----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

SATU REFLEKSI DI TENGAH PERJUANGAN
oleh Very Kamil, Desember 1998

Salam Reformasi!

Beberapa minggu terakhir situasi di negeri kita terlihat semakin runyam.
Puluhan orang sudah menjadi korban, baik gugur ataupun cedera dalam proses
menegakkan demokrasi di negara kita. Baik yang mati atau cedera di kalangan
mahasiswa dan masyarakat awam yang berdemonstrasi atau pada saat kerusuhan
terjadi, pihak keamanan  yang gugur atau cedera dalam menjalankan tugas,
maupun para penyusup bayaran yang dipukuli atau dibantai, yang telah
mengotori
arus reformasi yang bergejolak. Dalam situasi menyedihkan ini masih terlihat
pula adanya usaha-usaha secara langsung atau tidak langsung untuk menghambat
gerakan pro-demokrasi dalam mencapai tujuannya mewujudkan sistem demokrasi
penuh yang dicita-citakan oleh bangsa Indonesia.

Kawan-kawan pro-demokrasi sekalian, dalam tulisan ini saya ingin mengajak
kita
semua untuk  merefleksi kembali strategi perjuangan kita. Saya sendiri
secara
pribadi juga ingin belajar kembali agar dapat menyumbangkan sebagian waktu,
pikiran dan tenaga saya agar lebih efektif dalam mendukung gerakan reformasi
yang sedang dijalankan.

Di satu sisi, sebagian  aktivis pro-demokrasi bertahan dengan tuntutan agar
Presiden Habibie mundur dari jabatannya dan menuntut dihapuskannya dwifungsi
ABRI dalam sistem perpolitikan sebagai langkah awal untuk memulai kehidupan
demokrasi yang benar-benar  menjunjung kedaulatan rakyat. Mereka yang
memilih
cara ini sudah tidak percaya dengan sistem yang sekarang masih ada, karena
ternyata sampai saat ini para kroni Suharto masih tetap terlibat dalam
pemerintahan dan duduk di dalam badan-badan perwakilan rakyat. Bagaimana
mungkin mengharapkan perbaikan sistem, kalau pemerintah  masih tetap menutup
mata terhadap tuntutan-tuntutan masyarakat. Komitmen pemerintahan / rejim
Habibie dipertanyakan karena tidak begitu terlihat adanya usaha untuk
mengembalikan ABRI ke fungsi dasarnya sebagai penjaga pertahanan dan
keamanan
negara. Dwifungsi ABRI sebagai salah satu penyebab hilangnya kedaulatan
rakyat, ternyata masih  tetap dipertahankan. Penanganan demonstrasi
mahasiswa
dan masyarakat awam, penanganan kerusuhan di daerah-daerah, pembantaian
ulama
dan kasus ninja serta berbagai kejadian
dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan bagaimana sistem yang ada sekarang
masih jauh dari sebuah sistem demokrasi yang telah diidamkan masyarakat
sedemikian lama. Akumulasi dari situasi ini semua membuat sebagaian aktivis
berkeras untuk tidak mengakui pemerintahan Habibie. Diam-diam, sebagian
orang
mulai bertanya-tanya, bagaimana kalau pemerintah sekarang dengan segala
pertimbangannya berkeras tidak memenuhi atau menanggapi tuntutan-tuntutan
tersebut? Apakah kita akan bertahan terus di jalanan? Apakah kita harus
menangis setiap hari, minggu, atau bulan karena ada lagi dan ada lagi yang
menjadi korban?

Di sisi lain, sebagian aktivis lagi mulai memikirkan alternatif untuk
mencapai
cita-cita yang sama, yaitu dengan menaruh harapan pada pemilihan umum yang
akan datang. Pemilu yang akan datang diharapkan dapat terlaksana secara
bebas
dan jujur. Dengan demikian bangsa Indonesia dapat benar-benar memilih wakil-
wakil rakyat yang memang dipercaya untuk memperbaiki infrastruktur kehidupan
politik kita yang sudah berantakan di bawah rejim Suharto dalam 30 tahun
lebih
terakhir. Dengan memilih wakil-wakil yang memang mampu menyuarakan suara
hati
nurani rakyat, maka kesempatan untuk membentuk negara Indonesia yang
menjunjung kedaulatan rakyat akan lebih besar. Terpilihnya wakil rakyat yang
tidak menyakiti dan tidak tuli terhadap kepentingan masyarakat hanya akan
tercapai jika ada proses pemilihan yang benar-benar bersih, jujur dan adil.
Tanpa manipulasi penguasa atau pihak-pihak yang mendukung kekuasaan yang
menguntungkan sebagian kelompok  kecil masayrakat. Tanpa
kecurangan-kecurangan
yang sudah hampir dianggap wajar oleh sebagian besar masyarakat kita dalam
dua
dekade ini. Melalui wakil-wakil rakyat inilah
nantinya bangsa kita akan mampu menyapu bersih berbagai kebusukan dan
kebohongan yang telah menutupi dan mengelabui kebenaran. Jika kita berhasil
memilih wakil yang sesungguhnya, tidak ada alasan sedikitpun lagi bagi
pemerintah untuk menolak berbagai tuntutan yang sudah disuarakan rakyat
selama
ini.

Mewujudkan pemilu yang bersih, jujur, dan adil, tentu saja bukanlah tugas
yang
mudah. Dalam sistem Orba yang lalu, hampir dalam setiap pemilu memang
disediakan semacam badan pelaksana dan pengawas pelaksanaan pemilu agar
mencapai hasil seperti slogan-slogan yang dilontarkan (jujur dan adil, dsb-
nya). Tapi kenyataanya, pemilu-pemilu tersebut selalu diliputi oleh
kecurangan- kecurangan yang akhirnya hanya memenangkan Golkar sebagai partai
penguasa. Pemilu dalam 3 dekade ini hanya menjadi alat legitimasi untuk
melanggengkan kekuasaan rejim Orde Baru di bawah Suharto. Hakekat pemilu
diinjak-injak dengan tidak dipedulikannya aturan-aturan lazim pemilu yang
demokratis.  Karena itu, sebagian aktivis pro demokrasi mulai menyuarakan
tentang perlunya membentuk sebuah komite independen untuk memantau
pelaksanaan
pemilihan umum. Jika pemilihan umum yang diselenggarakan memang layak untuk
disebut bersih ,jujurdan adil, maka seluruh rakyat Indonesiapun akan tunduk
dengan hasil suara rakyat tersebut. Mudah-mudahan tidak kita
dengan lagi wakil rakyat yang menjadi perpanjangan tangan penguasa.
Sebaliknya, jika hasil pemantauan pemilu menunjukkan kualitas pemilihan umum
yang rendah, yang tidak mencerminkan proses sistem demokrasi, maka akan
jelaslah apakah pemerintah yang sekarang memang hanya penerus sistem
Suhartoisme yang sebelumnya saja.

Pada tahun 1996, sebagaian aktivis membentuk Komite Independen Pemantau
Pemilu
(KIPP). Pada  tahap awalnya, usaha ini mendapatkan sambutan cukup hangat
dari
masyarakat luas. Bermunculan-lah KIPP dimana-mana dengan tujuan untuk
memantau
penyelenggaraan pemilu. Supaya kita dapat menunjukkan kepada masyarakat
Indonesia dan dunia internasional bagaimana kualitas pemilu kita
sesungguhnya
dan merekam kecurangan dan penyelewengan yang (seperti biasanya) mungkin
terjadi dalam pemilihan umum dalam rejim  Orde Baru.

Tetapi, setelah peristiwa 27 Juli 1996 (kudeta Suryadi terhadap PDI di bawah
kepemimpinan Megawati) ketakutan dan teror mulai menghantui gerakan pro-
demokrasi. Akhirnya KIPP yang tadinya cukup mendapat sambutan mulai semakin
tidak terdengar suaranya. Kurang jelas, apakah hal ini dipengaruhi oleh
peristiwa 27 Juli atau juga memang diperlemah oleh infrastruktur KIPP yang
memang masih sangat baru saat itu. Sebagian besar aktivis juga menjadi tidak
begitu peduli dengan pemilu tahun 1997. Seruan boikot digaungkan
dimana-mana.
Pemilu 1997 menjadi pemilu yang lucu. Anehnya, hasil pemilu 1997 masih
menunjukkan jumlah pemilih tetap tinggi bagaimana Golkar (seperti biasa)
memenangkan pemilu dengan jumlah suara sesuai dengan 'target'. Yang lebih
ajaib lagi, jumlah target tersebut hampir sama persis dengan capaian yang
telah  ditargetkan oleh Harmoko sebagai salah satu petinggi Golkar beberapa
waktu menjelang pemilu. Dengan sisa-sisa KIPP yang ada pada saat ini,
pemantauan secara sporadis tetap dilakukan. Tetapi pemantauan yang dilakukan
KIPP saat ini tidak begitu mendapat perhatian baik dalam skala nasional
maupun internasional.

Pemilu kita yang berikutnya akan dilaksanakan sekitar 6 bulan lagi. Sebagian
partai-partai politik sudah mulai bersiap-siap. Pemerintah juga sudah
memulai
langkah-langkah awal untuk persiapan  menyelenggarakan  salah satu bentuk
nyata kegiatan yang mendasar sebuah
sistem demokrasi. Pemilihan Umum. Satu warga , satu suara. Wujud kesetaraan
hak dasar sebagai warga negara untuk menentukan siapa yang akan dipercaya
dalam menyampaikan aspirasi rakyat Indonesia.

Kawan-kawan, ternyata kita masih punya PR yang sangat besar untuk mewujudkan
mimpi besar kita, terwujudnya sistem demokrasi sesungguhnya di negeri ini.
Salah satu yang terbesar adalah: Bagaimana caranya agar pemilu ini memang
bisa
dijadikan kesempatan untuk memulai langkah pertama dalam mencapai tujuan
mulia
tersebut?  Pembentukan tim independen sebagai pengawas dalam penyelenggaraan
pemilu adalah salah satu lagkah yang terpenting. Hasil dari pemantauan yang
dilakukan tim independen ini akan menjadi salah satu cara yang penting untuk
menunjukkan bagaimana kualitas pelaksanaan pemilu di negeri kita. Tinggi
atau
rendahnya kualitas yang ditampilkan dari hasil pemantauan akan menjadi tolok
ukur apakah hasil pemilu yang dilaksanakan layak untuk diakui atau tidak
oleh
masyarakat.

Agar sebuah pemilihan umum dapat dikatakan bersih, jujur, adil (dan berbagai
slogan indah lainnya), ada banyak hal yang harus dipenuhi. Berbagai
infrastruktur penyelenggaraan juga harus menunjukkan sifat 'bersih, jujur
dan
adil'. Mulai dari proses pembuatan undang-undang atau peraturan yang
dikeluarkan pemerintah yang terkait dengan penyelenggaraan pemilu,  proses
pendaftaran calon pemilih dan calon dari partai-partai politik yang diajukan
untuk dipilih, penentuan batas-batas daerah, sistem dan proses kampanye,
pendidikan terhadap pemilih dan penyelenggara dan pengawas pemilu, pelaksaan
pemilihan, penghitungan suara, sampai ke penentuan partai yang 'memangkan'
pemilihan umum. Melihat begitu luasnya proses yang harus dijalankan, tentu
saja harus ada sistem pengawasan yang cukup kuat agar kualitas pemilu
sendiri
dapat mencerminkan pilihan rakyat sesungguhnya. Jika salah satu proses
tersebut sudah mengalami kecurangan, maka hasil pemilihan umum itu sendiri
tentu saja patut dipertanyakan kembali.

Pada tahun 1986, NAMFREL (sebuah komite independen pengawas pemilu) di
Filipina, mengerahkan sekitar 500 ribu relawan untuk terlibat mengawasi
pemilihan umum yang mencakup 85 ribu TPS dan melibatkan lebih kurang 26 juta
pemilih. Bagaimana dengan pengawasan pemilu untuk negeri kita yang pada
tahun
1997memiliki hampir  300 ribu tempat pemilihan suara (TPS) dan sekitar 120
juta lebih pemilih? Sampai saat ini kita belum tahu pasti berapa yang berhak
memilih dan berapa TPS yang akan disediakan dalam pemilu yang akan datang.
Untuk dapat mengawasi pelaksanaan pemilu bagi negara kepulauan terbesar
dengan
penduduk yang demikian banyak, akan diperlukan sumberdaya yang sangat besar
untuk dapat mengawasi proses pelaksanaan pemilu agar tetap terjaga
kualitasnya.

Karena membentuk komite independen pengawasan pemilu masih merupakan sebuah
ide, kita juga belum tahu berapa orang relawan yang akan dibutuhkan untuk
terlibat dalam proses ini. Entah berapa milyar rupiah pula yang harus
dialokasikan untuk mendanai kegiatan tersebut. Mungkin tidak setiap tempat
bisa kita sediakan tim pemantau. Seandainya sember daya manusia dan dana
memang terbatas, mungkin hanya sebagian tempat saja yang dapat diawasi. Kita
juga belum tahu bagaimana peraturan-peraturan atau undang-undang yang akan
mengatur tata cara pelaksanaan pemilu mendatang. Bahkan kita tidak tahu,
jangan-jangan upaya pembentukan  komite independen pemantauan pemilu justru
akan mendapatkan hambatan pula dari awal seperti yang dialami KIPP pada
pemilu
yang lalu. Tetapi bagaimanapun, kita harus tetap belajar dan berusaha
bagaimana dengan sumber daya yang terbatas kita tetap dapat memantau pemilu
secara benar dan meyakinkan.

Waktu kita tinggal sedikit, strategi apapun yang akan kita gunakan untuk
mewujudkan kedaulatan rakyat, tergantung dari pilihan kita masing-masing.
Kita
semua percaya bahwa sistem yang tepat untuk bangsa kita adalah sistem
demokrasi. Bukan 'demokrasi seolah-olah' yang sudah ditampilkan lebih dari
satu generasi terakhir. Mudah-mudahan dalam sisa waktu yang sedikit ini kita
tetap dapat bekerja sama dan tidak saling berpecah belah seperti yang
diinginkan oleh sisa-sisa Suhartoisme yang mungkin masih ada. ***

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Jan 1999 jam 09:08:41 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke