----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

LEBIH LANJUT DENGAN REVOLUSI KULTUR
MENUJU KULTUR KESETARAAN (5)

Oleh : Ki Ageng Mangir

Lebih Lanjut Dengan Kultur Kesetaraan

Dari sejarah kita belajar bahwa secara nyata peradaban
manusia  telah  berubah  dari  waktu  ke  waktu dan  ini
adalah kelebihan manusia dari makhluk lainnya dimuka
bumi ini. Burung  membuat sarangnya  tetap sama dari
ber-abad-abad  yang  lalu,  manusia telah beranjak  dari
gua-gua, rumah diatas pokok  kayu, gubuk, rumah adat
sampai dengan pencakar  langit  pada  saat  ini. Hal ini
se-mata-mata  disebabkan  manusia  mempunyai  'akal
budi'  yang  merupakan  kelebihan  dari  makhluk  hidup
lainnya. Berdasarkan   'akal-budi'   ini   manusia   selalu
'berubah' dari waktu ke-waktu dalam rangka  melakukan
perbaikan  'nilai   hidup'  ataupun  'kwalitas  hidup'.  Dari
kenyataan ini kita bisa belajar bahwa  pada  hakekatnya
manusia   tidak   'anti   perubahan'  atau  'bisa  berubah'
walaupun perubahan ini  bisa  dilakukan  secara  'sadar'
atau  karena  terpaksa   berubah   oleh   karena   suatu
kondisi tertentu.

Sejarah  peradaban  berjalan  sangat  lamban   (evolusi)
sampai  dengan  abad  17,  dimana  revolusi  industri di
Eropa merupakan awal dari akselerasi peradaban  yang
sampai dengan saat  ini  mengalami  suatu  percepatan
perubahan   -  revolusi  -   yang    tidak   pernah   terjadi
sebelumnya dalam sejarah kehidupan manusia.

Secara  umum  peradaban  manusia  telah berkembang
dari masa ke masa :

- peradaban  primitif :  yang  secara natural  pada masa
yang  lalu,  ketika  manusia  masih   hidup    digua-gua,
kehidupan   manusia   primitif   masih  mirip  kehidupan
binatang   dimana   manusia   masih   menggantungkan
kehidupan dengan  'berburu'  binatang,  dimana  'hukum
rimba'  masih  berlaku yaitu yang kuat akan menguasai
yang   lemah.  Jelas  pada    masa    ini   tidak  dikenal
kesetaraan  manusia, manusia  mendominasi  manusia
lainnya  berdasarkan  kekuatan  fisik  dan  seleksi alam
akan berlaku bagi keunggulan yang kuat secara fisik.
- peradaban   feodal :   setelah   peradaban   'perburuan'
berkembang     menjadi     peradaban    'pertanian   dan
perternakan'   kemudian    berkembang    juga    kearah
peradaban  'perdagangan',   peradaban   secara   umum
berubah menjadi peradaban 'feodal'  dimana para kepala
suku (jagoan) dan pengikutnya menjadi  pelindung  para
petani, peternak, dan pedagang dengan  imbalan  'pajak
perlindungan'  -  kultur   feodal   kuno   ini   masih  hidup
sampai   saat  ini  di   Indonesia  dengan   para  preman
(mafia)  yang   memungut  'pajak  perlindungan'  kepada
para   pedagang  kaki  lima,  para sopir angkutan  kota,
maupun    toko-toko   kecil   lainnya, dan  dalam   skala
besar   adalah   sikap   ABRI   sebagai  pelindung   para
konglomerat dan para kapitalis  birokrat - perkembangan
selanjutnya  'para pelindung' ini membentuk klas sendiri
yang  menamakan  dirinya  kaum  'bangsawan / ksatria'
pembela   rakyat   jelata  yang  kenyataan  sebenarnya
adalah  'mendominasi'   kelompok  mayoritas   manusia
lainnya  yang  lemah.  Dan  tumbuhlah  sistem  ke-tata-
negaraan kerajaaan dimana raja adalah hukum  tertinggi
yang  dengan  sendirinya  tidak  ada  kultur  kesetaraan
manusia dalam sistim ini. Kesejahteraan rakyat sangat
tergantung   sekali   'kebaikan    atau    moralitas'   para
penguasa (raja) kalau pas  dapat raja yang  baik rakyat
hidup   senang   kalau   pas    dapat    raja   yang  lalim
sengsaralah     hidup     rakyatnya.      Bahkan     dalam
perkembangan  selanjutnya,   sistim    feodal   kerajaan
kemudian  berubah  sangat  'expansionist' dalam rangka
meluaskan pengaruh, memperkuat posisi 'superior', dan
melanggengkan       kekuasaaan     -     makin     besar
kerajaannya  makin   ditakuti,  sehingga  kerajaan2  lain
yang    lebih    kecil     harus    memberi    upeti  -  telah
menumbuhkan  kultur  penjajahan,  perbudakan, bahkan
juga perdagangan budak.
- peradaban     kesetaraan     manusia :    ide     menuju
kesetaraan  manusia  boleh  dikatakan  'ide pencerahan'
yang   setelah    ber-abad-abad      lamanya     manusia
'terbelenggu'  oleh 'zaman  kegelapan'  dimana  manusia
meng-eskploitasi   manusia   lainnya   dan satu  bangsa
meng-eksploitasi  bangsa  yang  lain. Secara umum 'ide
pencerahan' ini, menurut pendapat penulis, dimulai  dari
dua pengaruh :
1. pengaruh  keberadaan dan munculnya agama2 besar
seperti halnya Kristen dan Islam.
2. pengaruh  zaman  'renaissance  dan  reformasi'  yang
terjadi di Eropa mulai pada abad 14.

Bahwa  munculnya  agama-agama  besar   terjadi  pada
saat  masyarakat  hidup  dalam  penindasan  dari kaum
penguasa yang lalim seperti contohnya :
- Nabi Musa, kebetulan penulis  baru  saja  melihat filem
kartun  'Prince  of  Egypt'  yang  sedang  mulai  beredar,
bermula dari  penindasan  oleh Fir'aun  terhadap bangsa
Israel    yang    dijadikan    budak   bangsa   Mesir   dan
membebaskan   kaumnya  dan  membawa  kembali  ke
tanah harapan mereka Palestina.
- Nabi  Isa  (yang  oleh  umat  Kristen   disebut  Yesus),
adalah  muncul  pada saat Israel dijajah oleh kekaisaran
Romawi bahkan akhirnya disalib oleh mereka.
- Nabi    Muhammad     muncul     pada     saat    terjadi
penyembahan   berhala   dan   berbagai   kelaliman  dan
kebatilan kaum Qureisy disemenanjung Arab.

Ide dasar dari  agama-agama  tersebut adalah 'Keesaan
Tuhan' - seperti  terdapat  dalam sila pertama Pancasila
yaitu  'Ketuhanan Yang Maha Esa' - yang  berarti bahwa
manusia  bukanlah budak atau hamba siapapun dimuka
bumi  ini,   atau  dari  unsur  apapun  yang  ada  dilangit.
Sebab  apa  yang  dilangit  dan  dibumi  adalah makhluk
ciptaan  Allah.  Manusia  setara  dihadapan  Allah tanpa
membedakan   status  sosial,   ras,  golongan,  maupun
warna kulit.

Cuma disayangkan dalam perkembangannya  kemudian
agama dengan  maksud  untuk  melakukan  penyebaran
ataupun dalam  usaha  untuk  mempengaruhi penguasa/
raja untuk punya  'etika  moral  yang  baik', agama  atau
paling   tidak    para     pemukanya    telah    melakukan
'kompromi'   yang   terlalu  jauh  sehingga  dimanfaatkan
oleh  penguasa  sekedar  untuk memperkuat  'legitimasi'
sang raja / penguasa   untuk  mendominasi   rakyatnya,
bahkan  pada  suatu  saat  agama Kristen dimanfaatkan
oleh raja-raja di  Eropa untuk melaksanakan  penjajahan
terhadap  bangsa  Asia  dan Afrika  dan  tidak berusaha
mencegahnya     walaupun     mereka      tahu     bahwa
penjajahan    manusia   terhadap   manusia   yang   lain
bertentangan dengan nilai-nilai agama.

Gerakan  nyata  kearah kultur kesetaraan adalah secara
nyata  justru  dimulai  dengan  awal  abad  ke  14 ketika
Eropa   mengalami   masa  'renaissance  dan  reformasi'
yaitu   timbulnya   kembali   'rationalisme'  yang   dirintis
oleh  para  filsuf  Yunani   kuno   dalam  pengajian ulang
konsep-konsep   berpikir   Yunani  kuno.  Perubahan  ini
dipercepat   dengan   adanya    revolusi    industri   yang
akhirnya  menghasilkan Revolusi Perancis pada abad 17
sebagai    embrio    penegakan   HAM,   ide   demokrasi
dengan   memecah   kekuasaan   negara  menjadi   tiga
kekuasaan yang  setara - trias politika - yaitu  eksekutif,
legislatif,   dan   judikatif    dalam   rangka   rakyat   bisa
menjalankan hak-hak kesetaraan mereka.

Revolusi  Eropa  abad  17  s/d  abad 19,  secara  radikal
telah  merubah  kultur  masyarakat   Eropa  yang  feodal
menjadi  kultur  yang  menghargai  kesetaraan  manusia
walaupun  secara  sistim   terbagi  menjadi   dua  sistim
kenegaraan yaitu sistim  demokrasi dan sistim sosialis/
komunis. Dan  sistim  ini  yang   berkembang lebih jauh
di  Amerika   dan   merebak  ke  seluruh  dunia,  sejalan
dengan  kebangkitan  Asia,  Afrika  dan  Amerika  Latin
dari   penjajahan    untuk   memerdekakan     diri    atau
menyetarakan  diri  dengan  bangsa-bangsa lain didunia
ini.

Perjalanan    kultur     kesetaraan    manusia,  walaupun
sebetulnya   ditunjang   oleh   nilai-nilai  agama  baik  itu
Kriten  maupun  Islam,  dinegara   berkembang  tidaklah
semudah   seperti    dikatakan   karena   kondisi   kultur
lokal  yang  selama ber-abad2  telah menjalankan kultur
lama  yang  mengakar yang  kurang  menunjang  kearah
kultur  kesetaraan. Hal  ini  disebabkan  kultur  feodal  di
negara - negara     berkembang    (termasuk   Indonesia)
diperparah dengan adanya kultur budak akibat terjadinya
abad-abad penjajahan Eropa terhadap bangsa2 Asia dan
Afrika. Bahkan di  Eropa  pun  pada  abad ke 19  pernah
terjadi  sikap  mendua,  disatu  pihak  kedalam   mereka
mencoba   merubah   kultur  masyarakat  menuju  kultur
kesetaraan,  sikap    keluar    masih    mempertahankan
supremasi  mereka  untuk  menjajah  bangsa  Asia  dan
Afrrka -sikap kontradiktif yang se-mata dilihat  dari kaca-
mata  kepentingan  ekonomi  mereka (untuk masa abad
ke  20  dan  21, issue ekonomi menjadi sangat dominan
dalam  rangka  mencapai  kesetaraan   manusia   bukan
hanya  secara fisik dan politis tapi dari segi kesempatan
memperoleh kesejahteraan yang lebih  adil - oleh karena
itu  konsep  kapitalisme  -  pasar  bebas  -  secara terus
menerus       dipertanyakan        kehandalannya    untuk
membangun  masyarakat  dunia  yang   setara  diantara
masyarakat antar bangsa dan  maupun  antar  manusia,
walaupun  pada saat  ini   belum  diperoleh  suatu sistim
alternatif yang lebih baik) .

Ada beberapa  hal kenapa sudah sepatutnya bahwa kita
memperjuangkan  suatu  transformasi  kultural   menuju
kultur kesetaraan :

1. Nilai-nilai   keagamaan  telah menempatkan  manusia
setara  dihadapan  Allah. Manusia bukanlah  budak atau
apapun  juga yang ada dibumi, atau  budak apapun yang
ada   dilangit,  sebab  manusia  adalah  makhluk ciptaan
Allah.
2. Hak  manusia   yang  azasi adalah  kesetaraan  yang
ter-refleksi   dengan   adanya  deklarasi   'Human   Right'
yang  dicetuskan  lima  puluh  tahun yang lalu oleh PBB
seperti  yang   tercantum   dalam    'Preamble'   maupun
'Article 1' :
- Whereas   recognition  of  inherent  dignity  and  the  of
equal  and  inalienable  rights  of  all  members of human
family is  the foundation of  freedom,  justice, and  peace
of the world.
- All  human  beings  are  born  free and  equal in dignity
and   rights. They   are    endowed   with    reason    and
conscience  and should  act  towards another in a  spirit
of brotherhood.
3. Manifestasi  nyata  dari  makna kemerdekaan. Bahwa
bangsa  Indonesia memerdekakan  dirinya pada tanggal
17  Agustus  1945,   berarti   memproklamirkan   dirinya
sebagai   bangsa   yang   setara   dengan   bangsa   lain
didunia  yang  berarti  juga  bahwa  negara menghormati
hak    kesetaraan     dari      rakyatnya    dalam   rangka
menghayati  alam kemerdekaan.

Penulis juga pecaya bahwa hanya dengan adanya kultur
kesetaraan dalam masyarakat Indonesia kita akan  lebih
cepat  mencapai  masyarakat adil makmur dikarenakan,
dengan adanya kultur kesetaraan :

a. Kita akan bisa secara optimal memanfaatkan sumber
daya   manusia   yang   dalam   hal    jumlah  sangatlah
potential  yang  secara   setara  bisa  ikut  berpartispasi
untuk     mencapai     tujuan     bangsa :  setara    dalam
kesempatan   memperoleh  pendidikan  yang  memadai,
setara  dalam  memperoleh  pendapatan sesuai  dengan
kemampuan   masing2, dan setara dalam berpartisipasi
dalam   menentukan   masa  depan bangsa  dalam  tata
sistim   demokrasi  yang   membagi  kekuasan menjadi
tiga   kekuasaan  yang   setara   satu  sama yang  lain -
konsep  trias   politika   -   yaitu    kekuasan    legislatif,
eksekutif dan judikatif yang  mempunyai kekuatan yang
setara  untuk  menjalankan  fungsi saling mengingatkan
(check and balance).
b. Kita  akan  bisa  memanfaatkan  sumber  daya  alam
yang berlimpah dengan secara optimal, dengan  adanya
sumber  daya  manusia yang setara, untuk kepentingan
pembangunan  Indonesia. Konsep  'trias   politika'   juga
akan   mengikutsertakan   rakyat   dalam  kebijaksanan
negara dalam memanfaatkan sumber daya alam secara
optimal untuk kesejahteraan rakyat besama.
c. Penghargaan   terhadap   kesetaraan   manusia  juga
berarti  suatu  penghargaan tergadap HAM maupun nilai
nilai  'humanisme  universal',  yang  akan menempatkan
Indonesia  dalam  deretan  bangsa - bangsa  yang  lebih
terhormat dalam masyarakat antar bangsa.
d. Secara   nyata   suatu   realisasi   dari  filsafat  dasar
Pancasila  secara  keseluruhan  dan  penghargaan nilai
keagamaan  yang pada hakekatnya sangat menghargai
kesetaraan manusia.

Revolusi Kultur suatu ide percepatan menuju Kultur
Kesetaraan.

(Bersambung)

January 1999.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 09:57:19 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke