----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Kemungkinan lain tersebut adalah bahwa sebenarnya yang mengeluarkan
pernyataan  kemungkinan besar terjadi kerusuhan besar di tahun 1999
apabila Soeharto tidak dilibatkan, bukan lain datang dari Soeharto
sendiri. Ya, sebenarnya Soeharto sendiri yang telah mengeluarkan
pernyataan tadi. Atau lebih tepat dikatakan sebagai ancaman
terselubung/tak langsung dari Soeharto yang disampaikan kepada Gus Dur.

Mungkin dalam pertemuan tersebut Soeharto berkata kepada Gus Dur seperti
ini: "Apabila mereka di luar sana terus-menerus menghujat dan memojokkan
saya dan keluarga. Jangan salahkan saya jika terjadi apa-apa pada tahun
1999."  Pada kesempatan itu pula mungkin Soeharto juga memberi gambaran
kepada Gus Dur bagaimana masih kuatnya kekuatan yang berada di kubu dia.
Bagaimana dan seberapa jauh kekuatan tersebut? Kita tidak tahu. Tetapi
jelas gambaran tadi lebih dari cukup untuk meyakinkan Gus Dur bahwa
apabila mau, kubu Soeharto bisa membuat bangsa ini menjadi Beirut kedua.
Oleh karena itulah secara tersirat Gus Dus memberi peringatan kepada
publik, agar sebaiknya Soeharto dilibatkan dalam sebuah dialog nasional.

Pihak Soeharto mungkin berprinsip, kalau mereka terus-menerus dihujat
dan dipojokkan, kemudian tak diberi kesempatan apa-apa lagi di negara
ini. Mereka akan merusak apa yang bisa mereka rusak. "Kalau kami tak
bisa memperoleh apa-apa lagi. Kami hendak dihancurkan.  Biar kita
sama-sama hancur!" kira-kira mungkin prinsip seperti ini yang akan
mereka pakai untuk menghancurkan negara ini dengan kekuatan yang mereka
punya.

Terakhir, kita melihat kerusuhan meledak lagi di Karawang. Kerusuhan di
Karawang itu berawal dari isu yang dihembuskan bahwa ada polisi yang
menendang tukang ojek. Isunya mulai beredar  hari Kamis, tanggal 7
Januari, malam hari, sekitar pukul 21.00 WIB. Kerusuhan benar-benar
membesar pada keesokan harinya, Jumat pagi,  8 Januari 1999, yang
membuat kota Karawang lumpuh total, mencekam seperti kota mati. Apakah
ini juga hasil kerja orang-orang Soeharto? Atau atas perintah Soeharto
sendiri?

Bisa jadi demikian. Apalagi jika kita coba kaitkan dengan peristiwa
sebelumnya yang intinya memojokkan Soeharto. Yakni pertemuan antara Gus
Dur dengan Amien Rais di Hotel Indonesia, hari Kamis siang, tanggal 7
Januari. Isi kesepakatan, yang sebelumnya dibicarakan dalam ruangan
tertutup Presiden Suite Hotel Indonesia itu antara lain meminta agar
Soeharto mau menandatangani surat pernyataan bahwa tidak akan lagi
kerusuhan di Indonesia. Permintaan kepada Soeharto ini, jelas akan
dirasakan kubu Soeharto sebagai suatu penghinaan. Setelah sebelumnya
rencana dialog nasional yang melibatkan dirinya gagal.  Apalagi untuk
kesekian kali, lagi-lagi,  Amien Rais meledek Soeharto, dengan
mengatakan ketika Soeharto tanda tangan surat pernyataan itu, dia harus
hadir sebagai salah satu saksi yang ikut menandatangani surat tersebut.
"Kalau tidak ada tanda tangan Amien Rais (sebagai saksi), surat
pernyataan tak akan ada lagi kerusuhan dari Soeharto itu, tidak laku."
Demikian Amien Rais.

(Memaksa) Soeharto untuk mau menandatangani surat pernyataan dengan isi
seperti itu jelas merupakan suatu tamparan hebat buat Soeharto.
Orang-orangnya pun melihat seperti itu. Maka dalam tempo beberapa jam
saja setelah Gus Dur/Amien Rais mengumumkan hal itu (disampaikan Kamis
siang. Isu yang memicu kerusuhan mulai beredar malam harinya/sekitar
pukul 21.00 WIB), kerusuhan pun mulai merebak di Karawang, sampai
memuncak pada keesokan harinya (jumat pagi). Kerusuhan Karawang itu,
mungkin hanya merupakan "proyek percontohan." Suatu peringatan keras
bagi kita dari kubu Soeharto. Khususnya Gus Dur dan Amien Rais yang
telah dengan "lancang" menghina Soeharto, dengan memintanya membuat
pernyataan bahwa di Indonesia tidak akan ada lagi kerusuhan.

Mengapa Gus Dur harus menyampaikannya secara tersirat? Jawabnya adalah
dalam pertemuan empat mata antara Gus Dur dengan Soeharto itu, walaupun
Soeharto membeberkan kekuatan dan ancamannya tersebut, mereka sepakat
untuk merahasiakan detailnya. Oleh karena itu Gus Dur yang hendak
menyampaikan adanya ancaman besar tersebut hanya menyampaikannya secara
tersirat dengan harapan kita sendiri dapat jeli menganalisa makna
sesungguhnya dari pernyataannya itu.

Hal ini sesungguhnya berkali-kali sudah dikatakan oleh Gus Dur lewat
beberapa wawancara wartawan dengannya. Pada intinya dia berkata, bahwa
maksud pertemuannya dengan Soeharto itu adalah demi kepentingan bangsa
ini agar jangan terpecah-belah dan mengalami perang saudara. Serta
mengharapkan semua orang, termasuk pakar yang mengkritiknya secara
sinis, bisa jeli, menyadari makna sesungguhnya dari maksud dia bertemu
Soeharto itu. Jangan hanya melihat dari segi luar, atau kulitnya saja:
melihat sebatas Gus Dur mau-maunya bertemu dengan Soeharto. Tanpa
menggali lebih dalam apa sebenarnya substansi dari maksud Gus Dur
menemui "pentolan kriminal" itu.

Di antara pakar yang banyak mengkritiknya,  Nurcholish Madjid (Cak Nur),
akhirnya bisa "memaklumi" usulan dialog nasional dengan melibatkan
Soeharto itu (yang ternyata batal itu). Cak Nur  semula mengkritik bahwa
manuver politik Gus Dur yang bertemu dengan Soeharto hanya menguntungkan
kelompoknya (NU). Setelah bertemu dan berbicara secara lebih mendalam
dengan Gus Dur, akhirnya dia bisa memaklumi maksud dari Gus Dur
tersebut. Cak Nur mengatakan bahwa ajakan dialog nasional yang
melibatkan Soeharto bisa diterima (sebagai salah satu solusi masalah
bangsa dan negara ini) (Media Indonesia, 4 Januari 1999).

Banyak orang yang mengecam keras manuver Gus Dur ini. Mereka di
antaranya menuduh Gus Dur sebagai orang yang plin-plan:  dulu dekat
dengan Megawati, tetapi ketika Megawati didepak lewat kongres rekayasa
PDI di Medan, dia berpindah mendekati Mbak Tutut; setelah Mbak Tutut
tumbang, Gus Dur balik mendekati Megawati lagi. Dan sekarang mendekat
pada Soeharto lagi. Bukan cuma itu malah mau diajak ikut dalam dialog
nasional, sementara rakyat menghendaki dia (Soeharto) diadili. Tudingan
lain adalah bahwa manuver Gus Dur menemui Soeharto adalah untuk
kepentingan politik golongannya sendiri. Atau singkatnya menguntungkan
Gus Dur dan NU. Padahal mereka (para penuding) sendiri mengatakan bahwa
Soeharto sekarang ini dalam posisi terperiksa, dan tidak masuk akal
kalau Soeharto itu masih mempunyai kekuatan (pendukung). "Sebab kalau
Soeharto masih mempunyai pendukung, tidak masuk akal kalau dia lengser
keprabon," begitu antara lain isi sebuah surat pembaca di majalah D&R,
4-9 Januari 1999.

Kedua pernyataan terakhir ini bertentangan. Para penuding itu mengatakan
manuver Gus Dur menemui Soeharto demi kepentingan politik yang
menguntungkan golongannya, tetapi pada kesempatan yang sama mereka
mengatakan Soeharto sudah habis, tidak mempunyai pendukung lagi. Kalau
memang Soeharto sudah tidak mempunyai pendukung lagi, lalu apa untungnya
Gus Dur bertemu Soeharto? Untuk apa orang yang sudah lemah, yang sudah
"habis" seperti itu perlu ditemui lagi? Sebaliknya, malah -- seperti
yang diucapkannya sendiri -- merugikan Gus Dur/NU. Bagaimana tidak
merugikan, kalau di saat semua suara menghujat "dalang kriminal negara"
itu, eh, Gus Dur malah menemuinya?

Maka, pasti "ada apa-apa" di balik maksud pertemuan dan usul dialog
nasional tersebut.

Tentang tudingan Gus Dur yang sempat dekat dengan Mbak Tutut, sebenarnya
pernah dianalisis bahwa manuver tersebut  ada kaitannya dengan serangan
yang bertubi-tubi, dan terus-menerus, yang diarahkan ke kubu NU,
termasuk kepada Gus Dur oleh Soeharto, karena menganggap Gus Dur/NU
menentang dan berbahaya baginya. Seperti rekayasa untuk menggoyangkan
Gus Dur sebagai ketua umum PBNU di Cipayung pada 1994, dan maraknya
kerusuhan berbau SARA di masa pemerintahan Soeharto (antara lain yang
termasuk terbesar adalah kasus Situbundo) yang mengarah kepada pemojokan
warga NU sebagai pelakunya.

Untuk meredam serangan-serangan itu, Gus Dur lalu mengadakan manuver
dengan mendekati putri sulung Soeharto, yakni Mbak Tutut. Terbukti,
ketika Gus Dur mendekati Mbak Tutut (dan Hartono -- namanya akhir-akhir
ini disebut-sebut juga sebagai salah satu arsitek beberapa kejadian
rekayasa), serangan-serangan dengan berbagai wujud kepada Gus Dur dan NU
itu berhenti dengan sendirinya. Kemudian setelah keadaan berubah,
terjadi lagi kasus yang menurut kubu NU, menjadikan warga NU sebagai
korbannya lagi (kasus Banyuwangi).

Dalam sebuah tulisan di Media Indonesia (31/12-1998) Gus Dur menulis:
"Penulis tidak dapat mengemukakan gagasan pertemuan dua tahap itu secara
terbuka. Tidak heranlah, jika keadaan menjadi tergantung pada kejelian
para pengamat. Bagi mereka yang jeli tentu mengetahui maksud penulis,
atau setidak-tidaknya dapat menerima gagasan itu dengan "modal
integritasnya." Mereka yang tidak jeli, segera menuduh penulis
mengandung maksud-maksud tertentu yang umumnya berupa anggapan penulis
hanya menguntungkan golongan sendiri (NU)."

Selanjutnya Gus Dur juga menulis: "Timbul pertanyaan dalam hati penulis:
sudah benarkah tindakan mereka itu? Inilah yang sebenarnya merupakan
inti persoalannnya. Bukankah seseorang dapat menudingkan jari pada orang
lain sebagai menguntungkan pihak sendiri, sedangkan ia sendiri yang
memiliki keinginan seperti itu. Atau setidak-tisdaknya, memelihara
kedudukan (standing)-nya di lingkungan gerakan tersebut. Apalagi jika
menggunakan kata-kata yang tidak pantas seperti killing ground,
destroyer, bahkan yang paling menyeramkan sebagai "pelenyap"
(un-nihilator).?"

Dalam kutipan kalimat yang terakhir ini kita bisa melihat nestapa pada
diri Gus Dur yang merasa prihatin terhadap banyak orang yang mengecam
langkah politiknya yang melakukan pertemuan dengan Soeharto. Terutama
dari mereka yang menudingnya sebagai melakukan langkah untuk kepentingan
golongannya (NU), sementara dia sendiri tahu bahwa golongan orang-orang
tersebut justru sering melakukan gerakan politik yang semata-mata untuk
menguntungkan diri mereka sendiri, yang acapkali agama pun tak
segan-segan dipakai untuk tujuan tersebut. Dalam tulisan tersebut
seolah-olah Gus Dur hendak berkata: "Ingat. Sementara jari telunjukmu
menunjuk orang lain, tiga jarimu yang lain menunjuk dirimu sendiri!

Salah satu orang yang menuduh Gus Dur dengan "kata-kata tak pantas" itu
adalah Dawam Rahardjo, Ketua PAN, yang dalam wawancara dengan tabloid
DeTAK mengatakan Gus Dur sebagai "Predator," atau "Kapal  Perusak."
(DeTAK, 22-28 Desember 1998)

Entah sebenarnya apa yang sesungguhnya yang terkandung di balik komentar
Dawam Rahardjo kepada Gus Dur dalam wawancara tersebut. Yang jelas kita
malah melihat bahwa sesungguhnya dalam wawancara tersebut terasa rasa
curiga yang berlebihan berbau fitnah, picik, dan tak lupa membawa-bawa
(lagi) Islam sebagai pembenaran maksud-maksud politiknya. Antara lain
Dawam berkata: "Gus Dur  diperalat untuk menghantam ICMI dan Habibie.
Gus Dur itu predator. Sehingga kalau ada orang yang dekat dengan Gus
Dur, berarti dia itu anti-Islam. Kelompok-kelompok sekuler atau
kelompok-kelompok agama lain yang dekat dengan Gus Dur dan memuji-muji
Gus Dur. Sebenarnya mereka itu sangat benci dan sangat curiga terhadap
Islam."

Bersambung

Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 12 Jan 1999 jam 10:03:18 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke