----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Lembu Sora

PUASA: MENGEMBALIKAN MANUSIA PADA FITRINYA

Manusia dalam fitri(kesucian/kebersihan/kebenaran)nya yang otentik
merupakan makhluk ciptaan yang hanya akan selamat jika dalam sejarah
kehidupannya mau menghayati dan menghayatkan pertumbuhan hidup secara
sadar. Ia membentuk spiritualitas, yaitu hidup dan sikap rohani yang
mengarah pada Allah Penciptanya. Spiritualiatas ini mencuat dalam bentuk
tindakan penuh pengampunan/saling maaf-memaafkan, sederhana, lepas bebas,
maximalis, penuh harapan, dan berbagai sikap keutamaan lainnya yang luhur
tanpa didasari oleh self love (cinta diri), self will (kemauan diri), dan
self interest (kepentingan diri).
Kini fitri manusia nampak semakin pudar karena gebalau materialisme dan
hedonisme yang semakin menguasai dan merasuki seluruh tata kehidupan
manusia. Jiwa manusia mulai rusak oleh semangat permusuhan, pemujaan
terhadap kemewahan, kelekatan pada materi (perhiasan, mode, kosmetik),
pengejaran popularitas maupun pujian, dan runtuhnya rasa percaya diri.
Puasa sebagai salah satu bentuk laku tapa yang bernilai intrinsik tinggi
merupakan sarana yang paling radikal untuk mengembalikan manusia pada
fitrinya. Jadi nilai intrinsik puasa bukanlah pertama-tama untuk
mendapatkan pahala, tetapi jauh lebih dalam bahwa puasa semata-mata adalah
karena dorongan batin untuk kembali kepada Allah, membuang muka terhadap
materialisme dan hedonisme. Ini berarti bahwa puasa menjadi sarana bagi
manusia agar dapat menundukkan nafsu-nafsu rendah, mendapatkan pengetahuan
ekspertif (bukan informatif) yang menandas akan kelaparan dan penderitaan
orang lain, melawan self love, self will, dan self interest. Intinya, agar
nafsu semakin taat pada budi dan keinginan-keinginan rendah tergantikan
oleh yang luhur.
Nilai intrinsik puasa menemukan wujud ekstrinsiknya dalam berbagai bentuk,
misalnya puasa makan, tidur, hubungan seksual, bicara, dan mendera diri.
Mahatma Gandhi tidak melakukan hubungan seksual sejak kematian ayahnya
hingga maut merenggut hidupnya. Kaum sufi mistik (tasawuf) di Timur Tengah
dan India sering tidak tidur berhari-hari. Para biksu banyak yang tinggal
dalam sebuah kamar tanpa bicara selama berbulan-bulan. Rahib-rahib Katolik
masih ada yang mempunyai tradisi mendera diri.
 Bagaimana wujud ekstrinsik puasa itu harus dilakukan? Penulis akan
mengurai mengenai puasa dalam hal makan saja yang paling populer dilakukan
manusia pada umumnya. Jika manusia meninggalkan yang berlebihan itu
bukanlah puasa melainkan baru keugaharian, misalnya biasanya makan 5X1
piring sehari diubah menjadi 3X1 piring sehari. Juga belum dapat dikatakan
puasa jika manusia hanya merobah pola makannya, misalnya biasanya makan 3X1
piring sehari diubah menjadi 2X1,5 piring sehari. Baru disebut puasa jika
manusia mengurangi yang normal, misalnya biasanya makan 3X1 piring sehari
diubah menjadi 2X1 piring sehari. Semakin besar pengurangan yang dilakukan,
akan semakin baiklah terhadap pembentukan sikap hidup dan rohani, asal
tidak merusak tenaga, tidak mengurangi aktivitas hidup, dan tidak
mengakibatkan penyakit.
Dengan nilai intrinsik dan wujud intrinsik semacam itulah sebuah puasa akan
mampu mengembalikan manusia pada fitrinya yang otentik, hidup dan bersikap
atas dasar roh yang mengarah pada Allah, meninggalkan self love. self will,
dan self interest. TETAPLAH BERPUASA SOBAT.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 2 Jan 1999 jam 12:44:13 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke