---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk COBA RENUNGKAN! Oleh: Sobron Aidit Belum setahun usia reformasi, kalau dihitung sejak bulan Mei 1998 sang diktator terpaksa lengser keprabon. Ketika itu suara lantang,lagu bernada-tinggi,-mayor-,terdengar di mana-mana. Kini suara lantang itu pelan-pelan menurun jadi minor. Bahkan lebih dari itu ada usaha keras dari bagian yang dinamakan tokoh reformasi buat berunding, bernegosiasi, baik yang bernama Dialog Nasional maupun yang bersifat kompromi. Lebih dari itu tokoh reformasi tersebut bahkan mengajukan gagasan agar sang diktator jangan lagi dihujat, jangan pakai kata-kata "seret", agar berlaku sopan-santun, bukan kah dia itu orangtua yang harus dihormati? Lalu timbul lagi gagasan, buat berunding segi empat. Lalu nada lagu yang dulu begitu tinggi terus merosot jadi minor yang hampir-hampir kehabisan nafas,- ada usul, kalau sang diktator mau dan bersedia minta ampun dan tobat, maka selesai lah soal! Tidak akan dituntut,tidak akan diserba-kasarkan,dan akan diterima oleh masarakat. Kata orang kampung kami, "mak, enaknya! Enak banget ya!" Seseorang pencuri, katakan lah juga termasuk perampok, sesudah minta ampun dan bertobat, lalu dimaafkan, dan "nama-baiknya" direhabilitasi, tak perlu masuk penjara. Selesai lah sudah, seolah tak ada apa-apa lagi. Mungkin hal ini masih bisa diterima nalar. Tapi kejahatan sang diktator ini bukan hanya merampok dan mencuri saja. Sang diktator ini adalah pembunuh berjuta jiwa, koruptor trilyunan rupiah, yang telah menyengsarakan rakyat selama berpuluh tahun. Dia bukan hanya pembunuh perorangan musuh politiknya saja, tapi dia adalah pembunuh paling sedikit dua generasi. Dia pembunuh tak ada taranya di dunia. Dia boleh membunuh,menyebut kata "gebuk",dan memang sekali gebuk bisa ratusan ribu jiwa melayang. Tapi orang lain tidak boleh menghujat, memakinya,harus memaafkannya,harus berhenti menghujat dan membencinya. Kita harus rela menyaksikan dia menandatangani perjanjian agar semua kerusuhan tidak akan terjadi lagi. "Enaknya, mak, memangnya siapa sih dia sekarang ini?!" Ternyata apa yang dinamakan kaum reformasi itulah yang masih terus memuja, mengkultuskannya, mengajak unsur revolusioner seperti kaum mahasiswa yang dulu memaksanya lengser, agar sama-sama "memaafkannya". Dan bahkan para mahasiswa itu dimaki dengan kata-kata sombong, bahkan diusir, karena barangkali terlalu keras dan agak kasar kepada sang diktator. Melihat dan menyaksikan keadaan begini, betul-betul cetusan reformasi yang dulu begitu gencar dan bahkan bagaikan serbuan air bah, kini berangsur lunglai, loyo, bahkan setengah menyerah. Tapi yang bikin lunglai dan loyo itu adalah justru yang dulu digelari pencetus atau barisan pelopor reformasi. Untung ya jadi diktator di Indonesia ini! Kalau di Korea Selatan, bahkan ada dua bekas kepala negara yang diborgol dan masuk penjara! Kalau di Filipina, terusir ke Amerika dan mati ngenes di sana! Tapi di Indonesia, sesudah membunuhi jutaan jiwa, sesudah merampok dan korupsi trilyunan rupiah dan menjadi orang terkaya di dunia walau belum nomor satu, dan sampai kini rakyatnya tetap tersiksa dan merana akibat perilakunya, masih saja hidup bahkan tampaknya akan terus berusaha untuk bergulir di tengah pengikutnya yang fanatik. Karena kekuasaannya dulu,sampai kini orang-orang yang dipenjaranya belum bebas. Tidak mendapat pembebasan,dan keampunan.Tetapi dia yang dosa kejahatannya tak ada bandingannya di Asia, malah tampaknya akan mendapat pengampunan, kalau dia bertobat, maka dia siapa tahu masih bisa mencalonkan diri jadi presiden lagi. "Mak, enaknya jadi sang diktator satu ini!" Kalau diusut-usut, maka pengikut fanatiknya ini bukan saja dari barisan yang memang sudah ada dan terbentuk sejak dia ada dan berkuasa dan dalam lingkungannya, tapi pengikut fanatiknya ini malah berdatangan pada era baru sejak reformasi ini. Artinya dalam keadaan sudah lengser keprabon pun dia tetap dapat menjalankan gerak tipunya. Bukan main berbahayanya orang ini. Tapi kenapa masih tetap ada ada saja orang yang mengikuti dan menyanjung tinggi dirinya. Tidak aneh! Di Eropa, khususnya di Jerman, tetap banyak orang atau pengikut Hitler dengan neo-Nazinya, padahal semua orang tahu kejahatan Hitler. Begitu pun di Indonesia, Hitler yang satu ini kini diberi kesempatan buat naik-panggung "asal saja mau bertobat dan minta ampun". "Mak, enaknya sang diktator satu ini!" Maka sudah mulai lah akan marak situasi yang tadinya ketakutan akan terjadi revolusi-sosial,tiba-tiba yang ditakutkan itu ada di hadapan dirinya sendiri. Sebab rakyat yang luas tidak mungkin sudi sang diktator dimaafkan dan diampuni. Dia harus menjalani keadilan dan peradilan sesuai dengan kejahatannya, sesuai dengan apa yang dulu dilakukannya. Mana rakyat akan percaya bahwa kalau dia mau menandatangani surat perjanjian itu, maka kerusuhan akan berhenti dengan sendirinya! Tidak mungkin! Sebab kerusuhan itu bukan dari satu segi, satu pandangan, tapi banyak soal dan perihal. Orang lapar, orang terus menerus sengsara, tersiksa karena tindasan, tertindas, tetap akan berontak, tetap akan melawan. Jadi jangan mimpi kalau dia sang diktator mau bertobat dan minta ampun lalu selesai lah soal, takkan ada lagi kerusuhan, tak akan ada lagi kelaparan, perampokan, pembakaran dan pembunuhan. Malah kalau terjadi seperti apa yang diharapkan kaum reformasi -sisa Ciganjur itu, percaya lah revolusi itu tetap saja akan ada dan menjalar, sebab rakyat banyak sudah punya nalar dan yang memang benar. Coba lah renungkan!*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 15 Jan 1999 jam 01:54:23 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
