---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Arief Wicaksono Ekonomi Kerakyatannya Adi Sasono Baru-baru dalam satu pertemuan di Yogya Adi Sasono menggelar "rencana besar" di hadapan beberapa aktivis LSM dan pegiat pembangunan tentang program ekonomi kerakyatan yang tengah dirintis departemen yang dipimpinnya. Pada pertemuan diuraikan justifikasi pentingnya ekonomi kerakyatan, serta bagaimana ketangguhan pengusaha kecil dan menengah menghadapi badai krisis dibandingkan para konglomerat yang sepanjang tiga dekade dimanjakan berbagai fasilitas oleh rezim Orde Baru. Menteri yang kabarnya adalah mantan aktivis LSM ini menjelaskan berbagai pertanyaan dan sorotan-sorotan tajam yang disasarkan pada dirinya. Ada beberapa hal yang penting dicermati pada sepak terjang Adi Sasono yang secara terus menerus mengibarkan simbol LSM agar dapat melekat pada dirinya (dalam hal ini peran media massa untuk mempromosikan Adi Sasono dengan label mantan atau aktivis LSM perlu diperhatikan pula). Yang pertama soal substansi ekonomi kerakyatan itu sendiri. Ada ketidakkonsistenan konsep. Di satu sisi mereka bicara soal pemberdayaan koperasi, dan sosialisme ekonomi. Tapi di sisi lain mereka bicara pasar dan kapital. Ketidakkonsistenan ini berujung pada pertanyaan, apa agenda di balik gerakan populis ini? Pemenangan dukungan politik (political gain) hingga pemilu? Atau, ada dugaan lainnya..... Apa mungkin dibangun satu sistem ekonomi kerakyatan dalam jangka waktu pendek (atau menengah) sementara piranti lunak masyarakat (sistem sosial dan hukum) masih tidak karu-karuan? Yang kedua soal penggunaan LSM sebagai latar belakang gerakan ekonomi kerakyatannya Adi Sasono. Yang jelas, kita perlu hati-hati tentang sosok LSM yang di-"gunakan" Adi Sasono ini. Di Indonesia, ada berapa tipe LSM berdasarkan pendekatan kegiatannya. Yang pertama adalah LSM yang menggunakan pendekatan pengembangan masyarakat (community development), dan selanjutnya mereka yang menggunakan pendekatan pengorganisasian masyarakat (community organizing). Yang terakhir ini lebih menyukai dirinya disebut sebagai organisasi non-pemerintah (ornop) daripada LSM. Berdasarkan bidang kegiatan, ada yang bergerak di bidang lingkungan hidup, pengembangan masyarakat desa, pendampingan dan pemberdayaan hukum bagi masyarakat, pendidikan, dan sebagainya. Kekhawatiran saya adalah, jika gerakan ini gagal, bukan Adi Sasono yang dituding sebagai faktor utamanya, tetapi LSM. Satu move yang cantik untuk membunuh gerakan LSM dan/atau ornop dari muka bumi Indonesia. Sementara agenda ornop (saya tidak menggunakan kata LSM) saat ini adalah pengakuan negara atas hak-hak sipil masyarakat dan hak-hak masyarakat adat dari berbagai pelosok negeri di berbagai bidang. Agenda yang berkesan sederhana ini sesungguhnya sulit diwujudkan sepanjang pemerintahan masih dipegang oleh Habibie dan para kroninya. Apalagi sepanjang masih kuatnya sakralisasi UUD 45. Ujung-ujungnya adalah agenda perubahan tentang negara kesatuan Indonesia yang berbentuk federal, dimana-mana corak pemerintahan dan administrasi pengelolaannya berbasis tata nilai budaya yang berlaku di wilayah masing-masing. Hal lain adalah soal krisis. Krisis yang melanda negeri pada hakekatnya adalah soal dominansi persepsi oleh kekuasaan. Ada usaha kuat membangun persepsi bahwa seluruh pelosok Indonesia tengah dilanda krisis. Kenyataannya, krisis nyata di Jawa dan Jakarta khususnya, dan sebagian kota-kota besar di Indonesia barat. Secara psikologis rezim Habibie hendak menekan rakyat dengan persepsi-persepsi krisis, agar bisa dibangun satu strategi penghimpunan dukungan yang baru dan segar, karena strategi-strategi terdahulu yang digunakan rezim Orde Baru sudah bangkrut. Apabila kita mengibaratkan Indonesia ini sebagai satu tubuh manusia, saat ini ada persepsi bahwa tubuh sedang menderita penyakit. Tetapi secara fisik tidak ada kelainan-kelainan terdeteksi sebagai gejala penyakit. Dengan kata lain, dengan kekayaan alam yang selama beberapa dekade dikuasai oleh kelompok tertentu, Indonesia jauh dari kategori "sakit." Buktinya masyarakat petani di berbagai daerah yang jauh dari Jakarta sekarang menikmati pola pasar bebas perdagangan produk pertanian. Buktinya, mereka mengeluh saat rupiah menguat terhadap dolar AS. Karena sebagian mereka melakukan transaksi perdagangan komoditas pertanian dalam dolar AS. Tataniaga yang selama ini dijadikan alat penakan dan penindas petani sudah bangkrut. Tapi di Jawa, kondisi alam sudah terlanjur hancur-hancuran. Banyak terjadi perubahan yang tak terpulihkan (irreversible changes). Akhirnya, persepsi bahwa krisis melanda seluruh pelosok negeri cuma mitos dan propaganda belaka. Sekarang kita kembali ke pertanyaan, ada apa di balik gencarnya kampanye gerakan ekonomi kerakyatan.....? ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:36:14 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
