---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- Seperti yang sudah diduga, rekaman dan transkrip ceramah Theo Syafei yang dituduh menghina Islam itu memdapat reaksi yang sangat keras. Terutama dari kalangan yang sudah lama dikenal sebagai kelompok yang beraliran ekstrem. Umpamanya saja majalah D&R mencatat, di Jakarta, pada waktu berlangsung sembahyang Jumat, tanggal 8 Januari lalu, nama Theo Syafei menjadi bulan-bulanan para khatib di masjid-masjid. Seorang khatib di sebuah masjid di bilangan Kebonsirih, misalnya, memberi khotbah yang isinya tentang ada kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengagalkan Pemilu. Karena meraka takut, kalau Pemilu berlangsung dan didominasi oleh Islam. Kemudian khatib terbut menyebut-nyebut nama Theo sebagai salah satu dari kelompok tersebut. Yang mengerikan, di akhir ceramah, khatib itu berbicara soal hak untuk membunuh apabila Islam diserang. Bahkan dalam bulan Puasa sekalipun. Contohnya perang Badar berlangsung di masa Puasa (D&R No. 22, 16 Januari 1999). Warna-warna kekerasan seperti dalam khotbah (-khotbah) seperti ini antara lain yang membuat perspektif orang lain hampir selalu negatif terhadap Islam. Contoh lain adalah beberapa posting yang sering kita baca di sini. Contoh yang paling aktual adalah posting-posting dari orang yang tanpa merasa malu/risih sedikit pun, memberi namanya sendiri dengan "sang bijaksana" ("The Wiseman"). Padahal posting-postingnya yang penuh dengan warna-warna kekerasan dan kebencian sangat bertolak belakang dari suatu "wise." Rasanya hampir tidak ada unsur "wise" dari posting-postingnya itu. Bahkan sebaliknya. Tak heran kalau Sdr. Proletar pernah mengatakan menulis nama orang ini, dia sudah rugi karena membuang waktu sekitar tiga detik dari hidupnya. Kalau berdasarkan pemikiran Sdr. Proletar ini, entah berapa banyak waktu kita yang terbuang ketika membaca posting-postingnya itu. Tetapi membaca posting seperti ini tetap kita perlukan, karena dengan demikian kita bisa tahu jalan pikiran mereka dan bahwa di dunia ini masih banyak manusia-manusia pemikir peninggalan zaman jahilyah. Tanpa perlu ke museum atau perpustakaan. Tentu saja jauh lebih berarti apabila mereka bisa "sadar" dan "kembali ke jalan yang benar." Di media cetak, kita juga bisa mencatat nafas-nafas kekerasan dari beberapa media Islam. Misalnya majalah Sabili dan Media Dakwah yang sering dijadikan acuan Sdr. Wiseman (betul, Sdr. Proletar, saya merasa risih ketika menulis nama ini). Kedua media ini sering menurunkan artikel-artikel yang sifatnya memanaskan situasi dengan warna-warna kekerasan di dalamnya, serta menanamkan rasa benci dan permusuhan kepada golongan non-muslim/pribumi. Media Dakwah, umpamanya, pasca kerusuhan Rengasdengkok dan Tasikmalaya 1997, di edisi Maret 1997 menurunkan artikel dengan judul "Membongkar Jaringan Kristenisasi, Yahudi dan Cina Anti-Islam" dan "Buntut Kerusuhan: Ramai-ramai Menyudutkan Islam" yang pada intinya menuduh bahwa golongan tersebut (Kristen, Yahudi, dan Cina) selalu berupaya untuk menghancurkan Islam di Indonesia dan ditolrerir oleh pemerintah. Sikap Cina yang overacting-nya dan kedekatan golongan Cina dan Kristen dengan pejabat dituding sebagai penyebab munculnya berbagai kerusuhan di negara ini. Semuanya itu sering disertai dengan seruan jihad yang dalam kamus mereka berarti harus dilawan/diperangi. Bilamana perlu dengan pertumpahan darah. Seperti yang diucapkan oleh khatib di masjid Kebonsirih yang ditulis majalah D&R itu. Atau beberapa waktu lalu juga sempat kita baca berita ada Ketua Partai Bulan Bintang yang mengatakan bahwa partai politik yang tidak berasaskan Islam, dan mereka yang bergabung di dalamnya adalah musuh Islam. Pikiran-pikiran dan pernyataan-pernyataan orang-orang dari golongan Islam seperti ini, yang membuat persepsi orang terhadap Islam selalu negatif. Dalam pikiran mereka, membaca dan mendengar pernyataan-pernyataan orang-orang Islam itu saja sudah menyeramkan. Apalagi bila mereka mempunyai kesempatan untuk melakukan apa yang mereka nyatakan atau khotbahkan itu. Dan yang disebut dengan kesempatan itu adalah apa yang disebut kekuasaan. Apabila benar orang-orang dari golongan ini berkuasa, kaum minoritas yang selama ini menjadi obyek pernyataan/khotbah mereka itu wajar merasa ketakutan. Lepas dari apakah itu suatu phobia, ataukah bukan. Jadi apa yang disebut ketakutan terhadap Islam, sebenarnya bukan suatu yang berlaku umum. Yang ditakutkan oleh kaum minoritas (baik dari segi agama, maupun ras) adalah Islam dari golongan orang-orang yang disebutkan di atas. Kisdi dengan tokohnya Achmad Soemargono, merupakan salah satu contoh golongan yang ditakutkan kaum minoritas. Karena selama ini memang gerakan-gerakan mereka dinilai radikal dan selalu membawa-bawa nama Islam dalam setipa geraknya. Misalnya saja, pernah menyatakan siapa yang tidak setuju Habibie sebagai presiden, sama saja dengan anti-Islam, atau musuh-Islam. Media cetak pun dengan gampang diintimidasi dengan sebutan musuh Islam karena artikel yang dimuatnya. Orang pun semakin takut -- sekalipun belum tentu benar --ketika beredar isu bahwa Kisdi berada di balik berbagai pembakaran gereja, maupun beberapa kerusuhan. Gus Dur pernah bikin heboh dengan mengatakan bahwa dalang kasus Banyuwangi antara lain orang yang bernama ES. Orang pun menduga-duga siapa itu ES? Tapi banyak yang menduga ES itu adalah Eggy Sudjana (ketua PPMI = Persatuan Persaudaraan Muslim Indonesia). Kenapa orang dengan gampang langsung menduga yang dimaksud Gus Dur adalah Eggy Sudjana? Pasti ada sebabnya. Tetapi kemudian datang pernyataan dari kubu Eggy bahwa orang-orang Gus Dur mengatakan yang dimaksud Gus Dur dengan ES itu bukan Eggy Sudjana. Amien Rais pun sempat mengatakan ES itu tak lain dari Eyang Soeharto. Orang-orang pun seperti pada mahfum bahwa itulah yang benar. Itulah yang dimaksud Gus Dur dengan ES. Apalagi kemudian Gus Dur menemui Soeharto di kediamannya dan mengatakan bahwa kubu Soeharto masih kuat. Apakah memang itu (ES = Eyang Soeharto) yang dimaksud Gus Dur? Ternyata ketika wartawan Tajuk bertanya apakah yg dimaksud dengan ES itu benar Eyang Soeharto? Gus Dur secara tak langsung membantah. Bahkan terkesan dia tetap merahasiakannya. Ketika antara lain nama Eggy Sudjana disebut-sebut lagi, Gus Dus tak menjawabnya secara langsung. Berikut ini penggalan dari wawancara tersebut (Tajuk No. 22, 23 Desember 1998): Tajuk (T): Anda pernah menyebut ES sebagai dalang di Banyuwangi. Siapa sih itu? Gus Dur (GD): Lho, kenapa saya harus buka sekarang. Enggak dong. T: Akan dibiarkan tetap jadi rahasia? GD: Iya T: Ada yang menyebut, ES itu Eyang Soeharto GD: Masa begitu? Saya mau ketemu dia kok. T: Ada juga yang bilang Eddy Sudradjat, Eggy Sudjana. GD: Elvi Sukaesih, hahaha . Dari penggalan wawancara di atas bisa diambil kesimpulan awal bahwa ternyata menurut Gus Dur khusus untuk kasus Banyuwangi dalangnya bukan dari kubu Soeharto. Tetapi dari pihak lain. Agaknya keyakinan ini yang dipegang Gus Dur, sebab kalau tidak, "segila-gilanya" Gus Dur dia tentu tidak akan mau dalam tempo hanya beberapa bulan, setelah sedemikian banyak warganya (NU) dibantai dia mau bertemu secara baik-baik dengan dalang pelakunya. Mungkin saja dalam hal ini memang dalangnya dari kelompok lain. Mereka hanya memanfaatkan iklim perseteruan antara Soeharto dan Gus Dur. Agar perhatian orang pun terarah ke Soeharto sebagai dalangnya. Apalagi kian gencar semua telunjuk menuding kubu Soeharto sebagai pelaku berbagai-bagai kerusuhan. Apabila kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, hubungan antara umat beragama di negara ini sebenarnya terjalin cukup baik. Justru yang membuat kacau dan merusak hubungan yang sudah baik itu adalah tokoh-tokoh agama itu sendiri dan tokoh-tokoh politik, termasuk beberapa media cetak yang kebetulan diurus oleh orang-orang berwatak sektarian. Majalah Ummat merupakan salah satu majalah bernafaskan Islam, yang merupakan sebuah contoh majalah Islam yang baik. Cukup obyektif dengan pandangan-pandangannya yang pragmatis. Oleh karena itu saya sempat merasa sedih ketika mendengar akan dibeli Keluarga Habibie. Bukan apa-apa. Saya khawatir majalah yang sudah baik ini akan dimanfaatkan oleh keluarga Habibie untuk menjalankan misi politik mereka, sebagaimana sudah dialami oleh beberapa media cetak lain. Sebenarnya banyak orang masih bingung (mungkin malah murka), apa sebenarnya maksud atau makna komentar Gus Dur tentang ceramah Theo Syafei itu. Ketika banyak orang Islam mengecam Theo dengan tudingan menghina Islam, tak terkecuali Amien Rais. Eh, kyai yang satu ini malah bilang, Theo tidak menghina Islam, tetapi sebaliknya membela Islam. Apa artinya ini? Sebenarnya yang dimaksud Gus Dur, Theo membela Islam dalam ceramah tersebut adalah Theo dengan berani membeberkan bahwa ada gerakan Islam radikal yang bercita-cita mendirikan negara agama Islam di negara ini, dan ada sekelompok orang yang sering mengatasnamakan agama Islam untuk mempermuluskan tujuan politiknya. Mereka sering mempengaruhi, menghasut masyarakat (massa) dengan isu agama ini, untuk kemudian dipakai menghantam lawan-lawan politiknya yang diberi cap sebagai musuh-Islam yang harus dihabisi. Dengan demikian Theo telah berhasil "mengungkapkan kejahatan" mereka. Menurut pandangan Gus Dur, gerakan seperti itu tidak sesuai dengan ajaran Islam sesungguhnya. Kalau ada orang yang bersikap demikian (memperalat agama) dan menghendaki negara berasaskan Islam, berarti dia tidak menjalankan ajaran Islam secara benar. Malah sebaliknya. Akan semakin membuat nama Islam semakin tidak baik di mata golongan lain non-muslim. Misalnya dengan menilai Islam itu identik dengan kekerasan, anti-toleransi, dan sebagainya. Oleh karena itu dengan "pengungkapan" Theo itu seolah-olah kedok mereka itu terbongkar. Sehingga justru "menyelamatkan" Islam dari polusi perilaku dan pemikir-pemikir sektarian seperti itu. Mungkin seperti itulah yang berada dalam pemikiran Gus Dur, sehingga dia berkata bahwa Theo malah membela Islam. Meskipun memang masih banyak yang harus dijawab oleh Theo sendiri berhubung dengan tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepadanya. Misalnya, dalam transkrip itu disebut Theo mengatakan Al Quran adalah kitab yang tipis dan kalah lengkap dengan Injil. Meskipun bagi saya pribadi hal seperti itu bukan sesuatu yang pantas disebut sebagai penghinaan terhadap agama. Kalau pun ada orang yang berkata sebaliknya, seperti yang lagi-lagi ditulis Sdr. Wiseman -- justru Injillah yang kalah lengkap, palsu, kalah hebat, dan kalah segala-galanya terhadap Al Quran, saya tidak merasa sebagai sesuatu yang layak disikapi. Gus Dur bilang, "Wong, itu pendapat saja kok dimarahi." Yang terpenting adalah iman kita terhadap Tuhan. Agama merupakan hubungan individu antara manusia dengan Penciptanya. Jangan menyembah agamanya, tetapi sembahlah Tuhan itu sendiri! Gus Dur dalam sebuah tulisan di Kolom majalah Tempo edisi Juli 1983, pernah juga mengatakan bahwa dalam Al Quran telah dikatakan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Namun tidak berarti negara harus memberi perlakuan yang berbeda kepada agama lain. Sebaliknya, keutuhan negara hanya akan tercapai kalau ia memberi perlakuan yang sama di muka hukum. Persamaan teologis antara dua agama tidak mungkin sama -- kalau diartikan sebagai hak merumuskan kebenaran mutlak Tuhan. Namun, persamaan kedudukan di muka hukum dapat ditegakkan, selama ada yang memberikan perlakuan yang sama. Kita seharusnya memahami dengan kearifan. Dan kearifan ini tidak dapat "dimurtadkan," karena di dalamnya esensi klaim agama akan kebenaran masih terjaga sepenuhnya. Demikian Gus Dur. Ibn Taymiyyah, seorang tokoh besar Islam asal Irak, mengatakan pemerintahan orang kafir yang baik, jauh lebih diutamakan daripada pemerintah (orang yang mengaku) muslim/Islam, tetapi berwatak zalim. Bersambung Salam Lion ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 14 Jan 1999 jam 11:11:35 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
