----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Tahun 1998 = Tahun Kebangkrutan Jakarta!

Jakarta merupakan simbol tentang satu pemusatan. Simbol sentra kekuasaan
dalam arti yang seluas-luasnya. Juga sentra perputaran uang seluruh negeri.

Jakarta juga merupakan simbol tentang segala sesuatu yang serba
superfisial. Simbol tentang segala sesuatu yang serba jangka pendek. Selain
itu, Jakarta merupakan simbol hedonisme, materialisme dan konsumerisme.

Jakarta pun merupakan simbol dua hal yang saling bertentangan tetapi
merupakan faktor terpenting krisis moral: Keserakahan dan kemiskinan. Di
Jakarta-lah kita bisa melihat orang serakah tak kenal batas hingga titik
paling ekstrem. Di Jakarta pula kita bisa melihat orang miskin
semiskin-miskinnya hingga titik terujung tanpa pilihan lain kecuali
survival.

Di Jakarta pula tempat berkumpul informasi dan pengetahuan yang arogan.
Entah itu yang benar, kabar burung, bisik-bisik, atau propaganda. Di
Jakarta berkumpul orang-orang yang merasa tahu apa dan bagaimana negeri
ini, sehingga mereka berani bikin keputusan tanpa perlu berkonsultasi
dengan orang-orang di pojok negeri yang akan jadi korban kesekian.

Ke Jakarta-lah orang-orang dari berbagai daerah berdatangan,
berduyun-duyung, berharap dapat meraih dan memainkan kekuasaan. Berharap
dapat menghimpun uang. Bergelimang materi. Hidup sebagai hedonis. Sekarang
adalah sekarang, besok adalah besok. Tapi realitas, lebih banyak mereka
yang jadi kanibal hanya untuk sepotong gaya hidup metropolitan yang dangkal.

Mulai pertengahan 1997 hingga akhir 1998 Jakarta limbung. Orang-orang di
pusat kekuasaan masih berusaha pongah melawan alam. Kebakaran hutan dan
bencana asapnya yang mampu membuat seorang Suharto meminta maaf kepada
negara tetangga. Saat yang bersamaan Rupiah anjlok ke titik yang membuat
jiwa goncang. Para pengusaha dan konglomerat yang dulu angkuh dengan
keperkesaannya terbukti cuma produk karbitan. Kemudian tibalah bencana
kekeringan. Lalu krisis kepercayaan. Lalu....

Tahun 1998 seluruh pelosok dunia jadi saksi. Kepongahan Jakarta cuma gertak
sambal. Negeri luas beraneka warna ini memang tak layak dikendalikan oleh
Jakarta. Kekuasaan tak layak dipegang Jakarta. Seluruh mitos dan simbol
Jakarta terbukti bangkrut! Kolaps! Tapi, walau limbung Jakarta masih
menyisakan kepongahan. Kepongahan yang tak ada guna. Kekuasaan harus
dibagi. Tinggal masalah waktu. Silakan Jakarta memilih. Mau jalan keras
atau jalan penuh kedamaian?

Apa masih ada orang percaya, masa depan negeri ini mampu ditangani
Jakarta....?

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 24 Dec 1998 jam 07:51:38 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke