---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- From: Rutolio Gerakan Mahasiswa tidak Seiring Agenda Rakyat JAKARTA -- Agenda gerakan mahasiswa dinilai mulai tidak lagi seiring dengan agenda yang diinginkan rakyat. ''Bahkan saya bisa katakan, demonstrasinya masih berbudaya tawuran, arogan. Seringkali kita mengklaim ada di belakang rakyat,'' ungkap Sarbini, aktivis FKSMJ (Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Jakarta) dalam dialog antarelemen mahasiswa di Jakarta, Jumat (8/1) kemarin. Elemen mahasiswa yang ikut dalam dialog tersebut adalah Sa'an Mustafa dari HMI, Ahdian (Forkot), Sarbini (FKSMJ), Hadimulya Asmara (BPM UI), Subiantoro (Badan Eksekutif UGM) M Alfian (Hammas), Presiden Mahasiswa ITB Vijaya Fitriansyah, dan KAMMI. Dalam kesempatan itu Sarbini juga mengakui agenda yang sudah tidak seiring itu mulai memunculkan perasaan antipati di kalangan masyarakat. ''Pernah saya datang ke kampung. Orang-orang kampung sudah mulai kurang suka dengan aksi mahasiswa,'' ujarnya dalam acara yang bertajuk 'Refleksi Gerakan Mahasiswa 1998 dalam Proses Demokratisasi di Indonesia' itu. Dengan bahasa yang berbeda, ungkapan Sarbini itu ternyata juga disepakati, Hadimulya Asmara. ''Mahasiswa punya agenda aksi ke mana, dan agenda yang diinginkan masyarakat juga ke mana,'' ujarnya. Sehingga, lanjut Hadi, mulai saat ini memang mahasiswa harus mulai belajar untuk mendekatkan agenda aksinya dengan agenda rakyat. Vijaya Fitriansyah juga mengemukakan hal yang hampir sama. Menurutnya agenda gerakan mahasiswa saat ini lebih senang mengerjakan hal-hal yang tidak berpengaruh terhadap sejarah jangka panjang. ''Isu pengadilan Soeharto lebih diminati ketimbang penyiapan UU Politik dan upaya perwujudan pemilu yang demokratis,'' ujarnya. Padahal UU Politik dan pemilu menurutnya akan sangat menentukan wajah Indonesia di masa mendatang. Sedangkan Subiantoro menilai gerakan mahasiswa saat ini sudah timpang. Yang diperjuangkan oleh mahasiswa, katanya, cuma persoalan-persoalan struktural yang berkait dengan lembaga-lembaga pemerintah. Padahal, menurutnya, dalam kondisi seperti ini, pemberdayaan rakyat secara langsung sangatlah penting untuk dijalankan. Pihaknya menilai saat ini gerakan mahasiswa lebih bersifat reaktif terhadap isu-isu populer. Cara seperti itu, memang menurutnya terlihat cukup heroik. Namun langkah tersebut, dipandangnya kurang memberdayakan masyarakat secara keseluruhan. ''Kenapa gerakan mahasiswa tidak dimulai langkah-langkah yang bersifat kultural,'' ujarnya. Salah satu langkah kultural yang menurutnya saat ini penting dilakukan adalah memindahkan aksi turun ke jalan menjadi aksi terjun ke desa. ''Langkah ini memang tidak heroik, tidak terliput oleh media,'' tegasnya. Namun hal itu dinilainya cukup efektif untuk mulai menguatkan posisi rakyat saat ini. Subiantoro menjelaskan bahwa kondisi rakyat saat ini memang sedang lemah sebagaimana pemerintah. Kenyataan tersebut dinilainya sebagai hal yang wajar dalam era transisi ini. ''Sehingga selain melakukan pendekatan kultural, kita juga masih tetap harus memperkuat legitimasi pemerintah. Caranya, pemilu,'' jelasnya. Seperti halnya Subiantoro, wakil dari HMI, Sa'an Mustafa juga menginginkan kedua pendekatan itu bisa dilakukan. Hanya, kata Sa'an, agenda struktural saat ini sangat penting dilakukan. Pengawalan terhadap penyusunan UU Politik merupakan hal yang penting dilakukan. ''Setelah kondisinya normal, baru kita gunakan pendekatan kultural yang sifatnya jangka panjang,'' tegasnya. Alfian dari Hammas secara tegas meminta agar apa pun gerakan yang dilakukan mahasiswa haruslah tetap konstitusional. ''Soal pendekatan, itu menurut saya perlu multiapproach,'' tukasnya. Usul multiapproach itu juga didukung penuh Ahdian. ''Pokoknya asal untuk rakyat, Forkot sepenuhnya mendukung,'' ujarnya. Tapi, kata Ahdian, Forkot akan tetap konsisten untuk meggulirkan agenda KRI (Komite Rakyat Indonesia) dan Turunkan Harga. ''Namun kalau soal pakai sendal jepit dan turun ke lumpur-lumpur, kita juga siap diuji,'' tegasnya. Menurut Dosen Fisip UI yang concern dengan gerakan mahasiswa, Eep Saefulloh Fatah dialog tersebut merupakan langkah yang positif. ''Tapi jangan dulu diharapkan dialog ini bakal menciptakan fenomena politik yang besar,'' ujarnya. Sebab, dialog tersebut barulah langkah awal yang masih perlu diikuti oleh dialog-dialog panjang yang lebih intensif. Tidak tertutup kemungkinan, lanjut Eep, lewat sarana dialog yang intensif, mahasiswa akan menemukan kesamaan target politik. ''Ini tidak harus dilakukan dengan agenda yang sama. Agenda boleh bebeda. Tapi target politiknya sama,'' tegas Eep. ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 09:56:43 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
