---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Anda mungkin tak percaya bila saya katakan saya mengkoleksi setiap email dan response yang masuk ke addres saya yang jumlahnya ratusan. Saya harus berterus terang dengan surat surat itu saya seperti menemukan kaca untuk melihat diri sendiri. Sebagian pembaca memuji saya berlebihan, sebagian menilai saya pintar dan berbakat menjadi satrawan.Ada juga yang memaki saya dengan koleksi umpatan yang tisak saya mengerti artinya karena dalam bahasa jawa. Ada juga yang mencoba berbahasa minang. Ada pengaggum ada pembenci. Terlepas dari menyukai tulisan saya atau tidak, semua email yang masuk tidak pernah gagal meruntuhkan semangat saya untuk menulis. Surat surat yg unik dari mereka akan saya paparkan dibawah ini. Sebagian besar memang apa adanya saya tuliskan kembali,Tapi agar supaya lebih menghibur,saya sisipkan juga surat surat imajiner buatan saya sendiri.Agar lebih menantang, saya biarkan anda untuk menilai sendiri yang mana surat asli dan yang mana surat imajiner.Dan seperti layaknya orang penting( kadang kadang saya memang Geer kok, nggak menyangkal ) Semua surat yang menarik selalu saya reply. Kadang jawaban saya sok bijaksana, kadang amburadul. Tapi itulah saya, antara memaki dan mencintai kadang kadang saya hilang kendali. Silahkan menikmati... --- Bung Proletar, Apakah anda ini komunis? Saya selalu membaca tulisan anda, kadang anda sok Islam, kalau Islam mengapa memakai nama proletar?ingat komunis itu bertentangan dengan Islam.. Salam. Anto Respon: Nama proletar saya pakai karena bagus kedengarannya. Karena selain mewakili saya yg cuma kalangan pekerja. ( Jika saya pakai [EMAIL PROTECTED], atau [EMAIL PROTECTED] kedengarannya kurang enak ) Proletar saya pakai untuk membedakan antara saya dan cendikiawan arogan seperti ICMI atau mahasiswa yg sedang kuliah di Amerika. Saya Islam,bukan komunis, itu jelas. ---- Bung Hasan, Apakah anda bisa membayari saya untuk ke Amerika? saya mau bekerja apa saja, asal yg halal. Dan nanti utang anda saya bayar setelah saya gajian, gimana? Someone from Jogja. Respon: Saya bukanlah sinterklas, saya bukan konglomerat, Saya tidak sanggup bayarin anda kesini, tapi bila anda bisa datang dengan upaya sendiri, saya dengan senang hati akan membantu trik trik untuk tinggal dan mencarikan pekerjaan disini... __ Saudara Hasan, Elo jangan suka menghina Indonesia dong. Biar gimane itu kan negara elo sendiri. Masa dijelek jelekin mulu sih?nggak kasihan sama negara sendiri? Gue nih.. Respon: Ah elo mah emang cepet naik darah. Gue kan lagi otokritik,yg gue kritik juga kebanyakan pejabat negara kok,gue kasar cuma ame mereka mereka ini, sama orang kecil mah gue santun santun aje.. --- Mas Hasan, Saya adalah pengaggum tulisan tulisan mas, Bolehkah saya berkenalan dan mengenal siapa mas, dimana tinggal di Indonesia?alamat lengkapnya? dan nama keluarganya? siapa tahu saya bisa berkenalan dengan keluarga mas yang saya kagumi itu? Supriyono.. Respon: Anda pasti anggota Kopassus yg sedang mengincar keluarga saya..Memangnya saya bego mau bagi bagi alamat buat orang yg saya tidak kenal sama sekali? Saudara Hasan, Congratulation, saya sangat menyukai tulisan anda. Teruskan menulis yang menarik, jangan kebanyakan menulis politik itu membosankan untuk dibaca. Tulislah persoalan yg halus dan manusiawi. Abdul Respon: Walah, saya nggak niatan untuk jadi Emha, Irama saya apa adanya, kalau Emha kan sok sufi,dan selalu mencari kata kata terbaik agar pembaca tertarik ( Miskin itu indah bila dihayati, tapi saya tidak mau miskin ) Bagi saya itu namanya pelacuran, saya menulis dengan hati dan emosi. Jika saya marah saya wajah saya memang merah, Jika saya menangis, memang air mata saya sedang basah.. Mas Proletar, Jika mas ini punya kembaran, saya mau lho kawin dengan kembaran mas..hihihihi.. Dian Respon: Jika saya punya kembaran, saya suruh dia untuk harakiri dengan bom di sidang umum mpr. Agar Indonesia merdeka dari penjajahan orde baru, dan saya merdeka dari kembaran saya. --- Bapak Hasan Basri, Saya sudah bosan dengan ulasan ulasan bapak yang sempit. Bapak tidak bosan bosannya menghujat Amin Rais, begitu juga Gus Dur. Biar bagaimanapun mereka adalah tokoh yang mesti kita junjung tinggi dan dihormati. Tanpa Gus Dur yang anti KKN itu Indonesia akan kaca balau, beliau ini lah yang sebernar nya punya harga diri dan pintar. Kalau ngga, Indonesia bubar. Hanya karena beliau inilah saya masih salut sama yang namanya tokoh agama. Tulisan ini semoga membuka mata hati Bapak Hasan Basri. Kodir Respon: Ini cuma masalah opini, bagi saya Amin Rais bukanlah tokoh reformasi, tokoh reformasi ya mahasiswa mahasiwa itulah, yang gagah berani dan konsekwen terhadap perjuangan. Gus dur yang kata anda anti KKN? bukannya dia jadi pemimpin NU gara gara nepotisme juga? Bapaknya kan Tokoh NU,ulama kondang juga? Kenapa saya berani mengkritik?karena saya adalah penonton sepak bola yang bayar karcis mahal di stadium senayan, Kalau PSSI main seperti anak kampung yang kurang gizi dan kelihatan ogah ogahan,setelah skor 0-10 melawan kesebelasan timbuktu, saya pantas berteriak, Ini menyangkut negara saya, saya kan bayar pajak juga.( itung itung sudah berapa kali saya bayar fiskal di airport ya?gila duit itu dikemanain semua?) --- Dear Proletar, Apakah anda sudah berhenti mencintai negaramu sendiri?kenapa tidak pernah menulis yang positive tentang Indonesia? Joko. Respon: Apakah anda pernah berhenti mencintai Ibu anda sendiri? kenapa tidak belajar kritis bila ingin cerdas? ( ilmu pengetahuan itu berasal dari analisa kritis ) --- Sekian, saya mesti sahur Hasan Basri ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:39:15 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
