----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------
From: Suara Sosialis
REVOLUSI DAN KONTRA-REVOLUSI: PELAJARAN BAGI INDONESIA
Oleh: Tony Cliff
Bagian pertama
[Tulisan ini terbit di International Socialism no 80, 1998 dan
audience-nya adalah para pembaca Inggeris. Jika anda ingin memberi
komentar, silakan disampaikan kepada [EMAIL PROTECTED] atau (jika
ditulis dalam bahasa Inggeris) kepada [EMAIL PROTECTED]]
Pecahnya revolusi di Indonesia mengangkat sejumlah pertanyaan teoretis
yang penting. Apa saja persyaratan untuk menyimpulkan kemenangan
terhadap suatu revolusi? Dalam keseimbangan antara revolusi dan
kontra-revolusi, apa yang menentukan sebuah kemenangan? Apa hubungan
antara partai revolusioner dan kelas buruh? Peran apa yang dilakukan
oleh partai revolusioner di dalam serikat-serikat buruh? Artikel ini
menguraikan tentang pengalaman tradisi Marxis dalam menangani
pertanyaan-pertanyaan kritis ini.
PERSYARATAN BAGI SUATA KEMENANGAN REVOLUSI
Seperti yang selalu dikatakan oleh Lenin, kita hidup dalam masa perang
dan revolusi. Sejarah telah membuktikan bahwa dia benar. Dalam abad ini
telah terjadi lebih dari 100 perang, baik dalam skala besar maupun
kecil. Sebut saja beberapa secara random: Perang Dunia I dan II,
serangan Jepang terhadap Cina, perang Italia di Etiopia, perang delapan
tahun antara Iran dan Irak, serangan imperialisme Amerika terhadap Irak
dan Vietnam, tiga perang Arab-Israel, dua perang India-Pakistan dan
Perang Malvinas. Tetapi banyak juga revolusi yang terjadi, seperti
beberapa berikut ini: Revolusi Rusia tahun 1905 dan 1917, Revolusi
Jerman 1918-1923, Revolusi Spanyol tahun 1936, Revolusi Hongaria tahun
1919 dan 1956, Revolusi Cina 1925-1927, Revolusi Portugal tahun 1974,
dan penggulingan Shah Iran tahun 1979.
Apa yang dimaksud dengan revolusi buruh? Yaitu ketika massa buruh
membangkang terhadap keadaan rutin mereka sebagai korban dan sebagai
obyek pasif dari tekanan dan pemerasan, serta mengukir sejarah dalam
usahanya mencapai kebebasan dan menentukan nasib mereka. Revolusi
bukanlah suatu kejadian sehari. Bersama dengan emosi dan pikiran yang
baru, kaum buruh juga masih membawa beban masa lalu mereka. Seperti
dalam kata-kata Marx: "Tradisi dari generasi-generasi yang sudah mati
terasa menghimpit bagaikan sebuah mimpi buruk bagi generasi yang masih
hidup." Kontradiksi utama dalam jantung revolusi adalah pertentangan
antara yang baru dan yang lama, dan hanya melalui sebuah proses yang
amat sulit dan keras kontradiksi ini dapat diatasi.
Marilah kita melihat beberapa contoh, yang pertama, peristiwa Revolusi
Rusia tahun 1917. Pada tanggal 18 Februari 1917, 30.000 buruh di pabrik
terbesar di Petrograd, yaitu pabrik Putilov, mogok kerja untuk minta
kenaikan upah sebesar 50 persen. Kerusuhan itu terjadi karena kelangkaan
pangan. Toko-toko roti dan makanan diserang, dan kejadian itu terulang
terus sampai berhari-hari.
"Pada tanggal 23 Februari pukul 9 pagi, buruh-buruh pabrik di daerah
Vyborg mogok karena mereka memprotes karena kekurangan roti hitam di
toko-toko. Pemogokan itu merambat ke pabrik-pabrik lain di Petrograd,
Rozhdestvenskii dan Liteinyi, dan selama hari itu 50 perusahaan
menghentikan pekerjaannya, karena 87.534 orang mogok."
Pada hari berikutnya gerakan buruh belum reda. Kemudian ada sebuah
memorandum dari Okhrana (polisi rahasia), dengan surat tertanggal 24
Februari malam yang menyatakan: "Pemogokan buruh yang terjadi kemarin
sehubungan dengan kekurangan roti masih berlanjut hari ini; selama hari
itu 131 perusahaan dengan 158.583 buruh tutup."
Hari berikutnya, 25 Februari, laporan Okhrana menunjukkan tanda bahaya
yang lebih tinggi, dan menuding pasukan tentara, bahkan Cossack, belum
siap untuk menekan gerakan buruh. Pada tanggal 26 Februari, untuk
pertama kalinya muncul dalam laporan Okhrana gambaran langsung tentang
pemberontakan tentara.
Menurut NN Sukhanov, seorang saksi mata yang jujur dan penulis sejarah
revolusi yang terkemuka, ada sekitar 25.000 tentara yang telah
meninggalkan baraknya untuk bergabung dengan massa, sementara sisanya
sekitar 160.000 tentara tidak siap menekan gerakan buruh. Menurut sumber
lain, ada sebanyak 70.000 orang tentara yang bergabung dengan 385.000
buruh dalam pemogokan yang terjadi tanggal 27 Februari.
Tanggal 28 Februari merupakan akhir keruntuhan pasukan Tsar: pasukan
"loyal" yang masih ada menyerah; benteng-benteng Peter dan Paul
ditundukkan tanpa tembakan satupun; dan menteri-menteri Tsar ada yang
ditahan dan yang lain menyerah kepada pemerintahan baru.
Revolusi itu betul-betul spontan dan tanpa rencana. Seperti yang
dikatakan Trotsky: "Tidak ada seorang pun, betul-betul tidak ada seorang
pun - ini dapat kita pastikan berdasarkan semua data yang ada - yang
berpikir saat itu bahwa tanggal 23 Februari merupakan permulaan ofensif
yang menentukan dalam perjuangan melawan absolutisme."
Menurut Sukhanov: "Tidak satu pun partai yang mempersiapkan pergolakan
besar itu."
Hal yang mirip diucapkan oleh bekas direktur Okhrana yang menyatakan
bahwa revolusi tersebut "betul-betul merupakan fenomena spontan, dan
sama sekali bukan hasil agitasi partai."
Sebuah kekuatan politik baru muncul di Petrograd, yakni munculnya dewan
buruh (soviet). Sebenarnya struktur politik ini merupakan pembaharuan
dari institusi yang lahir pada Revolusi tahun 1905, yang terdiri dari
para wakil seluruh buruh di pabrik-pabrik yang melakukan pemogokan,
tetapi yang berlangsung di luar jangkauan komite pemogokan bersama. Pada
tahun 1906, dalam peninjauannya kembali, Lenin menyatakan hal-hal
berikut ini tentang dewan buruh (soviet):
"Para Dewan Utusan Buruh merupakan organ-organ dari perjuangan massa
secara langsung. Mereka memulainya sebagai organ perjuangan pemogokan.
Karena keadaan terpaksa, dengan cepat mereka menjadi organ-organ dari
perjuangan revolusi umum melawan pemerintah. Jalannya kejadian-kejadian
dan transisi dari sebuah pemogokan sampai ke sebuah pemberontakan yang
tak dapat dihentikan lagi membuat mereka menjadi organ pemberontakan."
Revolusi Februari 1917 menciptakan situasi baru yang menggairahkan,
yakni Tsar turun tahta, yang berarti monarki yang telah berumur
berabad-abad berakhir. Polisi dibubarkan. Di setiap pabrik dibentuk
komite buruh. Di dalam banyak kesatuan, dibentuk komite tentara. Dewan
buruh bangkit di mana-mana. Selama Revolusi tahun 1905, Trotsky (ketua
dewan buruh Petrograd) sudah bisa menulis tentang institusi-institusi
ini sebagai berikut:
"Dewan buruh benar-benar menjadi sebuah pemerintahan buruh embrional ...
Sejak awalnya, dewan buruh merupakan organisasi kaum proletar yang
tujuannya adalah untuk memperjuangkan kekuasaan revolusioner. Dengan
adanya dewan buruh, kita menyaksikan munculnya kekuasaan demokratis yang
pertama di dalam sejarah Rusia moderen Dewan buruh merupakan demokrasi
asli, tanpa struktur parlementer seperti majelis tinggi dan majelis
rendah, tanpa birokrasi profesional, tetapi dengan hak yang dimiliki
pemilih untuk merecall wakil-wakil mereka setiap saat. Melalui para
wakilnya yang langsung dipilih oleh para buruh, dewan buruh menjalankan
kepemimpinan langsung terhadap semua manifestasi sosial proletariat
secara menyeluruh dan terhadap berbagai kelompok masing-masing; mengatur
aksi-aksi mereka; dan menyediakan semboyan dan panji buat mereka."
Tetapi, setelah revolusi bulan Februari 1917, bersamaan dengan adanya
dewan buruh, konstitusi lama tetap berlangsung. Di pabrik-pabrik, para
majikan dan manajer lama bertahan pada posisi mereka. Di bidang
ketentaraan, para jenderal masih memegang komando: kepala komando
tentara saat itu adalah Jenderal Kornilov yang diangkat oleh Tsar.
Bersamaan dengan kekuasaan dewan buruh, ada pemerintahan borjuis yang
dikepalai oleh politisi liberal dari zaman Tsar. Situasi ini, yang oleh
Lenin dan Trotsky disebut sebagai dual power (dualisme kekuasaan atau
kekuasaan ganda), penuh dengan kontradiksi.
Meskipun sifat dewan buruh seperti yang disebutkan oleh Trotsky di atas,
para pemimpinnya mengemis kepada kaum borjuis untuk tetap berkuasa.
Mayoritas wakil dewan buruh adalah orang-orang sosialis sayap kanan,
kelompok Menshevik dan kelompok Revolusioner Sosial. Dari 1.500 sampai
1.600 wakil, hanya 40 dari kelompok Bolshevik. Hal itu bukan merupakan
suatu kebetulan, tapi merupakan situasi yang tak terelakkan, di mana
jutaan orang bergeser ke kiri tetapi masih membawa beban ideologi Tsar
masa lalu. Bagi jutaan orang yang sampai saat itu masih mendukung Tsar
dan perangnya, pergeseran ke kiri ini tidak berarti mereka langsung
bergabung pada partai yang paling radikal dari partai-partai yang ada,
yakni partai Bolshevik. Orang kuat dari pihak Menshevik, I.G.
Tseretelli, yang menjadi Menteri Dalam Negeri dalam Pemerintahan Borjuis
Sementara, menjelaskan perlunya berkompromi dengan kaum borjuis: "Tidak
ada jalan lain untuk revolusi. Memang benar bahwa kita memiliki seluruh
kekuasaan, dan bahwa pemerintah akan mundur apabila kita mengangkat jari
kita, tetapi itu akan berarti bencana bagi revolusi".
Di dalam pamflet berjudul Tugas-tugas Kaum Proletar dalam Revolusi kita,
Lenin menulis tentang dual power sebagai berikut:
"Dualisme kekuasaan termanifestasikan dengan adanya dua pemerintahan.
Yang pertama adalah pemerintahan borjuis yaitu "Pemerintahan
Sementara" dari Lvov dan Co, yang memegang organ-organ kekuasaan dalam
tangannya. Yang kedua adalah pemerintahan tambahan yang sejajar, sebuah
pemerintahan yang "mengontrol". Ini berbentuk Soviet Wakil-wakil
Tentara dan Buruh di kota Petrograd, yang tidak mempunyai organ-organ
kekuasaan negara tetapi secara langsung bersandar pada dukungan yang
nyata dari sebagian besar rakyat -- kaum buruh dan tentara yang
bersenjata."
Keadaan yang tak stabil ini tidak bisa bertahan lama:
"Dualisme kekuasaan hanya menunjukkan suatu fase transisi dalam
perkembangan revolusi, pada saat perkembangan ini bergeser lebih jauh
daripada revolusi demokrasi borjuis biasa, tapi belum mencapai sebuah
kediktatoran "murni" kaum proletar dan kaum tani."
Hanya setelah kejadian-kejadian seru selama berminggu-minggu dan
berbulan-bulan, maka kaum Bolshevik berhasil memenangkan mayoritas
golongan buruh. Pada tanggal 9 September, Soviet di Petrograd
menyeberang ke kubu Bolshevik dan Trotsky terpilih sebagai presidennya.
Pada hari yang sama partai Bolshevik memenangkan mayoritas dalam Soviet
Moskow. Dari sini hanya diperlukan selangkah lagi menuju kekuasaan buruh
pada tanggal 7 November 1917.
Peristiwa pada bulan Mei 1968 di Perancis menunjukkan kejadian yang
sangat berbeda dengan hasil yang berbeda pula. Pada bulan Mei sampai
Juni 1968, Perancis berada dalam krisis sosial dan politik yang parah.
Pada tanggal 10-11 Mei malam, telah terjadi bentrokan berdarah antara
mahasiswa dan CRS (polisi anti-huruharu) di Quartier Latin (daerah
mahasiswa). Ribuan buruh muda bergabung dengan mahasiswa. Pada keesokan
harinya, CGT, federasi serikat buruh utama, mengajak berdemonstrasi.
Sejuta orang datang berdemonstrasi. Serikat buruh mengajak untuk mogok
selama sehari pada tanggal 13 Mei, dan ada 10 juta orang yang ikut,
berarti empat kali lipat dari jumlah buruh yang diorganisir oleh
serikat-serikat buruh. Seluruh negara lumpuh. Para pimpinan CGT dan
Partai Komunis berharap bahwa pemogokan dan demonstrasi sehari itu akan
merupakan akhir perjuangan. Tetapi mereka tidak memperhatikan basis
mereka yang masuk ke arena secara independen.
Pada tanggal 14 Mei, para buruh dari Sud Aviation di Nantes
mendeklarasikan pemogokan dalam waktu yang tak terbatas. Mereka
menduduki pabrik dan menahan manajer di kantornya. L'Humanite, sebuah
koran Partai Komunis mencoba tidak mempedulikan kejadian itu, dan hanya
memberitakannya dalam tujuh baris di halaman 9. Hari berikutnya,
pemogokan dan pendudukan meluas sampai seluruh pabrik Renault. Seluruh
buruh di pabrik-pabrik perakitan mesin, mobil dan kapal terbang mogok
dan menduduki pabrik. Pada tanggal 19 Mei semua tram tidak berjalan,
diikuti pelayanan surat dan telegram. Kereta api bawah tanah dan bus di
Paris juga mengikuti, bahkan pemogokan mencapai pertambangan,
perkapalan, penerbangan Air France, dan sebagainya.
Pada tanggal 20 Mei pemogokan itu menjadi pemogokan umum. Sekitar 10
juta buruh mogok. Orang-orang yang sebelumnya belum pernah mogok juga
terlibat, seperti para penari Folies Bergere, pemain sepak bola,
wartawan, pramuniaga dan teknisi, semua mogok. Bendera merah dikibarkan
di seluruh tempat kerja. Tidak nampak ada bendera triwarna (borjuis),
walaupun pimpinan CGT dan Partai Komunis menyatakan bahwa, "Panji kita
adalah baik bendera triwarna maupun bendera merah".
Semua ini merupakan sesuatu yang baru, yang mencerminkan masa depan,
tetapi "tradisi dari generasi mati" tetap bertahan. Memang benar bahwa
sejuta rakyat berdemonstrasi di Paris pada tanggal 15 Mei. Ini merupakan
hal baru. Tetapi birokrasi serikat buruh, ketakutan bahwa mahasiswa
revolusioner akan bergabung dengan buruh, tetap berusaha untuk
memisahkan kedua kelompok dengan menciptakan suatu lingkaran penjagaan
yang terdiri dari 20.000 kader yang berpegangan tangan. Memang benar
bahwa 10 juta buruh mogok, tetapi komite pemogokan tidak dipilih
melainkan diangkat oleh birokrasi serikat buruh. Memang benar bahwa
jutaan buruh menduduki pabrik-pabrik, tetapi sejak awal pendudukan itu,
birokrasi serikat buruh menekankan bahwa hanya sejumlah kecil buruh yang
harus tinggal di pabrik, sementara mayoritas diminta pulang, sehingga
aksi mogok ini agak pasif. Seandainya semua buruh tetap tinggal di
pabrik, maka pemogokan itu akan menjadi aktif.
Tragisnya, tidak ada organisasi revolusioner besar yang dapat mengatasi
birokrasi. Pada bulan Mei 1917, Partai Bolshevik di Rusia mempunyai
23.600 anggota dan jumlah tersebut meningkat menjadi 250.000 pada bulan
Agustus. Kelas buruh di Perancis jelas lebih besar jumlahnya
dibandingkan dengan di Rusia pada tahun 1917. Seandainya di sana muncul
sebuah organisasi revolusioner yang berjumlah puluhan ribu, maka bisa
diusahakan supaya kontingen buruh tidak terpisah dari mahasiswa dalam
demonstrasi tadi. Bisa diadakan pemilihan secara demokratis untuk
komite pemogokan, serta meyakinkan jutaan orang yang menduduki
pabrik-pabrik untuk tetap tinggal di dalam pabrik, sehingga berkembang
kekuatan kolektif yang jauh lebih kuat daripada seperti yang terjadi,
yang hanya merupakan kumpulan individu. Sayangnya, jumlah orang
revolusioner di Perancis bisa dihitung dalam ratusan saja.
Makanya, tidak lama setelah itu, pemerintah berhasil mendapatkan
persetujuan dari serikat-serikat buruh untuk berkompromi dengan majikan
dalam hal kenaikan upah. Pendudukan pabrik berakhir, pemogokan selesai,
dan mereka mempersiapkan diri untuk menyambut kembalinya presiden mereka
Jenderal de Gaulle. Selama pabrik-pabrik diduduki oleh buruh, de Gaulle
telah lari ke luar negeri untuk mendapatkan perlindungan pasukan
Perancis di Jerman Barat. Tetapi sekarang dia pulang untuk memerintah
kembali. Pada tanggal 30 Mei, terjadi demonstrasi yang diikuti oleh
setengah juta warga Paris sayap kanan. Polisi merebut kembali setasiun
TV dan radio, mengusir buruh yang menduduki pabrik, menyerang mereka
yang melanjutkan demonstrasi, bahkan membunuh dua orang buruh dan
seorang murid. Demikianlah, potensi revolusioner yang begitu dahsyat
tidak terpenuhi. Dan ini telah menjadi pola dalam revolusi-revolusi
lain.
Pada bulan November 1918, revolusi di Jerman mengalahkan Kaiser dan
menyebabkan Perang Dunia I berakhir. Namun pemilik-pemilik perusahaan
besar seperti Krupps dan Thyssen tetap ada di belakang para jenderal
dan para perwira reaksioner yang membentuk unit sayap kanan bernama
Freikorps. Seperti di Rusia, di Jerman juga terjadi dualisme kekuasaan,
di mana dewan-dewan buruh muncul di samping parlemen. Di bawah payung
pemerintah Sosial- Demokrat, para perwira Freikorps membunuh para
pemimpin revolusioner Rosa Luxemburg dan Karl Liebknecht.
Kejadian-kejadian revolusioner berlangsung naik turun sampai 1923,
tetapi berakhir dengan kemenangan kapitalisme. Gerakan Nazi lahir pada
tahun 1919. Pada tahun 1923 mereka menyelenggarakan sebuah kudeta yang
gagal di Bavaria, tetapi mereka tetap menunggu saat yang tepat. Hal ini
sekali lagi adalah sebuah kesempatan yang hilang bagi buruh dan mereka
akan menanggungnya dengan berat pada saat Hitler berkuasa.
Pada tahun 1930-an, Perancis mengalami peningkatan besar-besaran dalam
hal perjuangan kelas buruh yang dimulai pada bulan Februari 1934, dan
mencapai puncaknya pada tahun 1936 dengan kemenangan yang meyakinkan
dari Front Populer, yang merupakan gabungan antara Partai Komunis,
Partai Sosialis dan golongan liberal (yang secara salah disebut Sosialis
Radikal, padahal mereka tidak radikal maupun sosialis). Jutaan buruh
beranggapan "Sekarang pemerintah telah kita kuasai, mari kita mengambil
alih pabrik-pabrik." Pada bulan Juni 1936, terjadilah gelombang
pendudukan pabrik-pabrik. Namun para pemimpin Partai Komunis dan Partai
Sosialis menyerukan untuk mundur dan kemudian melakukan kompromi dengan
pemilik pabrik. Setelah itu Partai Komunis ditendang dari Front Populer.
Deladier dari Sosialis Radikal yang menandatangani perjanjian Munich
dengan Hitler pada tahun 1938. Dan adalah parlemen yang sama yang
dipilih di tengah kemenangan besar Front Populer pada tahun 1936, yang
mendukung Marshal Petain, kepala rejim Vichy yang berkolaborasi dengan
Nazi tahun 1940-an.
Timur Tengah merupakan daerah lain yang mengalami pergolakan yang
menggoncangkan kemapanan tetapi gagal untuk memenangkan terobosan yang
fundamental. Di Irak, Raja Feisal digulingkan pada tahun 1951 oleh
sebuah gerakan massa. Partai Komunis Irak merupakan sebuah partai yang
kuat, bahkan paling kuat di negara-negara Arab. Partai itu bersekutu
dengan Ba'ath, partai borjuis nasional. Di bawah kepemimpinan Stalin,
Partai Komunis percaya bahwa revolusi yang akan datang adalah revolusi
yang demokratis (bukan sosialis), sehingga partai-partai buruh harus
beraliansi dengan partai-partai borjuis. Strategi ini akibatnya fatal.
Partai Ba'ath yang dipimpin oleh Saddam Hussein dengan bantuan CIA,
melakukan pembunuhan massal terhadap kaum Komunis.
Di Iran, sebuah pemogokan umum telah menyebabkan jatuhnya Shah pada
tahun 1979. Dewan-dewan buruh yang disebut shora menjamur di seluruh
negara. Tragisnya para pemimpin shora ini, yang kebanyakan dari Partai
Tudeh (pro-Moskow) dan gerakan Fedayin, memandang revolusi sebagai
revolusi demokratis borjuis, bukan revolusi proletar, dan bahkan mereka
memberi dukungan kepada pendirian republik Islam. Akhirnya Ayatollah
Khomeini berkuasa tanpa menunjukkan rasa terima kasih sama sekali kepada
Partai Tudeh ataupun Fedayin, dan kaum kiri menjadi target penindasan
secara kejam.
Semua kejadian di atas mengkonfirmasikan secara lengkap akan ramalan St.
Just, seorang pemimpin Revolusi Perancis tahun 1789: "Mereka yang
melakukan revolusi secara setengah-setengah akan menggali kubur mereka
sendiri." Untuk menyelesaikan revolusi dan membawanya ke kemenangan yang
penuh, kaum proletar harus dipimpin oleh sebuah partai revolusioner.
Kelas buruh sendiri yang harus melakukan revolusi, tetapi partainya
memberi pedoman kepada buruh. Seperti yang ditulis secara jitu oleh
Trotsky:
"Tanpa sebuah organisasi yang memberi pedoman, tenaga massa akan bubar
bagaikan uap yang tak ditampung dalam kotak seher. Namun faktor
penggerak bukanlah seher atau kotak, melainkan uapnya sendiri."
Perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan, antara Rusia pada bulan
Oktober 1917 dan semua contoh-contoh lain, adalah bahwa dalam kasus
Rusia ada sebuah partai revolusioner yang memimpin secara efektif.
Walaupun kaum sosialis revolusioner tidak dapat menentukan kapan krisis
revolusioner akan pecah, mereka menentukan hasil akhirnya melalui
seberapa jauh mereka membangun partai revolusioner yang kuat.
- bersambung
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:35:51 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++