----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (2)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Dari mana gerakan menuju kultur kesetaraan bisa
dimulai ?

Tidak  banyak  alternatif  sistem  ketata-negaraan  dalam
masyarakat  dunia  saat  ini   walaupun  setiap    bangsa
bebas   untuk   ber-eksperimen   dengan    sistem. Pada
hakekatnya, saat   ini   sistim   demokrasi   Barat adalah
satu2-nya alternatif setelah sistem  sosialisme / komunis
Eropa   Timur   dan   Cina   tidak   lagi   mampu  menjadi
contoh kesuksesan.

Jadi apakah namanya reformasi/revolusi/perubahan yang
diinginkan mau tidak mau mengacu kepada suatu sistim
demokrasi yang rakyat adalah sebagai subjek  yang ikut
menentukan  arah   dari   penyelenggaraan   negara   dan
penghormatan   negara  terhadap   Hak   Azazi   Manusia
rakyatnya. Untuk ini perlu dilakukan revolusi kultur feodal
menjadi kultur kesetaraan dimana rakyat betul2  menjadi
subjek   yang  setara   untuk   melaksanakan   hak   dan
kewajibannya  secara  seimbang   tanpa   dominasi   dari
pihak penguasa.

Kita  harus  melupakan cara2 kaum komunis melakukan
revolusi  kultur  dengan menghancurkan  semua  tatanan
feodal  (termasuk orangnya)  karena  kita  semua  sudah
tahu  bahwa  komunis  tidak  menghasilkan  masyarakat
yang adil makmur walaupun itu yang di-cita2-kan.

Sebelum  kita  membahas  bagaimana caranya merubah
kultur feodal ke  kultur  kesetaraan, kita  harus mencoba
mengukur seberapa kultur feodal ataupun subkultur yang
mendukungnya       yang     masih      mengakar    dalam
masyarakat.   Penulis    mencoba    melakukan   analisa
SWOT (Strength,   Weakness,    Opoptuninty,   Threat) -
penulis  terbiasa  menggunakan  analisa   SWOT   dalam
rangka analisa bisnis  dan  ini  adalah  suatu eksperimen
apakah  analisa  SWOT  bisa   digunakan  untuk  analisa
kultur) dari struktur  budaya Indonesia sehingga  mungkin
kita bisa melihat  kekuatan2  maupun  kelemahan  kultur
Indonesia  agar  bisa   melakukan  revolusi   kultur   lebih
efektif (bisa mencapai sasaran dengan tepat).

Kekuatan Kultur Indonesia.

Ada beberapa momen sejarah  bangsa  Indonesia  dalam
rangka  transformasi  sosial  yang   telah merubah  kultur
bangsa   Indonesia   dari   waktu   ke   waktu.   Beberapa
momen sejarah yang betul-betul telah berhasil (jadi  tidak
benar   bahwa  bangsa  Indonesia  adalah   bangsa  yang
gagal, karena  apa  yang   terjadi  saat  ini  adalah  suatu
proses      perubahan       yang        berlanjut       menuju
penyempurnaan   kultur    yang     dikehendaki     menuju
masyarakat  adil  dan  makmur)  merubah  kultur  secara
radikal yaitu :

- Kebangkitan    Nasional   20   Mei  1908  dan   Sumpah
Pemuda  28  Oktoner  1928  adalah  dua momen  sejarah
yang  telah   merubah  kultur   kesukuan  menjadi   kultur
persatuan bangsa Indonesia  yang  kemudian  melahirkan
motto  'Bhineka  Tunggal  Ika'. Tidak  ada   kekuatan  dari
bangsa  Indonesia  dengan  nilai2  persatuan   yang  solid
yang telah membawa suku yang ter-pecah2  yang mudah
diadu  domba  oleh   penjajah    Belanda   menjadi  suatu
bangsa  yang  mampu  memerdekakan  dirinya.Tidak ada
kekuatan    yang   bisa   menyamai   dengan   Persatuan
bangsa  Indonesia,  dan  modal  ini yang  harus kita  jaga
untuk melangkah kedepan. Ini bisa dikatakan  perubahan
kultur  dimana  adanya  toleransi  yang besar agar  kultur
kesukuan / kedaerahan   yang   masih   tebal    saat   itu
menjadi dirubah /di-transformasi menjadi kultur  Indonesia
atau  paling  tidak   dalam   perbedaan   kultur   kesukuan
terdapat suatu pijakan dasar bagian dari kultur persatuan
Indonesia yang secara terus menerus merupakan  ikatan
yang mengikat satu  sama  yang  lain  -  dan  proses  ini
bukanlah  proses  yang  mudah  dan  merupakan   suatu
prestasi bangsa Indonesia yang  patut  dibanggakan  dan
dipertahankan.
- Kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17  Agustus 1945
adalah tahap transfomasi awal menuju  kultur  kesetaraan
dimana     sebagai    bangsa    memproklamirkan  dirinya
'merdeka' yang berarti setara dengan  bangsa2  yang  lain
didunia,  bahkan  setara  dengan  bangsa   yang   tadinya
menjajah. Tidak ada lagi dominasi  bangsa  lain  terhadap
bangsa   Indonesia.   Kemerdekaan     adalah    kekuatan
bangsa Indonesia.  Ini  adalah  suatu  transformasi  kultur
yang  sangat  radikal  dari  kultur  dijajah   menjadi  kultur
merdeka. Sudah  barang  tentu  adalah  perubahan kultur
yang sangat dahyat telah terjadi dari suatu kultur  bangsa
yang  hidup dalam alam penjajahan menjadi satu  bangsa
yang  harus  hidup  dalam alam kemerdekaan  (walaupun
kita  bisa  mempertanyakan  seberapa  perubahan  kultur
secara nyata  menyentuh  masyarakat  yang   lebih  luas
untuk  ikut  merasakan  manfaat dari alam  kemerdekaan
sehingga  merubah  citra  dan   kultur   Indonesia  secara
nyata - yang  akan  kita  bahas  dalam  kelemahan kultur
Indonesia).
- Tanggal 1 July 1945 sebagai  kelahiran  falsasah  dasar
Pancasila yang digali dari prinsip2  gotong  royong  kultur
bangsa  Indonesia  adalah  kekuatan  yang  lain   dimana
bangsa  Indonesia  memilih  suatu konsep dasar  falsafah
yang  bersumber  pada  kultur  bangsa  Indonesia  sendiri
(walaupun secara operational dari waktu ke  waktu  harus
dikaji  agar interpretasinya  betul2  mengacu  pada  kultur
kesetaraan bagi semua rakyat Indonesia).

Kelemahan Kultur Indonesia.

Disamping faktor kultur yang  bisa  dibanggakan  sebagai
kekuatan,   setiap     bangsa     mempunyai    kelemahan
struktural  yang   bisa  dikatakan   sebagai   suatu  kultur
yang    menghambat      bangsa      tersebut     mencapai
cita-citanya,   dalam    hal    bangsa     Indonesia    untuk
mencapai   masyarakat   yang   adil   dan  makmur.  Jadi
apabila   kita   membicarakan  tentang  kelemahan,   kita
tidak perlu berkecil hati, karena justru  apabila  kita   bisa
mengetahui    kelemahan2    kita,    adalah    lebih    baik
sehingga kita  bisa   mengambil  langkah-langkah   untuk
melakukan   perbaikan    atau   paling    tidak   berusaha
mengurangi dampak negatif dari kelemahan yang ada.

Menurut   pengamatan   penulis   paling  tidak  ada   tiga
kelemahan  kultural    bangsa   Indonesia    yang    paling
dasar  yang  sangat   menghambat    bangsa   Indonesia
untuk  mencapai   tujuan,  masyarakat   yang    adil   dan
makmur  yaitu:   feodalisme   sebagai    warisan    kultur
kerajaan2   dimasa   lalu,   kultur    abdi-dalem   sebagai
akibat   penjajahan   Belanda   yang    cukup  lama,  dan
kultur   hidup   santai   (sebagai    antitesa   etos   kerja)
karena dimanjakan oleh alam yang kaya dan subur.

1. Kultur   feodal   peninggalan   kerajaan2   di   Indonesia
masih sangat kental  sekali   berada   dalam   lingkungan
kultur bangsa  Indonesia  dan  subkultur  pendukungnya :
a. Bapakisme:  tuntutan   yang   ber-lebih2-an  dari  kaum
yang  lebih  dewasa  untuk  mendapat   penghargaan dari
kaum  yang  lebih  muda.  Subkultur   ini    menempatkan
kaum  yang  lebih  muda dijadikan  objek  dominasi   oleh
kaum  yang   lebih   tua.   Anak-anak    didominasi    oleh
orangtuanya   sehingga  tidak  mampu   mengembangkan
kreativitas.  Banyak  kasus   anak-anak   selalu   menjadi
korban  yang   selalu  disalahkan,   sedangkan   orangtua
selalu   benar    sehingga     menghambat    kepercayaan
kemampuan  pada diri sendiri  si  anak. Akibat   langsung
dari   kultur  ini   anak2  bisa   melakukan   'reaksi  lunak'
untuk     amannya      sang     anak     selalu     berusaha
menyenangkan  bapaknya  dan  timbullah  budaya   'Asal
Bapak Senang'  sedangkan  'reaksi  keras'   dengan  cara
'tawuran'  ataupun    melarikan    diri    ke   alam    fantasi
'ekstasy'. Kultur  ini   sangat    berpengaruh  dan berlanjut
dalam alam profesi  dibidang  pekerjaan   yang  hubungan
atasan  dan  bawahan  yang cenderung  atasan  berharap
mendapatkan   penghargaan    yang    ber-lebih2-an   dari
bawahan yang mirip kultur hubungan Bapak dan Anak.
b. Birokrat   sebagai     priyayi :   kultur     feodal      telah
menempatkan birokrat pada  posisi  sebagai  'bangsawan'
dengan segala macam hak2  istimewa  dan  menganggap
dirinya   sebagai   subjek    kekuasaan - legitimasi   yang
diperoleh   dari   rakyat    dipakai     untuk    menguasai /
mendominasi  rakyat  -  sedangkan  rakyat  adalah objek
dari kekuasan (disini mandegnya sistim demokrasi).
c. Militer   sebagai  'Ksatria'   adalah    bagian   yang   tak
terpisahkan  dari  sistim   ketatanegaraan  laiknya  dalam
sebuah kerajaan (karena itu DWIFUNGSI dimungkinkan).
2. Kultur abdi dalem  (Bahasa  kasarnya  kultur  budak) :
penjajahan  yang  cukup  lama   dari   penjajah    Belanda
telah  menjadikan  bangsa  Indonesia  masih   mengalami
trauma  'inferiority  complex'  walaupun   sudah   merdeka
tapi masih terbawa sikap terjajah ataupun terbelenggu :
a. sikap hormat yang ber-lebih2-an  terhadap  pihak  yang
lebih mampu dalam bidang finansial maupun intelektual.
b. sikap   hormat   yang   ber-lebih2-an    terhadap   orang
asing (terutama yang berkulit putih).
c. kurang berani membela hak2-nya sendiri.
d. kurang berani berbeda pendapat.
f.  kurang berani mengambil risiko.
g. kurang berani berinisiatif.
h. sikap  'nrimo'   atau    merasa     cepat   cukup    puas
menerima apa seadanya.
i. takut   berbuat    kesalahan     yang   berlebih - lebihan
sehingga  tidak  berbuat apa-apa  alias pasif  (seseorang
menjadi  pandai  karena  belajar   dari   kesalahan - tidak
seorangpun tidak pernah berbuat kesalahan)
Sikap-sikap   kultural   rakyat   jelata   seperti    ini   yang
dimanfaatkan oleh sebahagian bangsanya  sendiri  untuk
bersikap  sebagai   penjajah   dan   menumbuh  suburkan
feodalisme untuk keuntungan dirinya  sendiri,  kroni2-nya
dan  keluarganya  seperti  yang   telah    dilakukan   oleh
'orde baru'  selama 32 tahun maupun  oleh  pemerintahan
yang berkuasa saat ini.
3. Kultur  'hidup santai':  sebagai  bagian    dari   bangsa-
bangsa   kepulauan  yang  dimanjakan   oleh   alam  yang
kaya dan  subur  dimasa  lalu,  kultur   bangsa   Indonesia
tidak  menunjang  kearah   etos   kerja   keras,   walaupun
secara    positif    dikarenakan    banyak     waktu    luang
menumbuhkan    bakat-bakat       kesenian    dan     hasil
peninggalan    seni-budaya     yang    beraneka    macam.
Apakah   kultur    ini   masih    bisa    menunjang    dalam
persaingan   global   yang   makin   tajam,   kita   sebagai
bangsa patut untuk mempertanyakan ?
Barangkali  kesulitan  resesi   ekonomi   saat  ini  adalah
momentum  terapi  yang   sangat  tepat  untuk  merubah
kultur ini. Patut  diingat  bangsa  Amerika  juga  sebelum
mencapai apa  yang dicapai saat  ini  pernah  mengalami
resesi hebat pada tahun tigapuluhan.

Kombinasi  dari   ketiga  kelemahan  kultur  diatas   yang
dalam  periode  setelah  kemerdekakan  sampai   dengan
saat  ini  telah  menghasilkan   banyak  kaum   pinggiran,
pengemis,  pemulung,   pembantu     rumah-tangga,  kuli
dan  preman  (yang    pada   hakekatnya    merendahkan
martabat   kemanusiaan)     sedangkan      posisi    kaum
menengah, dan professional  banyak  direbut  oleh  pihak
pendatang  yang   punya  etos kerja  yang  lebih  unggul.
Dengan    kelemahan2     ini   sudah     selayaknya   kita
mencanangkan       revolusi      kultur      menuju    kultur
kesetaraan  yang   diharapkan   akan  menghapus  kultur
yang  melemahkan  bangsa  seperti  contoh  diatas  yang
pada   hakekatnya  sudah  dimulai  oleh  pendahulu2  kita
dengan  memproklamirkan   kemerdekaan  pada  tanggal
17 Agustus 1945, yang  diperlukan  saat   ini  agar  kultur
kesetaraan  menjadi  kultur   nyata   untuk    memberikan
kesempatan yang sama  bagi  seluruh  rakyat   Indonesia
terutama  kesempatan  yang  sama   dalam  memperoleh
pendidikan yang  memadai   maupun   kesempatan  yang
sama untuk  mendapatkan  pekerjaan / penghasilan yang
memadai  untuk  hidup  layak  sehingga rakyat jelata bisa
aktif  berpartisipasi  menjadi  subjek   nyata   dari   sistim
ketata - negaraan   Republik    Indonesia.  Dan  untuk  ini
mengharuskan  kita   bersikap  radikal,  dalam pengertian
tidak  mengenal   kompromi   terhadap  pihak-pihak  yang
menghalangi    tercapainya     kultur    kesetaraan     bagi
seluruh  rakyat  Indonesia,  untuk  melakukan   perubahan
atau  perubahan  makin sulit   dilaksanakan  bahkan  bisa
tidak  dimungkinkan samasekali. Penghalang  utama dari
terjadinya   kultur  kesetaraan  tentunya  dari  pihak-pihak
yang  mendapatkan   keuntungan  maupun  keistimewaan
dengan   kultur   yang    berlaku   saat  ini  dan  berusaha
dengan keras untuk mempertahankan 'status quo'.

Prospek Kultur Indonesia.

(Bersambung)

Desember 1998.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:16:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke