---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Sidang Pembaca SiaR yang baik, Kami sengaja mem-post artikel yang dimuat di Harian Kompas tanggal 22 Desember 1998 ini dengan pertimbangan bahwa semangat yang digambarkan oleh si belia Vera ini akan menggugah dan menambah semangat pemuda Indonesia, khususnya para pelajar dan mahasiswa yang kini sedang menghadapi represi baru. Akan lahir Vera-vera baru yang semilitan Vera Hitipeuw ini. Salam untuk Vera dan Ferry di RS UKI dan rekan-rekan mahasiswa lain yang terbaring sakit di mana pun kalian berada! Merdeka! Redaksi SiaR ------------ VERA: KALAU SAYA MATI, AKAN ADA SERIBU YANG BARU Kompas (22/12/1998) "SAYA memang tidak paham benar soal politik. Mungkin gisaya masih terlalu muda. Saya turun ke jalan hanya karena menuruti kata hati saja sebagai anak bangsa. Ketika papa-mama tahu keadaan saya, perasaan mereka bercampur aduk antara bangga dan sedih. Kepada rrmereka saya katakan: Terima kasih mama-papa bangga, tapi mama-papa nggak perlu sedih karena toh kalau saya mah, akan ada seribu yang baru. Jadi kalaupun saya mati, saya tidak mati sia-sia. Saya ingin papa-mama, keluarga, dan kawan-kawan berdoa untuk saya agarpenderitaan saya tidak membuat kasih saya pada Tuhan luntur..." Kalimat itu diucapkan Verayanti Silyanita Hitipeuw (22), mahasiswi Fakultas Hukum, Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) semester tujuh, Jumat (18/12) malam, di pembaringannya di unit rawat intensif Rumah Sakit (RS) UKI. Sepertiga bagian kepala mantan anggota Teater Adinda itu dibebat perban. Ada beberapa jahitan di luka di sisi kanan mukanya. Napasnya masih tersengal-sengal. Tangan kanannya diinfus. Dia masih belum boleh makan apa-apa selain minum air bening. Sekali-sekali, putri bungsu tiga bersaudara pasangan Frans Hitipeuw Agustina B Hitipeuw Leatemia itu mengeluh lirih karena nyeri di kepalanya. Dia kemudian menjelaskan kejadian yang menimpanya. Kamis (17/12) malam, setelah di dekat Gedung MPR/DPR, dia bersama sebagian besar mahasiswa UKI yang tergabung dalam Forum Kota naik bus dari Universitas Katolik (Unika) Atma Jaya di kawasan Semanggi, menuju UKI, Cawang, bersama sebuah bus lainnya yang juga penuh mahasiswa. Sampai di simpang jalan yang menuju Halim Perdanakusuma, sekitar pukul 20.30 WIB, bus kedua yang ditumpanginya dicegat serombongan tentara yang naik truk dan sebuah mobil militer. Tentara kemudian menyerang bus dan rombongan mahasiswa. Vera, putri Lektor Universitas Jakarta itu tak bisa lepas: dari tindak kekerasan itu. Se belum kakinya menyentuh tanah, dia sudah tak sadarkan diri. "Sayatidaktahuapayang membentur kepala saya, popor senjata, tongkat, atau batu, tetapi seorang teman mengaku melihat saya masih dipukuli meski sudah tergeletak di tanah. Mereka yang memukuli saya lupa, Tuhan masih lebih kuat dari mereka," ungkap putri kelahiran Maluku 4 Januari 1976 itu sambil tersenyum. * * * Di ruang yang sama, di sudut lain arah diagonal, Feri Hendrawan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Manajemen Universitas Gunadarma, semester hma, kelahiran Jakarta 24 Februari 1978, terbaring membisu. Seorang perawat menarik tirai, menutup Feri dari pandangan. Anak pertama dari empat bersaudara pasangan Bambang Sugiarso-Fenty itu mengalami trauma di kepala karena bentrokan antara mahasiswa dengan aparat ke amanan ketika mahasiswa me nerobos masuk halaman bela kang Gedung Departemen Pertahanan dan Keamanan, Rabu lalu. "Sekitar pukul 23.00 - 23.30 WIB, hari Rabu, istri saya, Fenty, menerima telepon dan Ibu Karlina Leksono, memberi tahu kejadian yang menimpa anak saya. Istri saya menangis. Saya kaget dan segera ke RS UKI. Ketika saya tiba, Feri sedang dioperasi. Operasi selesai Kamis (17/12) sekitar pukul 02.00," jelas Bambang yang menunggu di luar. Bambang ditemani istri dan dua putra lainnya. Bambang tidak ingin mengomentari penstiwa yang menimpa anaknya. "Percuma ngomong, kekerasan masih terus terj adi . Orang-orang itu seperti gedebok pisang, dingin, tak punya hati. Kita ini 'kan orang kecil, nggak pernah direken," lanjutnya. Bambang masih harus berusaha memperoleh uang tambahan untuk biaya perawatan dan pengobatan putranya. "Sampai Jumat ini, total biaya sudah meneapai Rp 3.685.000, sementara saya baru bisa membayar biaya obat," paparnya. Beberapa mahasiswa Gunadarma yang ikut menunggu mengatakan, kecil kemungkinan pihak rektorat Gunari darma mengulurkan bantuan. "Pihak rektorat menilai, kini pergerakan mahasiswa tidak lagi didukung," ujar mereka lirih. (windoro adi) ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 13:40:00 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
