---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Hayono Isman Goro Goro Gus Dur Bukan Wali Ada kisah menarik dari Sdr. Chatibul Umam (aktivis PMII) tentang Gus Dur. Chatibul Umam (CH) dkk membuat penelitian peristiwa kerusuhan Tasikmalaya dan dituangkan dalam suatu Buku Putih. CH meyakinkan Gus Dur bahwa berdasarkan penelitiannya tak ada tanda-tanda Adi Sasono terlibat sebagaimana diyakini Gus Dur. Yang membuat CH agak bingung, Gus Dur masih menuduh Adi Sasono padahal Buku Putih sudah diterima Gus Dur. Kita tidak tahu apakah buku putih tersebut sempat dibacakan untuk Gus Dur (maaf, karena menderita kerusakan mata Gus Dur biasanya meminta orang lain untuk membacakan buku, koran dll). Sampai Sdr CH berkomentar, " Lain kali kalau ada masalah seperti ini, saya akan langsung ngomong, tidak lewat tulisan." Saya mengawali tulisan dengan cerita seperti di atas untuk menunjukkan bahwa bahwa seringkali Gus Dur salah dalam menganalisis sesuatu. Contoh lain adalah pengalaman penulis beserta teman-teman ngobrol santai bulan Desember 1997 ( di sebuah kota di Eropa yang tak ingin penulis sebutkan). Gus Dur saat itu mengkritik Amien Rais. "Belum saatnya," komentar Gus Dur. Sebagaimana kita tahu Amien sudah lantang sekali di tahun 1997 sampai dia dilengserkan dari Ketua Dewan Pakar ICMI. Mungkin tak seorangpun menyangka bulan Mei 1998 Suharto lengser. Begitu juga Gus Dur. Desember 1997, dalam pertemuan santai tersebut, ia masih berhitung Suharto akan terus sampai 2003. Malah Gus Dur mempunyai informasi "lengkap" misalnya Siswono akan dijadikan menteri Pertanian (ternyata keliru, Siswono tak jadi apa apa dalam Kabinet Pembangunan VII yang berumur 2 bulan itu). Oleh karena itu, bagaimana suatu manuver politik dikatakan jitu jika ia dibangun atas dasar premis dan informasi yang keliru. Pertanyaan seperti ini yang mungkin harus dimunculkan untuk menyikapi gagasan Dialog Nasional yang melibatkan Suharto. Informasi macam apa yang dimilikii Gus Dur sehingga berkesimpulan Suharto masih kuat? Apa premis-premis yang mendasari manuvernya belakangan ini? Yang menyedihkan, teman-teman di NU banyak yang menutup diskusi seperti ini dengan kalimat, misalnya, "Gus Dur itu wawasannya jauh." Kalimat seperti ini bukan penjelasan, tapi pujian. Kita memerlukan penjelasan karena peristiwa dan manuver politik membutuhkan rasionalisasi. Sulitnya lagi Gus Dur tidak tuntas memberikan penjelasan dan hanya menuntut orang lain supaya "jeli" dalam menilai manuvernya (lihat tulisan Gus Dur di Media Indonesia 31 Desember 1998). Lepas dari soal ijtihad politik Gus Dur, kita menyayangkan cara-cara berkomunikasi Gus Dur. Di bulan Ramadan ini, dalam open house, Gus Dur menyebut program Adi Sasono sebagai (maaf) "tahi kucing". Perkataan yang tak pantas diucapkan seorang kiai dan "guru bangsa", apalagi di bulan Ramadan (lihat Bali Post). Penulis teringat kritik Mas Cip (Sucipto Wirosarjono) yang dimuat dalam A Nation In Waiting: Cara komunikasi Gus Dur sering menutup munculnya argumentasi yang jernih atas dasar akal sehat. Bagaimana terjadi dialog yang sehat, jika kalimat pertamanya "tahi kucing"? Sdr Chatibul Umam pernah memohon kepada seorang kiai NU agar menasihati Gus Dur. "Kami anak muda nggak bisa. Tolong Bapak sebagai teman Gus Dur menasihatinya." Penulis tak meragukan niat Gus Dur dalam pembelaannya terhadap rakyat kecil, concern-nya terhadap demokrasi, misinya untuk menciptakan masyarakat yang toleran, dll. Tapi Gus Dur manusia biasa. Dalam melakukan manuver Gus Dur mungkin keliru, sebagaimana ijtihad bisa benar atau keliru. Gus Dur bukan wali. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 2 Jan 1999 jam 12:48:29 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
