---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- HABIBIE, WIRANTO, '"THE LESSER EVIL" Kepala Bakin Maulani menuduh kita yang menuntut lengsernya Habibie sebagai "ektremis". Istilah ini mengingatkan kita kepada jaman revolusi di mana NICA Blanda yang notabene membantai massal 40.000 orang Bugis itu menuduh kita yang memperjuangkan kemerdekaan dari hutan hutan sebagai ekstremis pula. Mungkin saja waktu itu Maulani tidak berada di Sulawesi atau masih ingusan. Kita menuntut lengsernya Habibie karena dia "the wrong man in the wrong place", non-politician yang dipompa pompa oleh Suharto untuk menjadi Wapres. Walau- pun Habibie bukan orang bersih dalam sistem KKN, Wiranto bukan fanatik Dwi- fungsi ABRI atau Suhartois a la Prabowo, keduanya bukan reformis jurdil a la Enrile dan Ramos, keduanya adalah "the lesser evil" katimbang Suharto-Prabo- wo. Baik Wiranto maupun Habibie merupakan "fait accompli" bagi kita yang men- dambakan orang lain yang terlepas dari pengaruh Golkar dan Dwifungsi ABRI. Saya pribadi tidak mau menerima fait accompli ini karena saya masih bisa melihat adanya alternatif lain untuk melaksanakan Reformasi Total: Presidium yang boleh saja mencakup Wiranto dan Habibie tapi harus disertai tokoh to- koh Reformasi di luar rejim Suharto: Amien Rais, Megawati, Sultan Jogya, para intelektual, mahasiswa, buruh, karyawan profesional, para wakil parpol baru, petani, pemuda, wanita. The lesser evil tidak akan mampu membawa penyelesaian karena terlalu jauh panggang dari api, tidak mendapat dukungan moral rakyat, walaupun rakyat tidak atau belum menuntut lengsernya seperti yang digemborkan oleh Maula- ni. Kalau bisa menggolkan Presidium untuk apa kita menerima duet Habibie-Wi- ranto yang sudah terbukti tidak becus apa apa selama 7 bulan terakhir ini se- mentara kondisi dan situasi ekosospol kita semakin terpuruk ambruk. Kalau tidak terlalu gawat, bolehlah kita beri toleransi the lesser evil mencoba segala kebolehannya sampai setahun, namun bagaimana kita bisa tidur nye- nyak sedangkan rakyat melarat sudah mencapai 140 juta, pengangguran 38 juta, busunglapar 10 juta? Bukankah kata pepatah Italia: "La fama non ha leggi" (kelaparan tidak menge- nal hukum) sehingga gejala penjarahan Mei harus dianggap cukup sebagai fenomena yang akan berlipat ganda kedahsyatannya? Bagaimana kita mengamankan 140 juta atau taruhlah 80 juta rakyat Jawa yang sudah melarat atau 10 juta yang sudah kelaparan? Amuk amukan rakyat ke- laparan tidak akan mengarah kepada revolusi sosial yang diatur oleh dalang perjuangan klas yang jauh lebih teratur dan bertanggung jawab. Amuk amukan "semua lawan semua" sukar dihindarkan lagi kalau kita ongkang ongkang me- nunggu Godot dan masalah kelaparan ini bukan masalah main main yang bisa ditunggu tunggu penanggulangannya. The lesser evil sudah cukup berkuasa selama 7 bulan dan membuktikan ketidak becusannya malah menghambur hamburkan dana IMF secara tidak perlu pada- hal akan semakin langka keberadaannya. Kalau The Lesser Evil dibiarkan bercokol terus maka kita akan mendapat geb- rakan alam yang mengejutkan lagi tanpa diberi kesempatan untuk mengatasi- nya samasekali. Ini logis saja, bukan "rattling the bones". H.S. Hidayat Supangkat Atlanta (Nostalgic Gone With the Wind yang reminisi perjuangan 45 kita). ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 30 Dec 1998 jam 22:33:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
