---------------------------------------------------------- FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL: go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews. ---------------------------------------------------------- KOLOM SUPANGKAT: PINJAM TERUS BAK PENJUDI KALAP TIADA HATINURANI LAGI Saya terpaksa menarik kesimpulan bahwa "Presiden Habibie termasuk para menterinya sudah bak penjudi kalah yang kalap tiada rasional, tiada hatinurani lagi dan mau pinjam terus untuk politik Keynesianisme: "Deficit Spending". Kesinabungan politik ekonomi orde baru diteruskan oleh kabinet Habibie: 1. Hutang luar negeri rejim orde baru sudah mencapai lk US$ 150 milyar dan belum pernah bisa dicicil karena rejim orde baru Suharto-Golkar-ABRI mem- praktekkan politik ekonomi yang "anti-ekonomi": besar pasak daripada ti- ang. Namun seperti juga rejim orde baru, rejim Habibie menambah lagi hutang dari IMF sampai $40 milyar. Pemanfa'atan hutang baru ini masih banyak diragukan sedangkan krisis ekonomi, sosial, politik semakin buruk terpuruk. 2. AB baru dengan sengaja dibikin defisit secara membabi buta bukan untuk re- strukturisasi ekonomi yang sudah ambruk namun hanya untuk sekedar "sur- vive". 3. Mendapat angin dari "Miyazawa Plan" maka kabinet Habibie memaksakan pinja- man baru $5 milyar dari ADB dan Bank Dunia walaupun Bank Dunia sudah me- mutuskan untuk menangguhkan pinjaman Indonesia karena mencurigai masih adanya KKN. 4. Politik Ekonomi Habibie masih jauh panggang dari api untuk bisa diseta- rafkan dengan politik ekonomi restrukturasi Thailand dan Korea yang de- ngan pinjaman IMF itu berhasil menuju kejalan yang benar yang nyata. 5. Sukubunga masih 50%, terlalu tinggi untuk dimanfa'atkan menjadi modal ekonomi agrikultur dan industri yang tanpa modal tetap mati sedangkan pemegang tabungan rupiah yang barangkali kebanyakan teridiri atas KKN ongkang ongkang terus melahap bunga uang non-produktif yang terpaksa harus dibiayai oleh pemerintah, tentunya dengan dana pinjaman IMF. 6. Bank bank swasta yang sekarat harus dihidupkan kembali dengan Rekapi- talisasi berjumlah ratusan trilyun Rupiah yang merupakan risiko rugi 100%. Namun tampaknya mau dipaksakan juga tanpa perhitungan ekonomis sa- masekali, suatu hal yang bertentangan dengan hatinurani. 7. Pinjaman luar negeri diatas hutang lama lk $200 milyar yang dipaksakan untuk menutup deficit spending seolah oleh kita berada dalam situasi "nor- mal" membuktikan blunder ekonomi yang sudah melewati batas rasional. Walhasil blunder blunder ekonomi rejim Habibie berdasarkan falsafah si penjudi kalah yang sudah nekad, tidak mau mengerti prinsip ekonomi, tak perduli hanya merupakan kesinabungan falsafah rejim orde baru Suharto yang telah membabi buta melawan rasional sehat dan hatinurani dan terbukti telah menghancurkan ekonomi Indonesia. Demi kesinabungan kehidupan bangsa Indonesia maka sudah kadaluwarsa waktu- nya untuk menghentikan cara berpikir penjudi kalah yang nekad, pinjam uang terus sampai celana dalam digadaikan. Barang Ibu Pertiwi yang bisa digadaikan memang masih ada, tapi apakah kita semua sudah kehilangan hatinurani dan tega menghabisi warisan nenek moyang itu tanpa menenggang nasib anak cucu cicit yang harus menanggung pembayaran kembali ratusan milyar dollar yang dihambur hamburkan melalui mismanajemen, waste dan untuk memperkaya KKN? H.S. Hidayat Supangkat New York ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 18 Jan 1999 jam 06:17:55 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
