----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

REFORMASI MORAL ATAU REVOLUSI KULTUR

Oleh : Ki Ageng Mangir

Jawaban untuk komentar Bung Hadiwinoto.

Sebelumnya   terimakasih   atas    komentarnya  tentang
Revolusi  Kultur,  yang  Bung  agak  kurang   sependapat
dengan pilihan Revolusi Kultur untuk mengatasi  masalah
bangsa   pada   saat   ini    dan    memberikan   alternatif
Reformasi Moral.

Menurut pendapat penulis sebetulnya  dua hal, Reformasi
Moral  dan  Revolusi  Kultur bukanlah dua hal yang saling
bertentangan,  justru   dua  hal  yang berdampingan yang
hanya  masalah  skala   prioritas  dan  melihat dari sudut
pandang  kondisi  kesiapan   masyarakat  saat  ini untuk
melaksanakan  salah  satu  lebih  dahulu  atau keduanya
secara bersamaan.

Sebetulnya   apabila  saya  mengkaji   komentar    Bung,
secara    tidak   langsung    adanya   pengakuan   bahwa
pengaruh   kultur   feodal   masih    sangat    tebal   pada
masyarakat   bangsa   Indonesia  saat   ini,  bahkan  era
Soeharto  lebih  parah  dibandingkan   dengan  era  Bung
Karno.

Yang  berbeda  dalam  hal  ini  adalah pandangan bahwa
kultur feodal  telah  direvolusi  oleh  pemimpin  pendahulu
kita  dengan  contoh  sikap Bung Karno yang kerakyatan
dan  bentuk   kenegaraan    Indonesia   yang   oleh   para
pemimpin   saat   itu   yang  kebanyakan  'priyayi'  dipilih
sebagai Republik dan bukan Kerajaan.

Menurut  penulis,  memang   dari   zaman    perintis  dan
pejuang   kemerdekaan  telah  dirintis  kultur  kesetaraan
(dengan   propklamasi '45   sebetulnya   suatu  deklarasi
bahwa  bangsa  Indonesia  memproklamirkan  diri  setara
dengan   bangsa-bangsa   lain  didunia)  dan  memerangi
kultur   feodal,  cuma   apa   yang   telah  dilakukan  oleh
pemimpin  pendahulu  kita  baru  tahap sangat awal yang
belum  berhasil   melakukan    transformasi   sosial   dari
kultur   feodal  -  barangkali   kalau   kita   melihat   sikap
individual   dari  para  pemimpin, banyak contoh pimpinan
yang  bersikap   sangat  demokrat  ataupun  kerakyatan,
tapi  bukan  berarti  bahwa masyarakat secara luas  telah
berubah dari kultur feodal.Justru kultur feodal yang masih
tebal  telah  merubah  sikap para pemimpin yang tadinya
bersikap demokrat, karena dikelilingi oleh para pembantu
yang  bermental budak dan penjilat dengan sikap memuji
dan  memanjakan pemimpin  yang  berlebih-lebihan yang
mengakibatkan   para    pemimpin    beranggapan  punya
kekuatan   dan  kekuasaan yang mutlak dan tak terbatas
seperti  laiknya  seorang  raja. Ini terjadi apakah itu Bung
Karno, Soeharto,  bahkan  Habibie  pada saat ini (dengan
bekal  pendidikan  Jerman,  tentunya  Habibie  tahu betul
bagaimana bersikap sebagai seorang demokrat,tapi yang
mencuat keluar tetap sikap totaliter dan ini dimungkinkan
karena kultur  feodal  orang  disekelilingnya  yang  masih
sangat  besar  pengaruhnya, dan sebagai manusia biasa,
siapa   yang   tidak   mau  dianggap dan dilayani sebagai
halnya seorang raja ?).

Segi perbedaan pandang disini sebetulnya adalah :

1. Kalau   menurut   penulis  Kultur  Feodal ini yang perlu
ditransformasi   menjadi   Kultur    Kesetaraan   sehingga
rakyat   kebanyakan    mempunyai     keberanian    untuk
menjalankan    hak-haknya     untuk   berbeda   pendapat
sehingga  apabila ada  ketidak  beresan  berani  bersuara
untuk   melakukan   koreksi   walaupun   yang   dikoreksi
adalah  pemimpin  yang   dihormati.   Sebagai    manusia
walaupun   namanya    pemimpin    bisa     saja   berbuat
kesalahan   dan   harus   mau   menerima  koreksi  -  dan
kenyataannya   kultur  ini  tidak  ada  atau  belum  ada di
Indonesia sehingga kesalahan yang dilakukan  oleh  para
pejabat/pemimpin   berlarut  dan  menjadi   sangat  sukar
dikoreksi.  Dan   para   pejabat  /   pemimpin   cenderung
menggunakan     kekuasaannya     untuk   menjustifikasi
ataupun menutupi kesalahan2-nya.
2. Sedangkan   pendapat  Bung Toto, pemimpinnya yang
harus punya kesadaran moral yang  tinggi sehingga tidak
menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan dirinya,
kroni2-nya,   maupun   keluarganya,   dan   hanya   akan
menggunakan kekuasaan untuk kesejahteraan rakyatnya
(adalah pendapat dari  Plato  berabad  yang  lalu  bahwa
model  ideal  sistim  kenegaraan  adalah   kerajaan  asal
rajanya  bermoral  baik - walaupun tidak  sempurna Plato
menganjurkan sistim demokrasi).

Pilihan   penulis   adalah   alternatif  yang  pertama  yaitu
merubah KULTUR FEODAL dengan REVOLUSI KULTUR
yang        memungkinkan     KULTUR      KESETARAAN
berkembang diantara rakyat  jelata  sehingga  kedaulatan
nyata2 ditangan rakyat, dari  pada  kita  menggantungkan
diri  pada  moral  dari  para  pemimpin   yang   tidak  bisa
diprediksi, apalagi   setelah   sang  pemimpin merasakan
kekuasaan  yang  ada  ditangannya  bila  telah  menjabat
sebagai   orang   pertama  di   Republik   Indonesia  yang
kondisi  kultur  feodal   mengarahkan   pemimpin  puncak
menjadi diktator ataupun raja. Dan pimpinan masa depan
Indonesia adalah  pimpinan2 yang bisa menerima koreksi
dengan  lapang  dada, walaupun yang mengoreksi adalah
rakyat  jelata  (selama  ada  suatu  fakta  yang nyata dan
tidak mengada-ada).

Sebagai contoh aktual bahwa kultur feodal masih  sangat
tebal  adalah  langkah  yang dilakukan oleh Gus Dur saat
ini (dengan  segala  rasa  hormat  penulis kepada  beliau)
yang  mencoba  menyelesaikan  masalah  bangsa hanya
diantara   para   pemimipin   yang   'linuwih'   dan  dengan
kompromi  yang  dicapai  oleh para pemimpin mudah2-an
rakyat hanya akan nurut saja (sumangga  dawuh) apapun
hasilnya  -  tanpa  melibatkan   rakyat    sebagai   subjek
(betapa  para  pemimpin  menganggap  rakyat  itu adalah
bodoh  dan  tidak  patut   dilibatkan   dalam  menentukan
masa   depan   yang  akan   menyangkut  nasib  mereka
dimasa  depan  -  dan  untuk  tetap  menjaga  dominasi /
supermasi   para    pemimpin    secara    sengaja  rakyat
dibiarkan tetap bodoh).

Menurut  pendapat  penulis Revolusi Kultur menuju Kultur
Kesetaraan  adalah  mutlak  untuk   dilaksanakan,   yang
belum   tuntas   dilaksanakan    oleh     para     pemimpin
pendahulu   kita,   dengan   begitu   moralitas  (Reformasi
Moral) bisa kita lakukan dan jaga  bersama-sama melalui
kultur  kesetaraan  rakyat dalam menjalankan kedaulatan
rakyatnya. Hanya  dengan   prasarat   kultur   kesetaraan
nyata2  sudah  membudaya  dalam  masyarakat  bangsa
Indonesia RULE OF LAW bisa ditegakkan, karena  kultur
feodal  yang  kemudiaan  diperparah  dengan  sikap fasis
para  militer  dengan  model  DWIFUNGSI-nya  penyebab
utama   ke-tidak    kesetaraan    rakyat    dimata   hukum
sehingga 'LAW' semata-mata adalah alat  kekuasan yang
digunakan   secara    berbeda   tergantung    siapa   yang
dihadapi  -  rakyat   kebanyakan    atau    para   pejabat /
pemimpin yang merasa dirinya 'linuwih'.

Mudah2-an dialog ini bermanfaat  sambil  mencoba untuk
mempraktekkan  kultur  kesetaraan  dimana  dialog  bisa
terjadi dengan bebas dan tetap saling  menghargai  sikap
dan pendapat ataupun pandangan yang berbeda.

Desember 1998.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:41:29 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke