---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Majalah UMMAT EDISI No.25 Thn. IV/ 28 Des 98 Kisah Tercecer PAM Swakarsa Trauma Pam Swakarsa telanjur menyertai gagasan Ratih. Tapi pembantaian terhadap anggota Pam Swakarsa sendiri seperti dilupakan. Pam Swakarsa. Kepada nama itulah ingatan masyarakat terhadap kehadiran pasukan sipil kental melekat. Dan kini, ketika Ratih dijajakan Jenderal Wiranto, file tentang Pam Swakarsa kembali diungkit. Dan, apa boleh buat, kebanyakan disertai dengan kenangan buruk seperti berikut: massa yang bergerombol dan konvoi keliling kota dengan bambu runcing mengacung. Kenangan macam itu bahkan ikut mengubur fakta lain atas perlakuan mengerikan terhadap empat orang anggotanya pada 13 November silam. Itulah saat meletusnya Tragedi Semanggi yang memakan korban belasan mahasiswa dan anggota masyarakat akibat tindak kekerasan aparat keamanan�belakangan para korban ini disemati julukan pahlawan reformasi. Tapi pada hari itu sebenarnya terjadi pula pembantaian lain yang tak kalah mengerikan atas empat orang yang dicap sebagai anggota Pam Swakarsa di sekitar Jembatan Cawang, Jakarta Timur. Sesuatu yang�barangkali atas nama kemanusiaan�tetap tak layak ditimpakan kepada mereka. Empat anak manusia itu dibantai massa menyusul sebuah kontak fisik beberapa saat sebelumnya. Hasilnya, sungguh mengerikan bagi empat korban: mata tercungkil, muka remuk, isi kepala terburai akibat hantaman besi, kayu, atau batu besar. Massa bahkan masih berlaku brutal sekalipun jasad mereka tak bernyawa lagi. Mansur Ulu (32 tahun), Iwan Nurlete (34 tahun), Sulhan Lestahulu (24 tahun), dan Budi Muarasabesy (24 tahun), akhirnya menemui ajal untuk sebuah keyakinan yang sah-sah saja dimilikinya. Seperti dipahami, Pam Swakarsa memilih sikap mengamankan pelaksanaan SI MPR pada medio November tersebut. Itu yang menyebabkan mereka harus berhadap-hadapan dengan mahasiswa dan kekuatan lain yang bersikap sebaliknya. Tapi, seperti mahasiswa yang tak layak ditembaki karena sikapnya, aksi pembantaian itu seharusnya juga tak patut ditimpakan kepada anggota Pam Swakarsa. Diobok-obok. Tapi, siapakah sejatinya anak-anak muda itu? "Mereka adalah adik-adik saya," kata Muhammad Sangaji (35 tahun), Ketua Ikatan Pemuda Maluku Muslim di Jakarta. Bapak tiga anak yang sehari-hari disapa Ongen ini mengaku, dialah yang menggerakkan para pemuda Muslim Ambon�yang biasa ia sebut dengan "adik-adik"-nya�pada 13 November itu. Bahkan, dia sendiri ikut dalam kelompok yang terjebak di kawasan Cawang pada hari naas tersebut. Hanya saja ia menolak kalau kelompoknya dicap sebagai bagian dari Pam Swakarsa. "Saya tak tahu Pam Swakarsa. Saya murni membawa adik-adik saya asal Ambon berjihad membela negara yang tengah diobok-obok pihak lain," tegasnya kepada UMMAT. Dalam pemahamannya, upaya menggagalkan perhelatan SI MPR sama dengan mengacaukan negara. "Tanggal 13 November itu adalah saat yang kritis. Mereka sudah terlalu jauh memporak-porandakan bangsa." Pada hari itu ia mengerahkan 200 anak buahnya untuk menahan laju mahasiswa yang tengah menuju gedung DPR/MPR. "Tak satu pun di antara kami yang membawa senjata," akunya. Di sekitar jembatan Cawang, kelompoknya berhadapan dengan ribuan massa mahasiswa dan masyarakat. Tapi karena kalah banyak, kelompok Ongen lalu kocar-kacir tidak karuan. Ongen bersama sembilan orang lainnya lari ke arah perkampungan. Dan beruntung, di sana ia diselamatkan oleh warga sekitar. Setelah beberapa saat, ia lalu meloloskan diri ke sebuah jalan dan langsung naik ke sebuah mikrolet yang kebetulan lewat. "Saya paksa sopirnya mengantar kami sampai ke rumah. Saya terpaksa menurunkan seorang ibu yang tengah menumpang di jalanan," urainya. Sesampai di tempat, ia meminta maaf kepada sopir bersangkutan. Tapi nasib tragis dialami keempat "adik"-nya yang gagal meloloskan diri. Mereka terjebak di sebuah tanah lapang dan dihabisi secara mengenaskan. Belakangan, Ongen-lah yang mengurus penguburan dan mengabari keluarga korban di Ambon. "Semasa hidupnya, mereka dekat dengan saya. Seperti kepada yang lain, mereka semua saya anggap adik-adik saya. Mereka menaati semua perintah saya sepanjang itu benar," katanya. Pemain Persija. Ongen tampaknya memang tokoh yang disegani di kalangan pemuda Muslim perantauan dari Maluku. Konon, ia yang acap mencarikan pekerjaan untuk para perantau itu. Di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Klender, Jakarta Timur, ada sekitar 400 orang perantau asal Ambon. UMMAT memperoleh namanya setelah menghubungi beberapa di antara mereka. Keempat anak buahnya yang tewas tersebut juga tinggal tak jauh dari rumahnya. "Mansur dan Iwan sudah saya carikan pekerjaan. Budi masih menganggur. Sedangkan Sulhan adalah salah seorang pemain Persija," kisah Ongen, yang rumahnya penuh dengan poster tokoh-tokoh Islam dan ayat-ayat Al-Qur�an. Iwan Nurlete sebenarnya anak seorang raja di Maluku. Menurut Ongen, seluruh keluarga korban di Ambon sudah mengikhlaskan kepergian kerabatnya itu. "Mereka yakin, kematian itu syahid, karena membela kepentingan bangsa, agama, dan negara," papar Ongen. Ia juga membantah bahwa keempatnya dibantai oleh warga masyarakat yang tinggal di sekitar Cawang. Mencontohkan yang terjadi pada dirinya, justru warga setempatlah yang telah menyelamatkan. "Kami cuma 200 orang. Kalau tidak diselamatkan, barangkali lebih dari empat yang jadi korban," katanya berlogika. Ia menengarai ada kelompok lain yang telah melakukannya secara terencana. Dari rekaman video, ia melihat adanya pola tertentu dari pengerahan massa itu. "Saya yakin mereka telah disiapkan untuk menghabisi kami," tutur anak ketujuh dari delapan bersaudara ini. Jenderal Swakarsa. Adanya "kelompok lain" itulah yang agaknya diyakini pula oleh massa Pam Swakarsa pada umumnya. Yaitu, sebuah kelompok yang tak menghendaki kekuatan Islam berperan dalam pemerintahan. Mohammad Saleh Ardiyansah (33 tahun), salah seorang Komandan Bataltyon Pam Swakarsa, termasuk yang meyakini hal itu. "Apa yang terjadi akhir-akhir ini adalah konspirasi untuk melawan kekuatan Islam di Indonesia," ujarnya ketika ditemui November silam di Parkir Timur Senayan�salah satu konsentrasi Pam Swakarsa saat itu. Seorang penggerak massa Pam Swakarsa lain yang ditemui UMMAT pada waktu berbeda, juga mengamini hal itu. Hanya saja ia menyatakan, tema tersebut terus dikembangkan oleh para pemuka Pam Swakarsa. "Dan, itulah yang membikin militan massa Pam Swakarsa," tutur Siman (30 tahun) --sebut saja demikian. Siman mengaku dekat dengan dua jenderal aktif yang merancang Pam Swakarsa. Salah seorang jenderal itulah, menurutnya, yang telah memelintir isu pro-kontra SI MPR menjadi isu Islam versus Kristen. "Sebuah tema yang mujarab untuk memprovokasi massa Pam yang kebanyakan datang dari kalangan santri dan aktivis pencak silat itu," katanya. Meski diakuinya juga bahwa tak sedikit preman dan anak jalanan yang direkrut menjadi anggota Pam Swakarsa. "Dalam setiap rapat-rapat, jenderal itu selalu memakai bahasa provokatif. Misalnya, �Semua ini demi umat Islam,�" ujarnya. Siman sendiri mengaku lalu menarik diri dari gerakan Pam Swakarsa dua hari menjelang Tragedi Semanggi. Alasan utamanya adalah, pembentukan Pam Swakarsa adalah bagian dari permainan elite politik. "Saya kecewa karena ternyata tujuannya tidak murni lagi," keluh mantan aktivis mahasiswa tersebut. Ia merasa sakit hati karena ternyata tujuan akhirnya adalah mengadu kalangan sipil dengan sipil. Mohammad Saleh menolak anggapan terbentuknya Pam Swakarsa adalah rekayasa kekuatan lain. Menurutnya, Pam Swakarsa dibentuk bukan untuk adu fisik melawan kelompok yang anti-SI MPR. "Ini semua timbul dari rasa tanggung jawab kami sebagai warga negara ketika bangsa ini tengah memiliki hajat lewat SI MPR. Jadi, kami bukan alat militer," tegasnya. Keterangan Saleh ini didukung oleh Faisal Biki, salah seorang ketua Furkon (Forum Umat Islam untuk Keadilan dan Konstitusi). Menurut tokoh dari Tanjung Priok ini, pembentukan Pam Swakarsa dimaksudkan untuk membela konstitusi. Toh, ia lalu meluruskan bahwa bukan Furkon langsung yang membentuk Pam Swakarsa. "Ia dibentuk atas prakarsa anak buah saya untuk kepentingan pengamanan SI MPR," jelasnya. Sedang aktivitas Furkon sendiri adalah menyelenggarakan berbagai apel akbar. Kini nama Pam Swakarsa telah menjadi bagian dari masa lalu yang kembali mengusik ingatan gara-gara gagasan pembentukan Ratih. Tentu menarik menyimak komentar Faisal Biki mengenai soal terakhir ini. "Saya tidak setuju kalau pembentukan itu digunakan untuk melawan demonstran," tegasnya. Tapi ia akan mendukung jika Ratih dimaksudkan untuk pengamanan daerah terpencil, misalnya lokasi transmigrasi. "Lebih penting dari itu, Ratih jangan untuk kepentingan golongan tertentu," imbaunya, Pam Swakarsa dan Ratih�yang nota bene dari kalangan sipil�barangkali memang berbeda. Tapi, yang dihadapi adalah sama belaka: masyarakat sipil. Tulus Widjanarko, Meifil Eka Putra, Yuyu Hadiwiratmo, Ahmad Muayad ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:38:36 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
