----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Saya  merasa kecewa bahwa dalam peristiwa-peristiwa yang bernuansa SARA 
tersebut (pembakaran/perusakan gereja), dalam memberi ketenangan kepada 
umatnya, pemuka-pemuka agama Kristen. Baik itu dari Protestan, maupun 
Katholik, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang memberi nasihat 
berdasarkan apa yang diajar oleh Yesus Kristus tentang cinta kasih 
tersebut.

Yang ada adalah pernyataan-pernyataan klise yang tidak berbeda jauh 
dengan apa yang keluar dari mulut para pejabat pemerintah. Seperti, 
"harap tenang," "jangan terulang lagi," "masyarakat diminta untuk tidak 
terpancing emosinya," dan sebagainya. Seolah-olah sewaktu menyampaikan 
pesan kepada umatnya itu, mereka tiba-tiba berubah menjadi pejabat 
pemerintah juga. Pesan yang disampaikan, menurut saya terlalu umum, dan 
tidak masuk ke dalam ajaran Yesus Kristus sendiri, ketika kita 
menghadapi kekerasan dan penganiayaan.

Mengapa para pemuka agama itu dalam kesempatan seperti itu tidak 
mengingatkan iman Kristen yang telah diajarkan Yesus kepada umatnya, 
yang entah sudah berapa kali mereka lontarkan dalam khotbah-khotbahnya 
di atas mimbar. Bukan mengulangi apa yang telah keluar dari mulut para 
pejabat pemerintah seperti yang saya sebutkan di atas. Mengapa pada 
waktu itu umat tidak diingatkan tentang ajaran Yesus Kristus tentang 
cinta kasih tersebut? Bahwa kita tidak boleh melakukan balas dendam atas 
kekerasan yang ditimpa kepada umat Kristen, seperti yang telah 
diteladani Yesus sendiri ketika Dia disiksa dan disalibkan?

Memang tidak menjamin mutlak bahwa umat akan bisa ditenangkan dengan 
pesan-pesan yang berisi ajaran Yesus Kristus tentang cinta kasih 
tersebut. Tetapi apabila ini disampaikan dengan keimanan yang 
sungguh-sungguh, saya yakin Roh Kudus akan turut bekerja untuk menuntut 
umat Kristen ke jalan yang benar. Bahkan para provokator pun tidak akan 
berhasil melaksanakan skenario sesuai kehendaknya.

Terpancingnya umat Kristen di Kupang untuk melakukan tindakan tak 
terpuji, merupakan salah satu bentuk kegagalan kita dalam beriman kepada 
Yesus Kristus. Kita masih merasa memiliki Yesus Kristus dalam bentuk 
gedung gereja, atau Alkitab. Tetapi kita tidak memiliki Yesus Kristus 
dalam hati kita.

Di dalam cerita yang saya kutip dari buku "Chicken Soup for the 
Christian Soul" di atas, gadis mungil bernama Sarah itu, rela tidak 
memiliki patung kecil Yesus Kristus, di samping karena ibunya tidak 
mampu membelinya, juga baginya yang terpenting bukan patung Yesus itu 
sendiri, tetapi hatinya telah menerima Yesus Kristus. Yesus Kristus 
telah menyatu ke dalam hatinya, sehingga iman Kristennya dapat berjalan 
dengan baik.

Demikian pula kita, sekalipun kita tak mengharapkan, terjadinya 
perusakan/pembakaran gedung gereja beserta isinya (termasuk 
Alkitab-Alkitab dan patung-patung Yesus/Maria), seharusnya tidak membuat 
kita menjadi pembenci dan pendendam. Kita pun harus meneladani iman 
Sarah. "Rela" menerima kenyataan penganiayaan iman Kristen dalam bentuk 
perusakan/pembakaran gereja itu, sebab bagi kita yang terpenting bukan 
gedung gerejanya dalam arti fisik, tetapi iman kita yang menerima Tuhan 
Yesus dalam hati kita masing-masing. 

Dengan iman tersebut, kita pun yakin bahwa Tuhan akan senantiasa bersama 
kita. Untuk kemudian dengan berbagai jalan kita akan bisa membangun 
kembali rumah ibadah kita seperti sedia kala. Atau bahkan lebih baik 
lagi.

Lihatlah gedung-gedung gereja yang dibakar, misalnya di Situbundo tempo 
hari. Kalau dulu sebelum dibakar/dirusak,   banyak dari gedung-gedung 
gereja itu yang kondisinya kurang baik. Sekarang setelah dibangun dengan 
bantuan dari kawan-kawan seiman dari seluruh nusantara, sudah menjadi 
gedung gereja yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. 

Jangan Anda kemudian menafsirkan; "Oh, kalau begitu kita mengharapkan 
semakin banyak gereja yang dibakar/dirusak, agar nanti bisa dibangun 
lebih baik lagi." Substansinya bukan itu. Substansi dalam kejadian ini 
adalah dalam peristiwa yang teramat pahit itu, Tuhan bekerja dengan 
kuasaNya, memberitahu kepada kita akan berkatNya yang tetap berada di 
antara umatNya yang percaya. Bahwa kita tak perlu khawatir akan segala 
penindasan yang dilakukan kepada kita oleh manusia selama kita 
senantiasa percaya bahwa Tuhan senantiasa bersama kita. BerkatNya tak 
berkesudahan. "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah 
yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?" (Ibrani 13:6)

***

Banyak pula di antara kita yang masih merasa seolah-olah jauh lebih 
mementingkan memiliki gedung gereja, menjalani segala macam upacara 
kegerejaan, ketimbang berupaya untuk benar-benar membuka hati kita untuk 
menerima Yesus Kristus. Apa yang dijalani selama ini hanya kulitnya 
saja. Hanya kelihatan dari luar indah saja. Tetapi giliran kia mendapat 
"ujian iman" kita akan mudah goyah, dengan melakukan hal-hal yang 
sebenarnya bertentangan dengan iman Kristen itu sendiri. Itu semua 
karena kita belum menerima Yesus dalam arti yang sebenarnya. Kita masih 
bersikap mementingkan untuk memiliki "patung kecil Yesus" seperti cerita 
di atas, tetapi mengabaikan untuk menerima Yesus dalam sanubari kita. 
Seharusnya kita meneladani Sarah.

Contoh dari pernyataan di atas,  misalnya, saling memperebutkan gedung 
gereja di antara umat Kristen Protestan dalam Huria Kristen Batak 
Protestan (HKBP), beberapa kejadian pemukulan orang yang tidak 
memperlakukan roti sakramen sebagaimana mestinya (dibuang) di gereja 
Katholik di NTT beberapa tahun lalu, dan peristiwa "balas dendam" umat 
Kristen di Kupang yang merusak/membakari masjid-masjid dan beberapa 
gedung milik Islam, termasuk sekolah/Universitas Muhammadiyah. 

Demikian juga di kalangan orang-orang Pantekosta dikenal banyak yang 
rajin untuk saling memperebut umat. Saling berlomba untuk mendapat umat 
sebanyak-banyak, termasuk dengan menggait umat dari gereja lain. 
Seolah-olah semakin banyak jumlah umatnya semakin menunjukkan 
kehebatan/keberhasilan gereja tersebut. Benar, gereja itu "hebat" karena 
bisa memiliki demikian banyak umat. Tetapi, jangan lupa, ini merupakan 
suatu bagian dari keberhasilan duniawi, apabila peningkatan jumlah umat 
ditempuh dengan cara-cara seperti di atas, atau yang diperhatikan hanya 
dari aspek kuantitinya semata. Jangan pula takabur merasa yang paling 
benar di antara gereja-gereja yang lain. Atau ada pendeta yang merasa 
bahwa gedung gereja yang berhasil dibangunnya itu adalah miliknya. Lupa, 
bahwa dia dan gereja adalah milik Tuhan. Dia dan gerejanya hanya dipakai 
Tuhan untuk melakukan ibadah kepadaNya. Kalau prinsip-prinsip keimanan 
ini tak dipegang, yang ada adalah prinsip-prinsip keberhasilan duniawi 
saja. Prinsip-prinsip keberhasilan duniawi akan dengan mudah 
diintervensi oleh kekuasaan kegelapan, yang bertopeng gereja atau 
pendeta.

***

Sikap beberapa media cetak dalam beberapa peristiwa perusakan/pembakaran 
gereja pun cukup memprihatinkan. Tak kecuali dengan Harian Kompas, yang 
sebenarnya mempunyai latar belakang Kristen Katholik, tetapi akhir-akhir 
ini seolah-olah mau mengingkarinya. Dalam beberapa kali hari besar 
Kristen, termasuk Paskah, koran yang lazim tidak terbit pada hari besar, 
ternyata tetap terbit dengan dalih untuk menurunkan berita yang aktual. 
Bahkan pada tahun 1996, Kompas pernah tidak mengucapkan Selamat Natal 
sama sekali, sebagaimana lazim dilakukan. Mungkin Kompas di bawah 
naungan grup Gramedia ini merasa trauma ketika terpaksa harus beberapa 
kali berhadapan pihak-pihak yang beraliran Islam radikal. Seperti dalam 
kasus Monitor, Selecta, Jakarta-Jakarta, dan terakhir Kompas sendiri 
ketika menurunkan tajuk tentang gerakan Islam radikal di Aljazair. 
Semuanya itu membuat Kompas seolah-olah hendak menjaga jarak dengan apa 
yang berbau Kristen. Di samping mungkin ada pertimbangan bisnisnya. Atau 
Kompas memang hendak mencari selamat duniawi dengan "mengingkari 
imannya" itu.

Di dalam pemberitaannya tentang kasus pembakaran gereja dan sekolah di 
Ketapang, Jakarta pun, Kompas tak merasa perlu mengutip pendapat (suara 
hati) dari pihak yang menjadi "korban" (pihak Kristen). Tetapi 
berulang-ulang mengutip pernyataan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). 
Sampai-sampai seorang keponakan saya yang masih duduk di SMP mengira 
Kompas itu korannya MUI. Padahal banyak media cetak lain tidak hanya 
mengutip pernyataan dari tokoh-tokoh Islam, tetapi juga dari tokoh-tokoh 
Kristen (KWI/PGI). 

Bahkan di dalam sebuah Tajuk Rencana-nya, Selasa, 25 November 1998, 
Kompas membuat opini yang seolah-olah tak terlalu menyalahkan apa yang 
dilakukan massa terhadap gereja-gereja itu. Kompas antara lain menulis:

"Sebagai orang awam kita hanya bisa membuat perkiraan. Barangkali karena 
terlalu lama masyarakat tertekan secara sosial, ekonomi, dan politik. 
Mungkin karena tekanan itu disertai ketidakadilan sosial, ekonomi dan 
politik yang terlalu mencolok dan terlalu lama. Mungkin karena kondisi 
kesenjangan dan ketidakadilan sosial itu berunsurkan nuansa SARA dan 
sekaranglah menjadi semacam hari membuat perhitungan."

Berbeda dengan Harian Suara Pembaruan yang sejak dahulu konsisten untuk 
"tak gentar" mengakui dirinya sebagai koran yang berlatar belakang 
Kristen Protestan. Sekalipun demikian, dia tak terjebak dalam 
pemberitaan yang subyektif. 

***

Mengakhiri tulisan ini, saya mengutip doa yang diucapkan salah satu 
suster yang gerejanya menjadi korban pembakaran massa dalam peristiwa 
Ketapang, yang dikutip Suara Pembaruan.

''Ya Tuhan, ubahlah dan lembutkanlah kiranya hati mereka yang tengah 
mengeras itu. Tuhan, jamahlah mereka yang terpuruk dan tidak berdaya. 
Siapa pun mereka, apa pun yang tengah mereka lakukan, lembutkanlah hati 
mereka, sebab mereka juga anak-anak Tuhan, seperti kami. �. '' 

Demikian juga suatu baris sajak, yang ditulis seorang penyair nampaknya 
perlu kita bisikkan sebagai doa yang isinya kira-kira seperti ini: 
''Tuhan, Berilah kesabaran seluas angkasa untuk mengatasi siksaan ini, 
untuk melupakan derita ini. Berilah perasaan selembut sutera, untuk 
menjaga peradaban ini, untuk mempertahankan kemanusiaan ini...'' 

Akhirnya, semoga Natal ini akan benar-benar membawa kita (kembali) 
kepada iman Kristen kita untuk dapat memahami dan melakukan apa yang 
telah diajarkan Yesus Kristus kepada kita sekitar 2000 tahun lalu. ***

SELAMAT HARI NATAL 1998 DAN TAHUN BARU 1999
============================================

Salam Natal
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:20:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke