---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- From: Grifa Libran ACEH MERDEKA, MERDEKAKAN ACEH Meski bukan lahir dan berdarah etnik Aceh, namun saya belasan tahun hidup dan tumbuh berkembang dari dan oleh saripati bumi Aceh. Oleh karenanya kalau menyangkut perut dan tuntutan perut, yang namanya masakan Aceh-lah yang cocok dan menjadi keinginan lidah, adapun yang menjadi pilihan kedua itu mungkin masakan Padang, hanya karena beberapa butir "darah" di tubuh saya asal muasalnya dari ranah Minang barangkali! Selama belasan tahun di Aceh, berjalan dari timur ke barat, utara hingga selatan, apa yang kini bisa saya simpulkan tentang kenyataan yang bisa dirasakan soal Gerakan Aceh Merdeka ialah, secara ril gerakan ini bisa dikatakan tidak murni benar ada. Kecuali yang benar-benar terjadi ialah Aceh terus-menerus berkepanjangan ada dalam derita yang diciptakan dengan sengaja oleh pemerintahan yang dipimpin oleh rejim yang kufur bersama opasnya si abri terkutuk! Ini toh diakui oleh puluhan pakar sejarah sosiologi, kendati resume tulisan mereka tidak ada faedahnya untuk memperbaiki kondisi pemiskinan rakyat Aceh. Menyebut diri sebagi Gerakan Aceh Merdeka adalah upaya kompensasi sebagian rakyat Aceh sebab sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan "penyiksaan" sistematis komplit dari segi ipoleksosbud (terutama "penyiksaan" secara ekonomi) oleh baik rejim terkutuk soeharto tempo doeloe dan rejim penerusnya dengan pasukan iblisnya abri hingga sekarang. Sangat logis bahwa masyarakat yang tertindas puluhan tahun sekali waktu akan mencoba untuk lepas dari ketertindasan itu, 'kan lebih baik mati dalam berjuang dari pada mati dalam tipudaya rejim yang kufur! (Dalam ajaran agama toh juga dianjurkan untuk bangkit menentang pemerintahan yang kufur). Jadi, seperti yang terlihat pada realita sehari-hari, siapa saja yang menyebut dirinya pengikut GAM, pada hakekatnya itu cuma refleksi insan yang depressi dan nervous yang dalam dari keadaan yang terus menerus jadi sapi perah dan keledai tunggangan pemerintahan yang kufur! (Terlalu banyak tulisan kalau harus mengungkap betapa banyak "darah kehidupan" dari Aceh yang menjadi sedotan rejim pemerintah dulu dan sekarang, sementara rakyat terus dengan keterpurukan-penderitaannya..!). Bagaimana mungkin beberapa orang bergerombol dengan senjata minim berusaha membentuk suatu negara? Bukan saja karena gerombolan ini rapuh seperti kerupuk (seperti apakah mereka berlatih baris-berbaris militer, yang bukan lawan tanding si abri terkutuk?), tapi juga tak pernah jelas terlihat bagaimana persisnya organisasi mereka untuk bisa disebut gerakan yang menuntut kemerdekaan! Coba bandingkan dengan MNLF-nya Nur Misuari dari Philippina atau puluhan lainnya dari berbagai negara yang terorganisasi rapi dan punya kekuatan gempur baik di tingkat lokal maupun international. Tapi GAM? Ah, yang benar aja! Kita semua percaya andai benar warga Aceh serius mau merdeka, tentu sejak lama sudah berdiri organisasi yang relevan dan berbobot dengan manajemen administrasinya yang baik untuk berjuang di tingkat lokal dan international (setidaknya seperti Xanana Gusmao dan lainnya untuk Timtim). Aceh cukup punya alasan untuk memisahkan diri. Peduli amat dengan Bhineka Tunggal Ika, Persatuan dan Kesatuan? Persetan itu semua! Bagaimana mungkin bicara dan berupaya menegakkan persatuan/kesatuan kalau sendi-sendi pondasi yang diperlukan untuk itu "dikunyah" oleh rejim pemerintahan yang terkutuk??? Go to hell UUD-45! Go to hell Pancasila!! Itu semua hanya teori, ternyata tak juga pun ada rejim yang bercermin pada UUD/Pancasila yang tak lain cuma sebatas mimpi itu!! Jadi menyebut dan mempercayai adanya GAM di Aceh adalah sikap berpikir yang tak lain membodohi diri sendiri, sama bodohnya dengan si rejim pemerintah dan si abri terkutuk itu! Dengan rasa takut kepada setan dibanding Tuhan, rejim soeharto dan penerusnya menghadapi berberapa orang gerombolan penyamun (memang sebenarnya kurang lebih mereka cuma seperti itu) dengan pengerahan kekuatan militer lengkap dengan mempraktekkan teori-teori pembunuhan yang secra tekun dipelajari dari guru besar iblis dajjal! Jadilah kampungku tempat ladang pembantaian dari abri yang psikopat. Dasar abri psikopat ! Mestinya kemapuan mereka bukan di Aceh tempatnya, kalau punya nyali pergilah ke Bosnia, Chechnya, atau ke Albania sana membela rakyat yang tertindas dan berhadapan dengan tentara yang sebenarnya tentara. Tapi yah ini juga percuma, di sana juga tentara tak kurang psikopatnya, mereka toh setali tiga uang! Bisa-bisa mereka joint untuk selanjutnya menebas umat manusia lagi (ini toh terjadi kok, sebagian abri yang level ke-psikopatannya- bernilai raport bagus dikirim ke Bosnia, makanya pembantaian juga masih terus berlangsung waktu itu......). Bagaimanapun abri gila mesti hengkang dari bumi Aceh (jangan pernah lupa hai engkau abri yang terkutuk, kerjamu cuma menyandang senapan dan menyebar malapetaka, sementara nafas hidupmu kau hirup dari rakyat yang kau siksa....!) Tentara tidak dibutuhkan di Aceh, sebab segerombolan penyamun toh akan hilang dengan sendirinya bilamana mereka menemukan tanah tempat kelahirannya aman sejahtera untuk pada mana mereka bisa tampil menyusun kehidupannya tanpa adanya diskriminasi dari segala segi, tanpa adanya pemerintahan yang kufur! Untuk Bapak Hasan Basri, beritahu dong saya kalau bapak sudang mengantongi passport Republic of Aceh, saya pun mau lho.... Sinbad The Sailor ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Jan 1999 jam 11:03:05 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
