----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------
Sampai pada ujung tahun 1998, sebuah tahun yang istimewa bagi Indonesia.
Pada awal tahun ini, susah membayangkan apa yang terjadi pada akhir
tahun, apakah Indonesia akan hancur ? Puing2 kehancuran yang melanda
Jakarta Mei, akan melanda kota2 kecil dipulau Jawa ? Pertempuran
armageddon Islam ? Pasukan hitam melawan putih (mana yang hitam
tergantung dari siapa yang ditanya ). Pergerakan gerilya internal,
pasukan hitam ninja men-cabik2 negara ? Dewan Militer ? Pecahnya
Indonesia menjadi federation-of-warring-states ? Negara santet ?
Syukur, syukurnya wong jawa, kita tinggal seminggu lagi untuk
membuktikan bahwa hal2 itu sudah cukup terjadi ditahun 1998 ini.
Seminggu ini seminggu bulan puasa, jadi kecillah kemungkinan. Yang
terjadi adalah presis proses Indonesia (baca nJawa) yaitu melakukan
segalanya setengah2, asal sudah mulai, boleh berhenti. Untunglah ,
sekali lagi untungnya wong nJawa, pola pikir setengah2 ini juga melanda
para penjahat Jawa. Obok-obok sosial massa, kaya obokannya joshua.
Mulai dari partai komunis terbesar ketiga yang gampang digulungnya
(untung..untung) sampai wowok calon kudeta yang juga lemes, team ninja
yang segera dicabut owokannya. Sampai juga semangat reformasi yang lupa
setelah tiga bulan. We are stuck-in-the-middle society.
Ada jeleknya, jelas. Susah banget jadi society mumpuni dengan mental
yang serba setengah2, terutama setengah2 membongkar ka-ka-en , kejahatan
dan segala hitam. Pada masa positif, watak ini membuat bangsa kita jadi
tempe tembre. Tetapi ada baiknya pula, baik wong nJawa, pada masa
negatif, watak ini membuat kita juga setengah2 dalam merusak, ndak
bablas kaya londo kosovo � serbia, maupun cino mao atawa rusia stalin.
Nerakanya middle-ground. Seperti yang kita syukuri sekarang (negara
tidak ancur) dan kita pisuhi pula sekarang (perbaikan negara macet).
OMONG-OMONG SOAL NGOMONG � Gus Dur
Well, tidak semuanya orang Indonesia orang Jawa. Btul skali. Ada yang
tidak nJawani. Tull. Ada yang pinter nDalang. Tull. Ada yang gak
pinter total. Tull. Ada yang mbodo ndableg. Tull. Ada yang nyleneh.
Ada ya ? Sedikit. Yaitu Gus Dur.
Tindakan Gus terakhir ini mempesona seluruh Indonesia. Mampir kerumah
habibi. Trus ngerumpi soal ketemu dosomuko, eh soeharto. Ketemu
beneran, malah sempet2nya mampir ketempat beni murdani sakbelonnya
nyampe daripada cendana. Gus ... gus , semar siji ki jan nyelelek
tenan.
Begitu ter-nganganya rahayat, sampai kedengeran suara greekkk ... ,
rahang manusia Indonesia jatuh njeglek saking kaget. Gak nJawani pisan
si Gus ini !.Wong dosomuko lagi di-obok2 malah didatengi. Trus
sendirian lagi, zonder konco2 ora-bolo nya Ciganjur grup. Maneh
omongane tidak negatif lagi !
Dari banyak sisi, tindakan manusia Indonesia yang paling mendekati wali
ini, mengagetkan, atau setidaknya membingungkan. Tetapi sesungguhnya
tidak dilihat dari sudut kepentingan. Ada beberapa alasan kuat untuk
tindakan gus.
Yang terpenting, saat ini umat Islam majoritas, yang NU itu, warga
kinasih Gus Dur, sedang dirugikan, marginal. Sudah di-obok2 di Jatim
tanpo bales (sambungan dari dulu lagi!), juga secara ide digeser kaum
fanatikus-fundamental gerombolan-pseudo-Islam yang lagi berkuasa. Eh,
internal pecah2.
