----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Tiba-tiba saja isu tentang akan dimajukan perayaan Imlek dari tanggal 16
Februari menjadi 16 atau 17 Januari menjadi ramai dibicarakan. Khususnya
di kalangan Cina-Indonesia. Orang pun bertanya-tanya kenapa harus
dimajukan? Tak kalah penting,  pertanyaan: dari mana isu itu muncul dan
untuk apa?

Hari Rabu, 13 Januari, Dewan Rohaniawan Matakin (Majelis Tinggi Agama
Konghucu Indonesia), The Tjay Ing, menyerukan agar umat Konghucu tetap
merayakan hari raya Imlek sesuai dengan harinya, yakni tanggal 16
Februari 1999. Dalam kesempatan itu Tjay Ing juga mengatakan agar
perayaan Imlek dilakukan secara sederhana. Hakikat dari Imlek, bukan
untuk berhura-hura atau berpesta pora, melainkan merenung,
berkontemplasi, bersujud-syukur kehadirat Tuhan, sungkem pada orangtua,
melakukan introspeksi, serta mempererat tali persaudaraan sesama
manusia.

Lalu apa sebenarnya yang melatarbelakangi isu memajukan perayaan Imlek
itu? Ada yang mengatakan alasan dimajukan tanggal perayaan itu adalah
karena takut akan ada kerusuhan kalau dilaksanakan setelah Lebaran Idul
Fitri. Lalu, kalau dilaksanakan pada masa sebelum Lebaran, apakah akan
terbebas dari kerusuhan yang ditakutkan itu?

Kesimpulan di atas mungkin berdasarkan asumsi bahwa kalau Imlek
dilaksanakan dalam masa Puasa, kemungkinan kerusuhan lebih kecil
daripada setelah Puasa. Kenapa? Ini tidak lepas dari pandangan stereotip
terhadap umat Islam sebagai pelaku kerusuhan-kerusuhan anti-Cina yang
selama ini terjadi. Maka kalau Imlek dilaksanakan dalam masa Puasa
diharapkan umat Islam yang sedang menahan diri dari segala macam nafsu
dan emosi, tidak akan melakukan hal-hal yang destruktif. Terutama
terhadap etnis Cina-Indonesia.

Apakah benar demikian? Benar kalau selama bulan Ramadhan ini Indonesia
terbebas dari kekerasan? Ternyata tidak juga. Contohnya adalah kerusuhan
yang juga menghancurkan sentra-sentra bisnis etnis Cina di Karawang.
Atau kerusuhan yang sempat terjadi di Gorontalo, karena isu pelecehan
agama (Islam), hanya karena ada pemilik toko yang membungkus barang
dengan kertas bekas berhuruf Arab. Walaupun kita tidak mengatakan yang
melakukan adalah orang Islam secara umum.

Yang agak mengherankan adalah pernyataan Gus Dur yang mengatakan bahwa
bisik-bisik memajukan perayaan Imlek adalah supaya hari dan tanggal
perayaannya sama dengan hari  dan tanggal perayaan Imlek di RRT (16
Januari). Gus Dur berkata,  "Kita kan mengikuti asas kebangsaan kita
sendiri, tidak mengikuti asas kebangsaan orang lain. Kita kan juga
menghormati hari raya orang lain, dalam hal ini Islam."

Padahal sejak dulu tidak pernah ada perbedaan waktu perayaan Imlek
antara orang-orang Cina di Indonesia,  RRT,  Hongkong, Taiwan,
Singapore, maupun di negara manapun Imlek  dirayakan. Selalu hari dan
tanggalnya sama. Jadi sangat tidak relevan kalau Gus Dur mengatakan
dimajukannya tanggal perayaan Imlek itu, untuk menyamakannya dengan hari
perayaan yang sama di RRT (16 Januari). Untuk apa disamakan, sudah
memang sama kok. Untuk tahun 1999 ini, orang-orang Cina di seluruh dunia
memang merayakannya pada tanggal 16 Februari nanti (Tahun Kelinci).
Duta besar RRT untuk Indonesia, pun mengatakan bahwa perayaan Imlek di
RRT memang tanggal 16 Februari, bukan tanggal 16 Januari. RRT juga tidak
mempunyai rencana memajukannya. Hal ini menunjukkan kekurangpengetahuan
Gus Dur tentang hari Imlek, atau informasi yang didapatnya kurang
akurat.

Lalu apa sebenarnya maksud ditiupnya isu dimajukan perayaan Imlek
tersebut di Indonesia?

Gus Dur mengatakan, dimajukan perayaan Imlek itu menjadi berdekatan
dengan hari Idul Fitri umat Islam, berarti, menurut perkiraannya, semua
orang Cina akan membeli barang-barang menjelang Lebaran dan
mengakibatkan harga-harga naik secara tajam.

Mungkin fenomena seperti ini yang sebenarnya dimaksud oleh peniup isu
tersebut. Yakni agar ada lagi alasan untuk menyalahkan kambing hitam
favorit mereka. Saya mungkin terlalu menaruh curiga, tetapi bukan
berarti ini tidak mungkin. Kalau tidak, untuk apa isu tersebut ditiup ke
masyarakat umum?

Skenario pertamanya adalah meniup isu bahwa orang-orang Cina di
Indonesia merayakan Imlek pada tanggal 16, atau 17 Januari. Tanggal ini
dipilih, karena dekat (menjelang) Lebaran. Pada hari-hari menjelang
Lebaran seperti ini, seperti yang sudah-sudah, memang harga
barang-barang, terutama kebutuhan pokok, akan bergerak naik. Gejala ini
sudah mulai terasa sekarang. Merupakan sesuatu yang wajar.

Keadaan seperti ini yang akan dimanfaatkan. Yang merupakan skenario
kedua adalah akan ditiup isu ke masyarakat umum bahwa kenaikan harga
barang-barang itu penyebabnya adalah orang-orang Cina yang memborong
barang untuk merayakan Imleknya. Mirip dengan apa yang terjadi di bulan
Januari 1998 lalu, ketika orang-orang yang panik  melakukan "rush"
besar-besaran di semua toko serba ada. Setelah itu beredar isu
pemborongnya adalah orang-orang Cina. Oleh karena itu harga
barang-barang melonjak naik. Padahal yang melakukan pemborongan itu
tidak hanya orang-orang Cina, tetapi dari semua golongan
ekonomi-menengah, yang panik melihat rupiah tiba-tiba anjlok ke angka
Rp. 10.000, dan termakan isu akan terjadi kudeta. Oleh karena itu mereka
mempersiapkan "rangsumnya" masing-masing. Tentang kenaikan harga
barang-barang itu pun sebenarnya memang akan meroket. Akibat dari
anjloknya nilai rupiah secara sedemikian tajam. Jadi apakah ada
pemborongan itu ataukah tidak, harga barang-barang itu tetap akan naik.

Demikian juga dengan sekarang, tanpa ada orang Cina yang merayakan Imlek
pun harga barang-barang itu akan terus naik. Rakyat kebanyakan yang
ditiup isu ini akan menelan bulat-bulat tanpa melakukan analisa lebih
dulu. Setelah kondisi seperti ini tercipta (menanam rasa benci <lagi>
kepada Cina), maka mereka akan gampang dimanfaatkan untuk menciptakan
suatu kerusuhan besar seperti kerusuhan Mei 1998. Tujuan akhirnya adalah
untuk mempengaruhi jalannya Pemilu Juni 1999 nanti.

Mungkin inilah yang melatarbelakangi isu dimajukannya Imlek pada  menjelang
Lebaran itu.***

Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Jan 1999 jam 11:11:05 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke