---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- KOLOM Perwira Alengka. DOM Aceh, dan Eksternal Faktor yang Mempengaruhinya. 6 January 1999. Jam 17.00 WIBB. Tulisan Kentut Semar, Neo VOC dan Pandita sudah Perwira Alengka sampaikan dalam tulisan itu, adalah tulisan terakhir Perwira Alengka ditahun 98. Konsekuen dengan itu, baru pada hari ini Perwira Alengka bisa menjawab pertanyaan seorang netters yang meminta Perwira Alengka untuk menjelaskan soal Timor Loro Sae dan DOM Aceh. Tetapi sebelum Perwira Alengka sempat menjawab, gugurnya delapan anggota Neo TDA berpakaian sipil, yang tidak bersenjata, diturunkan dari bis, pada saat mereka pulang untuk menjalankan cuti pada hari besarnya dan kemudian dibalas dengan Operasi Wibawa 99 ------- sudah menjawab sebagian pertanyaan penelitian tentang sebab musabab persoalan DOM Aceh tersebut. Sedang soal Timor Loro Sae, sudah pernah Perwira Alengka bahas panjang lebar di tulisan bulan Juni tahun 98 yang garis besarnya adalah teori domino pasca perang Vietnam 74-75, dimana komunistopobia telah menimbulkan kekhawatiran merembetnya kaum destar merah kemana mana terutama seputar kawasan regional Asean yang juga sangat mencemaskan Blok Barat. Sementara itu di belahan Timur Alengka ini ada Timor Loro Sae, dengan bandar laut dalamnya Dilli . Ketika Fretelin ditakutkan main mata dengan Blok Timur dimana Dilli akan diakuisisi Blok Timur sehingga poros Vladiwostok Dilli akan terbentuk, sangat mengkhawatirkan banyak negara ----, sebab akan menyilang poros Subic- Pearl Harbour. Suatu ancaman bagi Armada Pasifik. ( Saat itu Subic belum bubar ) Karena itu, dengan segala cara unifikasi Falentil dengan Blok Timur harus di cegah dan Dilli harus dikuasai oleh pihak kawan. Saat itu, pihak kawan itu adalah Alengka. Sehingga sebenarnya tingkat kebutuhan akan Timor Loro Sae kala itu lebih merupakan kepentingan regional Asia Tenggara dan Blok Barat dari pada kepentingan Alengka atau TDA sendiri. Namun setelah pasca perang dingin ( bubarnya Pakta Warsawa, runtuhnya tembok Berlin dan bubarnya Uni Sovyet), posisi Timor Loro Sae dan Dilli tidak dibutuhkan lagi sebagai bandar strategis, apalagi setelah Fretelin sembunyi dan ganti nama dibalik internasionalisme Roma Katolik. Jadilah kemudian Alengka dan TDA seperti Bimbi, gadis sederhana tapi manis, yang mau hidup coba coba, bermain di pentas internasional, tetapi kini harus terkucilkan, dilupakan, dinistakan------ dan memelas pucat pasi, menanti di jalan sepi. Masih dalam bingkai desakan politik Internasional yang sama, Perwira Alengka coba jelaskan soal DOM Aceh dan faktor faktor eksternal yang mempengaruhinya, dengan sama sekali tidak mengurangi rasa penyesalan dan rasa bersalah yang sedalam dalamnya atas tindakan senior senior dan bawahan kami lakukan, selama beroperasi disana. ( Ini adalah pertanggungan jawab moral Perwira Alengka kepada seluruh korban dan keluarga DOM Aceh, walau sebenarnya Perwira Alengka sama sekali belum pernah mengenal tanah Rencong tersebut, sebab saat itu Perwira Alengka baru netek jadi Perwira ). Adalah benar premis yang mengatakan, seluruh kejadian besar nasional, adalah bagian kecil dari drama besar theatre dunia, dimana Alengka hanya kebagian peran figuran di dalamnya. Tetapi peran kecil itu saja sudah memusingkan TDA, sehingga harus tercipta DOM Aceh, apalagi yang gede. Mengingat DOM Aceh itu berawal pada tahun 1989 setelah pulangnya kaum separatis partisan dari latihan militer di Lybya, Perwira Alengka tidak akan mengangkat lagi batang terendam ini ---, tepatnya tidak akan mengungkit ungkit lagi dendam lama. Perwira Alengka, hanya ingin membawa wacana para netters ke situasi dan kondisi politik wilayah Timur Tengah kala itu, kelompok kelompok negara Arab yang bertikai, dengan semua intrik intrik politiknya sebab Timur Tengah adalah salah satu variabel yang cukup menentukan dalam konteks DOM Aceh ini. Tahun 1989 adalah babakan akhir Perang Iran-Irak, dimana secara resmi Irak dibantu oleh USA dan Pan Arabian, ( Tetapi ingat juga double face skandal Iran Contra, baca bukunya ) Karena itu Perwira Alengka berusaha mengawali back ground DOM Aceh ini dari Perang Teluk saja, bukan dari sepulangnya kaum partisan dari Lybia yang kemudian langsung menyerang pos pos polisi dan militer untuk mendirikan negara Aceh Merdeka. Prolog itu nantinya hanya akan menimbulkan polemik berkepanjangan yaitu mana yang lebih dahulu antara ayam dengan telur. Karena itu Perwira Alengka menariknya lebih kepada kenapa DOM ini bisa sampai berkepanjangan dan faktor faktor apa yang mempengaruhinya. Ceritanya begini. Pada tanggal 2 Agustus 1990, Drama Perang Teluk dimulai---, diawali oleh invasi pasukan Irak atas Kuwait. Sebelumnya kawasan yang memang tidak pernah damai dan penuh dengan intrik intrik ini, memang sudah mengalami tiga perang besar yaitu Perang Sinai, Perang Lebanon, dan Perang Iran-Irak. Semua dengan musuh dan teman yang saling berganti diantara sesama mereka. Sebentar kawan sebentar sahabat, lain kali musuh --- nantinya rival. Selalu silih begitu. Jadi, bila tidak mengenal dunia Arab dalam putaran politik dari hari ke hari, menit demi menit----, jangan coba bicara soal Islam dan Arab dengan menyatukannya dalam satu terminologi politik dan ideology yang sama. ( DOM Aceh paling banyak mengambil korban justru antara 91 sd 1992 ) Yang paling menarik, walau perang Iran-Irak telah berlangsung 9 tahun terus menerus, ternyata tidak memperlemah kekuatan militer Irak, sebab selama perang, Irak terus menerus mendapat dukungan dana dari Pan Arabian yang lebih menganggap Irak sebagai bagian dari Arab sedangkan Iran lebih Asia. (Bagaimana pandangan mereka dengan Alengka yang lebih gado gado ini ? ) Begitupun, walaupun perang Iran- Irak tidak memperlemah kemampuan militer Irak, tetapi dari sisi keuangan, Irak mengalami defisit anggaran sampai 70 milyard dollar karena hutang hutangnya pada Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait dan negara negara Arab / Eropah/ Amerika lainnya. Menurut pikiran Sadam, defisit anggaran ini dapat dihilangkan bila Kuwait bisa diakuisisi, karena cadangan minyaknya sangat besar. Dasar invasinya adalah sejarah Ottoman Kingdom, dimana Baghdad menguasai hampir seluruh zazirah Arab kala itu. Dengan asumsi tidak akan ada negara yang berani mencegahnya, karena negara negara Arab adalah pendukungnya saat perang Iran Irak, dan Amerika mensupplai senjata baginya. ( Lupakan dulu skandal Iran-Contra ). Invasi ini membuat Pan Arabian panik dan segera terpecah. Empat belas negara Islam langsung berkoalisi menjadi satu untuk melawan Irak yaitu : Afganistan, Bahrain, Bangladesh, Mesir, Marokko, Nigeria, Kuwait, Oman, Pakistan, Qatar, Saudi Arabia, Senegal, Siria dan Uni Emirat Arab, dengan poros utamanya yaitu kekuatan 3 negara Islam besar dunia yaitu: Saudi Arabia, Mesir dan Suriah. Uniknya, Saudi Arabia yang teknologi militernya Amerika dan Inggris, Suriah yang teknologi Uni Sovyet dan Mesir yang teknologi gado gado, bisa bersatu dalam menghadapi musuh bersamanya yaitu --- Irak. Disisi lain, Irak, dibantu oleh Libya, Yordania, Yaman dan secara moril tidak dikecam oleh beberapa negara netral lainnya.( Baca Dessert Warrior, by HRH Khaled bin Sultan, seorang Jendral AU, menantu King Fahd, yang juga adalah Panglima Gabungan Operation Dessert Storm yang sejajar dengan Norman Scwarchoft. Beliau cadet pertama keturunan Arab yang dididik di Akademi Militer Sandhurst Britania ) Sementara itu, di pihak negara negara Barat dan beberapa negara Asia yang memiliki kepentingan agar terjaminnya supply minyak mereka, bergabung jadi satu, yaitu Amerika, Argentina, Australia, Belanda, Belgia, Canada, Chekoslovakia, Denmark, Perancis, Yunani, Hongaria, Inggris, Italia, Korea Selatan, New Zealand, Norwegia, Philipina, Polandia, Rumania, Sierra Leone, Singapura, Spanyol, dan Swedia. ( Walau Perancis bertempur setengah hati ) Dalam perang teluk ini, Alengka yang sering mengirim missi perdamaian kepenjuru dunia, lebih memilih bersikap netral. Tidak memihak pada pihak Arab yang manapun. Bentuk kenetralan Alengka ini, diimplementasikan dengan tidak mengirim pasukan ke Teluk untuk menggempur Irak. Tetapi kenetralan Alengka ini ternyata sangat menyakitkan hati negara-negara Arab mayoritas. Perlu diingat, mereka selama ini sudah memendam rasa antipati, dimana saat mereka melakukan embargo minyak ke negara Barat dahulu saat pasca perang Sinai, Alengka tidak mendukung mereka. Sebaliknya malah membuka keran minyak sebesar besarnya bagi negara rival dunia Arab. Sedangkan Alengka sendiri adalah negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia, yang menurut pendapat mereka, seharusnya sejalan dengan kepentingan mereka. Dan kalamana Alengka tidak mengirim pasukan untuk menggempur Irak, maka perasaan kurang senang itu semakin bertambah. Sementara negara-negara barat juga mulai ragu dengan Alengka, dimana Alengka dicurigai mulai bergeser dari pijakan baratnya. ( mereka lupa kita adalah Non Blok ). Mereka marah mengapa kali ini Alengka tidak mengikuti tindakan investor baratnya, untuk bersama sama menggempur Irak. Apalagi disinyalir, banyak anggota separatis dari Aceh yang pulang dari Lybia akan mendirikan negara Aceh Merdeka. Hal ini sangat mengganggu pikiran negara-negara barat sebab mereka memiliki banyak kepentingan di beberapa proyek vital di Aceh. Ditambah lagi sepulangnya para partisan separatis ini dari pendidikan militer di Libya, langsung menimbulkan aksi teror dengan menyerang pos pos militer / dan pos polisi ------ membuat situasi politik Alengka saat itu serba susah. Ada kebutuhan internal dan eksternal Alengka yang terpaksa harus menuntut suatu tekanan yang lebih keras terhadap kaum separatis. Sebagai back ground untuk mengetahu aliran aliran, Lybia adalah aliran keras di luar negara mayoritas Islam Arab, dan tidak seirama dengan Saudi Arabia yang dikenal sebagai sentral agama Islam. Sementara saat Perang Teluk itu-----, jelas Lybia, Yordania dan Yaman dengan segala pertimbangan kepentingan politik dan ekonominya--- berpihak pada Irak. Lalu ada partisan Alengka yang berlatih di Lybia, yang oleh mayoritas Arab dianggap sebagai bukti kedekatan Alengka dengan Lybia. Dengan tidak ikut melakukan embargo minyak dan tidak mengirim pasukan menggempur Irak saja mereka----- sudah marah, apalagi ditambah dengan data adanya pelatihan militer di Libya. Semua faktor ini membuat Pan Arabian semakin tidak simpati dengan Alengka yang menurut mereka pro Irak, Libya, Yordania dan Yaman. ( Ini setting politik Perang Teluk saat itu---, sementara sekarang setting politiknya sudah berubah dan akan berubah terus ). Begitu pula sebaliknya Blok Barat. Mereka melihat keraguan sikap pemerintah Alengka yang membiarkan adanya partisan Aceh Merdeka yang membuat kerusuhan akan berdampak buruk pada keselamatan modal investasi mereka. Hal ini membuat mereka gerah dan berupaya menekan pemerintah Alengka melalui tekanan diplomatiknya. Jadi tepatnya--- saat itu Alengka ditekan dari dua arah, negara-negara Islam mayoritas dan investor-investor negara barat melalui senator senatornya. Akhirnya untuk mengatasi tekanan ini, sebagai jalan tengah diambil sebuah sikap politik yaitu demi menjaga persatuan dan kesatuan Alengka sendiri, pemerintah Alengka akan memerintahkan TDA untuk menekan kelompok partisan yang dididik di Lybia. Operasi ini sifatnya multi function yaitu agar dunia Islam mayoritas mengerti bahwa Alengka tidak berpihak pada Irak Lybia- Yordania dan Yaman, dan juga tidak merestui pelatihan militer di Lybia, sekaligus sebagai upaya berbaikan dengan mayoritas negara Arab. Juga dengan DOM ini, Alengka ingin membuktikan pada negara Barat bahwa Alengka tetap akan menjaga investasi negara barat di Alengka. Jadi dalam setiap operasi militer, segala kepentingan baik kepentingan luar negeri maupun kepentingan dalam negeri pasti berperan. Selalu ada skenario regional, maupun internasional di belakangnya. Kalau tidak---, dimana operasi militer itu hanya didasari inisiatif Alengka sendiri---, pasti akan dihajar habis habisan oleh pers international yang merupakan opini leaders dari semua berita pers jagad raya. ( ingat suku Kurdi, Kosovo dll ). Jika mereka bergerak, makaAlengka akan di kucilkan malah di embargo. Dalam kesulitan tekanan politik internasional inilah----, dengan segala kepentingannya, kepentingan keberpihakan kepada proyek strategis, keberpihakan kepada Arab/Islam mayoritas, keberpihakan kepada negara sahabat yang merupakan investor dari objek vital dan demi mengantisipasi ancaman perpecahan anak bangsa / separatisme yang selalu mengancam Alengka karena pluralisme dan heterogenitasnya, membuat konsep pikir, bahwa perlu adanya suatu Operasi Militer di Aceh. Maka, tak lama kemudian DOM Aceh yang semula lebih persuasif bergeser menjadi lebih represif. Ini bukan pola pikir zig saw yang coba merangkai rangkai ingatan masa lalu. Hal itu memang demikian. Situasi politik saat itu sama saja dengan suasana saat ini dimana pemerintah bisa saja menetapkan Barnas sebagai gerakan makar, karena mengancam persatuan/kesatuan bangsa dan ada unsur kekerasan / anarkhinya. Sementara tujuan sebenarnya hanyalah sebagai shock therapy dan konsumsi pers luar negeri. Jadi mudah menganalogikan masalah DOM ini tanpa perlu membawa bawa variabel unsur Islam kedalamnya. Tidak ada unsur penekanan Islam. Politik luar negeri Alengka saat itu adalah menjaga hubungan baik dengan semua negara Timur Tengah dan negara Islam. Jika saat itu ada perbedaan visi antara masing masing negara Timur Tengah, adalah wajar wajar saja, dan sampai seberapa jauh jaringan diplomasi mereka mampu mempengaruhi para pengambil keputusan di Alengka ini. Kata kuncinya sebenarnya adalah, kita lebih dekat kepada negara Timur Tengah yang mana ?. Sebab sebutan Timur Tengah ini bisa berarti banyak macam, sebab mereka sendiri tidak homogen. Ketidak homogenan inilah menimbulkan buah simalakama. Bila Alengka ikut menggembur Irak------, negara Libya, Yordania dan Yaman akan marah. Sebaliknya ketika Alengka tidak menggempur Irak-----, Pan Arab mayoritas dan Blok Barat yang marah dan akhirnya akan menekan kita. Akhirnya Alengka mengambil yang mudahnya sajalah --- yaitu jangan main di luar---, main di dalam saja. Perketat DOM di Aceh. Soal kemudian terjadi peristiwa pembunuhan massal dan pelecehan seksual lainnya, hal ini memang sangat memalukan dan merusak citra TDA. Tapi percayalah, hal ini akan Neo TDA usut sampai tuntas, setelah Pemilu nanti. Neo TDA akan cocokkan antara laporan masyarakat, laporan Komnas HAM dan laporan inteligen yang masuk dengan pasal pasal Konvensi Geneve. Mereka ini combattan atau non combattan. Setelah itu Neo TDA akan mencari jalan penyelesaiannya. Dan oknum oknum tertentu bila benar terbukti penjahat perang, bisa saja di ajukan ke International Tribune di Den Haag. Yang Perwira Alengka tidak mengerti, seharusnya operasi ini cukup sampai tahun 1992. Tetapi kenapa baru Patih Ismed Yuzaeri yang mencabutnya. Kenapa tidak dari dulu dulu saja, sehingga tidak mengorbankan citra TDA. Tetapi apa yang mau dikata. Dengan terjadinya kasus pembantaian 8 prajurit TDA yang kemudian di sikapi dengan dijalankan nya Operasi Wibawa 99 kemarin, Perwira Alengka tidak berani menganalisa lagi.Takutnya hanya akan memanaskan situasi. Sebagai informasi, para Komandan yang dikirim ke Aceh semuanya beragama Islam saleh. Malah salah seorangnya Perwira Alengka ketahui betul, adalah seorang GM TDA yang khatam Al Qur an, yang solat lima waktu, sangat tekun menjalankan ajaran Nya dan biasa mengucapkan selamat kepada temannya yang Nasrani tanpa kata kata Natal. Hanya selamat saja. Sedang seorang yang lainnya adalah murid dari Kiai Besar Abdul Kader Zaelani yang korban Tg. Priok dan sahabat ini juga selalu singgah di pondok pesantren SuryaLaya mengunjungi Kiai Besar Abah Anom.Jika mereka sampai bisa melakukan serangan balik kepada Ahmad Kandang CS, percayalah---- pasti yang terjadi tidak sesimple analisis team KOMNAS HAM yang sudah punya prejudice terlebih dahulu. Karena itu, tanpa mengurangi rasa prihatin GM TDA atas jatuhnya korban di kedua belah pihak terutama warga Aceh yang tidak bersalah. ( Bagi pihak prajurit kami, kematian adalah salah satu klausul kontraknya saat jadi militer ) maka sesuai permintaan Maha Patih Wir, segeralah KOMNAS HAM mengirim teamnya ke Aceh. Pasti ada some thing wrong. Jangan dengar si Munir yang selalu bicara minir tentang Neo TDA sementara menurut Perwira Alengka, sebaiknya dia pulang cuti dua bulan ke Timur Tengah, dan bantu itu Yasser Arafat ngatur negara negara Arab yang nggak pernah akur. Species Timur Tengah yang satu ini mungkin masih original produk sana, berantem melulu. Beda sekali dengan Bpk Ali Alatas atau Ustazd Alwi Shihab yang sudah incultural Alengka, selalu bicara teduh, membawa suatu nilai Islami yang universal, seperti kotbah kotbah dan bacaan Al Qur an yang tiap hari kita dengar di siaran langsung RCTI dari Mekkah tiap malam. Ternyata isi dan metode khotbah kita sudah tertinggal 15 tahun ke belakang di bandingkan dengan Saudi Arabia. Kita selalu mengumbar dendam dan perpecahan. Perpecahan negara dan bangsa ini. Sementara bacaan dari Mekkah selalu membawakan suara Bani Adam dan kita adalah The Children of Abraham melalui Torat dan Zabur Nya. Semoga saja Perwira Alengka salah. ( Perwira akan lebih mendalami hal ini ) Hidup Neo Alengka yang saat ini menikmati masa masa damainya. Hidup Neo TDA yang bisa dengan tenang menjalankan ibadah puasanya. Perwira Alengka. di Neo Alengka. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 7 Jan 1999 jam 08:46:42 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