Lalu kedua, negara kita stalemate akhir2 ini, secara moral habibi
terdesak, tetapi secara faktual, dengan arsenal segala senjata politis
sosial duwek, plus abri gegendug bedil, sangat berkuasa. Habibi (en
wiranto yang kesamaan nasibnya) tadinya ngeper berat sama kekalahan
moral, eeh ternyata gue mangsih kuwat. Mulai mbalelo2, sampai bikin
ratih2 khusus buwat ngegerebeg mahasiswa tanpo militer.
Ketiga, posisi Gus Dur yang tetap jeger, menjadikan dia satu2nya manusia
Indonesia yang bisa seenaknya ngentut dimuka siapapun. Bukan hanya
tidak apa2, justru malah tambah jeger. Tidak ada orang lain punya
this-kind-of-impunity. Memang untung sekali yang punya posisi begini
ketiban sama Gus Dur, bukan Hitler misalnya.
Keempat, berkaitan erat sama ketiga, memang watak Gus Dur yang semi-wali
itu, seenaknya. Atau tepatnya contrarian. Ini bukannya tanpa ego
(Pandita beranggapan semua nabi pada level personal pastilah egonya
besar � brani nolong dunia !) marem2an. Ada orang maremnya nggebuki
mahasisa, ada yang maremnya merkosa cina, ada lagi yang maremnya nyolong
duwit korupsi KDI. Ada yang maremnya ngglendem , yaitu watak wong jawa
untuk bisa ngomong : Iih kowe, aku sing menang ! Eyang 2 biasanya
demikian, yang membuat kita senyum2 kecut waktu kena senthil. Marem
dia. Sayangnya, sisi lain dari watak personal begini adalah efek
sedulur, yang dijadikan isu oleh eyang biasanya yang paling deket nempel
kekuping sang eyang, yang nyuguhake wedhang, misalnya. Bukan yang
paling butuh. Tapi wis-lah, wis lumayan negara ini punya eyang yang
menyayangi, aja njaluk kakehan (=jangan meminta terlalu banyak).
Begitulah diujungnya, kita mendengar pembicaraan Soeharto � Gus Dur.
Messagenya campur2, jelas buat soeharto ini media-op yang baik adanya.
Katimbang difoto di gedung kejaksaan (walau yang ini juga sambutannya
tidak jelek2 amat). Yang membuat lumayan yang nonton adalah adegan
waktu soeharto mau nyalami gus, dan dia yang tangannya nyelonong duluan,
gus nya cuwek. Walau ini kemungkinan sekedar karena mata gus yang belor
, tapi cukup sekedar mengurangi ngelu hati ini melihat sang semar belor
mengumbar kebajikan sama mafioso belon tobat ini.
Ngomong2 model apa ini ? Ini jelas ngomong pulitik !!
Buwat soe apa untungnya tak perlu dibahas terlalu mendalam, kecuali anda
mau diskusi sama johanes yakob yang dipecat itu. Legitimasi. Nih gue
disruwung sama semar (belor) ! Gue masih rada baik !! Yang moga2
diterjemahkan menjadi guwe tidak disidik !
Buat Gus Dur apa ? Ini jauh lebih sulit dianalisa. Kita semua, setuju
omongan sarwono, percaya sama Gus. Memang iya. Paling dia (atawa NU
nya) untung2 dikit, tapi yang terbesar adalah untuk rakyat makro. Apa
itu ?
Pertama, seperti halnya semua tindakan menggoyang meja, maka kedudukan
pion2 jadi berubah. Tindakan wali yang menggoyang wathon goyang begini
memang tidak terlalu jelas menguntungkan atau tidak. Tetapi untuk
posisi yang sudah jelek (bayangkan main catur atau othello atau halma)
wathon berubah pastilah cenderung menguntungkan dibanding posisi
sebelumnya yang jelek. Posisi apa ? Ya seperti diatas, sekarang ini
tampaknya stalemate dengan kekuatan nyata dipegang oleh klik habibi.
Birokrasi yang terus aja maling (bagaimana hubungan anda dengan dinas
pajak lately ?), ginanjar-tanri membenamkan kuku di perusahaan negara,
menkeu di bank2. Sasono di semua lini sektor riil, sekarang gaya
memeras saham kosong bagi �koperasi� nya sudah menyamai cendana
conglomerates, yaitu �sedemikian rupa sehingga� mereka maksa setor.
Politik ditangan maling, dari glokar akbar, icmi baramuli semuanya
slewo. Dan last but pol-ngelu, abri merk alengka naik kepeksa kefefet
daripada mahasiswa.
Para pembaharu ter-longok2 , soal RUU pemilu diajak kagak. Demi
demokrasi maka glokar dan pdi-asu kudu dilindungi. Soal ratih dipepet.
Setelah berhasil menggulingkan orba, bukannya 66, yang dirangkul �
ditunggangi militer (lha ini, revolusi 98 ini jauh lebih berat katimbang
66, notwithstanding what the oldies said) , malah dikejar2 militer yang
nyewa preman.
Goyangan semar mendhem ini pastilah ada baik. Plus juga buat NU
sendiri.
Kedua, secara lebih terarah, perkembangan terakhir dengan birokrasi mau
main sendirian ala orbaniyah lagi, sangat mengelukan para reformis.
Birokrasi habibi akan mengaku �terpaksa � main sendiri� sambil mengambil
keuntungan permalingan tak tertangani. Kondisi ini akan melejit dengan
cepat, positieve-feedback-system, persisi seperti melejitnya Bisnis
Pangeran dulu. Karena apa ? Karena para spekulan, maling2 makelaran
baik ekonomi, politis militer dan moral, akan mempercepat pengerukan
keuntungan bak LTCM menggelar derivatif di USA. Kasus nurdin halid
menyogok jaksa gagoek, dan mengakibatkan gagoek terpental, merupakan
sisa korupsi lama (saat jagung ghaib jadi wagub disogok nurdin-tommy)
ditimpa gegendhuk baru (nurdin yang punya bos maut baru, dari tommy ke
sasono � tembangnya). Kasus konglo baru lahir � Lippo dan Bakrie,
mengeduk kekayaan negara guna menyelamatkan asset bangsa dibalik baju
ekonomi koperasi . Saat ini Bakrie sudah mengeduk majority dari kredit
ekspor, sudah menggaruk semua insentif keuangan. Lippo sudah menjalin
kroni baru. Sampai Salim dan Sinar Mas juga lolos (padahal belum keburu
ketangkep!). Singkek2 gini bakal jadi gurubesar makelaran untuk para
plonco di ICMI CIDES. In no time, my friend, we will go back to the
�normalcy�, the normality of 1990�s. Dengan player2 baru. Maling
makelaran sama saja, dengan retorika rakyat2an.
Ini semua akan lagi2 meninggalkan rakyat banyak (and NU) in the dust.
Kita semua mengharap, dan kali ini memang sangat mungkin terjadi, Gus
Dur tidak akan ikut makelaran sekedar buat kroni, beli tiket naik kereta
Bisnis Pengeran Islam (ya Gus ya, walau ada bank Papan). Gus is
supposedly much better than that. Malah yang akan dia kerjakan adalah
menggembosi kerete baru itu.
Juga kereta-pulitik. Wiranto sang bambang-bingungan, kefefet daripada
otaknya sendiri. Nih otak militer memang susah, termasuk sang Perwira
teman kita, walau diputer2 ujung2nya jiwa Abri kita ini masih saja
preman resmi. Boleh baik, asal cara gue. Persis kaya ide Islam cap
KISDI untuk �beragama yang baik�.. Preman2 ginian bisa jadi intelek,
bisa jadi pintar, tetapi ujung2nya, when push-comes-to-shove, setelah
kefefet, keluar malingnya. Karena memang secara prinsipiil slewo. Si
pangdam jaya yang katanya baek itu juga mulai keluar aslinya. Apakah
premanisme (apapun, mau baik boleh, asal gue yang kuasa) ini dibolehkan
demi �kebaikan � stabilitas ekonomi� ? Khusus untuk militer, apakah
bisa ada militer yang tidak premanisme begini di Indonesia (artinya
dengan gaji tentara yang dibawah rata2, kekuasaan bedil monopoli, garis
manajemen militer tanpa kritik) ? Para preman itu sendiri pasti tidak
menjawab, wong gak ngeh pertanyaannya.
Nah, sekali tepok gus Dur juga menjawab hal ini. Siapa yang militer ini
takuti selain komandan dan ibunya sendiri ? Ya si bedundhuk dosomuko
itulah. Dengan in Gus melakukan oyog juga, bisa ada ganti, karena jika
sekedar demo aja, sebentar lagi demo �digaruk� oleh ratih. Hal yang
sama untuk preman2 pulitik macam baramuli akbar. Malah lebih clear,
karena mereka cuma punya pistol gombyok. nDredeg-lah kau baramuli !
nDredeglah kau akbar ! Jangan kau pikir kau pegang mikropon terus
mbacot sak-penake.
Ketiga, berbagai lawakan jelek yang dimainkan troupe habibi, khususnya
yang lewat sang mandor jagung-ghaib, akan menemui tantangan baru.
Dengen daripada dikluarkennya soeharto daripada kotak, maka nDredeglah
para wayang2 kecil. Di-oblog2 kiri kanan, nonetheless, akan ada yang
jatuh disisi soeharto. Tetapi beberapa yang kadung, harus ambil posisi
lawan. Siapapun, hukum Jagad Besar tidak peduli mau jatuh kekiri
kekanan, tetap lebih baik buat rakyat, untuk mengambil posisi. Jangan
seperti akbar sekarang, yang mau ndompleng siapapun yang menang. Tentu
saja akbar tetap berusaha, salah bunda mendidik anak jadi makelar tanpa
balung, tetapi usahanya dadi rada angel. Buat wong nJawa wis cekap.
Yang jelas, ini perlu untuk perjuangan Indonesia membebaskan diri dari
tekanan para setan setengah jalan, yang mengobok NU di Jatim itu pula.
Dimana posisi Hartono ? Jangan ndekem thok nunggu wangsit pemilu.
Dan keempat, walau paling kecil, tetapi bukan yang paling tidak kepake,
marem-nya si Gus bisa merebut lentera dengan cara kontroversial. Ini
ditandai dengen his glee waktu crita2 tentang Anien yang ketinggalan
kereta, atau malah ditolak beli karcis. Yah, anggap saja hiburan wong
tuwo. Ini memberinya bensin untuk tetap berjuang.
Secara keseluruhan, langkah gus Dur ini contrarian � berlawanan arus.
Sekaligus nguteg, karena dia memaksimalkan strength nya. Untuk
bertindak begini dan tidak mati, hanya dia yang bisa di Indonesia.
Tindakan ini juga memposisikan dirinya, berarti juga hal2 yang
didukungnya (PKB, Mega) kedepan. Ini semua hal yang seharusnya, gus Dur
seharusnya didepan. Jadi tepat. Tetapi dilain pihak, juga tampak bahwa
ini adalah move yang calculated, bukannya pure moralitas. Tentu saja
Nabi Musa dulu juga berpolitik dengan Firaun. Masalahnya, move ini
berasal dari kalangan terbatas di sekelilingnya, yang mendesakkan agenda
mereka. Gus bersih itu jelas, tetapi selanjutnya pun janganlah ada
agenda khusus. Omongan ini bukan untuk Gus Dur sendiri, karena dia akan
seenaknya saja, termasuk seenaknya dari pilihan2 yang enak. Tetapi
untuk orang2 lain itu.
Well. all in all, move ini membawa nafas baru pada reformasi yang
tampaknya tadinya mau abis napas.
PITUTUR UNTUK MAHASISWA.
Karena ber-larut2, demonstrasi kehilangan maknanya. Tentu saja ini
bukan kesalahan mahasiswanya. Tuntutan untuk lebih terorganisir atau
memberi penyelesaian segalanya , apalagi diembeli dengan tirulah
angkatan kami, 1966, adalah bullshit !. Angkatan 66 menang karena
militer, sekarang melawan militer. Apa bisa menang ? Tidak mungkin
secara fisik. Apa bisa nonfisik ? Tidak mungkin selama birokrasi
dikuasai rejim yang vested interestnya sama seperti sang lawan. Apa
yang bisa dilakukan ?
Ini yang terpenting. Pelunakan selama bulan puasa adalah tindakan yang
benar. Bagi mahasiswa saat ini, perlu nafas panjang. Perjuangan tidak
akan semudah angkatan 66. Dan perjuangan jangka panjang akan tergantung
pada banyak strategi, bukan hanya fisik. Tetapi juga hal2 yang biasanya
dilakukan partai oposan. Investigasi, strategi. Press truss, habibi
wiranto soeharto.
Apakah kalian harus mengerjakan hal2 ini ? Terserah, bukan pada pundak
anak2 20an tanpa pengalaman untuk melakukan hal2 semacam itu. Apalagi
masih sekolah. Do whatever needs to be done. Just please don not die
anymore. Soal kemacetan jalan dan �kesulitan orang kecil� itu hanya isu
penguasa. Orang kecil tidak memusuhi kalian. Militer akan segera
mengubah taktik menjadi smearing, yaitu menuduh, memfitnah, merekayasa.
Menangkapi dan kalau perlu membunuhi.
Wiranto memang bukan yang terjelek diantara jendral2 militer, tetapi dia
tidak cukup sama sekali untuk memimpin negara ini. One of the bangsats.
Bangsat ini masih banyak sekali di birokrasi. Tampak bahwa tahun 1999
Indonesia masih dikuasai para bangsat. Bangsat lama ex orbaniyah yang
tak pernah berubah, dan bangsat2 baru ex-GPI yang tak kalah buas.
Pengganti2 masih lemah sekali atau sudah terpaksa jual diri demi duit,
kalaupun belum sekarang, very likely sebentar lagi.
PENUTUP DARI PANDITA
Jagad Besar memang tidak punya ampun, karena memang tidak mengenal kata
ampun, mercy maupun belas. Tidak juga malevolent, tidak pula
benevolent. The Tao, Jalan, maupun Reality menurut Bhagawatgita.
Jagad Kecil yang mempunyai nilai, subyektif. Dari lautan luas brahman
maupun tetesan2 atman. Jagad Kecil Universal (brahman, archetypes)
maupun Jagad Kecil Individual (atman, self) semuanya subyektif,
value-based. Sistem Jagad Kecil ini berinteraksi (antara Individual,
dan internally yang Universal) melalui Jagad Besar. Bagaikan genotype
masing2 individu hewan berinteraksi dengan gentype lain baik yang sama
species maupun yang bukan, melalui pheotype (badan wadag) didalam Alam
Fisik. Genotype berubah karena tekanan dan tarikan Alam Fisik dan Alam
phenotype. Demikian juga Jagad Kecil Universal berkembang (walau
core-nya ngotot tidak mau berubah). Lebih jelas lagi Jagad Kecil
Individual, yang oleh Dawkins disebut sebagai contoh replikator, meme.
Pendewaan Jagad Kecil, baik Universal (agama2 mahayana) maupun
Individual (hinayana, sufi) atas Jagad Besar, yang menghasilkan
kontradiksi terus menerus pada pemikiran manusia. Tarikan ini pula yang
membentuk evolusi meme manusia modern, dari primata cerdas membentuk
suku, negara dan bangsa. Dan membuat kolektif knowledge repository yang
luar biasa sampai kini, memisahkan semakin lebar jurang antara dirinya
dengan denia binatang. Milenium depan akan melihat pencerahan semakin
besar dari pemikiran manusiawi. Dan kita akan tak perlu lagi berpikir
atas batasan2 sempit agama yang terkotak secara historis dari kelahiran
pemikiran besar dalam konteks kesejarahan sempit.
Dan di Indonesia, kita akan melihat babak kedua yang juga menjanjikan
semuanya di panggung Indonesia : dari ketoprak (ada terus), lawak
(parsendi!), sitcom (kehidupan pribadi pemimpin2), drama (matinya
partai2 politik !), violence (riots, demo), tragedi , kekejian dan
moga2, very moga2 kayata pelem Disney : triumph in the end !!!
Cast pemeran sudah terbentuk dari sekarang. Dan dari perspektif ini,
cengkokan Gus Dur minggu ini akan menjadi twist of scenario yang
(mungkin) bisa beautiful, pas sekarang script nya mengalami kemacetan.
We wil see.
Tentu saja, Selamat Berpuasa bagi yang menjalankannya. Dan Selamat Hari
Natal bagi yang merayakannya. And Happy New Year 1999 To All ! Be
Happy Even there is no Reason to Be So!
Kumbokarno. Sang Pandita. 22/12/1998
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 25 Dec 1998 jam 16:54:56 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++