----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
Perseteruan Dimulai
Gus Dur Tuding Adi Sasono Berambisi Jadi Wapres
Jakarta (Bali Post) -
Tanda-tanda perseteruan antara Gus Dur dan Adi Sasono mulai
terbuka. Program ekonomi kerakyatan yang dicanangkan Menkop/PKM Adi Sasono
selama ini dituding Gus Dur tak lebih sebagai pemanis politik guna
mengumpulkan massa, karena dia (Adi Sasono-red) berambisi meraih kedudukan
wakil presiden (wapres) mendatang.
Tudingan itu disampaikan Ketua Umum PBNU Abdurahman Wahid alias
Gus Dur saat menerima sejumlah santri dari Bandung di kediamannya di
Ciganjur, Jakarta Selatan, Sabtu (26/12) kemarin, pada hari ketujuh open
house Ramadhan. Sebelumnya, para santri dari Bandung tersebut bertanya
kepada Gus Dur, kenapa tidak bersatu saja dengan kekuatan Islam lainnya
seperti Adi Sasono dan Amien Rais. Padahal, kedua figur tersebut, apalagi
Adi Sasono, banyak mengkampanyekan program ekonomi berbasiskan kerakyatan.
''Tahi kucing semua program Adi Sasono itu. Anda yang dari daerah wajar
belum tahu persis bagaimana permainannya,'' kata Gus Dur dengan nada tinggi,
seraya mohon maaf atas kekerasannya itu, mengingat di bulan puasa tidak
semestinya mengeluarkan kata-kata kasar. Namun Gus Dur mengaku terpaksa
mengeluarkan kata-kata seperti itu, agar semua pihak menyadari bahwa ada
rencana besar di balik manuver tokoh LSM itu.
Menurut Gus Dur, memang dalam tiap kali pidatonya, salah seorang
ketua DPP Golkar itu programnya enak dan bagus didengar masyarakat kelas
bawah. Padahal, melalui pidato itu, dia berusaha menyisipkan manuver untuk
kepentingan politiknya.
Kenapa Gus Dur berani menuduh Adi? ''Saya mengatakan begitu
karena banyak laporan masuk, apalagi kemarin ada faksimil dari Jerman,
tentang sepak terjang Departemen Koperasi di bawah pimpinan Adi,'' jawabnya.
Gus Dur menjelaskan, beberapa waktu lalu dia menerima faksimil
dari Jerman. Dari keterangan pengusaha Jerman, diketahui ada pungutan pajak
60% yang dilakukan Departemen Perdagangan dan Perindustrian pimpinan Rahardi
Ramelan terhadap barang yang akan diekspor. Orang ini, menurut Gus Dur,
adalah teman dekat Habibie dan Adi Sasono. Akibat tingginya harga barang
tersebut, membuat barang Indonesia tidak laku di luar negeri. Hal ini jelas
sangat merugikan rakyat kecil. Di sisi lain, dana hasil pungutan pajak itu
masuk ke kantong para pemimpin departemen tersebut. Demikian juga dengan
para petani kelapa sawit yang berusaha mengekspor hasil panennya. Mereka
diharuskan memakai truk milik Depkop untuk mengangkut hasil panen, dibawa ke
pabrik. Dari hasil angkutan itu, mereka dikenakan pungutan sejumlah dana
tertentu. ''Jadi, dana itu semuanya ngumpul di kantong Adi Sasono, karena
memang dia berambisi menjadi wakil presiden,'' katanya.
Bahkan Gus Dur juga sangat menyesalkan masyarakat yang sudah
terjebak dengan permainan politik Adi Sasono. Soalnya, kata Gus Dur, figur
macam Adi dan kelompoknya itu, baru belakangan ini mengaku cinta dengan umat
Kristen atau minoritas lainnya. Padahal, ketika dia belum muncul sebagai
elite politik seperti saat ini, kerap bersandar memakai Islam sebagai
perekat dengan masyarakat.
Gus Dur mengingatkan, ketika tahun 1965, aktivis mahasiswa ITB
Bandung di bawah koordinator Muslimin Nasution (sekarang Menteri
Kehutanan-red) menggerakkan sejumlah mahasiswa untuk mensosialisasikan
anti-Cina. ''Saya tahu persis, pengikutnya saat itu ada Adi Sasono dan
Siswono Yudohusudo,'' ucapnya.
Jika kini mereka mengaku tidak anti-Kristen atau Cina, kata Gus
Dur, kenapa baru sekarang dilakukan. Dia juga belum yakin, apakah mereka
sekarang ini masih memiliki prinsip seperti itu atau tidak.
Sulit Bergabung
Sementara itu, untuk bergabung dengan Amien Rais, Gus Dur
mengatakan agak sulit. Pasalnya, ketua PAN itu terkenal dengan sikapnya yang
plinplan. ''Paginya bilang begini, sore lain lagi,'' katanya. Untuk itulah,
Gus Dur hanya bisa berharap, meski para tokoh tersebut belum bisa bersatu,
tidak terlalu substansial. Yang terpenting dari perbedaan itu adalah
semangat yang dibawakan harus tetap mengacu pada nilai kebersamaan.
Menyinggung soal batalnya dialog nasional yang digagasnya, Gus
Dur hanya bisa menghela napas. ''Ya nggak apa-apa, kalau memang tidak mau,
juga tidak apa-apa. Namun saya sayangkan, kenapa pembatalan itu disampaikan
melalui pers,'' ujarnya.
Bagi Gus Dur maupun Wiranto sebenarnya tidak penting ada dialog.
Yang paling penting itu adalah pertemuan antara Habibie dan Soeharto. Hanya
saja, kata Gus Dur, Pak Harto menyarankan Habibie perlu ditemani salah
seorang dari unsur pemerintah yakni Wiranto, sedangkan Soeharto yang
sekarang sudah jadi rakyat, minta ditemani Gus Dur. ''Itu lho maksudnya,
jadi ini semua masalahnya antara Soeharto dan Habibie,'' tandasnya. (gus)
Copyright�Bali Post 1998
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 28 Dec 1998 jam 16:05:45 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++