----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: Graha Rusdiana
JANG MULIA PARA CALON PRESIDEN.

Saat ini sudah ada tiga kandidat  Yang Mulia  calon Presiden yaitu Amien
Rais, Gus Dur dan Megawati. Ketiga tokoh tersebut merasa yakin dialah
menjadi Presiden ke IV pengganti Habibie. Tokoh lainnya tidak dianggap
oleh ketiga beliau tersebut. Dukungan media massa dengan berbagai
pertimbangan selalu menonjolkannya, lihat saja mana ada berita utama
setiap hari tanpa menyebut ketiganya. Dalam hal ini saya teringat pada
Harmoko, yang selalu nongol setiap hari di Televisi, sehingga masyarakat
pada akhirnya jenuh dan akhirnya kalau dia lagi nongol , televisinya
dimatikan. Memang untuk ketiga tokoh calon presiden tersebut belum
sampai demikian tetapi gejala kearah tersebut sudah terasa di
masyarakat. Terlepas dari itu menarik juga untuk untuk diamati
persaingan antara ketiganya, baik untuk menjadi calon presiden beneran
atau hanya hanya trik politik untuk meraih dukungan massa bagi
partainya. Dibalik kekuatan yang ada baik dari dirinya maupun dari
pendukungnya, ketiganya mempunyai mempunyai kelemahan yang cukup kuat
untuk mengganjalnya menjadi Presiden. Sebut saja konsistensi Amien Rais
dalam memilih alat perjuangannya, semula mau gabung dengan Partai Bulan
Bintang kemudian mau gabung dengan PPP yang kemudian mendirikan PAN.
Pendapatnya yang sering dilontarkan adalah sekitar hujatan terhadap
Soeharto , ultimatum dan beri nilai untuk raport Habibie. Selain itu
dalam kacah persaingan semula mengajak debat terbuka dengan Megawati
tetapi kemudian mau berkoalisi dengan Mega. Lihat juga Gus Dur pada
pemilu 1997 membesarkan GOLKAR dengan tour Istigosohnya bersama Mbak
Tutut yang menurut Gus Dur sebagai  Pemimpin masa depan. Megawati YANG
digandeng sebelumnya dilepas. Setelah Soeharto lengser, Mbak Tutut
ditinggalkan dan kemudian ber ISTIGHOSOH dengan Megawati kembali. Bahkan
mendukung Megawati sebagai Presiden. Mungkin partainya akan kepepet PKB
akan mencalonkan dari partainya sendiri. Timbul nama Gus Dur tetapi
kemudian ditambah embel-2 kalau kesehatannya terganggu akan mendukung
Megawati. Mungkin nanti berubah lagi wallahu a lam bisshawab. Megawati
bagaimana? Ya sebagai Ibu Rumah tangga sangat baik, sebagai seorang
wanita membuat iba orang kepadanya dalam membawakan kepedihan partainya
dalam menghadapi penindasan Orde Baru. Tetapi sebagai seorang politisi
apalagi negarawan terus terang masih jauh, visinya mengenai massa depan
bangsa belum terlihat. Seingat saya beliau belum pernah muncul dalam
suatu seminar yang berbobot atau suatu interview yang bebas menguraikan
fikiran dan pendapatnya mengenai masalah yang dihadapi oleh bangsa dan
negara.Sangat berbeda jauh antara langit dan bumi antara ayahnya sebagai
seorang pejuang pemersatu bangsa dan sebagai seorang idiolog.  Sebagai
Ketua umum dia lebih banyak dimanfaatkan orang sekelilingnya daripada
dia memanfaatkan orang disekelilingnya. Ketiga tokoh dalam masalah
internal mempunyai masalah yang sama, tidak mendapat dukungan bulat dari
lingkungannya. Lihat Saya Gus Dur dengan NU nya melahirkan empat partai
dengan label NU selain yang berada dalam partai lain, Muhammadiyah telah
tersebar kepelbagai partai demikian juga PDI ex PNI saja ada terpecah
belah menjadi beberapa partai apabila unsur partai yang berfusi sudah
mendirikan masing-2 partai. Kalau internal saja sudah demikian , apakah
bisa mempersatukan seluruh bangsa? Lihat saja kesepakatan Ciganjur, yang
membuat risau golongan reformist lainnya, bahkan keretakan ciganjur
sudah didepan mata seperti komentar Amien Rais mengenai USULAN Gus Dur
mengenai jadwal siudang MPR. Kata-2 keras dalam menghadapi situasi
bangsa bisa menghangatkan suasana dan kurang tepat diucapkan oleh
seorang negarawan seperti Revolusi Social (Ucapan Gus Dur) Pemberontakan
(ucapan Amien RAIS) Jotos (ucapan Megawati). Apakah tidak ada kata yang
lebih arief dan bijak dalam mengomentari sesuatu? Karena itu ketiga
calon Yang mulia Presiden tersebut hanyalah trik berkampanye dalam
menarik massa, karena rakyat  akan memilih Presidennya seorang negarawan
yang konsisten , yang mempunyai kemampuan intelektual dan managerial
yang tinggi ,tutur kata yang baik  tetapi tegas, komitmentnya yang
tinggi untuk kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi
dan golongan. Yang jelas orangnya bukan Ketiga calon yang mulia
tersebut, siapa dia cari saja sendiri namanya saja demokrasi.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 16 Dec 1998 jam 10:49:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke