----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


KOMPROMI DENGAN SOEHARTO TIDAK BIJAK

        JAKARTA (SiaR, 23/12/98), Ada sesuatu yang menarik dari serangkaian
manuver Abdurrahman Wahid (Gus Dur) akhir-akhir ini.  Yaitu, terbukanya
kedok bahwa para perusuh adalah kelompok Soeharto yang kecewa terhadap
perlakuan atas junjungannya. "Pengikut pak Harto itu masih kuat. Mereka
tidak terima kalau junjungannya itu digencet-gencet," kata Gus Dur Rabu
siang (23/12).

        Menurut  sebuah sumber, pendekatan Gus Dur pada Soeharto tersebut
merupakan salah satu bentuk peredaman gejolak kerusuhan yang dilakukan oleh
pengikut-pengikut Soeharto. "Dengan bertemunya mereka, Gus Dur berharap
Soeharto bisa mengendalikan para pengikutnya agar tidak terus-terusan
membuat rusuh," kata sumber SiaR.

        Memang, selama ini ada isu di masyarakat bahwa kelompok pendukung
Soeharto diduga kuat terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan yang terjadi selama
ini. Misalnya sempat tersiar kabar bahwa ada keterlibatan Jenderal Hartono
dan tentara pengikut Prabowo dalam peristiwa pembantaian tokoh NU di
Banyuwangi dan sekitarnya.

        Hal tersebut semakin diyakinkan dengan adanya sejumlah organisasi
yang didirikan dan dibiayai keluarga Cendana untuk melatih kelompok
vigilante. Salah satunya adalah Yayasan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia
(YAKMI), salah satu organisasi yang dibentuk keluarga Cendana dan mempunyai
cabang di banyak daerah. Kelompok ini pula yang membentuk apa yang menamaan
dirinya Satgas Tebas dan terlibat pula dalam pengerahan Pam Swakarsa untuk
melawan mahasiswa yang menolak SI beberapa waktu silam.

        Namun demikian, sikap akomodatif Gus Dur terhadap Soeharto dan
kelompoknya itu dinilai banyak pihak tidak  seharusnya dilakukan oleh ketua
PBNU itu.

        "Kalau benar kelompok Soeharto terlibat dalam kerusuhan-kerusuhan,
tangkap saja mereka dan adili saja sesuai dengan hukum yang berlaku. Dan itu
harusnya bisa juga dijadikan salah satu bahan untuk mengadili Soeharto.
Sebaliknya,  dengan mengakomodasi kelompok Soeharto, tanpa proses
pengadilan, maka akan membuat preseden buruk bagi bangsa ini. Kelak, siapa
yang kuat dukungannya tetapi kalah dalam percaturan politik bisa saja lalu
menggerakkan pengikutnya untuk membuat rusuh," kata sumber SiaR.

        Sumber tersebut menyebutkan, dugaan Gus Dur bahwa kelompok Soeharto
yang membuat rusuh itu harus dibuktikan terlebih dulu sebelum melibatkan
Soeharto dalam dialog nasional. "Sebab, jangan sampai sebuah asumsi
dijadikan dasar Gus Dur untuk kompromi dengan Soeharto," tegasnya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 23 Dec 1998 jam 13:51:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke