----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

        KOLOM SUPANGKAT:

                JALAN "LURUS & SEMPIT" KE PEMILU JURDIL DDIJEGAL SUHARTO

Berbagai jalan yang kita tempuh untuk menggolkan Reformasi Total tenyata
menemui jalan buntu:

1. Tuntutan hukum terhadap bekas Presiden Suharto. Yang berhasil baru
pengusutan
        mobnas Timor, KKN Suharto pada masa ke 31 pemerintahannya. Masa dari tahun
        1 sampai 30 tidak bisa diusut? This is a joke, Jakgung Andi Ghalib.

2. Tuntutan penculikan, pembantaian masal 13 Mei tidak bisa diusut ke
sumbernya,
        jangan jangan sampai ke Suharto sendiri, ke Prabowo atau konon atasan Prabo-
        wo saja sudah gagal.

3. Suharto tidak pernah dituntut atas "crime against humanity"-nya karena
UUD45
        dan KUHP kita baru ketahuan umum sekarang ini sebagai "dinosaurus" yang
        sudah lama punah di seluruh dunia dan kita lumpuh tak mampu berbuat apa
        apa samasekali.

4. Satu demi satu Suharto memereteli Ciganjur dan komponen Reformis seperti
        Gus Dur dan mempertahankan statuskuo di DPR, MPR sehingga RUU Pemilu
        jurdil akan gugur dalam kandungan akibatnya pemilu Juni 1999 tidak akan
        menghasilkan DPR-MPR yang akan menggiring kita ke arah Reformasi To-
        tal a la Filipina, Thailand, Korea Selatan.

Jalan lurus dan sempit menuju pemilu jurdil yang kita dambakan masih di awang
awang karena RUU-nya masih di awang awang pula karena kita membiarkan
kekuasaan obstruktif Suharto dan kliknya beroperasi dan menjegal reformasi
secara kebal hukum.

Disinilah letaknya "dosa tak berampun" Presiden Habibie baik disadarinya atau
tidak karena dialah satu satunya yang berhak memimpin kita ke arah Reformasi
Total dengan merawe rawe rantas memalang malang putung semua kendalanya
yang menjegal kita di tengah jalan.

Maka dari itu hanya tinggal mahasiswalah yang mampu dan berani memimpin
kita dalam semangat "prefigurativisme"-nya Margaret Mead: "Anak-Guru-Ratu-
Wong Tuo" bukan lagi Guru-Ratu-Wong Tuo.

H.S. Hidayat Supangkat
New York

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:29:58 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke