----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

                KITA TERJEBAK MASALAH "TELUR ATAU AYAM DULU?"

Pada mulanya kita sependapat bahwa pemilu yang jurdil bulan Juni yad adalah
solusi teakhir buat krisis ekonomi, sosial, politik kita dewasa ini.
Setelah kekuatan Suharto pulih, idem ditto kekuatan statuskuo dan kekuatan
para reformis palsu, maka kita ternyata terjebak oleh masalah "telur atau ayam
dulu?".

Apakah pemilu dulu ataukah reformasi total dulu baru pemilu?
1. Kalau pemilu dipaksakan dulu pada saat Suhartoisme masih merajelela, maka
        mustahil dapat dilaksanakan pemilu jurdil karena money politicsnya yang
        dahsyat sudah pasti akan merusak binasakan kebersihan yang didambakan.
2.      Sudah diberitakan bahwa Cendana secara langsung maupun lewat Ibnu Har-
        tomo telah membagi bagikan uang kepada parpol parpol, jelas untuk mem-
        beli suaranya untuk politik Suhartoisme dengan KKN, dwifungsi ABRI dan
        Golkar faksinya.
3.      Walhasil pemilu jurdil tidak akan terlaksana, hanya semboyan kosong be-
        laka, sekalipun RUU dan UU Politik berhasil kita paksakan jurdil, pelaksa-
        naannya tetap sudah dikantongi Suhartoisme, walaupun bukan oleh Suhar-
        to pribadi.

Kalau reformasi total dulu mau dipaksakan, maka kekuatan Suhartoisme, status-
kuo, reformasi tambal sulam akan memberikan perlawanan dengan memanipu-
lasi rejim Habibie dan dwifungsi ABRI-nya sehingga akan terjadi kekacauan ke-
kacauan yang pada akhirnya dimenangkan oleh ABRI dengan kekuatan senja-
tanya lawan mahasiswa dan rakyat yang bertangan hampa.

Namun setidak tidaknya kita akan mendapat "fighting chance" dalam perjuangan
reformasi total untuk menggolkan pemilu jurdil, bukan hanya UU Pemilunya yang
jurdil, tapi juga untuk melawan dan mengalahkan gerilya politiknya orde baru
dengan keberlimpahan dana KKN-nya yang "irrestisistible" (tak dapat ditolak)
bagi 130 juta rakyat yang sudah dimelaratkan.

Janganlah membuat kekeliruan yang fatal meremehkan money politics Suharto
yang dengan dana US$40 milyar bisa membeli Indonesia bahkan seluruh dunia.

Kabinet Habibie dan dwifungsi ABRI tidak akan mengizinkan reformasi total dulu
baru pemilu karena pastinya mereka akan dikalahkan oleh kekuatan reformasi
total, mereka akan memaksakan pemilu "at all costs" untuk mencapai keme-
nangannya yang pasti dengan kekuatan dwifungsi ABRI, kekuatan kabinetnya
dan kekuatan money politics Suharto dan Suhartois.

H.S. Hidayat Supangkat
New York.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 19 Jan 1999 jam 18:46:35 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke