----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

From: Paula Carvalho Pinto

DEWAN NASIONAL  PERLAWANAN TIMOR - CNRT
ANGKATN BERSENJATA PEMBEBASAN NASIONAL TIMOR LESTE - FALINTIL

PERIHAL - Tanggapan terhadap Polemik yang diciptakan oleh PST

Saya menentang keras sikap PST terhadap dokumen saya yang telah
disebarluaskan oleh
partai (PST) tersebut di RDP. Isi dari pesan saya dalam surat itu bukanlah
penolakan
terhadap pola berpikir kakak XANANA, Komandan FALINTIL, yaitu bahwa
Timor-Leste
seharusnya disebut sebagai "Wilayah Otonom di bawah Pengawasan PBB".

Untuk para anggota Perlawanan Bersenjata dan khususnya bagi saya pribadi,
pikiran
kakak XANANA, Komandan FALINTIL,
bukanlah hal yang baru. Pikiran kakak XANANA, Komandan FALINTIL, ini sudah
tersirat
jelas dalam RANCANGAN PERDAMAIAN yang pernah diajukan oleh CNRM, yaitu
sebagai salah
satu tahap (dalam rancangan tersebut). Jadi, karena bukanlah sesuatu yang
baru bari
saya maka, tentunya,  saya tidak bertentangan dengan pikiran Komandan
FALINTIL,
XANANA GUSMCO.

Menolak Otonomi Luas. Isi dari dokumen atau surat yang saya tujukan kepada
PST,
sangat jelas mengenai posisi saya yaitu bahwa saya menolak  ide "OTONOMI
KHUSUS",
atau dalam bahasa Portugis disebut "AUTONOMIA ESPECIAL".

Sekarang saya bertanya:  apakah kedua macam "OTONOMI"  itu mengandung arti
yang sama?
Otonomi yang diterima (diperjuangknan) oleh Perlawanan atau diterima oleh
RAKYAT
Timor Leste, melalui wakilnya, yaitu XANANA, adalah "Otonomi di bawah
pengasan PBB".
Yaitu suatu otonomi sebagai fase sementara ataua jalan antar waktu untuk
penyelesaian
konflik yang sudah berlansung 23 tahun ini. Konsep Otonomi yang saya tolak
yang juga
merupakan konsep otonomi yang juga ditolak oleh kakak XANANA, komandan
FALINTIL,
adalah konsep "OTONOMI KHUSUS" yang telah saya singgung dalam surat saya ke
PST dan
telah disebarluaskan oleh partai tersebut di RDP.

Dalam surat kepada PST itu saya mengatakan bahwa XANANA akan menjadi
pengkhianat
kalau beliau membela suatu "OTONOMI KHUSUS". Saya baru berhasil menerima
dokumen dari
kakak XANANA, Komandan FALINTIL, pada tanggal 7 Januari 1999.
Jadi saya cukup terlambat menerima dokumen "Jawaban terhadap
pertanyaan-pertanyaa
PBB" karena organisasi-organisasi yang bertanggung-jawab dalam penyebaran
dokumen itu
terlambat mengirimnya ke Sektor Timur. Tetapi, saya selalu berpikir tentang
suatu
"Otonomi di Bawah Perlindungan PBB". Saya tidak akan percaya bahwa suatu
hari
Komandan FALINTIL akan bersikap tolol untuk memebela suatu OTONOMI KHUSUS
yang
ditawarkan oleh HABIBIE, atau Komadan FALINTIL akan menerima Otonomi
yang ditawarkan oleh HABIBIE... jika kakak KOMANDAN FALINTIL menerima
OTONOMI KHUSUS
maka sikap itu berarti suatu pengkhianatan terhadap FALINTIL YANG MULIA.
Jadi, inilah
inti pikiran saya, jadi bukanlah seperti yang ditafsirkankan secara
sefihak oleh PST dari dokumen yang mereka cepat-cepat telah menyebarluaskan.

Dewasa ini timbul polemik dalam Pemerintah Portugis yaitu mengenai sikap
saya
terhadap KOMANDAN XANANA yang oleh PST diartikan sebagai  perpecahan; saya
yakin
bahwa PST bertujuan mendapatkan simpati dari FALINTIL, kemudian memanfaatkan
organisasi ini sebagai kekuatan Partai Politik tersebut, karena ternyata
mereka (PST)
hanya terdiri dari setengah lusin orang di
dalam AST.

Ingin saya bertanya kepada Tuan Azancote Menezes cs dari PST. Apakah posisi
PST
sehubungan dengan KONVENSI NASIONAL DAN PENYUSUNAN MAGNA CARTA/CNRT??!!
Dalam
bagaimana kepatuhan PST terhadap CNRT yang merupakan STRUKTUR PERJUANGAN??!!
Kalau
tidak salah, pada bulan Mei 1998 saya menerima dokumen dari  FATUK MUTIN,
yaitu
Wakil Presiden PST yang menggantikan Salar Kosi, yang isinya adalah: PST
tidak
sependapat dengan adopsi CARTA MAGNA/CNRT; bahwa PST  menganggap semua lider
politik
FRETILIN yang mengambil bagian dalam KONVENSI  NASIONAL sebagai PENGKHIANAT,
termasuk
XANANA GUSMCO; (menurut PST) mereka itu tidak lagi membela FALINTIL dan
RAKYAT.

PST menganggap UDT sebagai SERIGALA dalam bulu domba. Dokumen dari FATUK
MUTIN
tersebut telah saya kirim kepada kaka RUAK, yaitu Wakil Komandan FALINTIL.
Kalau ada
orang yang ingin tahu isi dokumen tersbut bisa menanyakannya
kepada Wakil Komanda, kakak RUAK.

Sikap saya terhadap posisi PST dalam hal penerimaan MAGNA CARTA: saya
mendebat semua
tesis yang diajukan oleh FATUK MUTIN dan saya menuduh dia (FATUK MUTIN)
sebagai
RADIKAL. Selain tesis-tesis yang saya ajukan sendiri, saya juga telah
mengirim
sepucuk surat kepada kaka KOMANDAN FALINTIL, ringkasan dari surat saya
kepada FATUK
MUTIN, PST, yang waktu itu dikirim melalui AST. Sampai saat ini saya belum
menerima
jawaban atas surat saya kepada PST itu dan juga jawaban dari kakak Komandan
FALINTIL.

Pada bulan Oktober 1998 LULIK dan GUI dari PST mengadakan pertemuan dengan
saya di
mana saya diwawancarai oleh LULIK, di mana dia ingin mengetahui posisi saya
terhadap
penyelesaian konflik berupa suatu OTONOMI, tanpa memperincikan jenis
OTONOMInya.
Waktu itu saya mengtakan bahwa bagi FALINTIL hanya ada dua pilihan: TANAH
AIR atau
MATI.  Otonomi hanya suatu jalan antar waktu, bukan suatu penyelesaian untuk
konflik
itu.

Sejak waktu itu PST mengira bahwa dia akan memperoleh lebih banyak kekuatan
dengan
memanfaatkan nama FALINTIL sebagai sarana propaganda politik-diplomatiknya.
Tapi
mereka (PST) selalu membohongi saya dengan janji-jani palsu. Dan terakhir
ini, surat
UCAPAN SELAMAT (Natal) saya, cepat-cepat dipublikasikan oleh mereka padahal
mereka
sebenarnya bisa mencegah hal tersebut kalau saja mereka jeli membaca isi
surat  saya
dan memahami posisi kakak Komandan FALINTIL yang membela suatu
"OTONOMI di bawah pengawasan PBB" serta kehadiran  militer  dari Dewan
Keamanan PBB.

Sekarang PST telah menciptakan suatu situasi penuh polemik karena dia tidak
senang.
Ketidaksenangan ini bermula sejak permulaan KONVENSI NASIONAL sampai hari di
mana
surat saya dipublikasikan kepada dunia luar di RDP. Dan RDP ini sendiri,
kalau bisa
melakukan publikasi dengan benar,  seharusnya mempublikasikan juga surat
saya kepada
FATUK MUTIN yang telah saya singgung di atas.

Sekarang PST cepat-cepat mempublikasikan surat saya dengan tujuan untuk
memperoleh
dukungan dan simpati kepada partai PST tersebut. Tapi saya mengtakan dan
mengakui
bahwa PST memanfaatkan situasi pengisolasian saya di mana saya belum sempat
memperoleh/menerima dokumen-dokumen dari organ-organ yang kompeten, terutama
dokumen-dokumen dari Komandan FALINTIL; hal inilah yang telah membuat saya
menyimpulkan sikap dari Komandan FALINTIL, berdasarkan media informasi dan
komunikasi
internasional, yaitu RDP, sebagai:
1. RENCANA  OTONOMI dari PBB sebagai solusi terhadap konflik ini;
2.  Pertemuan-pertemuan Tuan Jamshed Marker dengan Komandan FALINTIL
  Dan dengan Tuan Presiden Indonesia HABIBIE, di mana saya tidak mengetahui
isisnya,
tapi banyak dibicarakan mengenai OTONOMI, tanpa perincian mengenai jenis
Otonomi yang
dimaksudkan oleh PBB. Saya baru mengtahui isi pikiranyang sebenarnya dari
Komandan
FALINTIL pada tanggal 7 Januari 1999. Saya terlambat sekali menerima dokumen
Jawaban
Terhadap
Pertanyaan-Pertanyaan PBB, oleh komandan FALINTIL. Setelah mengetahui isi
dari
dokumen tersebut, saya menyadari kesalahan besar yang telah saya lakukan
yaitu
penghinaan terhadap Komandan saya.

Saya dihadapkan pada dua situasi:
1 - Situasi yang berhubungan dengan sikap saya terhadap Komandan FALINTIL
saya,
XANANA, di mana saya mengakui kesahalan berat saya dalam hal disiplin dan
kurang rasa
hormat yang disebabkan oleh ketidak-tahuan saya akan dokumen dari Komandan
FALINTIL
saya berupa Jawaban Terhadap Pertanyaan-Pertanyaan PBB.  Ketidak-tahuan saya
akan isi
dokumen tersebut telah menyebabkan saya membuat suatu pernyataan yang
spontan. Sikap
spontan saya itu telah dimanfaatkan oleh PST yang ingin memperoleh simpati
dari
FALINTIL, padahal sebenarnya semua itu dalah suatu manipulasi politik dari
PST yang
ingin perpecahan antara FALINTIL dengan Komandannya.

Sebagai sumber dari dokumen yang tela dimanfaatkan oleh PST untuk manipulasi
politiknya dengan menciptakan perpecahan di tubuh FALINTIL, kecuriggan dan
ketidaksenangan yang disebarkan oleh para politisi kacangan, saya (mengtakan
bahwa)
saya
sangat menghormati dan memuliakan Komandan saya XANANA. Kepercayaan dan
cinta saya
kepada Komandan saya akan terpatri di dalam jiwa saya sampai hari kematian
saya,
kalau memang menuntut penyerahan hidup saya untuk membela
kepentingan-kepentingan
paling luhur dari Rakyat Timor Leste. Tidak, dan tidak akan pernah ada
PERPECAHAN
sebagaimana telah diberitakan secara luas oleh para politisi kacangan dari
PST.

2 - Situasi (kedua adalah) sikap saya terhadap PST.  PST adalah Partai
Politik yang
tidak mempunyai kredibilitas di Timor Leste dan dia menjiplak Manual Politik
FRETILIN. PST, yang sebelumnya hanyalah sebuah Asosiasi, dan dewasa ini
menjadi
Partai
Politik, ingin mendapatkan simpati dari FALINTIL agar menjadi kuat dengan
nama
FALINTIL. Saya akan berterima kasih kalau saja PST sadar benar dan
menganggap dokumen
saya sebagai UCAPAN SELAMAT, dengan tidak mempublikasikannya, paling tidak
bila dia (PST)  masih menaruh hormat pada Komandan FALINTIL. Posisi yang
telah
diambilnya hanya menunjukkan bahwa dia adalah salah satu partai yang hanya
menginginkan kelemahan atau hilangnya partai lainnya agar ambisi-ambisi
golongan
tujuan-tujuan dari partainya sendiri bisa terwujud.

KESIMPULAN - PST adalah partai yang mengatakan bahwa menghormati kakak
XANANA, Lider
Perlawanan, tetapi PST tidak patuh pada CNRT yang diKETUAi oleh kakak
XANANA.  PST
ingin membagi rasa dengan FALINTIL tetapi di pihak lain justru
memecah-belahkan kami,
dengan mencoba menimbulkan Perpecahan antara Komandan dengan Wakil-wakil
Komandan,
seperti yang terbukti dengan mempublikasikan surat saya yang ditujukan
kepada  Tuan
LULIK dari PST. Walaupun hanyalah sebuah
partai tanpa kredibilitas serta lemah, PST berambisi untuk menyelesaikan
konflik
(Timor Leste) dengan SENJATA, dengan menyingkirkan tentara Indonesia dari
Timor
Leste.

Sekarang,  lebih daripada sebelumnya, saya tidak mengakui PST sebagai suatu
Partai
Politik yang kredibel dan saya memutuskan hubungan saya, bukan sebagai
simpatisan,
tapi sebagai teman seperjuangan. Tidak sebagai simpatisan karena saya tidak
pernah
menjadi orang PST, tapi, sebaliknya, saya adalah dan tetap menjadi orang
FRETILIN,
saya telah berjuang untuknya, saya telah menderita dan akan terus berjuang
dan
menderita demi FRETILIN sampai tercapainya Kemenangan Akhir, yaitu UKUN
RASIK AN,
yang selalu diperjuangkan FRETILIN, sebagaimana halnya dengan
komandan-komandan dan
pejuang-pejuang lainnnya, selalu memperjuangkan sampai tercapainya
Kemanangan Akhir.

PERJUANGAN BERJALAN TERUS!
TANAH AIR ATAU MATI!
MELAWAN ADALAH MENANG!

Tanda-tangan (+ Cap)

Lere Anan Timur
Wakil-Kepala Staf

Timor-Leste, 7 Januari 1999

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 14 Jan 1999 jam 11:16:02 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke