----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

From: "Robin"

Saya jadi tambah tidak mengerti apa maksud demonstrasi bagi para aktivis
dewasa ini seperti yang terungkap pada wawancara detik.com dibawah ini. Ada
kesan demo dimaksudkan untuk sekedar menambah relasi,agar terkenal,agar
bisa cari pasangan. Seolah sekedar improvisasi karena malas kuliah. Kalau
benar seperti ini, terus kedepannya kitaorang mau jadi apa. Coba juga
introspeksi berapa IP kumulasi saat ini. Saya jadi khawatir, pada akhirnya
nanti siapa orang yang berjuang berpanas-panas, dan siapa orang yang akan
jadi 'orang'  nantinya.

detik.com wrote :

                          Aktivis Forbes Taufan
                          Hunneman:
                          Demo Besar Pasca Idul Fitri

                                        Hingga hari ini, ada belasan
                                        "organisasi" gerakan aksi
                                        mahasiswa bertebaran di
                                        Jakarta. Sebut saja Forbes,
                                        Komrad, Forkot, KB UI, Alarm,
                                        Gempur, FKSMJ, Front Jakarta,
                                        Famred, yang sering berakoalisi
                                        menggelar aksi bareng. Di sisi
                          lain ada Forsal, Poros Jakarta, KAMMI, dan
                          Formi yang lebih kompromis.

                          Bagaimana hubungan antar "organisasi" itu?
                          Bagaimana pula aksi mahasiswa selama bulan
                          Ramadhan? Mengapa mereka tetap ngotot tidak
                          menghentikan aksi mereka? Juga, apa menariknya
                          turun ke jalan?

                          Berikut wawancara Nurul Hidayati dari detikcom
                          dengan Taufan Hunneman, mahasiswa Fakultas
                          Hukum Universitas Jaya Baya Jakarta angkatan '96
                          yang juga "Jendral" Forbes (Forum Bersama),
                          Senin (21/12):

                          Banyak organisasi gerakan mahasiswa muncul,
                          pertanda apa?

                          Memang saat ini banyak kelompok ingin bermain.
                          Kelompok ini menanamkan kaki-kaki lewat
                          mahasiswa. Maka terbentuklah kelompok A, B,C,
                          dsb. Tapi kita bisa melihatnya dalam tataran isu.
                          Kalau teman-teman dari Forbes, Famred, Forkot,
                          FKSMJ, Alarm, Gempur, Front Jakarta, Komrad,
                          KB-UI, kita tetap stricht tidak mengakui
                          kepemimpinan sekarang. Artinya, kita konsisten
                          pada jalur kita.

                          Lalu muncul kelompok lainnya, misalnya Parmi
                          (Parlemen Mahasiswa Jalanan Indonesia), dan
                          kelompok lainnya, yang saya lihat tidak pernah
                          mengeluarkan statemen politik satu pun bagaimana
                          sikap mereka terhadap pemerintahan Habibie.

                          Jadi, bagi kami, garisnya ada dua, yaitu apa
                          kawan-kawan memandang Habibie adalah
                          legitimate atau tidak. Kalau memandang Habibie
                          legitimate, berarti kawan tersebut ada di luar
garis
                          kita. Tapi kalau melihat Habibir tidak legitimate
                          baik secara de facto dan konstitusional, berarti
                          segaris dengan kita. Jadi, itulah perbedaan
antara
                          aksi gerakan mahasiswa saat ini.

                          Bagaimana hubungan personal antara kedua
                          kelompok tersebut?

                          Perkawanan dengan teman-teman dari garis yang
                          berbeda, tidak menjadi persoalan bagi kami. Tapi
                          secara konsep politik, kami tetap berbeda dengan
                          mereka.

                          Kita tidak ingin ada budaya politik yang turun
                          temurun terjadi, yaitu adanya ketidakakuran
antara
                          kelompok pemerintah dan anti pemerintah. Kita
                          tidak ingin mengulang bagaimana Soeharto
                          memperlakukan Soekarno dan Ali Sadikin dengan
                          tidak wajar, padahal mereka dulu berteman. Kita
                          tidak ingin seperti itu.

                          Justru yang kita inginkan adalah belajar pada
                          perilaku Soekarno. Ketika Natsir dan Syahrir
                          ditangkap akibat tuduhan terlibat peristiwa
                          PRRI/Permesta, hubungan mereka masih tetap
                          baik. Itu yang positif.

                          Apa sih enaknya demonstrasi?

                          Demo banyak seninya, di luar konteks politik, ya.
                          Pertama, demo menambah relasi, banyak teman.
                          Kalau dulu pergaulan terbatas pada lokal
                          universitas, semisal Jaya Baya, sekarang bisa
                          kenal dengan teman-teman dari universitas yang
                          lain. Jaket almamater hanya berfungsi sebagai
                          pengenal asal universitas, tapi kami merasa
                          sebagai sama-sama mahasiswa Indonesia.

                          Kedua, di dalam aksi muncul juga cerita
                          percintaan. Waktu Tragedi Semanggi, 13
                          Nopember lalu, bahkan ada ungkapan CBSA,
                          Cinta Bersemi Saat Aksi. Ada beberapa teman
                          saking bingungnya, akhirnya tertarik pada seorang
                          cewek dan berlanjut hingga kini.

                          Ketiga, demo membangun kebersamaan. Kalau
                          lapar, ya sama-sama lapar. Kalau logistik datang,
                          kita bareng-bareng makan. Kalau logistik
                          pas-pasan, kita harus cari cara gimana agar semua
                          temen bisa makan semua.

                          Solidaritas akan lebih besar muncul bila ada
                          teman-teman yang ditangkap atau digebuk.
                          Sehingga ada temen yang sampai nangis-nangis,
                          ingin balas dendam, maki-maki, dsb untuk
                          menunjukkan solidaritas.

                          Banyakkah kasus CBSA ?

                          Banyak juga, termasuk saya..he...he..he..Itu
terjadi
                          karena proses waktu saja. Tidak ada waktu untuk
                          mencari pacar yang sama-sama aktivis.

                          Bagaimana aksi di bulan puasa?

                          Kita akan terus demo, tapi tidak dengan
                          mengerahkan massa besar-besaran. Kita akan
                          sosialisasi agenda perjuangan, kembali ke kampus
                          untuk menguatkan basis kampus, dan berjuang di
                          basis petani dan buruh.

                          Jadi tidak harus turun ke jalan?

                          Tidak. Sebab bulan puasa ini bagi kita adalah
                          momentum untuk intropeksi, apalagi bulan ini ada
                          tiga nafas spiritual, yaitu Ramadhan, Natal, dan
                          Tahun Baru 1999. Kita akan mengevaluasi sampai
                          sejauh mana perjuangan kita.

                          Pasca Idul Fitri, kita akan menggelar demonstrasi
                          besar-besaran, sebab ini perjuangan yang
                          sesungguhnya. Yang kemarin-kemarin adalah
                          pemanasan karena ada agenda politik pemilu yang
                          dipaksakan dan banyak elit politik yang ingin
                          bermain. Di sinilah posisi mahasiswa untuk tetap
                          pada konsistensinya.

                          Menurut mahasiswa, seberapa besar tuntutan
                          yang direspon pemerintah selama ini?

                          Tidak ada target politik kami yang dikabulkan
                          pemerintah. Ini yang membuat teman-teman tetap
                          berjuang untuk terus menekan pemerintah.
                          Pemerintah sekarang ini terlalu bodoh untuk
                          menyelesaikan kasus per-kasus.

                          Misalnya kasus penembakan Trisakti, Mei lalu.
                          Pemerintah cuma setengah hati menyelesaikan
                          kasus itu. Apalagi kasus Semanggi, 13 Nopember.
                          Kasus Banyuwangi, dsb. Setiap minggu atau setiap
                          bulan selalu muncul peristiwa-peristiwa yang
                          dibuat dari atas akibat keblunderan sistem
politik
                          kita sendiri.

                          Kenapa mahasiswa masih terus turun ke jalan?

                          Mahasiswa yang turut beraksi mesti sudah tahu
                          konsekuensinya. Ia akan kepanasan, keluar duit
                          untuk patungan sewa mobil, kena tembak, atau
                          mati. Jadi, teman-teman yang turun ke jalan
adalah
                          teman-teman yang sadar pada resiko demo.
                          Mereka terpanggil demo karena kesadaran pribadi
                          akibat melihat kondisi obyektif di masyarakat.

                          Jadi mahasiswa banyak yang sadar politik
                          sekarang?

                          Mahasiswa demo yang ikut-ikutan ada juga sih.
                          Justru kalau mereka dibiarkan, tidak diikutkan
                          aksi, akan berbahaya karena akan menimbulkan
                          kesadaran palsu. Makanya, kami terus berusaha
                          memberi "penerangan" sebelum aksi sehingga
                          semua teman tahu apa yang kita perjuangkan.

                          Ortu tidak keberatan?

                          Tergantung karakteristik orang tua. Saya sendiri
                          turun aksi sejak tahun 1994. Awalnya, ortu
                          keberatan. Apalagi waktu itu demonstrasi masih
                          barang langka. Paling-paling peserta demo cuma
                          30 orang. Tapi sekarang ortu saya sudah bisa
                          menerima karena kebenaran dan kemenangan ada
                          di tangan mahasiswa.

                          Bahkan ada ortu seorang mahasiswi yang tidak
                          memberi uang kuliah supaya anaknya tidak
                          ikut-ikutan demo. Tapi lama-lama ortu mahasiswa
                          itu sadar bahkan anaknya mati pun dia rela.
Proses
                          waktu saja yang membuat ortu tidak keberatan
                          pada aksi anak-anaknya.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Dec 1998 jam 16:03:34 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke