---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk GUS DUR NILAI THEO JUSTRU BELA GERAKAN ISLAM JAKARTA (SiaR, 8/12/98), Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ternyata sudah mendengar dan membaca langsung isi rekaman dan transkip ceramah Mayjen TNI (Purn) Theo Syafei yang menghebohkan itu. Gus Dur mengatakan, bahwa isi ceramah Theo justru membela gerakan Islam. Demikian penegasan Gus Dur dalam dialog informal Gus Dur-Amien Rais di Jakarta, Kamis (7/12) kemarin. "Saya sudah mendengar transkip dan rekamannya. Saya bisa pastikan bahwa pemberitaan itu adalah fitnah. Pak Theo tak bermaksud melecehkan umat Islam. Justru apa yang dikatakan Theo Syafei itu sebenarnya ingin membela gerakan Islam," katanya. Menurut Gus Dur, jika disimak baik-baik, ceramah tersebut justru membela gerakan Islam. Bahwa gerakan "Islam itu," lanjut Gus Dur, "tak pernah menuntut untuk mendirikan negara agama." Tapi, masih menurut Gus Dur, isi ceramah tersebut dibalik oleh sebuah tabloid ibukota, sehingga menjadi berkembang seperti sekarang ini. "Theo itu tidak pernah ngomong di Kupang, saya ingat-ingat, dia tidak pernah. Kok ditulis dia pidato di Kupang, ini fitnah," ujar Gus Dur seraya menyilakan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais untuk berbeda pendapat dengannya tentang kasus Theo Syafei itu. "Terserah saja kalau Mas Amien beda, boleh beda. Itu tidak apa-apa kok," katanya yang disambut tepuk-tangan dan tawa hadirin yang memenuhi Presidential Suite, Hotel Indonesia. Menurut pengakuan Gus Dur, dirinya baru berkomentar setelah menunggu Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri meminjamkan transkip dan isi rekaman ceramah Theo Syafei. Seperti diketahui, akibat ceramahnya yang transkip dan rekamannya beredar luas, Theo Syafei, Rabu (6/12) diadukan berbagai ormas Islam seperti KISDI, DDII, KAHMI, ICMI, PPMI, GPI, HMI, dan PII ke Polda Metro Jaya, karena isi ceramahnya dinilai menghina umat Islam. Penegasan Gus Dur itu didukung sejumlah aktivis mahasiswa yang dihubungi SiaR, bahwa kasus Theo Syafei dijadikan bahan pengalihan isu dari perjuangan gerakan pro-reformasi total untuk menciptakan Indonesia baru yang bersih dari peninggalan kaum Soehartois. "Cara yang paling efektif adalah menciptakan konflik horisontal antar agama. Dan menjadikan agama sebagai kuda tunggangan kepentingan politik kelompoknya," ucap Komariah, aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Perempuan Forkot (IPF). Komariah menduga ada gerakan sistematis dari kelompok-kelompok seperti KISDI dan kawan-kawan untuk mengalihkan isu tuntutan reformasi total yang disuarakan rakyat kepada sejumlah hal yang mempertentangkan nilai antaragama atau antaretnis. Ia yakin yang berada di belakang kelompok-kelompok itu adalah aliansi elite politik pro-Soehartois dan pro-Habibie yang notabene pro-status quo. "Forkot saja pernah difitnah sebagai komunis oleh mereka. Padahal sebagian mahasiswa yang bergabung kepada Forkot adalah putra-putri keluarga Nahdlatul Ulama. Berarti mereka mengkomuniskan kaum Nahdliyin juga," urainya. Senada dengan Komariah, seorang aktivis Komrad, Kodir, melihat adanya standar ganda dalam sikap dan tindakan ormas-ormas seperti KISDI dalam menyikapi persoalan bangsa. "Mengapa Theo dan wartawan Jakarta-Jakarta, Rudi Gunawan dikejar-kejar untuk dituntut secara hukum akibat ceramah atau tulisan mereka. Sementara, kami tidak melihat hal yang sama diperbuat mereka, bagi kepentingan umat Islam korban kekerasan militer di Aceh. Misalnya di Aceh banyak muslimah diperkosa militer. Itu kongkrit, sudah berakibat secara fisik," tandasnya. "Mereka menghubung-hubungkan ceramah Theo dengan terjadinya kerusuhan Kupang. Tapi mana suara dan empati mereka untuk ratusan gereja yang telah dirusak atau dibakar massa. Kalau tujuan gerakan mereka untuk kemaslahatan umat manusia, seharusnya KISDI jangan menggunakan standar ganda atau pijakan yang diskriminatif dong. Desak pemerintah untuk menyelesaikan kasus-kasus pembakaran gereja secara hukum," lanjut Kodir kembali. Menurut pantauan SiaR, beberapa operator kekuatan pro-Soehartois, pro-Habibie, atau pro-status quo umumnya yang berasal dari ormas-ormas tersebut kini menikmati keuntungan material. Eggy Sudjana (PPMI), Fadli Zon (IPS) dan M Jumhur Hidayat (CIDES) kini mengendarai kendaraan pribadi mewah bermerk seperti Mercedes Benz atau BMW. Sumber SiaR menyebutkan, keuntungan material itu diberikan oleh sekelompok elit politik pro-status quo sebagai "imbalan" kerja politik mereka menciptakan konflik-konflik horisontal di masyarakat.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Jan 1999 jam 14:16:16 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
