----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Dari beberapa uraian terdahulu kita bisa memaklumi mengapa Gus Dur dalam
memimpin NU sangat tidak setuju memakai agama sebagai alat politik,
apalagi asas/hukum negara. Selain karena bangsa ini memang sedemikian
majemuknya, dasar pemikiran Gus Dur (NU)  juga berlandaskan sejarah dari
umat Islam sendiri.

Pada waktu terjadi perang saudara antara Bin Abi Thalib dengan Aisyah
binti Abu Bakar, antara kelompok Muawiyah dengan kelompok Ali, antara
Ali dengan kaum Khawarij, dan antara kelompok Muayiyah dengan Abasiyah,
serta kelompok lainnya, pertikaian-pertikaian/perang tersebut selalu
membawa-bawa agama sebagai bendera perjuangannya. Kelompok yang satu
mempergunakan ayat Al Quran dan hadits Nabi sebagai landasan pembenaran
kelompoknya melawan kemlompok yang lain. Demikian juga kelompok
lawannya. Sehingga melahirkan perang saudara yang seolah-olah tak
habis-habisnya. Pihak NU tak akan mau mengulang kesalahan besar yang
pernah dilakukan umat Islam di zaman dahulu.

Maka tak heran kalau Gus Dur pun menentang habis-habisan setiap ada
kelompok Islam fundamentalis yang mempunyai dasar pemikiran seperti umat
Islam di zaman dahulu yang melahirkan banyak perang saudara di antara
sesama Islam itu. Di antara sesama Islam, dengan memakai bendera agama
sebagai alat perjuangannya saja sudah melahirkan konflik dan perang
saudara, apalagi kalau berhadapan dengan kelompok lain non-Islam dalam
negara yang sedemikian besar kemajemukannya.

Kalau Anda bercita-cita negara mendirikan negara agama Islam, Anda harus
menciptakan suatu penduduk yang homogen. Untuk itu awalnya, antaranya
Anda harus rela melepaskan wilayah-wilayah negara yang mayoritas
non-muslim, seperti Timor-Timur, Irian Jaya, Maluku, sebagain Sulawesi,
sebagian Sumatera, sebagian Kalimantan, yang nota bene merupakan
wilayah-wilayah yang menjadi sumber kekayaan alam dari negara kesatuan
ini. Konsekuensinya kemungkinan besar Republik Indonesia hanya terdiri
dari Pulau Jawa dengan nama Republik Islam Indonesia, yang juga
merupakan negara termiskin di dunia.

Sayangnya masih banyak orang dari Islam sendiri yang memandang Gus Dur
dari sisi negatif semata. Bahkan tuduhan-tuduhan dengan "kata-kata tak
pantas" (Gus Dur sendiri memakai istilah ini) acapkali diarahkan
kepadanya karena pandangan dan manuver-manuvernya selama ini; agen
zionist, pengkhianat, tak pernah sholat, dan lain-lain.

Seperti yang juga dituduhkan Dawam Rahardjo, tokoh Partai Amanah Rakyat
(PAN), yang mengatakan Gus Dur sebagai destroyer, predator. Bahkan
orang-orang yang dekat dengan Gus Dur dituding pula sebagai anti-Islam,
dan musuh Islam! Kalau begitu apakah, Dawam juga mau bilang Gus Dur
adalah musuh Islam? Tapi, mungkin benar juga kata-kata Dawam yang
mengatakan Gus Dur sebagai destroyer dan predator. Yakni destroyer dan
predator bagi gerakan-gerakan Islam fundamentalis seperti sosok  Achmad
Sumargono, Eggy Sudjana, Partai Bulan Bintang, dan sebagainya. Di
media-media cetak resmi Indonesia, tidak ada yang berani menulis mereka
dengan istilah "radikal/ekstrem", atau "fundamentalis." Kata yang biasa
dipakai adalah "kelompok Islam yang kritis." Saya kira kita bisa
membedakan apa yang tergolong kritis, atau radikal.

Orang-orang seperti inilah yang seringkali dalam manuvernya memakai
bendera Islam untuk menggerakkan (memperalat) massa rakyat demi
kepentingan tujuan politik, maupun kelompoknya. Gerakan mereka inilah
yang telah berani diungkapkan oleh Theo Syafei dalam transkrip ceramah
yang disebarluaskan itu (transkrip ini sebenarnya belum
dikonfirmasi/diakui Theo). Karena Theo mengungkapkan gerakan rahasia
mereka itu, mereka terkejut, mereka murka. Dan lagi-lagi berlindung di
balik bendera Islam untuk mempengaruhi (memperalat) umat Islam membela
kelompok mereka itu, dengan dalih Theo menghina Islam. Dalam peristiwa
pembantaian di Aceh, yang kebetulan korbannya adalah umat Islam juga,
anehnya tak terdengar suara marah mereka. Gerakan mereka ini justru
memberi persepsi buruk orang terhadap Islam.

Karena alasan inilah Gus Dur mengatakan bahwa Theo sebenarnya tidak
menghina Islam, tetapi membela Islam, seperti yang sudah saya sebutkan
di bagian sebelum ini. Dalam transkrip ceramah Theo itu juga sebenarnya
ada dikatakan: Yang dimaksud dengan Islam yang sedang galau itu bukan
Islam secara keseluruhan, tetapi Islam yang fundamentalis. Islam itu ada
dua. Pertama, Islam yang fungsional, yang memperjuangkan fungsi Islam
itu dalam keadilan sosial. Islam fungsional ini tercermin dari mereka
yang ada di NU, di Gus Dur. Kedua, Islam yang politik, yang ingin
benderanya berkibar sebagai kekuatan politik, seperti ICMI, Muhammadiyah
dengan Amien Rais-nya.

Karena pandangan dan manuver NU di bawah pimpinan Gus Dur seperti ini
pihak-pihak yang hendak memperalat agama (Islam) dan masalah SARA
sebagai alat politiknya merasa terganggu dan terhalangi. Tak jarang
manuver mereka dengan landasan demikian tiba-tiba patah di tengah jalan
karena ulah Gus Dur yang sering ceplas-ceplos membela kaum minoritas
agama, maupun ras, yang hendak mereka jadikan korban.  Oleh karena itu
mereka marah, murka dan menuduh Gus Dur dengan berbagai-bagai tuduhan
negatif tersebut di atas.  Tak terkecuali, dan termasuk terutama adalah
Soeharto, sewaktu dia menjadi presiden sampai dengan lengsernya.

Jangan-jangan yang benar justru apa yang diutarakan kubu Gus Dur.
Seperti yang dilontarkan oleh Syaifullah Yusuf, Sekjen Angkatan Muda NU,
kepada DeTAK. Bahwa mereka yang mengecam Gus Dur , sebenarnya karena
langkah Gus Dur yang melawan arus itu (bertemu Soeharto) telah
mementahkan skenario mereka yang sedang berjalan (DeTAK, 22-28 Desember
1998).

Saya pernah mengatakan bahwa mungkin saja Tuhan mempergunakan Gus Dur
untuk melindungi negara dan bangsa ini dari manuver-manuver politik
golongan-golongan ekstrem-fundamentalis yang mempergunakan agama sebagai
kendaraan politiknya, dan memanfaatkan isu-isu  SARA sebagai
landasannya.

Dengan pandangan dan pendirian NU di bawah pimpinan Gus Dur seperti ini
tentu saja Soeharto yang termasuk orang yang tidak tabu, bahkan termasuk
salah satu hobby-nya, memperalat agama dan isu SARA itu, tidak bisa
dimanfaatkan. Padahal NU merupakan suatu organisasi masyarakat
berlandaskan agama (Islam) yang terbesar di Indonesia. Dapat dibayangkan
bagaimana kekuatan dukungan politik bisa diperoleh kalau bisa
memanfaatkan mereka. Karena itu berkali-kali Soeharto telah berusaha
dengan berbagai cara untuk menyingkirkan Gus Dur sebagai Ketua Umum NU,
untuk diganti dengan bonekanya.

Sebenarnya pada tahun 1994 NU hampir saja berada digenggaman Soeharto,
ketika pada tahun tersebut masa jabatan Gus Dur sebagai Ketua Umum NU
untuk masa jabatan yang kedua berakhir. Pada tahun 1992, Gus Dur telah
mengatakan dia tidak akan mau lagi menjadi Ketua Umum NU untuk yang
ketiga kalinya. Karena baginya dua kali masa jabatn sudah cukup. Tetapi
ketika pada tahun 1994 menjelang dilaksanakan Muktamar NU di Cipasung,
Tasikmalaya, Gus Dus mencium ada gelagat pihak penguasa yang mengincar
NU sebagai kendaraan politiknya. NU akan dijadikan komiditi untuk meraih
suara sebanyak-banyaknya dalam Pemilu. Maka Gus Dur secara mengejutkan
tampil kembali dan menyatakan bersedia dipilih kembali sebagai Ketua
Umum NU.

Pada waktu openhouse di rumahnya, di Ciganjur, Gus Dur berkata kepada
beberapa tamunya: "Saya ini termasuk orang yang paling sering dikerjai
(dizalimi) Soeharto. Sewaktu di Muktamar Krapyak (Yogyakarta) dan
Cipasung (Tasikmalaya), dicekal di berbagai daerah, sekatu hendak
ceramah, dan sembarang kalir (segala macam)-lah."

Kemarahan Soeharto dan antek-anteknya semakin menjadi-jadi ketika Gus
Dur yang ternyata sejak dulu sudah sering ceplas-ceplos itu, secara tak
langsung mengatakan Soeharto itu Marcos-nya Indonesia. Padahal Kassospol
ABRI waktu itu, Letjen. Sjarwan Hamid sendiri sebenarnya yang "salah,"
atau kurang memakai sel-sel kelabu di kepalanya (meminjam istilah tokoh
Poirot di novel Agatha Christie).

Ketika itu (1996) dia menuduh ada sekelompok orang yang hendak membuat
people power seperti di Philipina di Indonesia. "Mereka itu," kata
Sjarwan, "Hendak menjadikan Megawati sebagai Cori Aquino-nya Indonesia.
Dan Gus Dur sebagai Kardinal Sin-nya Indonesia (uskup agung kharismatik
yang berperan besar mendukung Cori menjatuhkan Marcos)."

Gus Dur bereaksi dengan berkata, "Tanya sama Pak Sjarwan, kalau  ada
Cori Aquino dan Kardinal Sin-nya Indonesia, lalu siapa dong Ferdinand
Marcos-nya? Kalau berani, pertanyaan ini harus dijawab!"


Saking bencinya, menurut tabloid Bangkit, lebih dari sekali Soeharto
hendak membunuh Gus Dur. Tentu saja melalui kaki-tangannya. Di antaranya
melalui rekayasa kecelakaan lalu-lintas dan memakai tangan Kopassus
(penembak jitu -- sniper) pimpinan Prabowo Subianto.

Pada waktu itu Prabowo Subianto yang adalah mantu Soeharto, merasa
jengkel juga dengan Gus Dur dengan ceplas-ceplosnya itu. Melalui
perantara seseorang, Prabowo menyampai peringatan keras dan ancaman
kepada Gus Dur, agar jangan banyak mulut. Kalau tidak, katanya,
sniper-sniper-nya siap menembak mati Kyai itu. Jawaban yang diberikan
Gus Dur pun tak kalah sengitnya. Gus Dur waktu itu berkata dengan
tenang, "Sampaikan kepada Prabowo. Prabowo itu agamanya apa? Kalau
Islam, tanyakan kepadanya: nyawa itu milik siapa?" Sebuah jawaban yang
konon membuat Prabowo bertambah berang. Tidak tahu kenapa ancaman itu
tak dilakukan. Entah hanya sekadar ancaman, atau memang pernah dicoba
tetapi gagal.

Yang jelas ternyata Gus Dur tidak menaruh dendam pada Prabowo. Ketika
menjelang Soeharto lengser, di suatu subuh Prabowo, yang waktu itu
menjabat sebagai Pangkostrad, datang ke rumah Gus Dur untuk meminta
nasihat, ditemani Ketua Umum PP GP Ansor, H. Iqbal Assegaf. Ini mungkin
juga sebagai rasa penyesalan Prabowo atas kelakuannya terhadap Gus Dur
selama ini. Rupanya jangankan Prabowo, Soeharto yang beberapa tahun
memperlakukan Gus Dur secara keterlaluan pun, ternyata tidak membuat Gus
Dur dendam kepadanya. Buktinya ketika Gus Dur malah berkunjung ke
kediaman Soeharto di Cendana, mengupayakan diadakan dialog nasional,
dengan melibatkan Soeharto (yang gagal itu).

Dalam buku karangan Adam Schwarz: "A Nation in Waiting: Indonesia in the
1900's" ada kutipan ucapan Gus Dur yang membuat Soeharto marah lagi. Di
buku tersebut dikutip ucapan Gus Dur yang mengatakan Soeharto itu orang
bodoh. Lengkapnya kalimat yang terdapat di halaman 188 buku itu,
berbunyi (dalam bahasa Inggris): "Presiden Soeharto mengabaikan pendapat
Aburrachman Wahid adalah karena kebodohonannya, dan karena dia
(Soeharto) tidak ingin ada orang yang berada di luar kendalinya menjadi
kuat."

Paman Gus Dur, K.H. Yusuf Hasyim, yang dikenal dekat dengan penguasa pun
bereaksi keras. Di antaranya dengan mengatakan apa yang diucapkan Gus
Dur telah melewati garis batas kebudayaan Indonesia. Oleh karena itu dia
(Gus Dur) harus minta maaf kepada Soeharto. Hal ini tidak pernah
dilakukan Gus Dur sampai sekarang.

Kritikan-kritikan pedas Gus Dur seperti ini membuat semakin kuat upaya
untuk mengdepaknya. R. Hartono, salah satu antek Soeharto yang paling
setia, mengatakan kata-kata yang sering dikeluarkan Gus Dur sudah
keterlaluan. "Ketua Umum NU," katanya, "Harus bisa bekerjasama dengan
pemerintah!" Kesetiaan Hartono kepada Soeharto juga terlihat ketika dia
menjadi berang sewaktu majalah D&R menampilkan cover dengan gambar kartu
King dengan wajah Soeharto. Ketika itu dia sebagai Menteri Penerangan
(demisioner) berang, dan mengatakan D&R telah membuat Soeharto seperti
raja  (padahal kenyataan memang begitu). Buntutnya Pimpinan Redaksi D&R
waktu itu, Margiono dinonaktifkan sampai Soeharto lengser.


Bersambung


Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Jan 1999 jam 07:53:54 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke