Hok Gie itu, yang adiknya
Arief
Budiman, mempergunakan modal politiknya sebagai tokoh mahasiswa Orde
Baru
untuk melancarkan protes atas pembunuhan massal kaum Komunis. Skripsi
UI-nya mengenai peristiwa Madiun terbit setelah dia wafat akibat
kecelakaan
di gunung api, begitu juga buku hariannya yang berjudul Catatan Seorang
Demonstran yang kabarnya pernah menjadi bestseller. Selain itu ada Haji
Poncke Princen yang lahir dan dibesarkan sebagai orang Belanda dan
pernah
ditahan sekian kali baik di negara asalnya maupun di Indonesia. Salah
satu
tindakan politiknya yang saya sangat kagumi ialah aksinya membongkar
pembunuhan ratusan petani (yang dituduh Barisan Tani Indonesia yang
beraliran Komunis) yang terjadi secara diam2 di Purwodadi pada tahun
1969.
    Sesudahnya ada Romo Mangunwijaya yang mengancam mogok makan demi
menyelamatkan masyarakat kumuh di sepanjang Kali Code di Yogya ini, yang

menjadi tempat tinggalnya dan direncanakan akan digusur. Pada tahun 1985

ada aktivis Himpunan Mahasiswa Islam yang mendirikan HMI sempalan yang
bernama MPO (Majlis Penyelamatan Organisasi) karena tidak mau terima
Panca
Sila sebagai azas tunggal. Para aktivis HMI-MPO ini di era akhir Orba
merupakan
perintis barisan oposisi yang sejumlah tokohnya berhasil menjebol
bangunan
pemerintahan Soeharto dengan sangat sukses.
    Diantara tokoh2 teladan yang berjuang melawan Soeharto pada
dasawarsa ini
bisa disebut aktivis buruh Marsinah yang dianiaya, kemudian dibunuh,
wartawan Bernas Udin yang berani membongkar korupsi seorang bupati
Bantul,
kemudian dibunuh secara misterius, hakim agung Adi Andoyo yang menjadi
"whistle blower" di Mahkamah Agung, mahasiswa pemogok makan yang
dicacimaki
dan diejek oleh Mendikbud Wiranto Arismunandar dengan ucapan "kalian
bukan
Gandhi", Ratna Sarumpaet. tokoh SIAGA (Solidaritas Indonesia untuk Amien

dan Mega) dan Karlina Leksono, tokoh Suara Ibu Peduli yang mendukung
mahasiswa yang melakukan protes menjelang Mei 1998.

b. tradisi2 yang hidup di beberapa masyarakat profesi yang menjunjung
tinggi public spirit, keadilan dan imajinasi. Contoh2nya banyak,
diantaranya di beberapa departemen pemerintah, di lembaga pemerintah
seperti LIPI, di universitas dan sekolah, di dunia kaum seniman, di
media
massa dan di LSM.

c. Tokoh2 elit politik yang disegani karena kejujurannya, kepandaiannya
dan
daya inovasinya, seperti Mohamad Natsir, T. B. Simatupang, Soedjatmoko,
Sultan Hamengku Buwono IX , Roeslan Abdulgani,  Selo Soemardjan, Mohamad

Sadli, Emil Salim, William Suryajaya (pemilik perusahaan mobil Astra
yang
tidak mau menjadi kapitalis kroni), Nurcholish Madjid, Abdurrahman
Wahid,
Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais.

d. Karena demokrasi ada dinamika sendiri yang bisa diharapkan
memperkuatnya, umpamanya pemberdayaan rakyat bawah pada masa pemilu,
memicu
persaingan antara beberapa segmen elit politik yang berakibat
memberdayakan
yang bukan elit.

e. karena banyak anggauta masyarakat politik Indonesia menarik
kesimpulan
yang sehat dari pengalaman mereka pada zaman Orba akhir (sejak 1987-88
ataukah 1996 ?), khususnya bahwa pemerintahan yang kuat dan pimpinan
yang
tegas mengandung beberapa bahaya besar, diantaranya lunturnya checks and

balances, timbulnya konflik suksesi yang sengit ,dan munculnya penjilat
yang memblokir informasi yang perlu dipertimbangkan oleh pimpinan
pemerintah.

f. karena di dalam sejarah moderen Indonesia ada berbagai2 contoh dimana

konflik yang sengit diatasi secara kreatif. Umpamanya Pancasila, yang
menjadi hasil konflik santri-abangan (dan Islam-non-Islam) di Panitia
Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Umpamanya terciptanya
ASEAN pada tahun 1967 oleh orang2 seperti Adam Malik dan Menlu Thailand
Thanat Khomam, yang bisa dikatakan dibuahkan oleh konflik
Indonesia-Malaysia.
Masyarakat Asia Tenggara memang goncang selama empat
tahun setelah 1962-63 karena pemerintah Soekarno berusaha menggagalkan
rencana London-Kuala Lumpur untuk mempersatukan Malaya, Singapura dan
tiga
kawasan Inggeris di Kalimantan Utara menjadi negara Malaysia.Indonesia
menyatakan diri berkonfrontasi dengan rencana Malaysia itu, kemudian
menolak menerima Malaysia setelah rencana itu terlaksana dan diakui oleh

masyarakat internasional yang lain.

    Contoh ketiga menyangkut Timor-Timur, yang mungkin perlu kita sebut
Timor
Leste. Konflik pemerintah Indonesia dengan sebagian besar rakyat Timor
Timur, yaitu dengan penganut faham nasionalisme Timtim, dahsyat sekali,
tragis sekali. Tetapi memunculkan tiga tokoh besar, yaitu dua pemenang
hadiah Nobel (Uskup Belo dan Jose Ramos Horta) dan Xanana Gusmao, yang
oleh
sebagian orang dianggap sebagai  Mandelanya Timtim (atau diharapkan akan

berperan sbg Mandela pada masa transisi yang akan datang ini).
    Contoh saya yang keempat spekulatif dan barangkali kontroversial,
karena
"the proof of the pudding is in in the eating" (janganlah memuji puding
yang belum dimakan). Undang2 Pemilu yang baru saja dihasilkan oleh DPR,
setelah ada perdebatan panjang-lebar mengenai baik-buruknya sistim
proporsional dan sistim distrik, merupakan inovasi yang menarik. Kalau
saya
tidak salah - dan pemahaman saya mungkin sekali simplistis -- yang
menentukan jumlah kursi yang diperoleh oleh masing2 partai akan
ditentukan
secara proporsional di dalam masing2 daerah tingkat satu, tetapi yang
menentukan siapa orangnya yang bakal diangkat mewakili partai yang
berhasil
itu akan ditentukan oleh jumlah suara yang diperoleh oleh sesuatu daerah
di
masing2 kabupaten/kotapraja. Sistim baru kabarnya belum ada di negara
lain.
Kompromi itu rupanya merupakan barang baru yang tidak/belum ada di luar
negeri. Dan oleh sebagian pengamat dianggap kreatif.
    Contoh saya yang terakhir agak lain. Membawa kita kembali ke
masyarakat
universitas Yogya. Setelah diberitakan pembantaian yang dilakukan ABRI
di
Lampung pada awal tahun 1989, sebagai overreaction terhadap munculnya
seorang tokoh karismatik lokal di desa Way Jepara, timbul perdebatan di
kalangan mahasiswa Yogya mengenai kekerasan. Muncul dua kubu besar, yang

dipengaruhi oleh teori2 Marxis dan yang dipengaruhi oleh perspektif
ahimsa
(nirkekerasan) yang dibawa oleh Gandhi. Konflik itu akhirnya diatasi
dengan
terciptanya Manifesto Anti-Kekerasan yang diterima kedua buah kelompok
pada
tg. 26 Februari 1989. Dimuat di koran Eksponen, kemudian menjadi
substansinya sebuah cover majalah Tempo dan terbit dalam Bahasa Inggeris
di
Inside Indonesia di Australia.

(Semula Ringkasan Makalah/Ceramah yang disampaikan di Universitas Sanata

Dharma, Yogyakarta pada tgl. 18 Maret 1999)

*)Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Mar 1999 jam 07:18:08 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke