----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

POROS - Media Masyarakat Demokratis
Edisi 26 Desember 1998

Meneropong Wajah Indonesia 1999


Krisis ekonomi yang melibas Indonesia sejak 1997 telah merubah wajah negara
secara drastis. Krisis ekonomi selanjutnya berubah menjadi krisis politik,
krisis sosial dan budaya serta krisis legitimasi. Kerusuhan demi kerusuhan
terus bergulir ke arah muara terciptanya instabilitas dan disintegrasi. ABRI
yang  menganggap dirinya sebagai stabilisator dan dinamisator gagal
memainkan perannya sebagai penjaga keamanan dan ketahanan bangsa. Ini
membuktikan bahwa ABRI salah menembatkan dirinya dalam berbangsa dan
bernegara. ABRI lebih berfungsi sebagai alat kekuasaan rezim dan sibuk dalam
urusan non pertahanan/ keamanan. Mereka lebih piawai dalam urusan politik
dan rekayasa serta berniaga, sehingga muncul idiom bahwa ABRI dapat
melakukan apa saja di negara ini, kecuali satu yakni menjaga pertahanan dan
keamanan negara. Dan ini terbukti sekarang.

Kekisruhan dan kekacauan politik yang tak kunjung padam, membuat Gubernur
Lemhanas Agum Gumelar melontarkan ide Dialog Nasional atau Rembug Nasional,
tapi sayang gagasan itu dimentahkan Presiden Habibie dengan menganggap
gagasan itu sulit direalisasikan, karena menyangkut siapa tokoh yang
representatif mewakili rakyat dalam dialog tersebut. "That is not easy",
katanya.

Usulan serupa sebelumnya juga pernah dilontarkan ketua Muhammaddiyah Amin
Rais. Gagasan Amin tersebut dilontarkan semasa Soeharto masih berkuasa,
namun dasar kuping setan, masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Gagasan demi gagasan terus dilontarkan berbagai kalangan guna mengakhiri
kemelut politik yang melanda Indonesia dan potensial bagi terciptanya
disintegrasi bangsa.

Kekhawatiran akan terjadinya disintegrasi bangsa, membuat ketua PBNU
Abdurrahman Wahid melakukan manuver politik, yang oleh berbagai kalangan
dipandang terlalu berani. Gus Dur menganggap bahwa kerusuhan demi kerusuhan
yang terjadi belum lama ini merupakan bentuk reaksi balik para pendukung
mantan Presiden Soeharto, karena mereka tidak senang ketika "Tuannya"
dihujat bertubi-tubi. Oleh karena itu, Gus Dur melakukan "safari politik"
mengunjungi Wiranto, Presiden Habibie, LB Moerdani dan juga Soeharto guna
mencairkan kebekuan politik yang terjadi selama ini. Berbagai kalangan
menganggap langkah tersebut sebagai kontra produktif ditengah gencarnya
tuntutan terhadap Soeharto. Namun bukan Gus Dur kalau tidak berani melakukan
manuver tersebut. "Jangankan mereka, orang NU sendiri saja saya tidak
peduli, biar saja mereka mau ngomong apa," cetusnya.

Tampaknya Gus Dur sedang menggiring bola, tapi apa bolanya mau dibawa ke
gawang atau dibawa ke pasar, kita tidak tahu. Kita akan menunggu apakah
langkah Gus Dur tersebut dapat mencaikan kebekuan politik atau semakin
memperparah situasi sosial-politik.

Agenda Pemilu yang semakin dekat tampaknya akan menemui batu kerikil tajam.
Perumusan UU Politik masih terus diperdebatkan di DPR/MPR. Beberapa kelompok
politik masih bertahan pada status quo, seperti masalah dwi fungsi ABRI,
posisi birokrasi, sistem pemilu dll.

Ke depan tampaknya kita akan banyak dihadapkan pada permasalahan status quo,
masih banyak kelompok-kelompok yang masih ingin bertahan dengan status quo.
Kelompok militer yang banyak menikmati manisnya "kue dwi fungsi" tidak akan
rela begitu saja melepaskan kenikmatan-kenikmatan yang selama ini
diperolehnya , seperti jatah kursi di struktur birokrasi dan uang yang
berlimpah ruah dari hasil bisnisnya selama ini. Dua kenikmatan tersebut akan
membentuk kelompok perwira yang pro status quo dan menciptakan situasi
dimana mereka terus dapat menikmati "kue"-nya.

Yang kedua adalah kelompok yang masih setia pada mantan presiden Soeharto.
Mereka ini juga kelompok yang menikmati hasil kebijakan politik dan ekonomi
rezim orde baru dan sangat dekat dengan markas KKN Cendana, termasuk di
dalamnya anak-anak Soeharto. Dengan dana yang unlimited, mereka menggerakkan
kelompok-kelompok preman binaan Cendana, seperti Pemuda Pancasila, Pemuda
Panca Marga, FKPPI, dll. Kerusuhan Ketapang dan Kupang merupakan bukti masih
kuatnya pengaruh "Uang" Cendana untuk mengacaukan pemerintahan Habibie.
Setiap kebijakan Pemerintahan Habibie yang menyangkut pengadilan terhadap
Soeharto akan mempengaruhi reaksi kelompok tersebut. Habibie yang juga
merupakan "hamba sahaya" -nya Soeharto berada dalam posisi terjepit, antara
tekanan masyarakat/ mahasiswa dan tekanan batinnya. Untuk itu Habibie dirasa
perlu mendekati kelompok Islam politik guna mendukung setiap kebijakannya.

Momentum Pemilu (tentunya dengan perangkat UU yang mengakomodasi seluruh
kepentingan politik) jika berjalan dengan Jurdil jelas merupakan jalan bagi
terciptanya pemerintahan yang demokratis, namun hal tersebut merupakan
ancaman bagi kelompok-kelompok pro status quo. Oleh karena itu, agenda
pemilu sarat dengan potensi konflik antar kelompok kepentingan. Jika hal itu
gagal dilaksanakan, tidak mustahil proses disintegrasi semakin cepat.

Jalan tengah yang mungkin dapat ditempuh adalah kompromi politik antar
berbagai kepentingan politik. Manuver yang dijalankan Gus Dur merupakan
usaha bagi terciptanya kompromi politik tersebut. Namun melihat kelompok
kepentingan yang terlibat terasa masih jauh dari arah kompromi tersebut
karena masih banyak kelompok kepentingan yang belum terlibat dalam "Dialog
ala Gus Dur" tersebut. Untuk itu berbagai pihak menyarankan agar "dialog"
tersebut diperluas cakupannya, sehingga lebih representatif mewakili
berbagai kepentingan politik. Namun apabila kompromi politik tidak juga
tercapai, maka kita bisa menceritakan kepada anak cucu kita bahwa Indonesia
pernah bersatu.



POROS
Media Masyarakat Demokratis

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Dec 1998 jam 16:04:37 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke