----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM Perwira Alengka.
7January 1999.

Perpecahan Anak Bangsa.

Dengan seluruh apa yang ada dalam hati nurani Perwira Alengka, mohon
kiranya para netters memberi Neo TDA  waktu sejenak untuk konsolidasi,
pasca mutasi besar besaran. Sungguhnya Perwira Alengka katakan, bahwa
Neo TDA tidak mengenal warna warni dalam kelompok. Kami GM TDA,
menjunjung tinggi moralitas kejujuran kebenaran

Kami sedang dipecah dan di adu. Setelah si Plice di panas panasi untuk
pisah dari kami, giliran saudara moyangku orang pelaut yang di puji
puji, sementara saudara kami kaum Samurai, sedang merana di sidang,
dipojokkan dan dikorbankan karena ambisi oknum peroknum. Semua  ini
membuat posisi Neo TDA menjadi sangat sulit. Kami sedang di obok obok,
kami sedang digeser, tergeser dan terdepak.

Adik kami si Plice akan pisah. Sebagai kakanya, kami merasa kasihan
dengan beban yang mereka hadapi. Terlalu berat bagi mereka. Untuk itu
Neo TDA menegaskan bahwa Neo TDA akan menghantar mereka sampai mampu
mandiri, dewasa dan berwibawa dalam menjalankan tugas tugasnya. Memang
selama enam tahun pertama ini mereka akan didera. Lima tahun berikutnya
uji coba. Dan setelah itu mereka akan memiliki warna sendiri, yang penuh
intergritas moral dan kejujuran. ( Salam untuk mas Firman---- tetaplah
bersih dan jujjur)

Begitu juga untuk saudara kami kaum Samurai. Pengorbanan kaum Samurai,
untuk tetap cool dan tidak ramai ramai desersi jadi ninja sungguh kami
hormati . Secara pribadi Perwira Alengka salute dengan kalian yang bisa
mengambil kualifikasi Samurai. Samurai adalah kualifikasi tertinggi.
Sekali kualifikasi tertinggi adalah tetap kualifikasi tertinggi.
Kualifikasi itu tidak dapat di ganggu gugat. Perwira Alengka merasa
sangat respect, hormat, dan semoga setelah ini kaum Samurai kembali
seperti dahulu, rendah hati,  cool, dan tidak arogan. Like father, like
son. Kaum Samurai hanyalah korban ambisi orang per orang, yang juga
hampir menimpa komando strategis, tulang punggung Neo TDA..

Karena itu, untuk para netters,  mohon demi keselamatan negara dan
bangsa ini, marilah kita bersama sama bekerja sama. Sesungguhnyalah kami
nyatakan, Neo TDA tidak memiliki ambisi apapun. Tidak ada unsur
penekanan Islam dalam DOM Aceh. Yang ada hanyalah unsur unsur
kepentingan pihak pihak dunia luar yang Perwira Alengka sebut dalam
tulisan terdahulu.  Jadi saat ini, janganlah agama di politisir untuk
menekan Neo TDA.  Sedangkan untuk si Bintang Sakti yang pernah baca The
Asian Drama, berilah kami kesempatan untuk mandiri dan ingatlah Kahlil
Gibran yang menyatakan bahwa seorang anak adalah anak panah yang akan
menentukan nasibnya sendiri. Walau Perwira Alengka tidak kenal siapa itu
Si Bintang Sakti, mohon jangan ganggu kami, melainkan bantu. Minimal
inilah usaha Perwira Alengka dan GM TDA untuk memulihkan citra Neo TDA
yang sudah Patih Sepuh cabik cabik  sejak dahulu ).

Perwira Alengka hanya perlu menjelaskan, bahwa mayoritas Generasi Muda
Tentara Diraja Alengka ( GM TDA ) adalah prajurit Sapta Marga, yang
selalu menjaga persatuan dan kesatuan Alengka yang bersendikan Pancasila
dan UUD 45, dan tetap akan menjaga utuhnya kesinambungan pembangunan.
Jika Perwira Alengka pernah menyentil kubu-kubu tertentu pada tulisan
tulisannya, itu karena persatuan dan kesatuan yang merupakan doktrin Neo
TDA akan dipecah. Pancasila dan UUD 45 ingin di ganti. Dan adanya pihak
yang ingin kesinambungan pembangunan mundur 20 tahun pun tidak apa.
Sementara semua hal ini sama sekali bertentangan dengan aksioma aksioma
yang Perwira Alengka pelajari. Padahal, semua  masalah ini bisa diatasi
dengan dialog damai yang saling mengakui, dimana dari empat selanjutnya
dapat diperluas kemana nana, dengan tidak main gebyah uyah, bakar rumah
, bakar Alengka seperti saat ini.

Dan pada prinsipnya, Neo TDA akan mendukung kelompok manapun yang
berupaya menekan social cost ini. Jika kemudian muncul Gus Dur, beliau
cuma salah satu elemen yang berani tampil dan bicara apa adanya. Jadi
tidak ada terminologi koalisi dalam kamus Neo TDA. Neo TDA bukan Partai
Politik, dan juga sudah menyatakan berdiri diatas semua golongan.
Platform Neo TDA itu jelas--, persatuan dan kesatuan bangsa. Hal ini
baru bisa dirubah melalui seminar paripurna para Patih se Alengka.

Juga soal perpecahan anak bangsa. Terus terang saja, untuk sebuah Timor
Loro Sae yang tanpa pasokan senjata dari luar saja, sudah membuat TDA
kesulitan untuk menyelesaikan dan tarik hati mereka agar mau bergabung
dengan Alengka. Apalagi kalau di pasok. Kini---  jangankan menguasai
mereka,  yang terjadi malah sebaliknya yaitu  mengentalnya kristalisasi
nilai nilai Loro Sae. Mereka kini menuntut agar mendapat otonomi seluas
luasnya. Apa jadinya  kalau sebagian besar propinsi propinsi Alengka
yang heterogen ini juga meminta hal yang sama. Dengan ancaman separatis
dan pasokan senjata dari luar. Apa yang dapat Neo TDA lakukan pada
posisi sedang di hujad begini. Yaa Maha Besar Allah-----, tolonglah Neo
Alengka Mu ini. Akankah kami menjadi mozaik mozaik berserakan ? ( Baca
tulisan Perwira Alengka berjudul Mozaik Mozaik Berserakan pada bulan
Juni 98 ).

Anak muda cendrung berpikir sederhana. Pertanyaan Perwira Alengka,
sudahkah dibuat analisis-analisis bentuk baru Neo Alengka pasca perang
saudara nanti. Jika Pandita Alengka bisa bikin skenario Operasi Lengser
yang sangat istimewa itu, pasti Pandita Alengka itu muridnya si Bintang
Sakti. OL itu adalah varian luar biasa, hasil godokan dari The Asian
Drama, yang membuat semua orang percaya bahwa OL itu ada, termasuk semua
pengikut Eyang Suharto. Mereka sangat takjub dan terlena dengan skenario
itu, dan sangat yakin dengan strategi Eyang Suharto. Sehingga semua
aparat membiarkan saja irama musik requem nya Mozart, musik kematian itu
ditabuh oleh kaum kebiri dalam hentakan house musik. Semua tidak sadar
bahwa di balik itu sudah ada skenario Anti OL lainnya. Skenario OL
dengan variant kontra. Skenario yang dimainkan dengan tenaga Im Yang Sin
Kang. Yang panas itu dingin yang dingin itu panas. Yang kosong itu isi,
Yang isi itu kosong.

Akibatnya, dalam takjubnya, semua anak buah Eyang terlena. Ketika Eyang
betul betul lengser, semuanya terjadi demikian terdadak, dan tidak ada
yang sadar. Dulu Perwira Alengka ada simak satu nama yang menyebut
dirinya Cu Ghe Liang  .??? Atau siapa  ? . ( Bulan Februari 1998 ? ).
Dia yang paling dalam menganalisis OL itu, tetapi samar. Tetapi sayang,
dia tidak pernah muncul lagi di milis ini. Jika dia mampu menganalisis
jurus OL dan siapkan anti OL nya melalui ilmu fikh dan falaknya,
pastilah juga dia mampu menganalisis Neo Alengka pasca perang saudara
nanti. ( Kalau terjadi ).  Perwira Alengka sudah membuat analisis
Pengaruh Perpecahan Terhadap Bentuk Baru Neo Alengka dengan  analisa
regresi, tetapi belum selesai. Variablenya terlalu banyak, dan
confounding faktornya juga belum jelas semua. Upaya Gus Dur mengungkap
peta juga belum maksimal. Karena tu, seandainya sdr  Cu Ghe Liang mau
muncul kembali dengan analisis ilmu perbintangannya, mungkin ada yang
bisa kita timba.

Karena itu, sebelum analisis pasca perang saudara Alengka ini selesai di
kaji----, jangan dulu coba coba pecahkan Alengka ini. Operasi Lengser
yang sudah direncanakan rapi saja bisa amburadul, apalagi tidak
terencana. Terutama kaum Mahasiswa. Jangan sampai kehilangan tongkat dua
kali. Akankah perpecahan ini kita biarkan terjadi ? Hanya demi
kepentingan ego ego orang perorang semata ? Rasanya terlalu idiot para
pemikir bangsa ini yang katanya adalah intelektual jenius. Atau jika itu
memang maunya orang banyak di Alengka ini, yaitu pecahnya persatuan dan
kesatuan Bangsa, yaaa---, kasihan Gus Dur, sendirian memikirkan konsep
Unitarian. Dia berada di jalur lateral. Sementara beliou coba
menciptakan suasana Islam yang sejuk, yang bisa memayungi kelompok
Kristen, Katolik dan minoritas lainnya dibawah Panji Islam, menciptakan
Islam yang universal sekaligus menghilangkan kesan Islam sebagai agama
yang menakutkan bagi agama lain, tetapi justru beliou ada di lateral.

Padahal, ini adalah manuver canggih luar biasa dimana seorang Kiai Buta
bisa menguasai dan menyetir PGI dan KWI, kelompok Hindu, Buddha dan Kong
Hu Cu dengan dukungan puluhan juta umatnya. Sebuah fenomena unik sekali.
Tetapi bagi kaum otak sepenggal, memang sulit menilai beliau.
Biarlah----, toh sekarang semua orang mulai merasa apa yang beliou
lakukan untuk dialog kemarin banyak benarnya----, yaitu untuk
mengurangi sosial cost yang harus di tanggung oleh negara dan bangsa
ini. ( Hanya mohon jangan bikin panas suasana lagi yaaaa  .Gus Dur..)

Sebenarnya kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar dari Iran,
Philipine atau Pakistan. Untung untungnya kita adalah untungnya wong
Jawa, jadi masih untung  belum seperti di Columbia saat ini atau di
Italia dahulu yang main tembak seenaknya terhadap lawan politiknya.
Untung Arifin Paniogoro kemarin tidak tewas dan anggap saja  hanya
sekedar kecelakaan lalu lintas murni. Dan pemboman di Ramayana anggap
saja adalah urusan pembebasan tanah semata. ( apa iyaaa--- ) Kalau
dugaannya dipolitisir atau diupayakan untuk di rangkai rangkai ( zigsaw
set thinking system ) ceritanya akan lain lagi, atau misalkan ada yang
meninggal dunia----, siapa yang akan di tuduh ?. Neo TDA lagi, . Amit
amit.

Ditengah panasnya situasi saat ini, mohon orang orang jangan bicara asal
asalan saja, sementara dia belum pernah menginjak dan menyaksikan
sendiri bagaimana mengerikannya itu Cambodia dan  Former Yugoslavia saat
perang saudara. Masih sangat untung bila Alengka ini bisa pecah tanpa
pertumpahan darah seperti Former Sovyet Unis, ini meminjam lagi istilah
untungnya wong Jawa Pandita. Jika  pecah seperti Former Yugoslavia yang
oleh sebagian orang di Alengka ini disimplikasikan sebagai perang agama
antara Kristen dan Islam, bisa kacau kita.  Kasihan wong  Jowo, Bugis,
Madura yang sudah transmigrasi ke mana mana. Jadilah mereka refugees.
Karena itu sangat lucu melihat para pakar yang merasa dirinya tokoh,
tetapi tidak mengerti masalah, tidak mengerti histori, tidak mengerti
latar belakang, main generalisasi saja. Jika ditanya apa bedanya Fikrit
Abdit dengan Eliya Izebedgovic---- diyakini 90% dari mereka tidak ada
yang tahu. Padahal keduanya sama sama pimpinan Islam Bosnia. Yang satu
ingin bergabung dengan Croatia yang Katolik, dan satu lagi ingin
membentuk negara sendiri. Soal Katolik perang dengan Kristen Ortodoks ,
atau Islam gabung dengan Katolik lawan Serbia--- tak ada yang tahu. Atau
bagaimana Eliya Izebedgovic yang Moslem, berkoalisi dengan Serbia Bosnia
yang Kristen Orthodoks memukul Fikrit Abdit yang Islam akan membuat kita
semua bingung bukan ?. Sementara yang kita tahu hanya demoslemisasi
total. Ada benarnya---- tetapi tidak seluruhnya.

Begitu juga Alengka ini. Begitu juga DOM Aceh ini. Tidak sepenuhnya
penekanan terhadap Islam dilakukan orang Kristen Katolik. Si Bintang
Sakti itu berada dibalik gugurnya ratusan ribu kaum destar merah Timor
Loro Sae.  Jadi orang Katolik hajar orang Katolik. Seharusnya itu Loro
Sae yang boleh  protes lebih keras. Karena itu Perwira Alengka tdak
ingin agama di bawa bawa. Perwira Alengka netral netral saja.  Jadi jika
dikatakan agama tertentu menekan agama lain---, mohon di kaji dululah
dengan baik. Siapa saja Pangdam Pangdamnya, siapa siapa saja tokoh Aceh
yang merestuinya. Jangan semua hutang masa lalu ini dibebankan pada
kami, Neo TDA.

Jika sasarannya adalah menyisir anggota Neo TDA yang sudah berpakaian
sipil sekalipun,  maka tujuan mereka jelas adalah memisahkan Neo TDA
dari rakyat dan kemudian sekaligus ingin membasmi Neo TDA dari bumi
Alengka ini. Jika kemudian mereka memilih yang beragama Nasrani, berarti
mereka berupaya memecah belah yang Mayoritas dengan Minoritas. Bila yang
mereka pilih adalah warga yang bermarga Batak, maka dapat disimpulkan,
mereka tahu bahwa temperamen orang Batak mudah dipancing, yang
selanjutnya akan memancing terjadinya perang etnis yang akan meluas
dengan basis agama. ( Neo Ketapang, Neo Kupang, Neo Poso ? )

Analisis berikutnya adalah jika Neo TDA bertindak keras atas kasus ini,
mereka akan berlindung di balik tirai agama. Jika lunak, oh  ini bisa di
ulangi. Kalamana Neo TDA yang meminta Komnas HAM untuk mengirimkan
teamnya, Komnas HAM malah bilang akan minta pertimbangan negara Timur
Tengah dahulu. Dan ketika team itu jadi dikirim, langsung sudah ada
opini untuk mengaitkannya dengan kejadian masa lalu. Yah---- Neo TDA pun
memang tidak pernah berharap banyak. Yang jelas semua ini akan
memperbaiki citra Neo TDA di depan Blok Barat. Semakin banyak kaum
nasrani yang gugur, semakin bersih citra Neo TDA, apalagi jika Neo
TDAnya pasive saja. Sayang sekali kemarin di gelar Operasi Wibawa 99.
Seharusnya tidak usah. Satu orang Aceh terbunuh hanya akan meninggalkan
sepuluh dendam baru. Tetapi sudahlah. Rekan kami yang dilapangan pasti
punya argumentasi tersendiri.

Karena itu kami GM TDA memohon agar para pemimpin negeri ini untuk
berpikir ulang berkali kali sebelum melangkah. Neo TDA salah--- Neo TDA
akui. Neo TDA terdepak--- Neo TDA sadari. Mau apalagi---? Percayalah---,
di Alengka ini tidak akan ada Ponce Enrille yang dari Tentara Diraja
Philipine atau Fidel Ramos yang Plice. Tidak akan ada Honasan de Gringo,
juga tidak ada Nur Misourri ( Xanana ) yang Morro ( Loro Sae ). Tidak
juga Zia Ulhak yang meledak di udara, atau Benigno Aquino yang apes di
pesawat. Kita tidak mengenal cara Columbia atau gaya Italia. Kita bangsa
Alengka, bangsa besar yang salah urus kata News Week.  Tetapi juga
adalah bangsa yang belajar dan bangsa yang sedang berobah. Jelasnya----,
percayalah pada Mahapatih Wir, bahwa kami GM TDA dari Neo TDA tidak
ingin status Quo atau bikin junta segala. Jika mau---,  itu sudah kami
lakukan saat 21 Mei dan peristiwa Semanggi yang lalu. ( Opo mampu ---
rek ? )

Terakhir, bila Perwira Alengka cumalah Young Turk kata Pandita, tidak
apalah--- berarti bisa bicara bebas apa saja. Yang penting Perwira
Alengka memiliki kesetiaan, loyalitas dan Survival Guilt, yaitu orang
yang konsekwen dengan sikap nuraninya, dan bila perlu siap kamikaze
untuk memulihkan citra Neo TDA. Juga adalah figure yang kadang kadang
menyesal, kok dalam upaya membela citra Neo TDA ini harus menyentil
pihak tertentu. IQ dan Emoqiu nya Perwira Alengka ini memang rendah sih.
Yaah--- itulah   Perwira Alengka, orang rendahan, orang  jelata yang
dari kelompoknya terbuang. Itulah Perwira Alengka apa adanya.  Kalau
Perwira Alengka sudah jadi orang besar seperti Mahapatih Wir----kan
laen. Jika  beliou cemberut saja---, satu Alengka sudah membahas dan
menganalisis, apa yang kira kira sedang di gundahkannya.

Kalau Perwira Alengka kan lugu. Apa adanya. Dan segmen pasar tulisan
Perwira Alengka juga jelas, sasarannya adalah kalangan generasi muda
middle class Neo Alengka ( ekonomi dan intelektual ) baik dalam maupun
luar negeri, yang coba Perwira Alengka yakinkan, bahwa kami--- GM TDA
tidak seburuk dan tidak sejelek yang kalian sangka. Hanya, nampaknya
saja dari luar kami GM TDA ini seperti pura pura tidak tahu-----,
padahal----------?   Ah--- entahlah. Ternyata hidup tidak sesederhana
itu. Begitupun, sebelum mengakhiri tulisan ini perkenankan Perwira
Alengka menyatakan---sekali Neo TDA tetap Neo TDA. Rawe rawe rantas----,
malang malang tebas. What ever wil be wil be, what ever must be--- must  be.

Hidup Neo Alengka yang melarat dan penuh hujad.
Hidup Neo TDA yang lebih baru.

Perwira Alengka.
Di Neo Alengka.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 7 Jan 1999 jam 08:46:10 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke