----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Upaya Soeharto menghancurkan Gus Dur dalam kariernya sebagai Ketua Umum 
NU dimulai pada tahun 1989, sewaktu diadakan Muktamar NU di Krapyak, 
Yogyakarta, yang di antaranya untuk memilih Ketua Umum NU. Orang-orang 
Soeharto memakai kekuatan kubu NU Situbondo untuk menggagalkan 
terpilihnya Gus Dur sebagai Ketua Umum NU untuk kedua kalinya. Upaya 
tersebut gagal. Muktamar pun memilih Gus Dur sebagai Ketua Umum NU untuk 
kedua kalinya. 

Gagal di Yogyakarta, pada waktu diadakan Muktamar NU berikutnya (ke-29), 
di Cipasung, tahun 1994, lagi-lagi kubu Soeharto melakukan intervensi 
untuk mengeser Gus Dur. Mirip dengan apa yang dilakukan pada PDI, kubu 
Soeharto, dengan operatornya Kassospol waktu itu, Letjen H. R. Hartono, 
memakai calon ketua tandingan yang merupakan calon boneka mereka, Abu 
Hasan. Ketika gagal, mereka menyuruh Abu Hasan melakukan tuntutan pidana 
kepada Gus Dur dengan melapor ke polisi, dengan tuduhan mengfitnah Abu 
Hasan dan telah melakukan kecurangan dalam acara pemungutan acara dalam 
Muktamar tersebut. Bersamaan dengan itu atas restu pemerintah, Abu Hasan 
mendirikan PBNU tandingan. 

Abu Hasan sebenarnya  bukan calon pemerintah sesungguhnya. Sesungguhnya 
yang hendak dijadikan boneka oleh pemerintah adalah K.H. Wachid Zaini 
(masih kerabat dengan R. Hartono), pengasuh Pesantren Nurul Jadid Paiton 
di Probolinggo. Yang juga waktu itu sebagai salah satu Rais Syuruyah 
PWNU Jawa Timur. Mungkin atas dasar pertimbangan hubungan kekerabatan 
dengan Hartono ini, Wachid Zaini yang dipilih untuk menggusur Gus Dur. 
Tetapi rupanya pilihan tersebut keliru. Wachid bukan tipe seorang 
pengkhianat. Dia menolak kehendak tersebut. Bahkan dia sempat 
diculik-paksa oleh orang-orang Hartono untuk dibujuk bersedia 
mencalonkan diri sebagai Ketua Umum NU, menandingi Gus Dur. Beberapa 
koran di Jakarta (Republika, Terbit, Pelita) pun secara rutin menurunkan 
tulisan-tulisan yang pada intinya membeberkan sisi buruk pribadi Gus 
Dur.  Semuanya gagal. Maka dengan terpaksa Hartono pun membekengi Abu 
Hasan, yang kemudian diisukan berkat kesediaannya melawan Gus Dur itu, 
dia memperoleh proyek dermaga peti kemas Tanjung Priok senilai Rp. 36 
miliar.

Salah satu koran Jakarta yang waktu itu rajin menurunkan tulisan-tulisan 
yang memojokkan Gus Dur adalah koran milik ICMI, Republika. Ketika Gus 
Dur berhasil dipilih kembali sebagai Ketua Umum NU di Muktamar di 
Cipasung itu, Republika menyelenggarakan kampanye anti-Abdurrahman Wahid 
("Pers Terjebak,"Yasuo Hanazaki, Institut Studi Arus Informasi, hal. 
130).

Misalnya saja, Republika edisi 2 Desember 1994 menulis, Mitsuo Nakamura, 
seorang antropolog asal Jepang yang mengamati Kongres NU, menyatakan 
bahwa sebaiknya Abdurrachman Wahid mengundurkan diri sebagai pencalonan 
Ketua Umum NU. Republika membawa 20.000 eksemplar edisi tersebut ke 
Cipasung dan membagi-bagikan kepada para peserta kongres. Ketika 
Nakamura memprotes ke Republika, bahwa dia tidak mengatakan (tidak 
berpendapat) seperti itu, Republika mengelaknya dengan mengatakan bahwa 
berita itu mereka kutip dari Kantor Berita Antara. Padahal pada edisi 
yang sama (2 Desember 1994), koran The Jakarta Post juga menurunkan 
berita tentang ucapan Nakamura yang bertolak belakang dengan apa yang 
ditulis Republika: "�Abdurrahman harus terpilih kembali � Nahdatul Ulama 
masih membutuhkan figur seperti Abdurrahman."

Kepada The Jakarta Post, Gus Dur berkata bahwa ada empat media, yakni 
Republika, Terbit, Pelita, dan Televisi TPI, melakukan kampanye 
menentangnya. Gus Dur berkata: "Saya pikir, mereka akan meralat 
tulisan-tulisan mereka. Kecuali Republika, karena Republika itu milik 
ICMI."

Ketika akhirnya Gus Dur terpilih kembali sebagai Ketua Umum PBNU untuk 
ketiga kalinya, Harian Kompas edisi 6 Desember 1994 melaporkannya di 
halaman pertama (berita utama): "Gus Dur Terpilih Kembali." Bertolak 
belakang dengan Republika yang hanya menempat berita tersebut di halaman 
belakang (halaman 11). Sedang di berita utamanya malah dimuat berita 
dengan tulisan: "Wakil Presiden Try Sutrisno: NU Harus Melangkah Maju 
dengan Gus Dur." 
Yasuo Hanazaki, mantan wartawan Asahi Shimbun, mengatakan Republika 
adalah koran yang dieditori intelektual muslim dan dilindungi Habibie, 
Soeharto dan kroninya ("Pers Terjebak," 1998,  halaman 130).

Menurut Adam Schwarz  pada ruang Redaksi Republika adalah cerminan ICMI. 
Di sana bekerja para wartawan dengan beberapa kecenderungan, seperti 
editor yang oleh wartawan asing dijuluki "pengganggum Habibie Tanpa 
Malu." ("A Nation in Waiting: Indonesia in 1990's"  tahun 1994 halaman 
76). Meskipun juga terdapat wartawan yang mengatakan simpatisan terhadap 
kelompok wartawan pembangkang yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis 
Indonesia (AJI).


Perilaku kasar, tak tahu tata krama kubu Soeharto terlihat pula di hari 
pertama Muktamar. Mereka sama sekali tidak menghargai Gus Dur yang masih 
menjabat sebagai Ketua Umum NU. Gus Dur yang seharusnya duduk di deretan 
paling depan kursi, digusur sampai ke deretan ketiga. Bahkan Gus Dur 
dilarang untuk ikut acara ramah-tamah panitia dan pengurus PBNU dengan 
Presiden Soeharto. Ketika Gus Dur datang dan hendak masuk ruangan yang 
sebelumnya sudah ada Soeharto, dengan tegas ditolak para pengawal 
presiden.

Tidak cukup sampai di situ, Gus Dur pun mengalami pencekalan di 
mana-mana. Baik ketika dia hendak berkunjung di suatu daerah, maupun 
ketika hendak berceramah (dengan alasan tak ada izin dari kepolisan). 
Misalnya pencekalan di Lamongan, Jawa Timur, oleh Bupati HM Faried, dan 
di Jember oleh kepolisian setempat.  Secara formal, Soeharto pun tidak 
mau (tidak pernah) mengakui Gus Dur sebagai Ketua Umum NU, tidak mau 
menerima pengurus PBNU di Istana Negara. Bahkan sewaktu Gus Dur 
menghadiri acara Mukernas Rabitnah Ma'ahid al-Islamiah tahun 1996, dan 
menjabat tangan Soeharto (yang disambut dengan senyuman khasnya) di 
Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Jawa Timur, pengakuan itu tak 
kunjung tiba. Sampai dia sendiri lengser ke prabon. 

Menyambut musuh dengan senyuman rupanya bukan sesuatu yang aneh bagi 
Soeharto. Ketika menyambut Megawati setelah terpilih sebagai Ketua Umum 
PDI hasil kongres PDI di Surabaya, Soeharto  menjabat tangan Mega pun 
dengan senyum khas Soeharto yang terkesan ramah dan kebapakan. Tetapi 
apa yang terjadi kemudian sudah kita ketahui: rekayasa besar Munas PDI 
di Medan untuk mengangkat Ketua Umum PDI boneka, Soerjadi, mengdepak 
Megawati sebagai Ketua Umum PDI hasil kongres di Surabaya. 



Upaya-upaya mengdepak Gus Dur sebagai Ketua Umum NU juga diikuti dengan 
upaya pembunuhan atas dirinya. Di antaranya dengan menggunakan sniper 
untuk menembak mati Gus Dur. Tetapi mungkin karena cara ini dianggap 
terlalu kasar, dipilih cara lain, yakni dengan membuat rekayasa 
kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan mobil yang ditumpangi Gus Dur. 
Demikian seperti yang dianalisa dalam tabloid Bangkit.

Menurut catatan tabloid tersebut paling sedikit dua kali terjadi 
kecelakaan lalu-lintas seperti itu, yang diduga sebagai upaya pembunuhan 
atas diri Gus Dur. Nyawa Gus Dur selamat, ketika dia batal  ikut dengan 
mobil-mobil itu. Mungkin pembunuhnya yang sudah diorder untuk merekayasa 
kecelakaan itu, begitu melihat mobil yang sedianya ditumpangi Gus Dur, 
langsung melakukan aksinya, menyangka Gus Dur benar-benar ada di dalam 
mobil itu.

Kecelakaan pertama, terjadi pada Desember 1994, dalam perjalanan mobil 
dari Malang ke Jombang (Jalan Raya Purwodadi-Pasuruan), tanpa sebab yang 
jelas mendadak ada sebuah bus yang menyelonong dari arah berlawanan, 
menewaskan K.H. Rifai Romli, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum 
Jombang. Ketika diusut, sopir bus hanya beralasan mengantuk. Sebenarnya 
Gus Dur hendak ikut dengan mobil tersebut bersama dengan K.H. Rifai, 
tetapi urung karena ada acara pengajian lain. 

Kecelakaan kedua terjadi pada tahun 1995 di tol Cikampek, lebih tragis 
lagi. Korbannya adalah  istri, ibu, dan adik Gus Dur. Bahkan akibat 
kecelakaan itu, istri Gus Dur, Ny. Nuriyah, selain menderita luka-luka, 
tulang ekornya patah, sehingga walaupun sudah dioperasi di Australia, 
dia menderita cacat seumur hidup. Lumpuh. Terpaksa sepanjang hidupnya 
bergerak di atas kursi roda!  Sedangkan sopirnya sendiri tewas di 
tempat. Gus Dur juga seharusnya ikut dengan mobil tersebut, tetapi 
karena terlambat dia memilih berangkat dengan pesawat dari Bandung.

Kecelakan tersebut terbilang misterius, karena ketika meluncur di tol 
Cikampek (dalam perjalanan pulang dari Bandung ke Jakarta), tiba-tiba 
tanpa sebab yang jelas mobil tersebut mencelat dan terguling-guling 
beberapa kali. Mirip dengan peristiwa kecelakaan lalu lintas yang 
menimpa Arifin Panigoro baru-baru ini. Jangan-jangan ini pun sebagai 
suatu rekayasa kecelakaan? Bukankah sudah ada berbagai upaya rekayasa 
untuk menyudutkan Arifin, seperti  Kejaksaan Agung yang menduuhnya 
melakukan korupsi melalui perusahaan Medco-nya? Arifin diketahui  
mendukung aksi-aksi mahasiswa yang menentang Habibie.

Akhir dari upaya penggusuran Gus Dur terkesan lucu. Mungkin karena sudah 
kehabisan akal. Beberapa orang pun diutus Soeharto untuk secara 
terang-terangan meminta Gus Dur bersedia mundur sebagai Ketua Umum NU. 
Utusan pertama adalah Soetjipto Wirosardjono, pengurus teras ICMI yang 
sangat dekat dengan B.J. Habibie, Ketua Umum ICMI/Menristek/Ketua BPPT 
ketika itu.

Secara blak-blakan disampaikan pesan Soeharto agar Gus Dur bersedia 
mundur. Gus Dur jelas menolak. Dengan alasan untuk itu harus melalui 
mekanisme muktamar, atau muktamar luar biasa.

Utusan kedua terdiri dari empat ulama Jawa Timur, dipimpin K.H. Shobib 
Bisri (almarhum). Demi kemaslahatan ummat, Gus Dur diminta mundur. 
Gagal.

Utusan ketiga, terdiri dari beberapa ulama. Mereka juga minta Gus Dur 
mundur secara baik-baik, dengan alasan, sebagai ketua jamiyah yang 
berhaluan ahlussunnah waljamaah (aswaja), Gus Dur justru mengamalkan 
ajaran Syiah yang bertentangan dengan prinsip aswaja. Apalagi, Syiah 
yang dianut rakyat Iran dilarang masuk Indonesia. Semuanya gagal lagi. 
Gus Dur tetap sebagai Ketua Umum NU sampai sekarang. Yang lengser justru 
Soeharto pada 21 Mei 1998.

Bersambung

Salam
Lion

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 17 Jan 1999 jam 07:54:52 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke