---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk KANTOR KORAMIL BAYU, LHOKSEUMAWE DISERBU MASSA LHOKSEUMAWE, (MeunaSAH, 23/12/98) Markas Koramil Bayu, Aceh Utara, Minggu (20/12) tengah malam diserbu seribu orang lebih. Massa marah karena anggota Babinsa setempat, seorang anggota TNI-AD berpangkat sersan dua, dikabarkan mengganggu seorang gadis yang baru saja menjalankan shalat tarawih. Aksi itu berlanjut dengan konvoi massa hingga ke Kandang, Kecamatan Muara Dua. Di Kandang, massa sampai memblokir jalan raya Medan-Banda Aceh dengan tiang listrik, sehingga mobilitas kendaraan dan masyarakat umum terganggu. Pemblokiran ini berlangsung hingga esok harinya. Dalam penyerbuan sebanyak empat gelombang yang dimulai sejak pukul 23.00 WIB itu, massa menghujani Markas Koramil dengan batu dan berupaya membakarnya. Massa yang marah juga merusak Kantor Kecamatan Bayu yang letaknya bersampingan dengan Koramil. Di Kandang, massa melempari gedung Pengadilan Negeri Lhokseumawe dan membakar dua unit mobil. Massa juga menganiaya pemilik mobil itu. Selain menganiaya, mereka juga menyandera para anggota ABRI yang kebetulan tengah menumpang bus. Sedikitnya, tiga anggota ABRI disandera massa. Namun, akhirnya berhasil meloloskan diri. Dari sejumlah korban penganiayaan, tercatat nama Ka Ajenrem 011/Lilawangsa, Mayor Harahap. Ia yang baru kembali dari Medan menggunakan mobil sedan bersama istrinya dihadang massa ketika berada di Desa Alue Awe, Kecamatan Blang Mangat, Aceh Utara. Harahap dianiaya hingga tangannya patah. Sedangkan pistolnya jenis FN-46, dirampas. Sementara istrinya dibacok massa hingga mengalami luka serius di bagian kepala. Mobil yang dikendarainya juga dibakar. Suami istri itu saat ini dirawat di RS Tentara Lhokseumawe bersama sejumlah korban lainnya. Menurut Danrem 011/Lilawangsa, Kolonel Inf Johnny Wahab, dalam peristiwa di hari pertama dan kedua bulan suci Ramadhan ini, sedikitnya lima orang mengalami luka-luka. Tiga dari keluarga ABRI dan dua dari masyarakat. Dua anggota masyarakat yang terluka masing-masing Junaidi (25), penduduk Keude Bayu dan Hamdani (40) warga Desa Geudong Kecamatan Samudera. Junaidi, mengalami luka tembak pada kaki kiri dan tembus hingga ke kaki kanan. Sementara Hamdani menderita luka karena sambaran peluru karet pada bagian dada dan perutnya. Keduanya tertembak pada saat petugas Detasemen Polisi Militer I/I Lhokseumawe berusaha menyelamatkan anggota Babinsa yang dimaksud dari amukan massa sekitar sekitar tengah malam. Babinsa tersebut mengalami luka yang cukup serius. Danrem secara blak-blakan mengakui bahwa kasus amuk massa ini berawal dari kekeliruan seorang anggota ABRI yang berdinas di Koramil 05/Bayu, yakni Serda R. Namun, ia menjelaskan, Serda R ini bukan mengganggu gadis yang pulang tarawih. Tetapi, justru karena kelewat solider menanggapi kemelut keluarga orang lain. Dalam keterangannya Danrem menyebutkan, sekitar pukul 19.20 WIB Serda R bersama seorang anggota masyarakat setempat bertemu seorang wanita bernama Ny Isya, di depan kantor Koramil. Wanita itu menceritakan tentang keadaan keluarganya yang berantakan dan berniat bunuh diri. Namun, ia dinasehati Serda R dan kemudian diantar ke desa asalnya, Desa Tuha, Bayu. Namun, sekitar pukul 19.30 WIB Serda R yang bersama dua rekannya dari anggota masyarakat ketika akan melaksanakan shalat tarawih di Masjid Bayu kembali bertemu wanita tersebut. Wanita itu menitipkan mukenanya kepada Serda R. "Katanya mau beli obat. Namun, sampai Serda R bersama rekannya selesai shalat, Ny Isya belum juga kembali. Wanita itu ternyata kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan ke rumah ia bertemu sekelompok pemuda yang menanyakan kenapa ia tidak shalat. Ny Isya menjawab bahwa mukenanya diambil oleh tentara. Mendengar jawaban itu, para pemuda tadi langsung mendatangani Koramil Bayu," cerita Danrem. Peristiwa amuk massa ini mulai meluas sekitar pukul 22.00 WIB. Saat itu sekitar 25 orang anggota masyarakat Desa Tuha, Bayu, termasuk di antaranya suami wanita yang berkeluh kesah pada Serda R, melakukan unjuk rasa ke Markas Koramil menuntut penjelasan tentang hubungan antara Serda R dengan Ny Isya. Setelah mendapat penjelasan dari Danramil beserta unsur Muspika, dan terakhir diperkuat M Isya bahwa istrinya itu mengalami kelainan jiwa masyarakat akhirnya pulang. Namun, satu jam kemudian sekitar seribuan massa dari Bayu dan Kemukiman Kandang kembali mendatangi Markas Koramil Bayu. Mereka melempari kantor itu dengan batu dan berusaha membakarnya menggunakan bensin. Namun, usaha mereka berhasil dipatahkan dengan tembakan peringatan oleh anggota Koramil. Pada saat bersamaan, terlihat dua pasukan setingkat Kompi dari Yonif 111/KB dan Yonif 112/DJ didatangkan untuk memperkuat Koramil Bayu. Meski personel keamanan ditambah, massa tetap tidak terpengaruh. Di tengah berbagai umpatan massa yang diarahkan kepada petugas, sekitar pukul 24.00 WIB mobil patroli beserta sejumlah anggota Denpom I/I Lhokseumawe tiba di Bayu untuk mengamankan Serda R. Namun, begitu sersan itu berada di atas mobil PM, massa menariknya keluar mobil dan menganiayanya hingga petugas keamanan terpaksa melepaskan tembakan, yang katanya peringatan, tapi mencederai dua orang. Dalam situasi itu pula anggota Denpom berhasil keluar dari kerumunan massa untuk mengevakuasi Serda R. Tepat sekitar pukul 01.30 Senin dinihari massa berhasil dibubarkan dengan tembakan senjata api secara bertubi-tubi ke udara. Namun, pada saat itu massa bukan mengakhiri aksinya. Sebaliknya berkonvoi ke arah barat untuk mengosentrasikan diri ke Simpang Kandang. Akibat aksi yang berlanjut hingga siang hari itu, mahasiswa Politeknik Negeri Lhokseumawe terkatung-katung di Simpang Cunda dan tidak bisa mengikuti kuliah kemarin karena selain tidak ada angkutan juga banyak di antaranya yang ketakutan. Sementara itu, sejumlah masyarakat yang berkantor di kawasan timur Lhokseumawe juga banyak yang memilih tidak berangkat kerja setiba di Simpang Cunda dan melihat suasana yang agak gaduh. Dalam situasi itu sekitar pukul 09.00 WIB, sebuah mobil jeep Taft yang ditumpangi tiga lelaki berkaos loreng menerobos penjagaan petugas Polantas di Simpang Cunda. Namun, sepuluh menit kemudian dari Simpang Kandang dilaporkan ketiga pengendara mobil itu babak belur diamuk massa dan mobilnya diseret ke pinggir laut kemudian dibakar. Sampai berita ini dilaporkan belum diketahui identitas dan nasib ketiga pengendara mobil tersebut. Namun, sebuah keterangan menyebutkan dari dalam mobil itu massa merampas dua pucuk senjata laras panjang. Danrem dan aparat keamanan sendiri masih bertanya- tanya tentang identitas ketiga pengendara mobil yang disebut-sebut anggota ABRI itu.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 13:12:34 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
