----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: Heriwinal Chan

PENDEKAR  B3

Dalam bulan Ramadan 1419 H kali ini,   seperti  yang terjadi di tahun-tahun yang 
sudah,   beberapa kali dalam sehari  saya sering berulang-ulang berkomunikasi dengan 
diri sendiri,   bertanya-tanya sejauh manakah di bulan nan penuh berkah dan 
pengampunan ini saya ada di posisi benar dan salah dalam konteks iman keislaman saya 
selagi menjalankan perintah berpuasa.   Entah waktu subuh,  waktu dhuha,  petang hari 
atau malam,   di kantor,  di atas bus  kerja,  di pasar atau entah di ruang sepi kamar 
tidur sendirian atau di mana saja,   selalu yang saya tanyakan  dengan diri sendiri,   
di manakah ketika saya sudah berbuat benar dan pada manakah saya sudah melenceng dari 
aturan yang dikehendaki agama?
Kala usai sholat,   pas iftar (buka puasa)  atau sedikit bersedakah,   menahan diri 
dari pandangan dan omongan yang tidak perlu,   atau menggari tangan agar tak menyentuh 
yang diharamkan,   usai membaca selembar dua lembar Al Quran,   atau entah apa saja 
kebaikan-kebaikan kecil lainnya,   terasalah egoisme iman saya mengatakan bahwa 
setidaknya dan sepertinya saya lagi pas ada di sisi kebaikan belaka yang,   seberapa 
besar nilainya itu semata hanyalah  Dia yang mengetahuinya.
Di balik tabir yang lain,   tanya-tanya itu muncul seperti,  betapa  saya telah satu 
di antara yang lain jadi sosok yang dimurkai karena masih juga suka mengulur-ulur 
waktu sholat,   masih juga suka mengumpat,   emosi yang meletup masih mengekor di 
selah waktu yang 24 jam sehari,   ada dua tiga kata terucap belepotan  kesalahan,   
bermalas-malas di kantor  (padahal gaji tidak disunat untuk itu!),   bersandiwara 
untuk alasan yang tidak jelas (seperti aktor-aktor  yang bejibun lagi dihujat di tanah 
air...hayo tebak siapa!),   masih  suka melahap  kecantikan raut wajah gadis cantik 
yang melintas,   dan  seabrek-abrek  hal buruk lainnya,   yang kesemuanya  menghujam 
menghujat saya,   mengapa saya ada di sisi gelap ini?
Bulan ramadan ini,   yang mestinya dapat memposisikan saya ke arah yang lebih baik,   
berhubung  keadaan di tanah air  seperti apa yang terjadi sebelum dan hingga detik ini 
seperti kita ketahui,   malah menambah-nambah "karat" di hati saya.    Berita dari 
tanah air kini lebih merupakan candu buat saya.   Serba salah,   bila tidak diikuti  
terasa  saya seperti tinggal di tengah hutan belantara sendirian,   tak tahu apa yg 
terjadi di belahan dunia lain.   Bila diikuti,   menjadikan pikiran dan perasaan saya  
keropos bak paru-paru yang digerogoti nikotin candu!    Berpuasa,  tapi kok masih 
emosi dan semburat umpatan  masih bercokol di pikiran?   Tapi memang siapa yang bisa 
tak gemas dan berkepala panas bila orang sekapasitas saya melihat si pendekar buntal 
buta dari gua kuntilanak  Gus Dur bertingkah polah  seperti menjilati tetesan minyak 
tengik yang mengucur dari rupa pembunuh berdarah dingin  Soeharto?    Lho katanya 
sedang berpuasa,  tapi ya kok saya  emosi terus-terusan  begini?   Nah inilah yang 
terulang terjai pada diri saya,   di bulan suci ini saya tak bisa melepaskan diri dari 
bertanya-tanya terus,  di manakah saya,   baik-buruk,  baik-buruk,  baik...buruk....
Buruk!   Saya masih ada di sisi buruk,   apa boleh buat.   Ini buktinya.   
Bagaimanapun saya masih dongkol bin berang,   palak alias marah,  karena cecunguk si 
pendekar buntal buta dari gua gondoruwo Gus Dur bilang begini :"....saya nggak setuju 
kalau pak Harto itu diseret-seret ke pengadilan.  Apaan ini!   Kita itu harus 
menghormati orang tua......(mengyeret-nyeret orang yang bersalah)  itu bukan budya 
kita.  Orang tua kok diseret-seret ke pengadilan.  Lha itu 'kan budaya barat,  asing.  
Kita nggak ada."
Duh Gusti  Allah,    bagaimana harus menyikapi orang   yang berkomentar seperti ini?
Katanya dia (baca si pendekar buntal buta dari gua hantu) ketua NU,  yang nota bene  
(mestinya) tahu seluk beluk agama dan hukum,   tapi kok bisanya berkomnetar seperti 
itu?    Tidakkah dia tahu bahwa dilihat dari sudut manapun,  ajaran agama dan hukum,  
bahwa salah adalah tetap salah dan benar mesti dinyatakan/ditegakkan hingga kapan pun? 
 Bahwa pelanggar dan pendosa mesti diminta pertanggung jawabannya tanpa melihat  suku, 
 agama, ras,  tempat, usia  (batas yang ditentukan oleh hukum) dan gendernya?    Kok 
begitu menjadi piciknya si buta ini sehingga ia berani-beraninya membawa masalah 
perasaan ketika harus berhadapan dengan penegakan hukum dan keadilan?    Lupakah ia 
akan banyak contoh sejarah  yang salah satunya  Rasulullah sendiri akan menyerahkan 
bulat-bulat darah dagingya ke pengadilan bila ternyata berbuat salah?
Kalau hanya berdasar perasaan,  mengapa  kita semua  rame-rame tidak melepaskan saja 
seluruh pendosa yang ada di tanah air dari dulu hingga yang sekarang ini?   Kalau  
memang harus begitu,  hayo  mari kita lepaskan dan biarkan saja iblis-iblis KKN  itu 
terus bersimaharaja lela mengisap  darah manusia yang tak berdosa di tanah air!   Dan 
untuk umat NU,   silahkan saja anda  terus  ada di barisan belakang pendekar   B3  
(bulat buntal buta) dari gua Nyi Roro Kidul ini!



Malu  aku pada-Mu ya Tuhan
Engkau   Maha  Pemurah  lagi Maha  Pemberi
Tapi aku hamba nista  yang hanya banyak meminta
Insan  pelupa  akan segala  pahala tersedia

Malu aku pada-Mu  ya Tuhan
Engkau  yang Maha  Memaafkan  dan  Maha Pengasihan
Sementara  aku  terbang melayang  dengan  bayang  tipuan
Aku  hanya berdendang  lagu sumbang,   bukannya bersembahyang

Malu aku pada-Mu  ya  Tuhan
Engkau yang menabur kasih  tanpa pamrih
Dan  aku  pengembara  tanpa tujuan  yang hanya bersedih
Kutinggalkan  jejak berserak  bagi semua kafilah terusik pedih

Malu aku pada-Mu ya Tuhan
Engkau  selalu  memandang dengan  wajah  rahmat  menabur
Akan  aku  menjauh  berdekap  hati  membatu dan mata yang kabur
Kulupa  ramahnya  alam  di belakang  mendebur-debur

Malu  aku pada-Mu ya Tuhan
Ketika batas segalanya akan berakhir untukku
Air  mataku pun  entah di mana aku harus  sembunyikan
Sendi  yang gemetar sekujur badan,  pun  melemah  berubah kaku

Malu  aku pada-Mu  ya Tuhan
Engkau  dengan  segala tanpa berbatas
Melihat  aku  hanya terus memelas    
O aku  dengan  sedikit  jemari kuku yang mulai getas

Malu  aku pada-Mu  ya Tuhan
Detik  tersisa  yang masih Engkau berikan
Tiada  kuemban  untuk  dapat  kujabarkan
Haruskah  aku terus  malu  dari  keampunan yang Engkau bentangkan?






Allahumma Ya Allah,   hari-hari berikut ini,  tunjukilah  kami semua jalan-Mu yang  
benar,  sehingga  dengan demikian  menjadilah aku satu hamba-Mu  yang tidak lagi di 
sisi yang buruk.  Amin.

"SELAMAT  BERIBADAH RAMADAN BUAT SAUDARAKU SEIMAN,   INSYA  ALLAH  SEMOGA  ADA 
KEBAHAGIAAN PADA KITA SEMUA  DI HARI IDUL FITRI  1419 H   AKHIR RAMADAN INI  DAN  
SESUDAHNYA.  MOHON  MAAF LAHIR  DAN BATIN....."

"DAN SELAMAT  BAHAGIA JUGA  BUAT SAUDARAKU YANG LAIN  DALAM NATAL DAN  TAHUN BARU YANG 
TELAH DI DEPAN MATA....... "


Wassalam,
Sinbad  The Sailor
   

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Dec 1998 jam 16:00:32 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke