----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

From: yusuf

SURAT TERBUKA BUAT KETUA DPRD ACEH - HT DJOHAN

Assalamualaikum W.W.,

Setelah membaca komentar Pak Djohan kepada pers yang dimuat WASPADA, Sabtu,
9 Januari 1999, seusai 39 "tokoh Aceh" berdialog dengan Presiden BJ Habibie
mengenai keadaan di Aceh sekarang, maka telah memaksa saya untuk
menjelaskan beberapa hal yang pasti telah membingungkan para pembaca
Waspada.

Pak Djohan, antara lain, mengatakan "empat juta rakyat Aceh setia 100
persen dan tidak ingin berpisah dari republik Indonesia...Dan keinginan GPL
tersebut tidak mencerminkan aspirasi empat juta rakyat Aceh". Pernyataan
Pak Djohan ini ternyata bukan saja tidak benar dan bersifat apologetic
terhadap tuan nya di Jakarta, tetapi juga sangat bertolak belakang dengan
fakta2 yang telah dan sedang terjadi di Aceh sekarang. Pertama, ketika
pembataian keatas bangsa Aceh sedang berlangsung di awal2 tahun 1990,
kantor berita Reuters langsung turun ke lapangan dan berhasil membuat satu
pooling dimana delapan dari sepuluh (80 persen) rakyat Aceh meyokong
Gerakan Aceh Merdeka. Dan kenyataan yang dibuat Reuters ini mendapat
konfirmasi daripada  badan2 hak manusia seperti Amnesty International dan
Asia Watch. Kedua, semua pemimpin2 sipil dan militer Indonesia yang pernah
ditugaskan di Aceh untuk memberantas Aceh merdeka - mulai dari Ibrahim
Hasan sapai kepada Djoko Pramono dan Syarwan Hamid - mengaku bahwa Aceh
Merdeka tidak dapat dihancurkan kalau rakyat Aceh tidak berhasil dipisahkan
daripada mereka. Disini perlu saya kutip kata2 Pramono sendiri dalam
wawancaranya dengan majalah Editor: "Kami jalankan operasi militer karena
mereka itu mempunyai konsep, mempunyai senjata, menguasai wilayah dan
mereka punya masa." Maksud Pramono jelas bahwa Aceh Merdeka mendapat
sokongan yang luas dari rakyat, dan oleh sebab itu, rakyat harus dipisahkan
dari Aceh Merdeka dengan satu operasi militer yang pada waktu itu dikenal
dengan nama 'Operasi Pagar Betis'. Perlu kiranya saya tunjukkan satu fakta
bahwa usaha2 militer Indonesia untuk memisahkan rakyat dengan Aceh Merdeka
tidak pernah berhasil walaupun ribuan bangsa Aceh yang tidak berdosa telah
dibunuh dengan kejam untuk tujuan tersebut. Dan inilah yang menjadi salah
satu bukti bahwa Aceh merdeka betul2 mencerminkan aspirasi enam (empat -
menurut statistic Pak Djohan?) juta rakyat Aceh - bukan seperti yang
dikatakan Pak Djohan. Tiga puluh sembilan tokoh (penokoh?) Aceh - termasuk
Pak Djohan sendiri - menamakan diri mereka sebagai wakil rakyat Aceh. Pada
hakikatnya, mereka itu jelas wakil2 dari Republik Indonesia yang ditugaskan
di Aceh, sedangkan wakil2 rakyat Aceh tulen itu ada di kampung2 di seluruh
Aceh, yang kebanyakan mereka lebih mengenal dengan nama2 seperti Tengku
Hasan Tiro (Wali Nanggrok), Tengku Daud Husin (Abu Panglima) dan lain2 lagi
ketimbang wakil2 Republik di Banda Aceh yang nama2 mereka pun sungguh asing
bagi rakyat Aceh, seperti Yarmen Dinamika, Edy Sudianto, Johny Wahab dls.

Selandjutnya Pak Djohan juga mengatakan kepada pers bahwa "hanya sejumlah
20 Gerombolan Pengacau Liar (GPL) yang menginginkan negara Aceh Merdeka."
Ucapan2 seperti ini untuk mengecilkan Aceh Merdeka adalah satu gema yang
memang sudah sering kali kita dengar dari pihak2 penguasa sebelum Pak
Djohan, tetapi semua orang tahu itu hanya nonsense belaka. Prof.Majid
Ibrahim, Ibrahim Hasan, Rivai harahap, Djoko Pramono, Sudianto, Syarwan
Hamid dll lagi yang tangan2 mereka penuh berlumur dengan darah bangsa Aceh
yang tidak bersalah juga telah mendengungkan nada2 yang serupa, seperti:
"Aceh Merdeka hanya berjumlah 20-30 orang", " peyokong AM hanya segelintir
saja; dls. Tetapi kenyataannya, Acheh Merdeka yang sudah berusia 22 tahun
itu masih tetap segar bugar sampai sekarang. Sebab, pemimpin Aceh Merdeka
Tengku Hasan di Tiro bukan seorang militarist; beliau tidak pernah mengajar
orang Aceh untuk bertempur dengan senjata, tetapi ia telah mengajar bangsa
Aceh tentang sejarah Aceh, tentang berpikir merdeka dan hak bansa Aceh
untuk merdeka. Nah, inilah sebabnya maka kopassus, bribmob, marinir dan
lain2 lagi hanya sanggup membunuh rakyat Aceh tetapi mereka tidak pernah
melemahkan ideologi Aceh Merdeka yang telah merasuk dalam dada setiap
generasi baru Aceh. Di awal2 tahun 1990, militer Indonesia sibuk memburu
"pemimpin2" Aceh Merdeka seperti seorang "Robert" atau "Arjuna" yang telah
mengakibatkan ribuan nyawa rakyat kampung terapung di sungai2 atau
tercampak di pinggir2 jalan; dalam dua tiga hari ini, militer Indonesia di
Aceh - termasuk Pak Djohan - sedang kehabisan akal dengan pemimpin Aceh
Merdeka nya yang baru, yaitu seorang "Ahmad Kandang". Percayakah Pak
Djohan, kalau militer Indonesia telah berhasil menangkap "gembong GPL Ahmad
Kandang", Aceh Merdeka sudah habis? Kenapa Pak Djohan atau Pak Syam takut
sekali berterus terang kepada Presiden Habibie tentang keadaan sebenar di
Atjeh, tentang Aceh Merdeka dan pemimpin2 sebenar dibelakang gerakan ini?
Pak Djohan tahu, dokter manapun bisa pusing kalau patient itu tidak
berterus terang tentang penyakit yang didertitanya.

Achir kalam, kalau Pak Djohan masih ragu atas keterangan2 yang saya berikan
diatas tadi, dan ingin membuktikan berapa banyak penyokong Aceh Merdeka,
maka mari kita adakan satu referendum yang diawasi oleh PBB atau pengamat
dari negara2 EU. Sebab, referendum yang bebas, murni dan tidak ada tekanan
dari pihak2 manapun adalah satu2nya jalur yang paling tepat untuk memenuhi
aspirasi dan keinginan bangsa Aceh untuk hidup merdeka. Biarkan bangsa Aceh
sendiri yang menentukan nasib diri mereka, apakah mereka mau berkiblat ke
Serambi Indonesia atau ke Serambi Mekkah!

Salam Merdeka

Yusda

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 11 Jan 1999 jam 10:34:15 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke