----------------------------------------------------------
Unsubscribe?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "signoff indonews"
need more help?, send your mail to: [EMAIL PROTECTED]
with body mail: "info refcard"
----------------------------------------------------------

Tiga Presiden

Apakah di Indonesia, orang-orang bisa membuat lelucon tentang presidennya?
Mungkin tidak bisa. Kisah Nuku Sulaiman barangkali bisa dijadikan sebuah
contoh. Dia terpaksa meringkuk di bui gara-gara membuat singkatan lucu
tentang mantan presiden Soeharto. Kata dia, SDSB itu Soeharto Dalang Segala
Bencana. Tetapi rezim Soeharto saat itu jelas tak mau menerima ledekan
tersebut.

Apakah pada masa Habibie orang boleh membuat lelucon tentang presiden?
Semoga bisa. Semoga Habibie tidak marah, kata Gus Dur. Lalu, karena merasa
Presiden tak akan marah, Gus Dur pun mencoba meluncurkan humor tentang tiga
presiden itu di layar kaca TPI, bulan mendatang.

Apa isi humornya? ''Indonesia,'' kata Gus Dur, ''selalu dipimpin orang-orang
gila. Yang pertama gila wanita. Yang kedua, gila harta.''

''Yang ketiga, Gus Dur?'' tanya Jaya Suprana.

''Yang ketiga gila sungguhan,'' kata Gus Dur, sambil tertawa cekikikan.

Apakah dengan meluncurkan humor itu kiai eksentrik ini akan dianggap tak
sepaham lagi dengan Habibie? ''Jangan terlalu cepat menanggapi pernyataan
atau tindakan Gus Dur. Pahami dulu paradigmanya,'' kata ''orang dekat Gus
Dur'', Ngatawi Al Zastrouw, mengingatkan.

Lalu ketika ditanya mengapa Gus Dur tak meledek para tentara, pria yang
mengaku punya nenek moyang orang Cina itu cuma menjawab kalem, ''Saya tak
punya humor tentang mereka.''

Karena takut terhadap bedil atau senjata? ''Tidak juga. Saya dekat dengan
orang-orang militer. Saya dekat dengan ABRI. Mengapa harus takut?'' papar
dia, agak sedikit menggebu.

Begitulah, Gus Dur telah membuat lelucon tentang tiga presiden. Semoga tak
ada yang menyeret ke pengadilan atau menculik dia gara-gara humor-humor yang
diluncurkan dengan jiwa bening itu.

Semoga Habibie (dan pengikutnya), Soeharto (dan pengikutnya), menganggap
humor-humor itu sebagai kritik sosial bagi lembaga kepresidenan yang memang
telah kehilangan pamor. (Triyanto Triwikromo-23g)

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 21 Jan 1999 jam 04:36:14 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke