---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- RENUNGAN KULTUR DI AWAL TAHUN 1999 Sebuah periode telah berlalu, walau tidak setegas biasanya, karena masih dalam tengah2 bulan puasa, pergantian tahun membawa suatu reflective mood. Apa yang bisa terjadi di tahun ini ? Satu lagi langkah telah dijalani Indonesia. Bagaimana kita menilai perkembangan Jagad Besar Indonesia ? Jagad Kecil Indonesia ? Saat ini masih banyak sekali cacad dan kekurangan dalam alam pemikiran bangsa ini, sehingga sangat mudah untuk berpikir pesimistik. Tetapi selain itu, secara struktural memang Jagad Kecil kita masih payah. Ki Ageng Mangir menulis tentang revolusi Kultur, yang berdasar pada Kesetaraan Manusia, ini bisa menjadi seri yang sangat menarik. Karena jika kita menukik mendalam, disitulah permasalahannya. Tetapi ini bak mempelajari ilmu, dan start dari Fisika Inti. Pada core mendalam dari universe, memang segalanya adalah interaksi dari quarks dan quanta2 enerji. Bahkan lebih mendasar lagi, waktu = 0 benar2, malah sekedar pure energy. Walaupun ini benar, kita akan kesulitan dalam menanak nasi jika hanya tahu itu. Kita perlu tahu fisika atom, kimia , kimia organik, biologi, bahkan psikologi dan ilmu sosial, untuk bisa membuat nasi kuning yang enak. Dalam renungan ini biarlah kita bicara Fisika Inti. Jenjang keilmuan itu, sejak dahulu tak pernah terjembatani, bahkan harapan untuk menjembatani-nya. Terlalu jauh jarak antara pengetahuan ilmu dasar fisika (atau ilmu mineral / bahan lebih tepat) dengan teori psikoanalis untuk memahami efek dari senjata (keris, rencong) pada hubungan antar-manusia. Padahal, sejak dari dulu, bukan hanya sekarang, otak manusia menolak ketidak-sinambungan. Brain is basically a connection machine, machine that seek connections. Pada saat2 tidak ada harapan akan memperoleh kesinambungan pengetahuan, maka muncul interpretasi2 diskontinu. Menjembatani diskontinuitas kehidupan. Kelahiran, kematian, keadilan. Dan kekejaman2 kehidupan se-hari2. Itu untuk tidak menyebut yang fisik, seperti apakah api, air. Filsafat dan religion adalah jawaban abstrak manusia atas pertanyaan2 tak terjawab ini. Yang harus berdasar pada axioma. Gabungan semua jawaban ini, baik filsafat teoritis maupun jawaban2 praktis (tentang bagaimana mengobati luka, bagaimana menyembelih hewan dst) adalah Kultur Manusia. Seperti halnya terbentuknya wadag biologis, yang terbentuk dari hasil tarik menarik kepentingan2 para pelaku (secara brilyan dirumuskan oleh Darwin dan Wallace, dalam teori evolusi yang sampai kinipun tak dimengerti banyak orang), maka perkembangan Kultur Manusia juga mengalami proses yang sangat mirip, walau tidak sama. Jika evolusi biologis bisa disebut double blind karena tidak ada agen yang mengarahkan secara conscious dan pelakunya juga tidak memiliki pengetahuan internal, maka evolusi kultur lain. Richard Dawkins, pemikir yang sangat tangguh masa kini menulis hal2 ini secara amat tak-terbantahkan. Seorang ilmuwan sintesa yang sangat canggih, bak Newton, Einstein, Freud / Jung, Bohr, Hawking, Darwin. Mungkin Ilya Prigogine dengan Chaos Theory nya bisa masuk pula. Kultur Manusia agak mirip dengan evolusi Lamarckian, walau dengan alasan yang berbeda. Agen dalam Kultur Manusia adalah individu2 manusia, suatu agen yang luar biasa kompleks, dan mempunyai internal machination yang pada dirinya pun telah merupakan mikrokosmos (=Jagad Kecil). Pantulan matahari di dalam gentong kecil. Bayangan dari Jagad Besar dalam satuan2 persepsi menggantikan satuan2 atom fisik. Sehingga secara kualitatif sangat berbeda dari evolusi biologis (atau evolusi kimiawi, evolusi fisik seperti evolusi bintang nya Hawking). Dalam hal tidak blind . Ada dua phase pada evolusi Kultur, phase awal, masih satu blind . Mekanisme internal manusia mempunyai tujuan, tetapi dia tidak memahami suatu tujuan besar bagi manusia seluruhnya. Hanya manusia2 unggul yang mampu meraba keterkaitan universal dari pemikiran manusia, tetapi sangat kabur, dan tidak mempunyai nilai praktikal terlalu banyak (sangat menarik untuk mendalami pemikiran shaman2 Amerika, aborijin Australia maupun Hinduisme India dan kebudayaan lain, bahwa mereka semua mempunyai glimpse tentang Jagad Kecil Universal, Jungian archetype). Sampai tebentuknya imperium2 kosmopolitan (yang tidak lagi berbasis pada kesukuan regionnya luas) mulai terbuka mata dari blindness kedua. Imperium Romawi contoh terbaik, perlunya suatu pemikiran untuk kepentingan yang lebih luas, manusia yang beragam. Mungkin suatu kebetulan sejarah, bahwa sekte Yahudi kecil (saat itu) yang disebut Kristian, yang di adopt oleh Konstantin. Tetapi mungkin juga tidak kebetulan. Keterbukaan blindness kedua ini berjalan amat lamban. Seperti umumnya fenomena manusiawi, lompatan tidak bisa dicerna dengan mudah. Perlu berabad2. Pada masa2 ini lahir agama yang di disain lebih universal sejak dari awalnya, Islam. Karena agama ini lahir pada saat agama lain telah ada dan tak dapat disangkal atau brushed-off begitu saja (seperti yang dilakukan Kristen pada saingan terkuatnya, agama pagan asli Romawi disebut kafir total). Islam adalah agama universal by decree. Tetapi pelaksanaannya tetap berusaha kembali kejaman jahiliyah terus. Dan akibat penutupan pintu ijtihad , maka pelaksanaannya sekarang sangat rancu. Kerancuan ini juga dialami Kristen (atau agama apapun sesungguhnya) waktu perkembangan ilmu pengetahuan (yang awalnya diorganisir terutama oleh Islam!) membuat kalang kabut dogma2. Renaissance terjadi dalam agama Kristen. Belum di Islam (walau gus Dur telah berusaha dulu, kecil2an, misalnya dengan menterjemahkan assalamualaikum). Pembukaan mata dari blindness kedua ini sangat lambat. Ber-abad2. Kenyataan bahwa manusia bisa mengetahui dan mengatur arah evolusi kultur. Semua agama yang masih single-blind menekankan berat pada nasib, yaitu untuk suatu pergerakan kemanusiaan yang tidak dapat dimengerti unfathomable. Bahkan memasukkannya kedalam iman, berarti sesuatu yang super-sakral, atau non-negotiable. Peperangan terhadap Science (dengan kapital S), yaitu daerah ilmu yang mengusahakan perkembangan pengetahuan secara teratur terkendali. Science adalah suatu endeavour manusia yang sama implisitnya seperti rasa-numistik (religiositas), rasa emosi (cinta-takut) dan lain2 basic endeavours. Science sekarang memang telah menjadi sangat terkotak (ini akibat sampingan dari watak Science itu sendiri) dan sulit dimengerti. Tetapi sesungguhnya Science adalah hal2 yang memberi kita common-sense , keyakinan akan arah matahari terbit, tentang gerak hiperbolik benda dilempar (efek kwadratis gravitasi). Sesuatu yang sangat riil. Progres Science amat alot, pertentangan dengan agama (Kristen maupun Islam) dari sangat kasar sampai halus dan super halus. Saat ini para pemikir astronomi mengalami pecah-jiwa rekonsiliasi agama dan ilmu mereka, suatu topik yang ramai. Juga peperangan antara evolusi kreasionis (suatu ilmu penyelamatan Injil dari Science, dengan men-cocok2an ilmu dengan Injil) si jago biologi Stephen Jay Gould. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Jan 1999 jam 08:45:38 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
