---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- WARISAN FASIS MILITERISME JEPANG TERBUKTI, SAYA SAKSI Tidak ada yang lebih mengetahui sejarah Indonesia daripada bangsa Indonesia sendiri, lebih lebih mereka yang telah mengalaminya sendiri. Sejarah Indonesia banyak dipalsukan karena kelemahan kita kurang mempunyai bukti tulisan, ke- banyakan hanya prasasti yang terbatas sekali jumlahnya. Mengenai warisan fasis militerisme Jepang khususnya sudah tidak ada lagi yang merupakan saksi hidup, sedangkan yang masih hidup kebanyakan merupakan ahliwaris yang langsung maupun tidak langsung dari sistem terkutuk itu seperti para bekas PETA yang banyak sekali memegang tampuk pimpinan TNI sampai Suharto sebagai insan terakhirnya. Dapat kita pahami kalau mereka itu tidak mau mengatakan kita masih mewarisi tradisi fasis militerisme Jepang sampai detik ini karena ini merupakan tindakan "self incriminating" yang terkutuk. Mereka juga merasa terjamin hidupnya dalam sistem terkutuk ini. Apakah bukti bukti tuduhan saya bahwa diktatur Suharto dan Dwifungsi ABRI-nya merupakan warisan fasis militerisme Jepang? Bukti bukti warisan fasis militerisme Jepang: 1. Suharto adalah bekas Tjudantjo PETA yang mengatasi pendidikan militernya sebagai prajurit dalam KNIL, sehingga fasis militerisme mendarah mendaging dalam dirinya. 2. Saya sudah lupa namanya dalam bahasa Jepang, namun tidak salah lagi: KODAM, KODIM, KORAMIL adalah kelanjutan sistem fasis militer Jepang. 3. Dwifungsi ABRI menyolok sekali menjiplak sistem fasis militerisme Jepang di mana secuil kehidupan politik dikuasai 100% oleh tentara pendudukan Je- pang yang berkuasa secara absolut. 4. RT, RW adalah ciptaan fasis militer Jepang untuk mengontrol kehidupan rak- yat sampai kedapur dapurnya dan dihidupkan kembali secara besar besaran oleh rejim orde baru dengan dalih mewaspadai comeback PKI. Kehidupan privat (privacy) dihancur leburkan oleh sistem RT-RW ini. Sebagai manusia empat jaman: Blanda, Jepang, Revolusi, Perang Dingin dan orde baru, saya adalah bukti hidup dari fakta fakta diatas itu. KODAM dirasakan lebih berkuasa daripada Gubernur, yang walaupun dipegang oleh militer, sama mencekamnya secara psikologis dengan penguasa pendudu- kan fasis militer Jepang, melanggengkan collective conciousness (kesadaran kolektif) rakyat yang selama 53 tahun merdeka hanya menikmati 8 tahun kehi- dupan demokrasi, Rule of Law, HAM, Justice (1950-1958). Walaupun sebagai anak sekolah, saya merasakan sendiri betapa perbedaan- nya antara hidup dalam alam penjajahan Blanda, penjajahan Jepang, revolusi. Demikian pula perbedaan antara demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila dan reformasi Habibie dimana kebebasan pers dapat di- nikmati. Bedanya dengan masa penjajahan Jepang tentu saja di alam merdeka terba- tas dengan sistem fasis militerisme kita merasa hidup lebih "dignified" daripa- da jaman Jepang di mana kita sudah mengalami proses "dehumanisasi" ham- pir hampir mencapai kerendahan kekhewanan. Tapi kemerdekaan penuh a la era 1950-1958 sudah tiada. Syahdan, harus diakui bahwa jaman penjajah Blanda, law and order terjamin se- kali, segelintir korupsi kecil kecil dihukum berat, demikian pula petit larceny seperti pencurian telur ayam, dll. Hanya gerakan kemerdekaan yang ditindas. Sepakar pakarnya orang asing tidak akan mempunyai persepsi ini. Jangan heran pula mengapa saya tidak mau "setlle for less" than democracy, rule of law, HAM, Justice. Ini bukan maksimalisme bukan pula minimalisme, melainkan tuntutan hatinurani berdasarkan collective conciousness yang se- wajarnya. H.S. Hidayat Supangkat New York ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 31 Dec 1998 jam 18:59:18 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
